Minggu, 18 April 2010

Menulis itu Gampang

Menulis dan teori menulis. Proses ini hampir sama dengan teori mengemudi. Ketika kita belajar menyetir, kita mempelajari teori menyetir. Tapi ketika kita sudah mengemudi, kita melakukannya dengan hati.

Malam itu, ada tiga hal yang saya catat saat diskusi bersama Arswendo Atmowiloto. Pertama soal kreatifitas, profesionalitas dan komunitas. Kreatifitas muncul dari setiap orang, setiap peristiwa. Dan ia, akan selalu berbeda-beda.

Ada tragedi, juga dramatisasi atas tragedi. Ada realita terlihat, juga realitas yang tak terlihat, namun ia ada dalam rasa. Dalam karya fiksi, rasa juga sebuah realitas, bahkan ketika ia berupa imajinasi sekalipun. Dan iamjinasi yang lahir dari pikiran yang bebas, seringkali melahirkan karya yang dahsyat.


Sebagai contoh, siapapun pernah mengalami patah hati. Tapi rasa yang kita alami tidak akan sama dengan siapapun. Dari situlah kreatifits dimunculkan. Dari sanalah sebenarnya keunikan itu menunjukkan kekhasannya sekaligus perbedaannya.

Fiksi atau non fiksi, sama-sama membutuhkan kreatifitas. Dan kreatifitas ini yang menurut Wendo membedakan seratus persen manusia dengan binatang. Kreatifitas itu bisa berupa penciptaan akan hal-hal yang baru atau memperbarui cetakan yang lama. Lampu, baju, kacamata, pembalut dan lainnya, semua ada karena ada kreatifitas. Kreatifitas dalam menyikapi hidup keseharian, akan memberi kebaruan-kebaruan.

Orang sering mengatakan bahwa perubahan tak selalu identik dengan hal yang baik. Maka itu, kreatifitas harus menuju pada profesionalitasnya.

Dalam proses itu, kita butuh orang-orang yang mendukung. Orang-orang yang memuji, hingga mengkritisi. Biasanya, sebuah komunitas akan membawa kita kepada komunitas lainnya, sehingga penulis tak hanya dengan komunitas penulis, tapi juga jaringan media, penerbit, juga produser. Net working tersebut, setidaknya bisa menjadi koneksi yang bisa memberi peluang pekerjaan, dan setidaknya, sebuah kesempatan.

WS Rendra yang punya nama besar pun, ia tidak menuju puncak itu seorang diri. Begitu juga pengarang lain seperti Hilman, Ayu Utami, Dewi Lestari, dan Andrea Hirata. Di sekeliling mereka ada teman-teman yang setia, ada koneksi, juga lobi. Wendo mengatakan ini sebagai contoh perkembangan orang perorang atau kelompok dalam karir kepenulisan.

Mengenal komunitas lain, artinya mengenal dan belajar hal-hal yang baru. Hal ini menyadarkan kita bahwa pintar di bidang yang lain, kadang bodoh di bidang tertentu. Sehebat-hebatnya manusia, tetap saja ada batasnya. Interaksi dengan orang-orang ’baru’, akan menumbuhkan pemikiran baru, membuka paradigma baru, dan ide-ide baru. Dan bisa memperkaya kemanusaiaan kita. Kata siapa menulis itu sulit?

”Percayalah sama saya, bahwa menulis itu gampang!” katanya.

Segampang apa? Menurutnya, segampang niat kita. Karena ia lahir di setiap situasi. Keadaan sedang jatuh cinta, patah hati, bahkan ketika kita berada di dalam penjara. Sesuatu yang dialami seseorang, belum tentu dialami seseorang yang lain. Dan...ia bukan hanya tenang’tulisan’ , tapi lebih kepada pergumulan-pergumul an bathin, sikap, juga semangat moral di dalamnya.

Arswendo memaknainya sebagai proses mengubah perilaku.


Jakarta, 10 Februari 2010 (Fiqoh)

Rabu, 10 Februari 2010

Nebeng Pamor

Hari kelima, 29 Januari 2010. Menjelang sore yang panas, usai sudah pelatihan investigasi yang diampu George Junus Aditjondro, Hermien Y Kleden, Yanuar Rizky, dan Otto Syamsuddin Ishak. George menjadi instruktur utama sekaligus sebagai fasilitator, memantau jalannya pelatihan setiap hari.

Hari itu Hermien mengajar untuk kedua kalinya, dilanjutkan oleh Otto. Kemudian sesi ditutup dengan acara foto bersama. Aku ikut mengabadikan gambar mereka. Dan saat itu George bilang, “Nanti Fiqoh masuk ke sini juga,” katanya.

Dua jepretan saja, lalu aku menyeruak di antara mereka. Sesudah itu, aku minta George untuk foto bertiga saja. Aku Nur dan dia.

“Mau saya pasang di sekretariat saya pak,” kataku.

George pun tersenyum, membetulkan topi hitamnyanya, menggandeng kami berdua. Acara ditutup. Ruangan mulai redup. George berlalu, bersama 20 peserta pelatihan itu.


Siang itu Ia bilang akan langsung menjadi fasilitator di sebuah komunitas masyarakat pribumi selepas acara di Pantau. Diskusi itu ada kaitannya dengan lingkungan, juga pertambangan. George kadang terlihat lelah. Turun naik tangga empat lantai, juga sering dikeluhkan peserta yang masih berusia muda. Hari pertama ia minta obat diare dan Enkasari, obat kumur yang mengandung daun sirih, untuk mengobati sariawannya yang sedang kumat. Ia juga minta disediakan jus belimbing saat makan siang untuk menjaga stamina tensinya.

Selama lima hari, bergantian para instruktur datang ke gedung Pantau, Jl Raya Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Di sana, berbagai pengalaman dan metode mereka paparkan. Sedari pembuatan outline hingga penelusuran, sedari memilih dan memilah data. Ada data obyketif, ada data subyektif. Ada audit rutinitas, ada audit investigasi. Subyektifitas data, bisa timbul karena sikap pro atau kontra, keterlibatan emosi dan sikap empati wartawannya. Namun tak ada yang lebih penting dari tujuan melakukan pendalaman, mengungkap kebenaran, untuk menghasilkan fakta yang tak bisa terbantahkan. Kalaupun datanya benar, kalaupun peristiwa itu fakta, maka kita masih perlu mempertanyakan: apakah itu berguna bagi publik? Itulah salah satu tujuan investigasi.

Mereka orang-orang hebat dan berani. Buat apa hebat kalau tak memiliki keberanian? Setidaknya itu yang kupikirkan ketika sesekali menyempatkan waktu, ikut mendengar apa yang mereka paparkan.

George selalu datang tepat waktu. Ia juga tinggal bersama-sama dengan para peserta di sebuah Wisma yang tak terlalu jauh dari Pantau. AC yang telah rusak tak mendinginkan ruangan secara maksimal dan sering dikeluhkan para peserta. Namun George tak mempersoalkannya. Ia justru sering terlihat bercanda.

“Selamat beristirahat dari satu kegiatan, dan selamat berganti dengan kegiatan yang lain. Selamat berkarya!” aku mengirim pesan padanya, sesampainya di tempat kos dengan sedikit keletihan.

“Terima kasih sobat. Sekali lagi terima kasih”, balasnya.

George akan terus melanglang buana. Berbagai persoalan sudah menunggunya. Salah satunya adalah pro dan kontra terhadap buku yang Ia tulis berjudul “Membongkar Gurita Cikeas”.

Ah, semoga ia tak lekas lelah. Dunia membutuhkan orang-orang yang memiliki kepedulian dan keberanian. Malam itu, udara panas di kamar kos tak lagi kurasa. Sudah terlalu sering, orang kecil sepertiku ini terlalu mempersoalkan hal-hal kecil. Padahal banyak persoalan besar di depan mata. Persoalan bangsa, persoalan bersama, tanggungjawab bersama pula.

George melakukan hal-hal besar, menyoroti persoalan-persoalan besar. Mungkin yang aku lakukan adalah hal-hal yang kecil, bersama orang-orang ‘kecil’. Aku berteriak di jalan, Ia berteriak di pengadilan, juga media. Semua bertujuan melakukan perubahan sesuai bidangnya: buruh, petani, nelayan, juga masyarakat yang menjadi korban dampak pertambangan, dll.

Sering aku merasa, betapa pating jrepot-nya memikirkan perjuangan buruh. Dalam realita keseharian, banyak masalah mendera. Membuat kami terjebak pada penyelesaian-penyelesaian yang secara langsung mengancam hidup mati mereka. Tapi persoalan berskala nasional, bahkan internasional, juga terus bertubi-tubi dan harus disikapi. Semuanya memberi sebab akibat yang tak jarang mematikan rakyat secara perlahan juga.

Persoalan lokal dan nasional, sejatinya berada pada satu pengendalian: komando pemerintahan, komando yang seringkali anti terhadap azas demokrasi yang sesungguhnya.

Aku ketawa sendiri memikirkan kata-kataku pada George sore itu, bahwa foto bersamanya hendak kujadikan penambah pamorku dalam gerakan serikat buruhku. Tapi… pamor yang sejati, dibentuk oleh laku. Tak ada jejak, tanpa sebuah perjalanan.

Setidaknya, pertemuanku dengan laki-laki tambun itu, bisa menambah pengetahuanku, dan kian meneguhkan langkahku. Masih terlalu banyak persoalan, dan membutuhkan kepedulian siapapun yang ingin peduli.


Jakarta, 29 Januari 2010 (Fiqoh)

Selasa, 02 Februari 2010

Yang Terpilih

Oleh Fiqoh

Rutinitas menggerus seluruh waktu. Waktu yang terasa…tak memberi kebaruan, antara yang lampau dan kekinian. Pengusaha boleh bilang, waktu adalah uang. Tapi bagi buruh di pabrik-pabrik, waktu kadang hanya bermakna proses penantian ke penantian, yang tak selalu membahagiakan.

Rutinitas itu berupa bangun pukul empat pagi, memasak nasi, menjerang air, menyeduh teh, atau memasak mie instan. Lalu menuju antrian WC umum, kamar mandi umum. Kemudian berdiri di mulut gang, dan masuk ke sesaknya bus jemputan. Memacu dinamo mesin, mengejar target produksi. Menahan air kemih sambil menyuap nasi. Pergi pagi pulang malam, kadang pergi malam pulang pagi.



Bulan demi bulan berlalu tanpa terasa. Tagihan sewa kontrakan menandainya. Tahun demi tahun berlalu, menghadirkan momen bahagia bagi umat manusia: Lebaran, Natal, Tahun Baru, sebuah saat yang ‘seharusnya’ memberi harapan baru dan kebahagiaan. Sebuah saat yang sering dimaknai ajang merefleksi diri untuk menjadi manusia seutuhnya. Setidaknya pada saat itu, ada nuansa kebersamaan derajat antarsesama.

Namun selalu saja, ada sisi gelap yang menegangkan, mencemaskan. Ia bak sisi sekeping mata uang yang selau bertautan; kontrak dihentikan, karena perusahaan tak mau membayar bonus tahunan. Target dilipatgandakan, untuk stock selama liburan. Tulsah mudik naik berlipat ganda. Dan kelambatan masuk kerja disambut PHK. Pemerintah gagal memenuhi kewajiban melindungi rakyatnya.

Sebulan, dua bulan, tiga bulan, tak terasa. Yang penting mengabdi sepenuh jiwa raga. Program 100 hari SBY, Skandal Bank Century, kenaikan gaji anggota dewan, bagi-bagi mobil di kalangan pejabat, semuanya lewat.

Roda waktu berjalan, pemilih dan yang dipilih segera kembali ke ranahnya masing-masing. Pendemo tak lagi bertebaran di jalanan. Kembali tenggelam berjuang melanjutkan kehidupan, sumpah serapahpun tertahan. Buruh, tukang becak, pedagang kaki lima, pengamen, semua memeras keringat di bawah terik matahari. Orang-orang yang terpilih pun memeras otak di ruang-ruang yang sejuk. Hasilnya?

Buruh masih jauh dari kesejahteraan. Mereka masih berkutat pada rendahnya upah, pelanggaran normatif, pelanggaran kebebasan berserikat. Petani, nelayan, dan rakyat kecil berada dalam kubangan bernama penindasan, bergelut dengan naiknya bahan-bahan makanan, dan jauh dari harapan akan hadirnya rasa keadilan.

Persoalan buruh dengan pengusaha, keributan pembeli dan pedagang, berantemnya sopir dan penumpang, sesungguhnya tidak hanya menjadi persoalan mereka. Kenakalan pengusaha, kenaikan BBM, kenaikan bahan-bahan kebutuhan hidup, memicu emosi siapapun yang menanggung dampaknya.

Ketika buruh menuntut agar pengusaha membayar upah sesuai UMK, pengusaha bilang tidak bisa. Kenakalan pengusaha, terkadang bukanlah kenakalannya sendiri. Ia juga dampak dari kenakalan birokrasi, pungli, juga korupsi yang membuat hukum menjadi kendor untuk memberi peluang adanya pelanggaran. Juga pasar bebas yang menyebabkan daya saing rendah.

Setahun, dua tahun, lima tahun. Geliat pemilu akan dimulai lagi, berbagai iklan bertebaran lagi, berbagai janji berhamburan lagi. Berbagai partai sibuk lagi, rayu sana, rayu sini, jatuhkan sana, jatuhkan sini. Warga negara ‘harus’ menggunakan hak pilihnya kembali.

Ketika saat itu tiba, rakyat tak punya pilihan lain, selain dipaksa menyaksikan dan menerima kehadiran iklan-iklan yang menyerbu dan menjajah lingkungan tempat tinggal mereka. Wajah senyum, tawa, hingga seringai kelicikan terpajang dalam poster-poster dan bertengger di tempat-tempat umum, dapur umum, hingga WC umum.

Memilih, adalah menitipkan amanat, aspirasi, dan harapan. Kemakmuran, keadilan yang beradab, baru akan tercapai kalau para pemimpin adalah para pejuang. Mengutip apa yang dikatakan WS. Renda, perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata. Namun yang terjadi, para pemimpin negeri ini pengidap inkonsistensi.

Jakarta, 28 Januari, 2010

Kamis, 29 Oktober 2009

Kriminalisasi Perburuhan

Oleh Fiqoh

Berbuat kriminal. Siapapun, bisa menjadi pelaku. Namun jeratan pasal-pasal pidana, tidak berlaku pada siapapun, melainkan pada “siapa dia”.

Biasanya, dalam relasi yang tak seimbang, pihak yang kuatlah yang lebih berpotensi melakukan tindak kekerasan itu. Dalam hubungan buruh dan majikan, buruh selalu menjadi pihak yang terus dieksploitasi, diintimidasi, dan dirampas hak-haknya. Dan ironisnya, para pengusaha yang melakukan pelanggaran, justru bebas melenggang di jalur hukum. Di Disnaker mereka lolos, di pengadilan mereka pun menang. Uang, telah menjadi sutradara, ke mana kebenaran dan kesalahan diarahkan.

Hal ini mengingatkan saya pada pada kejadian tujuh tahun silam. Saat itu, delapan terdakwa diintrograsi secara terpisah di ruang pemeriksaan Polres Tangerang. Wajah-wajah sayu, muka-muka pucat dan tubuh yang lunglai berhamburan dari ruang introgasi di tengah malam yang dingin. Semuanya perempuan. Dalam introgasi yang dimulai sejak pukul 11 siang itu, berkali-kali kami dipaksa mengakui perbuatan yang tidak kami lakukan; merusak gerbang pabrik, merobohkan papan nama dan menggulingkan loker-loker besi tempat menaruh alas kaki.

Saya dan delapan teman yang ditangkap hari itu adalah buruh PT Koinus Jaya Garment, dan berstatus sebagai pengurus serikat buruh bernama SPTP. Sebagai pengurus, kami berkewajiban memperjuangkan hak-hak buruh yang dilanggar oleh pengusaha.

Saat kami akan dilepaskan, komandan yang memimpin penangkapan kami menekankan kalimat yang intinya, agar kami jangan sampai mengulangi perbuatan kami lagi. Kalau kami mengulangi perbuatan itu lagi, akan ditangkap lagi. Ancaman telah diberlakukan untuk hal yang tidak jelas: mengulangi apa? Perbuatan yang mana?

Bagaimana mungkin kami tak akan mengulangi perbuatan kami, jika ketidakadilan terus terjadi; upah yang dihutang, iuran Jamsostek digelapkan, dan tindak kekerasan selalu dilakukan oleh pengusaha. Apakah harus didiamkan?

Sejak perusahaan itu berdiri. Pelanggaran terus terjadi, meskipun kami sudah melaporkan ke semua instansi yang terkait; Disnaker, DPRD, Walikota dan Polisi.

Namun pelanggaran yang lebih arogan justru terjadi setelahnya. Pengurus serikat buruh dipecat, anggotanya diusir keluar pintu gerbang. Kebuntuan, ketersudutan, membuat tangan-tangan yang sesungguhnya lemah itu pada akhirnya mendorong kokohnya pintu gerbang. Keesokan harinya kami ditangkap. Meski bukan kami yang melakukan.

Asisah yang lemah hanya mampu meronta-ronta sebantar dan langsung masuk ke dalam mobol setelah salah satu aparat menekuk kepalanya. Siti yang bertubuh mungil dan lemas hanya melwan sebentar dan segera tak berdaya. Lusi yang sempat shock dengan penyeregapan tiba-tiba tanpa surat penangkapan sempat melakukan penolakan. Dan dan penokan yang ia lakukan justru membuat para aparat samakin beringas. Ia ditenteng dan dilemparkan ke mobil. Kancing-kancing bajunyaa copot hingga kutangnya terlihat. Jeritan histeris terdengar di antara bunyi tembakan pasukan PHH yang diterjunkan saat itu.

Mungkin ini hanya babak kecil dari keseluruhan peran yang terus dimainkan oleh para aparat yang berslogan mengayomi rakyat itu. Kita masih bisa membaca catatan panjang yang merwarnai lembaran perjanalan para aktivis di tanah air. Sedari Indah Dita Sari hingga Mohtar Pakpahan, sedari Sunarti hingga Hamdani, Ngadinah, Imas, juga Marsinah yang mati dibunuh.

Saya dan teman-teman pergerakan sering dibuat miris karenanya. Perjuangan yang kami tempuh, laksana menyimpan ranjau. Hubungan antara pemilik modal dan buruh memang tak sebanding. Jangankan hanya dengan buruh. Pemerintah pun, juga dikuasai oleh pemilik modal yang menjanjikan keuntungan. Penindasan dilakukan secara sistematis melalui kebijakan, termasuk melibatkan peran aparat dalam permasalahan perburuhan.

Gulungan benang di tas Imas, Sendal bolong untuk Hamdani, pemenjaraan terhadap Ngadinah, hanyalah titik kecil yang mudah dikais dari pasal keranjang sampah KUHP negeri ini, untuk membelokkan perjuangan aktivis ke penjara. Itulah kriminalisasi perburuhan.

Jakarta, 20 Mei 2009



Jakarta, 20 Mei 2009

Selasa, 27 Oktober 2009

Keegoan

Oleh Fiqoh

Ini bukan tentang berapa kali kamu meminta maaf. Juga bukan berapa kali mengulang permohonan. Bukan itu.

Tak usah terus-menerus meminta. Nanti malah membuatmu lelah dan membuatku bosan. Tak perlu selalu memohon pengertian dan pemakluman. Sudahlah, usah habiskan waktumu dan jangan ganggu waktuku untuk itu.

Yah, kita pernah saling berjanji; apapaun yang terjadi, kita akan selalu bersama. Memikirkan itu, aku kasihan padamu dan tentu pada diriku. Janji itu laksana belenggu. Dengan itu kita saling menjerat. Ketika yang satu berkhianat, yang lain menggugat. Cinta diam-diam pergi menghilang. Semua kata hanya demi memberi alasan pada keegoan. Hubungan yang terjalin, lebih mirip pertemuan dua pengacara di ajang debat.

Tadinya, lebih baik kau memberiku mimpi. Lalau kau ajak aku meraihnya. Kita meraihnya bersama. Kata temankau, mimpi akan memberi kita harapan, dan harapan menjadi keyakinan yang dahsyat. Keyakinan, bahwa impian itu mendekati kenyataan.

Bagiku, tak apa kau berkali-kali salah, berkali-kali ingkar. Yang penting aku juga melihatmu berkali-kali berusaha benar. Bagiku, cukuplah aku tahu bahwa kau berupaya. Upaya itu lebih konkrit dari sekedar kata-kata, dibanding banyak berkata, namun sikapnya bertentangan dalam realita. Sia-sia.

Ada pepatah, di saat cinta mulai menipis, maka kesalahan mulai menumpuk. Janji setia di saat mencinta, sumpah serapah di kala kebosanan mendera. Untuk apa masih mempertahankannya? Mungkin lebih baik kita lepaskan saja.

Cinta dan kepercayaan, akan bersemayam pada siapa yang memang pantas. Tidak mungkin kebohongan berdampingan dengan kejujuran. Jika dipaksakan, yang nampak justru hitam-putih yang kian kontras.

Sekali lagi, ini bukan tentang berapa kali kamu meminta maaf. Meminta pengertian. Meminta kepercayaan.

Karena, meski beribu kali kamu meminta maaf, kalau kau terus mengulangnya, semua akan percuma. Karena, jika terus-menerus kau menciderainya, ia akan retak dan tak lagi seperti semula. Dan jika kau tetap menginginkannya utuh, maka yang akan kau dapati adalah egomu sendiri.

Dalam hidup ini, yang terpenting adalah berkarya. Hasilnya, biarkan orang lain menilai. Dan jika cinta hendak kau jadikan kerya terindahmu, indahkanlah ia. Jangan malah kau merusaknya dari waktu ke waktu.


Jakarta, 26 Oktober 2009

Jumat, 23 Oktober 2009

Selamat Pagi

Oleh Fiqoh

Matahari sudah tinggi. Pagi sudah terlewati. Berbatang-batang rokok tinggal menyisakan puntungnya. Kaleng bir berserakan, isinya tertuang tanpa sisa.

Selamat pagi. Kuucap dari sini. Meski ini terlambat. Aku tetap mengucapkannya untukmu. Tak harus melalui sms. Atau email. Atau bertelpon. Semoga kau tahu.

Selamat pagi. Sekali lagi kuingin mengulangnya untukmu. Tapi dari sini. Dari hatiku saja. Biarlah ia tak lagi terdengar, tapi cukup dirasa. Semoga.

Kau bilang rasa itu tetap akan bersama kita. Meski ia tak hadirkan raga. Abstrak.

Tapi bagiku, itu disebut kehilangan. Karena kau pernah ada dan kusentuh. Aku kehilanganmu. Jejaknya meningalkan luka.

Yang abstrak itu, sejak semula memang tak tergambarkan; bukan tentangmu. Kamu yang pernah bergumul denganku. Menempati sisi ruang di hatiku. Ruang yang kini kau tinggalkan. Kosong. Hampa. Menyesakkan.

Segalanya berubah seketika.

Sikapku, menurut teman-teman dekatku tak seperti biasanya
Makanku, kehilangan selera
Syarafku, entah kenapa selalu membuatku terjaga
Meski mataku perih, ia tetap saja terbuka

Tapi, aku tak menangis
Mungkin telah kering dari sumbernya.
Sekering jiwaku, jiwa yang telah bergeser dari tempatnya semula
Mungkin, ini yang disebut trauma

Tadinya kupikir, tak sama. Antara kau dan dia. Tadinya kupikir, tak sama antara kau dan mereka. Tapi, mungkin itulah manusia. Semua datang dan pergi dengan alasannya.

Januari aku terluka
Tiga bulan kemudian kau membalutnya
Kau bawa aku ke dunia yang lain, penuh semerbak bunga-bunga
April yang indah
Mei, kau bawa aku bermimpi
Juni, kau melambungkan aku tinggi
Juli, kau tinggalkan aku di sini
Dan aku tak tahu jalan kembali
Aku masih mengawang, kau sudah memijak bumi
Dari sana, kau sentakkan aku untuk bangun dan melihat dari ketinggian, dimana aku harus meluncur ke titik nadirku.

Kosong. Putih.

Lepaslah. Mungkin kau akan kembali putih tanpaku. Namun aku belum tentu.

Tapi, aku mengerti. Setiap manusia, punya prinsipnya sendiri. Tempuhlah jalanmu. Aku juga akan menempuh jalanku.


14 Juli 2009

Rabu, 17 Juni 2009

Perikemanusiaan

Oleh Fiqoh

Kedekatan, terkadang membuat sikap kita menjadi bias. Entah itu kedekatan dalam hubungan keluarga, hubungan persahabatan, ataupun percintaan. Dan barangkali itu sah-sah saja.

Belakangan ini saya sering mendapat berbagai ucapan manis dari beberapa teman. Mereka selalu bertanya apakah aku sudah makan atau belum, sehat atau tidak. Mereka sering khawatir berlebihan kalau mengetahui aku sakit kepala, atau sekedar kehilangan nafsu makan. Ucapan-ucapan selamat selalu mewarnai saat menjelang tidur, saat jam makan siang, atau di kala datang pagi. Sapaan yang terasa klise. Menanyakan hal-hal kecil, mengkhawatirkan masalah-masalah sepele. Dan tentu kuhargai semua itu sebagai bentuk perhatian. Barangkali, inilah salah satu manfaat suatu kedekatan. Hangat. Menentramkan.

Ke tataran yang lebih tinggi, bentuk kedekatan mungkin sudah lain lagi. Jika menyangkut hubungan anak buah dan pimpinan, atasan dan bawahan, rakyat dan pejabat, biasanya, pihak yang di bawahlah yang selalu memberi perhatian pada yang di atas, yang memiliki kedudukan lebih tinggi. Feodalisme, tak pernah hengkang meski penjajahan telah berlalu labih dari 60 tahun.

Kita seringkali mendengar dan melihat sikap para bawahan yang suka sibuk memberi perhatian kepada seorang atasan. Mereka mengantri, saling sikut, demi perhatiannya mendapat “perhatian” juga. Dan yang terpenting, masing-masing ingin dianggap yang paling dekat. Kedekatan yang mungkin bermotif investasi. Memberi kecil berharap besar, memberi sekian ribu berharap sekian dollar, atau demi mempertahankan kemapanan hidup, melanggengkan kedudukan, memuluskan transaksi-transaksi. Ia, bukan lagi sebuah ketulusan.

Sementara di sekeliling kita, bertebaran manusia yang tak seberuntung kita membutuhkan perhatian kita. Mereka berada di wilayah paling pinggir, meski mereka berbaur di antara kita. Kadang kita mendapati wajahnya di ujung sepatu kita. Kadang mereka begitu dekat dengan roda kendaraan kita, bergumul dengan asap knalpot kendaraan kita. Mereka ada di pinggir-pinggir jalan, di jembatan-jembatan, pasrah dalam berbagai keadaan dengan segala kemungkinan yang tak selalu ramah. Itulah nasib kehidupan gelandangan dan pengemis.

Saat kita ingin segera enyah dari terik matahari atau guyuran hujan, mereka tetap bertahan. Selain tak ada pilihan, barangkali itulah momen untuk menaruh harap. Harapan yang akan terwujud, jika di antara kita ada yang merasa iba, lalu menjatuhkan uang recehan. Meski tak selalu begitu.

Entah siapa biang keladinya, kita seolah sepakat menuding mereka memang kerjanya mendramatisir keadaan, dan kita pun sinis. Teman saya malah mengatakan mereka itu penipu.

Mungkin kadang ada benarnya. Mereka menipu. Sikap yang juga kadang kita lakukan untuk berbagai alasan. Alasan tak mau menyakiti pasangan, alasan medis, kode etik profesi, melindungi klien dan sebagainya. Dan parahnya, kadar penipuan besar-besaran justru marak dilakukan oleh para pejabat yang mengkorupsi uang rakyat. Penipuan melalui institusi. Penipuan yang jika terbongkar, juga akan melahirkan penipuan-penipuan baru, demi saling melindungi. Korupsi, tetap saja langgeng.

Penipu yang dilakukan pengemis, masih sebatas untuk isi perut. Uang tak seberapa, yang saya tak yakin bisa untuk makan di restoran atau minum kopi di café yang harga secangkirnnya bisa sampai 60 ribu rupiah.

Kita terbiasa untuk hanya mengeluhkan realita. Entah itu kemiskinan, kebodohan dan pendindasan. Kita cemas ketika di pemberhentian lampu merah berseliweran perempuan-perempuan pucat bermata jalang, anak-anak kecil yang terampil memaksa tangan kita menerima amplop, atau tubuh-tubuh kurus dengan sorot mata tak takut mati.

Tidak semuanya begitu memang. Kita juga melihat para ibu-ibu, nenek-nenek renta, yang tetap khusuk bersimpuh di anak-anak tangga dan pojok jalanan. Masih banyak juga pengamen-pengamen yang sungguh-sungguh berkarya demi mendapatkan uang, pengamen yang baik hati dan gampang dimintai pertolongan.

Kita resah dengan keberadaan mereka. Namun kurang sungguh-sungguh, mencegah sesuatu yang menjadi penyebabnya. Jika yang masih kerja pun terancam PHK, yang menganggur tak kunjung mendapat pekerjaan, yang menjadi petani digusur tanahnya, perkampungan ditenggelamkan lumpur, bagaimana jumlah gelandangan tak semakin menggila?

Tapi entah kenapa, kita terus membiarkan ketidakadilan itu terjadi. Kita terbiasa membiarkan perusuh besar melenggang dan lolos dari jeratan hukum, dan menghakimi penjahat kecil hingga babak-belur. Kita hanya mau peduli dengan orang-orang terdekat dan menghormati para pejabat. Pejabat yang bahkan kabarnya, menurut artikel Majalah Tempo edisi 1 Maret 2009, wakil presidan kita, hanya untuk operasi ringan saja, mesti dilakukan di rumah sakit ternama di Mayo seharga Rp 220.000.000.

Sementara, di kiri kanan tetangga kita, di gang-gang sempit pemukiman kumuh, ibu-ibu sesak nafas menghitung recehan untuk menggenapi harga seliter beras kualitas murah. Mereka terpaksa mengangkat nasi yang masih setengah matang karena kehabisan minyak tanah dan tak mampu membeli gas.

Pernahkan terpikir, bahwa di bak sampah yang kita enggan menengoknya itu, telah menjadi ajang persaingan ketat yang tak jarang berujung pada pertarungan sengit?

Hanya untuk mendapatkan kemasan hand body bekas yang terselip bersama lembabnya kotoran itupun, tak selalu mudah.

Mereka memang bukan siapa-siapa kita. Mereka tetap saja asing, meski selalu ada di tengah-tengah kita. Mereka begitu dekat tapi sekaligus juga sangat jauh. Kasta, telah membuat jarak antar manusia hingga bermil-mil jauhnya. Membuat kita tak lagi mengenalnya, seolah satu sama lain hidup di planet yang berbeda.

Jika demikian, di mana sesungguhnya letak perikemanusiaan itu?

Jakarta, 5 Maret 2009, pukul 12.00