Mata dan hati harus menjadi satu, dan diperlukan konsentrasi yang intens. Kalau mata kita melihat, tangan kita mengukur, dan hati kita tenang, artinya sudah ada keserasian. Itulah yang membuat karya yang dihasilkan selalu tepat, sangat halus dan sangat harmonis.
Dikutip dari Hadi Wiyono, pembatik berusia tujuh puluhan tahun dari Yogya, oleh Harry Bhaskara, editor The Jakarta Post.. Dan ia mengubahnya menjadi begini:
Ada sesuatu antara pikiran, jari, mata dan hati. Irama itu yang mesti disatukan. Karena ia bergerak sendiri-sendiri. Irama itu akan terbentuk kalau kita melatihnya setiap hari.
”Jika ingin menjadi penulis, ya teruslah menulis,” kata Harry.
Hal yang kedengarannya sederhana inilah yang disampaikan oleh Harry Bhaskara ketika berdiskusi dengan teman-teman World Agroforestry Centre (ICRAF) di Bogor Mei lalu. Ia menuturkan tentang bagaimana dunia wartawan bekerja keras penuh ketekunan, tak kenal waktu, lupa makan dan sering didera stres. Mereka bekerja dalam tekanan deadline ke deadline, menggunakan setiap menitnya hanya berfokus pada berita.
”Menulislah terus,” itulah pesan yang selalu ditekankan Harry. Proseslah yang akan membentuk kita menjadi penulis sesungguhnya. Para penulis terkenal di luar negeri sekalipun, melakukan itu. Mereka juga terkadang dihantui keraguan dan merasa bodoh. Itulah dunia penulisan. Maka, kita perlu terus mencoba.
”Inspirasi, ia hanya 1% diperlukan. Dan 99% adalah, belajar menulis itu sendiri. Menulislah apa saja,” kata Harry.
Tulisan Harry Bhaskara yang rutin mengisi kolom The Jakarta Post, lahir dari potongan-potongan kertas kecil yang selalu ia sisipkan di dompetnya. Ide-ide itu tidak muncul dari belakang meja. Kadang ia timbul dari keriuhan orang yang berlalu-lalang, kadang muncul ketika menyaksikan antrian orang-orang saat menunggu bus, dan di mana saja ia berada.
Tak selalu, kesunyian memberi ilham, tak selalu keramaian hanya menyisakan kebisingan. Banyak inspriasi akan muncul dari sana. Konon, kehadiran orang-orang di sekitar kita dapat menyebarkan energi.. Dan tugas kita, menuliskan setiap ide yang ada di kepala. Karena kepala kita tidak pernah kosong dan tidak pernah berhenti.
”Kalau tidak ada ide, tulis saja tidak ada ide,” kata Harry menegaskan.
Selebihnya, buatlah janji pada diri sendiri. Duduk di tempat yang sama, pada jam yang sama, setiap hari, meski hanya sepuluh menit saja. Berikan waktu pada diri sendiri untuk menulis.
Jangan berubah jamnya, jangan berubah tempatnya. Kalau pagi, ya pagi. Kalau mau sore, ya sore. Kalau maunya malam, ya malam. Misalnya jam 5 pagi, ya harus rutin jam 5 pagi. Posisi tempat, juga jangan diganti-ganti. Begitu Harry berpesan.
Disiplin macam itu, akan membuat kita terpacu. Mungkin pada akhirnya kita akan merasa tak cukup dengan 10 menit. Proses itulah yang sesungguhnya menuntun kita untuk mencari apa yang disebut writing attitude.
”Majalah Times kenapa bisa begitu bagus? Mengapa majalah itu bisa digemari di seluruh dunia? Penyuntingnya dilakukan oleh sapuluh orang yang hebat. Artinya, jangan bosan untuk selalu menyunting tulisan kita. Kita akan terus merangkai kata-kata sampai tepat.
”Mengapa ada penulis yang sering jadi dan ada penulis yang tidak?” tanya Harry.
Justru memang hanya itu bedanya. Terkenal dan tidak terkenal. Tapi, sama-sama disebut penulis. Menurut Harry, penulis-penulis terkenal juga melalui proses yang tak mudah. Mereka mengalami penolakan hingga berpuluh kali agar tulisannya bisa masuk ke media. Bahkan ada yang lebih dari 20 kali.
Namun, terlepas berbagai kendala yang kadang tak mudah dilalui, bagaimanapun menulis itu indah. Indahnya penulisan itu karena tidak ada yang sama. Itu salah satu seninya.
”Dan kita perlu terus berjuang untuk melawan kesulitan itu. Itu yang harus kita tanamakan pada diri kita sendiri. Ibarat gunung, ia tinggi sekali dan tidak pernah ada puncaknya,” tutur Harry.
Menurutnya, menulis hanya salah satu cabang dari Liberal Art. Ada yang disebut dialektika, gramer dan retorika. Tulis menulis dan berbicara itu termasuk retorika. Dan kalau kita menulis, sebenarnya kita berpikir. Dan kalau kita berpikir, sebenarnya kita melakukan dialektika.
Dan dialektika itulah yang dilakukan oleh para figur pemimpin-pemimpin terdahulu. Sebut saja Soekarno, Hatta, Cokro Aminoto, Sutan Syahrir, Ahmad Dahlan dan lainnya yang semuanya penulis.
Mengapa mereka menjadi pemimpin? Karena mereka melakukan dialektika. Dialektika, terkadang untuk mengadu atau menguji argumentasi kita. Tak perlu takut kalau ia kontroversi. Kontroversi akan membuat orang berpikir. Dan kita akan terus berpikir.
Jakarta, 6 Mei 2009 (Fiqoh)
Minggu, 18 April 2010
Menulis itu Gampang
Malam itu, ada tiga hal yang saya catat saat diskusi bersama Arswendo Atmowiloto. Pertama soal kreatifitas, profesionalitas dan komunitas. Kreatifitas muncul dari setiap orang, setiap peristiwa. Dan ia, akan selalu berbeda-beda.
Ada tragedi, juga dramatisasi atas tragedi. Ada realita terlihat, juga realitas yang tak terlihat, namun ia ada dalam rasa. Dalam karya fiksi, rasa juga sebuah realitas, bahkan ketika ia berupa imajinasi sekalipun. Dan iamjinasi yang lahir dari pikiran yang bebas, seringkali melahirkan karya yang dahsyat.
Sebagai contoh, siapapun pernah mengalami patah hati. Tapi rasa yang kita alami tidak akan sama dengan siapapun. Dari situlah kreatifits dimunculkan. Dari sanalah sebenarnya keunikan itu menunjukkan kekhasannya sekaligus perbedaannya.
Fiksi atau non fiksi, sama-sama membutuhkan kreatifitas. Dan kreatifitas ini yang menurut Wendo membedakan seratus persen manusia dengan binatang. Kreatifitas itu bisa berupa penciptaan akan hal-hal yang baru atau memperbarui cetakan yang lama. Lampu, baju, kacamata, pembalut dan lainnya, semua ada karena ada kreatifitas. Kreatifitas dalam menyikapi hidup keseharian, akan memberi kebaruan-kebaruan.
Orang sering mengatakan bahwa perubahan tak selalu identik dengan hal yang baik. Maka itu, kreatifitas harus menuju pada profesionalitasnya.
Dalam proses itu, kita butuh orang-orang yang mendukung. Orang-orang yang memuji, hingga mengkritisi. Biasanya, sebuah komunitas akan membawa kita kepada komunitas lainnya, sehingga penulis tak hanya dengan komunitas penulis, tapi juga jaringan media, penerbit, juga produser. Net working tersebut, setidaknya bisa menjadi koneksi yang bisa memberi peluang pekerjaan, dan setidaknya, sebuah kesempatan.
WS Rendra yang punya nama besar pun, ia tidak menuju puncak itu seorang diri. Begitu juga pengarang lain seperti Hilman, Ayu Utami, Dewi Lestari, dan Andrea Hirata. Di sekeliling mereka ada teman-teman yang setia, ada koneksi, juga lobi. Wendo mengatakan ini sebagai contoh perkembangan orang perorang atau kelompok dalam karir kepenulisan.
Mengenal komunitas lain, artinya mengenal dan belajar hal-hal yang baru. Hal ini menyadarkan kita bahwa pintar di bidang yang lain, kadang bodoh di bidang tertentu. Sehebat-hebatnya manusia, tetap saja ada batasnya. Interaksi dengan orang-orang ’baru’, akan menumbuhkan pemikiran baru, membuka paradigma baru, dan ide-ide baru. Dan bisa memperkaya kemanusaiaan kita. Kata siapa menulis itu sulit?
”Percayalah sama saya, bahwa menulis itu gampang!” katanya.
Segampang apa? Menurutnya, segampang niat kita. Karena ia lahir di setiap situasi. Keadaan sedang jatuh cinta, patah hati, bahkan ketika kita berada di dalam penjara. Sesuatu yang dialami seseorang, belum tentu dialami seseorang yang lain. Dan...ia bukan hanya tenang’tulisan’ , tapi lebih kepada pergumulan-pergumul an bathin, sikap, juga semangat moral di dalamnya.
Arswendo memaknainya sebagai proses mengubah perilaku.
Jakarta, 10 Februari 2010 (Fiqoh)
Rabu, 10 Februari 2010
Nebeng Pamor
Hari itu Hermien mengajar untuk kedua kalinya, dilanjutkan oleh Otto. Kemudian sesi ditutup dengan acara foto bersama. Aku ikut mengabadikan gambar mereka. Dan saat itu George bilang, “Nanti Fiqoh masuk ke sini juga,” katanya.
Dua jepretan saja, lalu aku menyeruak di antara mereka. Sesudah itu, aku minta George untuk foto bertiga saja. Aku Nur dan dia.
“Mau saya pasang di sekretariat saya pak,” kataku.
George pun tersenyum, membetulkan topi hitamnyanya, menggandeng kami berdua. Acara ditutup. Ruangan mulai redup. George berlalu, bersama 20 peserta pelatihan itu.
Siang itu Ia bilang akan langsung menjadi fasilitator di sebuah komunitas masyarakat pribumi selepas acara di Pantau. Diskusi itu ada kaitannya dengan lingkungan, juga pertambangan. George kadang terlihat lelah. Turun naik tangga empat lantai, juga sering dikeluhkan peserta yang masih berusia muda. Hari pertama ia minta obat diare dan Enkasari, obat kumur yang mengandung daun sirih, untuk mengobati sariawannya yang sedang kumat. Ia juga minta disediakan jus belimbing saat makan siang untuk menjaga stamina tensinya.
Selama lima hari, bergantian para instruktur datang ke gedung Pantau, Jl Raya Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Di sana, berbagai pengalaman dan metode mereka paparkan. Sedari pembuatan outline hingga penelusuran, sedari memilih dan memilah data. Ada data obyketif, ada data subyektif. Ada audit rutinitas, ada audit investigasi. Subyektifitas data, bisa timbul karena sikap pro atau kontra, keterlibatan emosi dan sikap empati wartawannya. Namun tak ada yang lebih penting dari tujuan melakukan pendalaman, mengungkap kebenaran, untuk menghasilkan fakta yang tak bisa terbantahkan. Kalaupun datanya benar, kalaupun peristiwa itu fakta, maka kita masih perlu mempertanyakan: apakah itu berguna bagi publik? Itulah salah satu tujuan investigasi.
Mereka orang-orang hebat dan berani. Buat apa hebat kalau tak memiliki keberanian? Setidaknya itu yang kupikirkan ketika sesekali menyempatkan waktu, ikut mendengar apa yang mereka paparkan.
George selalu datang tepat waktu. Ia juga tinggal bersama-sama dengan para peserta di sebuah Wisma yang tak terlalu jauh dari Pantau. AC yang telah rusak tak mendinginkan ruangan secara maksimal dan sering dikeluhkan para peserta. Namun George tak mempersoalkannya. Ia justru sering terlihat bercanda.
“Selamat beristirahat dari satu kegiatan, dan selamat berganti dengan kegiatan yang lain. Selamat berkarya!” aku mengirim pesan padanya, sesampainya di tempat kos dengan sedikit keletihan.
“Terima kasih sobat. Sekali lagi terima kasih”, balasnya.
George akan terus melanglang buana. Berbagai persoalan sudah menunggunya. Salah satunya adalah pro dan kontra terhadap buku yang Ia tulis berjudul “Membongkar Gurita Cikeas”.
Ah, semoga ia tak lekas lelah. Dunia membutuhkan orang-orang yang memiliki kepedulian dan keberanian. Malam itu, udara panas di kamar kos tak lagi kurasa. Sudah terlalu sering, orang kecil sepertiku ini terlalu mempersoalkan hal-hal kecil. Padahal banyak persoalan besar di depan mata. Persoalan bangsa, persoalan bersama, tanggungjawab bersama pula.
George melakukan hal-hal besar, menyoroti persoalan-persoalan besar. Mungkin yang aku lakukan adalah hal-hal yang kecil, bersama orang-orang ‘kecil’. Aku berteriak di jalan, Ia berteriak di pengadilan, juga media. Semua bertujuan melakukan perubahan sesuai bidangnya: buruh, petani, nelayan, juga masyarakat yang menjadi korban dampak pertambangan, dll.
Sering aku merasa, betapa pating jrepot-nya memikirkan perjuangan buruh. Dalam realita keseharian, banyak masalah mendera. Membuat kami terjebak pada penyelesaian-penyelesaian yang secara langsung mengancam hidup mati mereka. Tapi persoalan berskala nasional, bahkan internasional, juga terus bertubi-tubi dan harus disikapi. Semuanya memberi sebab akibat yang tak jarang mematikan rakyat secara perlahan juga.
Persoalan lokal dan nasional, sejatinya berada pada satu pengendalian: komando pemerintahan, komando yang seringkali anti terhadap azas demokrasi yang sesungguhnya.
Aku ketawa sendiri memikirkan kata-kataku pada George sore itu, bahwa foto bersamanya hendak kujadikan penambah pamorku dalam gerakan serikat buruhku. Tapi… pamor yang sejati, dibentuk oleh laku. Tak ada jejak, tanpa sebuah perjalanan.
Setidaknya, pertemuanku dengan laki-laki tambun itu, bisa menambah pengetahuanku, dan kian meneguhkan langkahku. Masih terlalu banyak persoalan, dan membutuhkan kepedulian siapapun yang ingin peduli.
Jakarta, 29 Januari 2010 (Fiqoh)
Selasa, 02 Februari 2010
Yang Terpilih
Oleh Fiqoh
Rutinitas menggerus seluruh waktu. Waktu yang terasa…tak memberi kebaruan, antara yang lampau dan kekinian. Pengusaha boleh bilang, waktu adalah uang. Tapi bagi buruh di pabrik-pabrik, waktu kadang hanya bermakna proses penantian ke penantian, yang tak selalu membahagiakan.
Rutinitas itu berupa bangun pukul empat pagi, memasak nasi, menjerang air, menyeduh teh, atau memasak mie instan. Lalu menuju antrian WC umum, kamar mandi umum. Kemudian berdiri di mulut gang, dan masuk ke sesaknya bus jemputan. Memacu dinamo mesin, mengejar target produksi. Menahan air kemih sambil menyuap nasi. Pergi pagi pulang malam, kadang pergi malam pulang pagi.
Bulan demi bulan berlalu tanpa terasa. Tagihan sewa kontrakan menandainya. Tahun demi tahun berlalu, menghadirkan momen bahagia bagi umat manusia: Lebaran, Natal, Tahun Baru, sebuah saat yang ‘seharusnya’ memberi harapan baru dan kebahagiaan. Sebuah saat yang sering dimaknai ajang merefleksi diri untuk menjadi manusia seutuhnya. Setidaknya pada saat itu, ada nuansa kebersamaan derajat antarsesama.
Namun selalu saja, ada sisi gelap yang menegangkan, mencemaskan. Ia bak sisi sekeping mata uang yang selau bertautan; kontrak dihentikan, karena perusahaan tak mau membayar bonus tahunan. Target dilipatgandakan, untuk stock selama liburan. Tulsah mudik naik berlipat ganda. Dan kelambatan masuk kerja disambut PHK. Pemerintah gagal memenuhi kewajiban melindungi rakyatnya.
Sebulan, dua bulan, tiga bulan, tak terasa. Yang penting mengabdi sepenuh jiwa raga. Program 100 hari SBY, Skandal Bank Century, kenaikan gaji anggota dewan, bagi-bagi mobil di kalangan pejabat, semuanya lewat.
Roda waktu berjalan, pemilih dan yang dipilih segera kembali ke ranahnya masing-masing. Pendemo tak lagi bertebaran di jalanan. Kembali tenggelam berjuang melanjutkan kehidupan, sumpah serapahpun tertahan. Buruh, tukang becak, pedagang kaki lima, pengamen, semua memeras keringat di bawah terik matahari. Orang-orang yang terpilih pun memeras otak di ruang-ruang yang sejuk. Hasilnya?
Buruh masih jauh dari kesejahteraan. Mereka masih berkutat pada rendahnya upah, pelanggaran normatif, pelanggaran kebebasan berserikat. Petani, nelayan, dan rakyat kecil berada dalam kubangan bernama penindasan, bergelut dengan naiknya bahan-bahan makanan, dan jauh dari harapan akan hadirnya rasa keadilan.
Persoalan buruh dengan pengusaha, keributan pembeli dan pedagang, berantemnya sopir dan penumpang, sesungguhnya tidak hanya menjadi persoalan mereka. Kenakalan pengusaha, kenaikan BBM, kenaikan bahan-bahan kebutuhan hidup, memicu emosi siapapun yang menanggung dampaknya.
Ketika buruh menuntut agar pengusaha membayar upah sesuai UMK, pengusaha bilang tidak bisa. Kenakalan pengusaha, terkadang bukanlah kenakalannya sendiri. Ia juga dampak dari kenakalan birokrasi, pungli, juga korupsi yang membuat hukum menjadi kendor untuk memberi peluang adanya pelanggaran. Juga pasar bebas yang menyebabkan daya saing rendah.
Setahun, dua tahun, lima tahun. Geliat pemilu akan dimulai lagi, berbagai iklan bertebaran lagi, berbagai janji berhamburan lagi. Berbagai partai sibuk lagi, rayu sana, rayu sini, jatuhkan sana, jatuhkan sini. Warga negara ‘harus’ menggunakan hak pilihnya kembali.
Ketika saat itu tiba, rakyat tak punya pilihan lain, selain dipaksa menyaksikan dan menerima kehadiran iklan-iklan yang menyerbu dan menjajah lingkungan tempat tinggal mereka. Wajah senyum, tawa, hingga seringai kelicikan terpajang dalam poster-poster dan bertengger di tempat-tempat umum, dapur umum, hingga WC umum.
Memilih, adalah menitipkan amanat, aspirasi, dan harapan. Kemakmuran, keadilan yang beradab, baru akan tercapai kalau para pemimpin adalah para pejuang. Mengutip apa yang dikatakan WS. Renda, perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata. Namun yang terjadi, para pemimpin negeri ini pengidap inkonsistensi.
Jakarta, 28 Januari, 2010
Rutinitas menggerus seluruh waktu. Waktu yang terasa…tak memberi kebaruan, antara yang lampau dan kekinian. Pengusaha boleh bilang, waktu adalah uang. Tapi bagi buruh di pabrik-pabrik, waktu kadang hanya bermakna proses penantian ke penantian, yang tak selalu membahagiakan.
Rutinitas itu berupa bangun pukul empat pagi, memasak nasi, menjerang air, menyeduh teh, atau memasak mie instan. Lalu menuju antrian WC umum, kamar mandi umum. Kemudian berdiri di mulut gang, dan masuk ke sesaknya bus jemputan. Memacu dinamo mesin, mengejar target produksi. Menahan air kemih sambil menyuap nasi. Pergi pagi pulang malam, kadang pergi malam pulang pagi.
Bulan demi bulan berlalu tanpa terasa. Tagihan sewa kontrakan menandainya. Tahun demi tahun berlalu, menghadirkan momen bahagia bagi umat manusia: Lebaran, Natal, Tahun Baru, sebuah saat yang ‘seharusnya’ memberi harapan baru dan kebahagiaan. Sebuah saat yang sering dimaknai ajang merefleksi diri untuk menjadi manusia seutuhnya. Setidaknya pada saat itu, ada nuansa kebersamaan derajat antarsesama.
Namun selalu saja, ada sisi gelap yang menegangkan, mencemaskan. Ia bak sisi sekeping mata uang yang selau bertautan; kontrak dihentikan, karena perusahaan tak mau membayar bonus tahunan. Target dilipatgandakan, untuk stock selama liburan. Tulsah mudik naik berlipat ganda. Dan kelambatan masuk kerja disambut PHK. Pemerintah gagal memenuhi kewajiban melindungi rakyatnya.
Sebulan, dua bulan, tiga bulan, tak terasa. Yang penting mengabdi sepenuh jiwa raga. Program 100 hari SBY, Skandal Bank Century, kenaikan gaji anggota dewan, bagi-bagi mobil di kalangan pejabat, semuanya lewat.
Roda waktu berjalan, pemilih dan yang dipilih segera kembali ke ranahnya masing-masing. Pendemo tak lagi bertebaran di jalanan. Kembali tenggelam berjuang melanjutkan kehidupan, sumpah serapahpun tertahan. Buruh, tukang becak, pedagang kaki lima, pengamen, semua memeras keringat di bawah terik matahari. Orang-orang yang terpilih pun memeras otak di ruang-ruang yang sejuk. Hasilnya?
Buruh masih jauh dari kesejahteraan. Mereka masih berkutat pada rendahnya upah, pelanggaran normatif, pelanggaran kebebasan berserikat. Petani, nelayan, dan rakyat kecil berada dalam kubangan bernama penindasan, bergelut dengan naiknya bahan-bahan makanan, dan jauh dari harapan akan hadirnya rasa keadilan.
Persoalan buruh dengan pengusaha, keributan pembeli dan pedagang, berantemnya sopir dan penumpang, sesungguhnya tidak hanya menjadi persoalan mereka. Kenakalan pengusaha, kenaikan BBM, kenaikan bahan-bahan kebutuhan hidup, memicu emosi siapapun yang menanggung dampaknya.
Ketika buruh menuntut agar pengusaha membayar upah sesuai UMK, pengusaha bilang tidak bisa. Kenakalan pengusaha, terkadang bukanlah kenakalannya sendiri. Ia juga dampak dari kenakalan birokrasi, pungli, juga korupsi yang membuat hukum menjadi kendor untuk memberi peluang adanya pelanggaran. Juga pasar bebas yang menyebabkan daya saing rendah.
Setahun, dua tahun, lima tahun. Geliat pemilu akan dimulai lagi, berbagai iklan bertebaran lagi, berbagai janji berhamburan lagi. Berbagai partai sibuk lagi, rayu sana, rayu sini, jatuhkan sana, jatuhkan sini. Warga negara ‘harus’ menggunakan hak pilihnya kembali.
Ketika saat itu tiba, rakyat tak punya pilihan lain, selain dipaksa menyaksikan dan menerima kehadiran iklan-iklan yang menyerbu dan menjajah lingkungan tempat tinggal mereka. Wajah senyum, tawa, hingga seringai kelicikan terpajang dalam poster-poster dan bertengger di tempat-tempat umum, dapur umum, hingga WC umum.
Memilih, adalah menitipkan amanat, aspirasi, dan harapan. Kemakmuran, keadilan yang beradab, baru akan tercapai kalau para pemimpin adalah para pejuang. Mengutip apa yang dikatakan WS. Renda, perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata. Namun yang terjadi, para pemimpin negeri ini pengidap inkonsistensi.
Jakarta, 28 Januari, 2010
Kamis, 29 Oktober 2009
Kriminalisasi Perburuhan
Oleh Fiqoh
Berbuat kriminal. Siapapun, bisa menjadi pelaku. Namun jeratan pasal-pasal pidana, tidak berlaku pada siapapun, melainkan pada “siapa dia”.
Biasanya, dalam relasi yang tak seimbang, pihak yang kuatlah yang lebih berpotensi melakukan tindak kekerasan itu. Dalam hubungan buruh dan majikan, buruh selalu menjadi pihak yang terus dieksploitasi, diintimidasi, dan dirampas hak-haknya. Dan ironisnya, para pengusaha yang melakukan pelanggaran, justru bebas melenggang di jalur hukum. Di Disnaker mereka lolos, di pengadilan mereka pun menang. Uang, telah menjadi sutradara, ke mana kebenaran dan kesalahan diarahkan.
Hal ini mengingatkan saya pada pada kejadian tujuh tahun silam. Saat itu, delapan terdakwa diintrograsi secara terpisah di ruang pemeriksaan Polres Tangerang. Wajah-wajah sayu, muka-muka pucat dan tubuh yang lunglai berhamburan dari ruang introgasi di tengah malam yang dingin. Semuanya perempuan. Dalam introgasi yang dimulai sejak pukul 11 siang itu, berkali-kali kami dipaksa mengakui perbuatan yang tidak kami lakukan; merusak gerbang pabrik, merobohkan papan nama dan menggulingkan loker-loker besi tempat menaruh alas kaki.
Saya dan delapan teman yang ditangkap hari itu adalah buruh PT Koinus Jaya Garment, dan berstatus sebagai pengurus serikat buruh bernama SPTP. Sebagai pengurus, kami berkewajiban memperjuangkan hak-hak buruh yang dilanggar oleh pengusaha.
Saat kami akan dilepaskan, komandan yang memimpin penangkapan kami menekankan kalimat yang intinya, agar kami jangan sampai mengulangi perbuatan kami lagi. Kalau kami mengulangi perbuatan itu lagi, akan ditangkap lagi. Ancaman telah diberlakukan untuk hal yang tidak jelas: mengulangi apa? Perbuatan yang mana?
Bagaimana mungkin kami tak akan mengulangi perbuatan kami, jika ketidakadilan terus terjadi; upah yang dihutang, iuran Jamsostek digelapkan, dan tindak kekerasan selalu dilakukan oleh pengusaha. Apakah harus didiamkan?
Sejak perusahaan itu berdiri. Pelanggaran terus terjadi, meskipun kami sudah melaporkan ke semua instansi yang terkait; Disnaker, DPRD, Walikota dan Polisi.
Namun pelanggaran yang lebih arogan justru terjadi setelahnya. Pengurus serikat buruh dipecat, anggotanya diusir keluar pintu gerbang. Kebuntuan, ketersudutan, membuat tangan-tangan yang sesungguhnya lemah itu pada akhirnya mendorong kokohnya pintu gerbang. Keesokan harinya kami ditangkap. Meski bukan kami yang melakukan.
Asisah yang lemah hanya mampu meronta-ronta sebantar dan langsung masuk ke dalam mobol setelah salah satu aparat menekuk kepalanya. Siti yang bertubuh mungil dan lemas hanya melwan sebentar dan segera tak berdaya. Lusi yang sempat shock dengan penyeregapan tiba-tiba tanpa surat penangkapan sempat melakukan penolakan. Dan dan penokan yang ia lakukan justru membuat para aparat samakin beringas. Ia ditenteng dan dilemparkan ke mobil. Kancing-kancing bajunyaa copot hingga kutangnya terlihat. Jeritan histeris terdengar di antara bunyi tembakan pasukan PHH yang diterjunkan saat itu.
Mungkin ini hanya babak kecil dari keseluruhan peran yang terus dimainkan oleh para aparat yang berslogan mengayomi rakyat itu. Kita masih bisa membaca catatan panjang yang merwarnai lembaran perjanalan para aktivis di tanah air. Sedari Indah Dita Sari hingga Mohtar Pakpahan, sedari Sunarti hingga Hamdani, Ngadinah, Imas, juga Marsinah yang mati dibunuh.
Saya dan teman-teman pergerakan sering dibuat miris karenanya. Perjuangan yang kami tempuh, laksana menyimpan ranjau. Hubungan antara pemilik modal dan buruh memang tak sebanding. Jangankan hanya dengan buruh. Pemerintah pun, juga dikuasai oleh pemilik modal yang menjanjikan keuntungan. Penindasan dilakukan secara sistematis melalui kebijakan, termasuk melibatkan peran aparat dalam permasalahan perburuhan.
Gulungan benang di tas Imas, Sendal bolong untuk Hamdani, pemenjaraan terhadap Ngadinah, hanyalah titik kecil yang mudah dikais dari pasal keranjang sampah KUHP negeri ini, untuk membelokkan perjuangan aktivis ke penjara. Itulah kriminalisasi perburuhan.
Jakarta, 20 Mei 2009
Jakarta, 20 Mei 2009
Berbuat kriminal. Siapapun, bisa menjadi pelaku. Namun jeratan pasal-pasal pidana, tidak berlaku pada siapapun, melainkan pada “siapa dia”.
Biasanya, dalam relasi yang tak seimbang, pihak yang kuatlah yang lebih berpotensi melakukan tindak kekerasan itu. Dalam hubungan buruh dan majikan, buruh selalu menjadi pihak yang terus dieksploitasi, diintimidasi, dan dirampas hak-haknya. Dan ironisnya, para pengusaha yang melakukan pelanggaran, justru bebas melenggang di jalur hukum. Di Disnaker mereka lolos, di pengadilan mereka pun menang. Uang, telah menjadi sutradara, ke mana kebenaran dan kesalahan diarahkan.
Hal ini mengingatkan saya pada pada kejadian tujuh tahun silam. Saat itu, delapan terdakwa diintrograsi secara terpisah di ruang pemeriksaan Polres Tangerang. Wajah-wajah sayu, muka-muka pucat dan tubuh yang lunglai berhamburan dari ruang introgasi di tengah malam yang dingin. Semuanya perempuan. Dalam introgasi yang dimulai sejak pukul 11 siang itu, berkali-kali kami dipaksa mengakui perbuatan yang tidak kami lakukan; merusak gerbang pabrik, merobohkan papan nama dan menggulingkan loker-loker besi tempat menaruh alas kaki.
Saya dan delapan teman yang ditangkap hari itu adalah buruh PT Koinus Jaya Garment, dan berstatus sebagai pengurus serikat buruh bernama SPTP. Sebagai pengurus, kami berkewajiban memperjuangkan hak-hak buruh yang dilanggar oleh pengusaha.
Saat kami akan dilepaskan, komandan yang memimpin penangkapan kami menekankan kalimat yang intinya, agar kami jangan sampai mengulangi perbuatan kami lagi. Kalau kami mengulangi perbuatan itu lagi, akan ditangkap lagi. Ancaman telah diberlakukan untuk hal yang tidak jelas: mengulangi apa? Perbuatan yang mana?
Bagaimana mungkin kami tak akan mengulangi perbuatan kami, jika ketidakadilan terus terjadi; upah yang dihutang, iuran Jamsostek digelapkan, dan tindak kekerasan selalu dilakukan oleh pengusaha. Apakah harus didiamkan?
Sejak perusahaan itu berdiri. Pelanggaran terus terjadi, meskipun kami sudah melaporkan ke semua instansi yang terkait; Disnaker, DPRD, Walikota dan Polisi.
Namun pelanggaran yang lebih arogan justru terjadi setelahnya. Pengurus serikat buruh dipecat, anggotanya diusir keluar pintu gerbang. Kebuntuan, ketersudutan, membuat tangan-tangan yang sesungguhnya lemah itu pada akhirnya mendorong kokohnya pintu gerbang. Keesokan harinya kami ditangkap. Meski bukan kami yang melakukan.
Asisah yang lemah hanya mampu meronta-ronta sebantar dan langsung masuk ke dalam mobol setelah salah satu aparat menekuk kepalanya. Siti yang bertubuh mungil dan lemas hanya melwan sebentar dan segera tak berdaya. Lusi yang sempat shock dengan penyeregapan tiba-tiba tanpa surat penangkapan sempat melakukan penolakan. Dan dan penokan yang ia lakukan justru membuat para aparat samakin beringas. Ia ditenteng dan dilemparkan ke mobil. Kancing-kancing bajunyaa copot hingga kutangnya terlihat. Jeritan histeris terdengar di antara bunyi tembakan pasukan PHH yang diterjunkan saat itu.
Mungkin ini hanya babak kecil dari keseluruhan peran yang terus dimainkan oleh para aparat yang berslogan mengayomi rakyat itu. Kita masih bisa membaca catatan panjang yang merwarnai lembaran perjanalan para aktivis di tanah air. Sedari Indah Dita Sari hingga Mohtar Pakpahan, sedari Sunarti hingga Hamdani, Ngadinah, Imas, juga Marsinah yang mati dibunuh.
Saya dan teman-teman pergerakan sering dibuat miris karenanya. Perjuangan yang kami tempuh, laksana menyimpan ranjau. Hubungan antara pemilik modal dan buruh memang tak sebanding. Jangankan hanya dengan buruh. Pemerintah pun, juga dikuasai oleh pemilik modal yang menjanjikan keuntungan. Penindasan dilakukan secara sistematis melalui kebijakan, termasuk melibatkan peran aparat dalam permasalahan perburuhan.
Gulungan benang di tas Imas, Sendal bolong untuk Hamdani, pemenjaraan terhadap Ngadinah, hanyalah titik kecil yang mudah dikais dari pasal keranjang sampah KUHP negeri ini, untuk membelokkan perjuangan aktivis ke penjara. Itulah kriminalisasi perburuhan.
Jakarta, 20 Mei 2009
Jakarta, 20 Mei 2009
Selasa, 27 Oktober 2009
Keegoan
Oleh Fiqoh
Ini bukan tentang berapa kali kamu meminta maaf. Juga bukan berapa kali mengulang permohonan. Bukan itu.
Tak usah terus-menerus meminta. Nanti malah membuatmu lelah dan membuatku bosan. Tak perlu selalu memohon pengertian dan pemakluman. Sudahlah, usah habiskan waktumu dan jangan ganggu waktuku untuk itu.
Yah, kita pernah saling berjanji; apapaun yang terjadi, kita akan selalu bersama. Memikirkan itu, aku kasihan padamu dan tentu pada diriku. Janji itu laksana belenggu. Dengan itu kita saling menjerat. Ketika yang satu berkhianat, yang lain menggugat. Cinta diam-diam pergi menghilang. Semua kata hanya demi memberi alasan pada keegoan. Hubungan yang terjalin, lebih mirip pertemuan dua pengacara di ajang debat.
Tadinya, lebih baik kau memberiku mimpi. Lalau kau ajak aku meraihnya. Kita meraihnya bersama. Kata temankau, mimpi akan memberi kita harapan, dan harapan menjadi keyakinan yang dahsyat. Keyakinan, bahwa impian itu mendekati kenyataan.
Bagiku, tak apa kau berkali-kali salah, berkali-kali ingkar. Yang penting aku juga melihatmu berkali-kali berusaha benar. Bagiku, cukuplah aku tahu bahwa kau berupaya. Upaya itu lebih konkrit dari sekedar kata-kata, dibanding banyak berkata, namun sikapnya bertentangan dalam realita. Sia-sia.
Ada pepatah, di saat cinta mulai menipis, maka kesalahan mulai menumpuk. Janji setia di saat mencinta, sumpah serapah di kala kebosanan mendera. Untuk apa masih mempertahankannya? Mungkin lebih baik kita lepaskan saja.
Cinta dan kepercayaan, akan bersemayam pada siapa yang memang pantas. Tidak mungkin kebohongan berdampingan dengan kejujuran. Jika dipaksakan, yang nampak justru hitam-putih yang kian kontras.
Sekali lagi, ini bukan tentang berapa kali kamu meminta maaf. Meminta pengertian. Meminta kepercayaan.
Karena, meski beribu kali kamu meminta maaf, kalau kau terus mengulangnya, semua akan percuma. Karena, jika terus-menerus kau menciderainya, ia akan retak dan tak lagi seperti semula. Dan jika kau tetap menginginkannya utuh, maka yang akan kau dapati adalah egomu sendiri.
Dalam hidup ini, yang terpenting adalah berkarya. Hasilnya, biarkan orang lain menilai. Dan jika cinta hendak kau jadikan kerya terindahmu, indahkanlah ia. Jangan malah kau merusaknya dari waktu ke waktu.
Jakarta, 26 Oktober 2009
Ini bukan tentang berapa kali kamu meminta maaf. Juga bukan berapa kali mengulang permohonan. Bukan itu.
Tak usah terus-menerus meminta. Nanti malah membuatmu lelah dan membuatku bosan. Tak perlu selalu memohon pengertian dan pemakluman. Sudahlah, usah habiskan waktumu dan jangan ganggu waktuku untuk itu.
Yah, kita pernah saling berjanji; apapaun yang terjadi, kita akan selalu bersama. Memikirkan itu, aku kasihan padamu dan tentu pada diriku. Janji itu laksana belenggu. Dengan itu kita saling menjerat. Ketika yang satu berkhianat, yang lain menggugat. Cinta diam-diam pergi menghilang. Semua kata hanya demi memberi alasan pada keegoan. Hubungan yang terjalin, lebih mirip pertemuan dua pengacara di ajang debat.
Tadinya, lebih baik kau memberiku mimpi. Lalau kau ajak aku meraihnya. Kita meraihnya bersama. Kata temankau, mimpi akan memberi kita harapan, dan harapan menjadi keyakinan yang dahsyat. Keyakinan, bahwa impian itu mendekati kenyataan.
Bagiku, tak apa kau berkali-kali salah, berkali-kali ingkar. Yang penting aku juga melihatmu berkali-kali berusaha benar. Bagiku, cukuplah aku tahu bahwa kau berupaya. Upaya itu lebih konkrit dari sekedar kata-kata, dibanding banyak berkata, namun sikapnya bertentangan dalam realita. Sia-sia.
Ada pepatah, di saat cinta mulai menipis, maka kesalahan mulai menumpuk. Janji setia di saat mencinta, sumpah serapah di kala kebosanan mendera. Untuk apa masih mempertahankannya? Mungkin lebih baik kita lepaskan saja.
Cinta dan kepercayaan, akan bersemayam pada siapa yang memang pantas. Tidak mungkin kebohongan berdampingan dengan kejujuran. Jika dipaksakan, yang nampak justru hitam-putih yang kian kontras.
Sekali lagi, ini bukan tentang berapa kali kamu meminta maaf. Meminta pengertian. Meminta kepercayaan.
Karena, meski beribu kali kamu meminta maaf, kalau kau terus mengulangnya, semua akan percuma. Karena, jika terus-menerus kau menciderainya, ia akan retak dan tak lagi seperti semula. Dan jika kau tetap menginginkannya utuh, maka yang akan kau dapati adalah egomu sendiri.
Dalam hidup ini, yang terpenting adalah berkarya. Hasilnya, biarkan orang lain menilai. Dan jika cinta hendak kau jadikan kerya terindahmu, indahkanlah ia. Jangan malah kau merusaknya dari waktu ke waktu.
Jakarta, 26 Oktober 2009
Jumat, 23 Oktober 2009
Selamat Pagi
Oleh Fiqoh
Matahari sudah tinggi. Pagi sudah terlewati. Berbatang-batang rokok tinggal menyisakan puntungnya. Kaleng bir berserakan, isinya tertuang tanpa sisa.
Selamat pagi. Kuucap dari sini. Meski ini terlambat. Aku tetap mengucapkannya untukmu. Tak harus melalui sms. Atau email. Atau bertelpon. Semoga kau tahu.
Selamat pagi. Sekali lagi kuingin mengulangnya untukmu. Tapi dari sini. Dari hatiku saja. Biarlah ia tak lagi terdengar, tapi cukup dirasa. Semoga.
Kau bilang rasa itu tetap akan bersama kita. Meski ia tak hadirkan raga. Abstrak.
Tapi bagiku, itu disebut kehilangan. Karena kau pernah ada dan kusentuh. Aku kehilanganmu. Jejaknya meningalkan luka.
Yang abstrak itu, sejak semula memang tak tergambarkan; bukan tentangmu. Kamu yang pernah bergumul denganku. Menempati sisi ruang di hatiku. Ruang yang kini kau tinggalkan. Kosong. Hampa. Menyesakkan.
Segalanya berubah seketika.
Sikapku, menurut teman-teman dekatku tak seperti biasanya
Makanku, kehilangan selera
Syarafku, entah kenapa selalu membuatku terjaga
Meski mataku perih, ia tetap saja terbuka
Tapi, aku tak menangis
Mungkin telah kering dari sumbernya.
Sekering jiwaku, jiwa yang telah bergeser dari tempatnya semula
Mungkin, ini yang disebut trauma
Tadinya kupikir, tak sama. Antara kau dan dia. Tadinya kupikir, tak sama antara kau dan mereka. Tapi, mungkin itulah manusia. Semua datang dan pergi dengan alasannya.
Januari aku terluka
Tiga bulan kemudian kau membalutnya
Kau bawa aku ke dunia yang lain, penuh semerbak bunga-bunga
April yang indah
Mei, kau bawa aku bermimpi
Juni, kau melambungkan aku tinggi
Juli, kau tinggalkan aku di sini
Dan aku tak tahu jalan kembali
Aku masih mengawang, kau sudah memijak bumi
Dari sana, kau sentakkan aku untuk bangun dan melihat dari ketinggian, dimana aku harus meluncur ke titik nadirku.
Kosong. Putih.
Lepaslah. Mungkin kau akan kembali putih tanpaku. Namun aku belum tentu.
Tapi, aku mengerti. Setiap manusia, punya prinsipnya sendiri. Tempuhlah jalanmu. Aku juga akan menempuh jalanku.
14 Juli 2009
Matahari sudah tinggi. Pagi sudah terlewati. Berbatang-batang rokok tinggal menyisakan puntungnya. Kaleng bir berserakan, isinya tertuang tanpa sisa.
Selamat pagi. Kuucap dari sini. Meski ini terlambat. Aku tetap mengucapkannya untukmu. Tak harus melalui sms. Atau email. Atau bertelpon. Semoga kau tahu.
Selamat pagi. Sekali lagi kuingin mengulangnya untukmu. Tapi dari sini. Dari hatiku saja. Biarlah ia tak lagi terdengar, tapi cukup dirasa. Semoga.
Kau bilang rasa itu tetap akan bersama kita. Meski ia tak hadirkan raga. Abstrak.
Tapi bagiku, itu disebut kehilangan. Karena kau pernah ada dan kusentuh. Aku kehilanganmu. Jejaknya meningalkan luka.
Yang abstrak itu, sejak semula memang tak tergambarkan; bukan tentangmu. Kamu yang pernah bergumul denganku. Menempati sisi ruang di hatiku. Ruang yang kini kau tinggalkan. Kosong. Hampa. Menyesakkan.
Segalanya berubah seketika.
Sikapku, menurut teman-teman dekatku tak seperti biasanya
Makanku, kehilangan selera
Syarafku, entah kenapa selalu membuatku terjaga
Meski mataku perih, ia tetap saja terbuka
Tapi, aku tak menangis
Mungkin telah kering dari sumbernya.
Sekering jiwaku, jiwa yang telah bergeser dari tempatnya semula
Mungkin, ini yang disebut trauma
Tadinya kupikir, tak sama. Antara kau dan dia. Tadinya kupikir, tak sama antara kau dan mereka. Tapi, mungkin itulah manusia. Semua datang dan pergi dengan alasannya.
Januari aku terluka
Tiga bulan kemudian kau membalutnya
Kau bawa aku ke dunia yang lain, penuh semerbak bunga-bunga
April yang indah
Mei, kau bawa aku bermimpi
Juni, kau melambungkan aku tinggi
Juli, kau tinggalkan aku di sini
Dan aku tak tahu jalan kembali
Aku masih mengawang, kau sudah memijak bumi
Dari sana, kau sentakkan aku untuk bangun dan melihat dari ketinggian, dimana aku harus meluncur ke titik nadirku.
Kosong. Putih.
Lepaslah. Mungkin kau akan kembali putih tanpaku. Namun aku belum tentu.
Tapi, aku mengerti. Setiap manusia, punya prinsipnya sendiri. Tempuhlah jalanmu. Aku juga akan menempuh jalanku.
14 Juli 2009
Langganan:
Postingan (Atom)