Apa yang kita pikirkan, ketika di sebuah perpustakaan, tenggelam di antara berbagai judul bacaan. Apalagi, judul-judul itu menampilkan nama-nama penulis kawakan?
“Berhentilah membaca, lalu menulislah,” kata Donald K Emmerson, seorang profesor politik dari Madison University, kini mengajar di Stanford University.
Menarik kesimpulan dari apa yang kita baca, biasa dilakukan kebanyakan dari kita. Namun, jarang yang menggunakan kesimpulan itu sebagai kunci membuka percakapan melalui tulisan.
Don bilang, terjunlah, melompatlah, tulislah. Meski tak selalu, kesimpulan kita membenarkan tulisan itu. Ia bisa berupa tentangan, bantahan atau kritik.
Di sebuah sore yang masih menyisakan terik dan berhawa panas, Don menaiki tanggal demi tangga menuju lantai empat gedung Pantau Strategy, di Jl Kebayoran Lama No 18 CD, Jakarta Selatan.
Don, yang memiliki ketertarikan kuat terhadap perpolitikan di Indonesia, antusias berdiskusi kepada para peserta kursus narasi angkatan pertama. Don tiba di kantor Pantau sekitar pukul tujuh. Dengan seksama, ia mendengarkan para peserta yang memperkenalkan diri sambil mengangguk-anggukkan kepala.
“Bagi saya, menulis itu seperti sex! Mohon maaf, barangkali ini adalah pemikiran yang liar. Jika struktur itu menjadi tema, maka sebaiknya kita menghafal peraturan, agar kita dapat melanggarnya,” kata Don sambil tersenyum.
Menurutnya, karangan yang melangar peraturan, justru menarik karena pelanggarannya. Ia akan membuat orang menjadi penasaran. Tentu, ini tidak bisa dilakukan kalau kita menulis hal-hal yang bersifat teknis seperti penyakit jantung, HIV atau hal-hal yang memang ada kerangka teorinya.
Dalam konteks menulis, Don kerap menegaskan pentingnya keberanian untuk terjun dan melompat dengan kesimpulan yang kita buat. Meski ia sadar bahwa hal itu kedengarannya arogan dan terkesan anarkis. Namun, struktur yang diterapkan mentah-mentah, memang cenderung kurang menarik. Meski ia tetap penting.
Why (mengapa) adalah salah satu dari rumus wartawan yang berpedoman pada 5 W + 1 H, singkatan dari who (siapa), what (apa), Where (dimana), when (kapan), why (mengapa), dan how (bagaimana).
Why, dimaknai oleh Don laksana lautan. Dari sana, banyak hal yang tiada habisnya untuk terus digali. Tinggal bagaimana kita melakukan koreksi dan pengamatan. Bila perlu, selalu lakukan pertentangan atau perlawanan terhadap apapun, termasuk pada diri sendiri. Dari situ, akan muncul sesuatu yang baru. Karena belum tentu, apa yang sudah dituliskan orang terdahulu, selalu benar.
Kita memiliki kecenderungan, berangkat dari kesimpulan dan mencari fakta. Padahal, akan lebih masuk akal apabila mengumpulkan fakta dan membuat kesimpulan. Tujuannya, kita tidak mengarahkan fakta dari sesuatu yang sudah kita simpulkan. Meskipun tak selalu hitam putih hal itu diterapkan.
“Bagaimana pak Don bisa menjadi penulis handal. Apakah ada kaitannya dengan berbagai macam yang Anda ketahui tentang Dunia?” tanya Sarah.
“Tentu, untuk menjadi seorang penulis handal, kita perlu tahu dunia lain. Maksudnya, dunia di luar diri kita atau rutinitas kita.”
Namun, yang terpenting, bernai memulai. Menurutnya, lebih baik menanggung kemungkinan salah daripada hanya terus membaca dan berdiam saja.
“Jangan takut dengan kontroversi,” kata Don, dalam bahasa Indonesia yang fasih dan sikap yang santun.
Jakarta, April 2007 (Fiqoh)
Senin, 19 April 2010
Minggu, 18 April 2010
Saksi Mata
Peristiwa besar sering terjadi tanpa
disaksikan wartawan. Kita butuh peran warga yang berada di dekat atau di tengah
peristiwa untuk memberikan informasi. Pewarta ini biasa kita sebut dengan
Citizen Journalism atau Jurnalisme Warga. Karenanya, skill menulis penting
dimiliki oleh siapapun.
Lily Yulianty Farid pengelola situs
berita Panyingkul menyampaikan hal di atas pada sebuah sesi kursus menulis Pantau,
16 September 2009.
Sebelum terjadi revolusi teknologi informasi
seperti sekarang ini, saksi mata rata-rata bersikap pasif. Kini, dengan kamera
digital di tangan, handphone, dan kemudahan mengakses internet, membuat
kita punya privilege, sama seperti wartawan profesional, dan bisa
memproduksi berita sendiri.
Bagai sebuah fenomena, orang-orang yang
memegang kamera di tangan, berkecenderungan untuk mendekat pada peristiwa
seperti lokasi gempa, tsunami, tanggul jebol, hingga lokasi ledakan bom.
Membuat berita sendiri, menjadi hal yang
tak kalah penting ketika media mainstream
kadang jarang berpihak pada peristiwa sehari-hari, yang jauh lebih riil dari
angka statistic, atau berita sekilas seperti straight news.
Pertanyaannya, di mana mereka
mendistribusikan hasil rekaman, tangkapan kamera, tulisan, atau video-nya?
Saat ini kita mengenal apa yang disebut
personal media. Di era kecanggihan teknologi, ia memiliki kedudukan sama.
Berita dari BBC, CNN, facebook, website, blog, semuanya sama-sama
tampil di layar monitor saat kita membuka internet. Menurut Lily, yang
membedakan hanyalah kualitasnya.
Karenanya, memiliki skill menulis jauh
lebih penting selain kecanggihan perangkatnya. Di sinilah, citizen
journalism perlu terus membekali diri mengenal etika dan kaidah jurnalisme,
layaknya yang diajarkan di kantor-kantor redaksi.
Citizen journalism, bahkan menjadi alternatif bagi banyak kalangan. Baik
pekerja profesional, orang-orang NGO, LSM, juga para wartawan yang frustasi
dengan sistem media dimana mereka bekerja, yang tak bisa memuat berita-berita
terbagus mereka. Banyak media yang berprinsip semakin singkat berita semakin
baik. Jika demikian, bagaimana dapat menyajikan tulisan yang menawarkan kebaruan,
komprehensif, mendalam dan analitis?
Memproduksi berita sendiri, menurut Lily
sangat krusial di dalam citizen journalism. Supaya kita tidak latah
menyikapi berita yang seragam. Contoh, ketika Britney Spears menggunduli
rambutnya, maka berita itulah yang kita baca di berbagai media di berbagai
wilayah seperti Jakarta, Banten, Makassar dan di mana mana.
Citizen journalism bertujuan mengembalikan fungsi mulia media massa itu
sebagai fungsi pendidik, penegak demokrasi, ketika fungsi informasi sudah
dipengaruhi oleh kepentingan bisnis. Berita ekonomi tidak lagi bertema ekonomi
kerakyatan melainkan tentang peluncuran produk.
Dalam pendangan Lily, berita-berita lokal
justru diperlukan di dalam Indonesia yang kaya akan keragaman. Untuk konteks
negara yang memiliki masalah dengan demokrasi, masalah demokrasi itulah yang
harusnya terus diangkat. Isu-isu tersebut bukan hanya menjadi tugas kalangan
aktivis saja, tapi juga kita semua, melalui peranan citizen journalism.
“Kabarkan yang terjadi di sekitarmu,
karena trend media pada umumnya semakin seragam,” pungkas Lily.
Jakarta, 16 September 2009 (Fiqoh)
Bias
oleh fiqoh
Pro dan kontra, sikap mendukung atau menolak atas
peristiwa yang terjadi di tanah air adalah ciri bahwa kita memiliki bias.
Dimana pengaruh agama, status sosial, orientasi
politik, etnik, kewarganegaraan, pendidikan, pengalaman pribadi, seringkali
menghasilkan penafsiran kebenaran yang berbeda-beda.
Kata-kata di atas, saya kutip dari Andreas
Harsono di sebuah sesi kelas menulis narasi yang diadakan oleh Pantau. Obyektifitas
ini penting, karena disadari atau tidak, ia terpengaruh oleh sikap kita, sikap
yang beragam karena bias tersebut.
Penulis khsususnya, penting menyadari hal ini, karena
siapapapun yang menulis adalah praktisi jurnalisme, dan wajib menjunjung tinggi
kaidah-kaidah jurnalisme itu. Dari sana sikap kepada siapa kita berpihak akan mempengaruhi
tulisan. Apa buktinya?
Andreas memperlihatkan poin-poin dalam buku Sembilan
Elemen Jurnalisme karya Bill Kovach dan Tom Rosenstiel—buku yang kemudian
mengilhami karya Andreas dalam judul “Agama” Saya Jurnalisme.
Andreas juga menyuguhi peserta kursus dengan
pertanyaan tentang keinginan rakyat Aceh yang ingin merdeka, sikap pendatang
terhadap keinginan Papua Merdeka, makna kebanggaan terhadap Permesta di
Minahasa, isu Islamisasi di Timor, Flores dan Ambon, juga isu Kristenisasai di
Jawa, dan mengenai siapa yang disembelih olah Nabi Ibrahim?
Beragam pendapat segera terjadi. Pro dan kontra. Untuk
jawaban pertanyaan akhir terlihat jelas kontrasnya—tergantung apakah ia seorang
muslim atau non muslim.
Semua orang bisa memiliki pendapat, tetapi bagaimana
seorang penulis mengatasi biasnya? Apakah penulis bisa obyektif? Tentu jawabnya
tidak.
Dijelaskan di kelas ini, pemilihan sudut pandang,
diksi, narasumber dan kutipan, adalah bagian dari bias. Lalu apa yang membuat
tulisan kita dipercaya oleh masyarakat?
Tentu, siapa yang lebih menjaga mutu dan tidak ngawur,
dialah yang akan mendapat kepercayaan di masyarakat. Karenanya, kesadaran bahwa
kita tidak bisa obyektif, mewajibkan kita untuk proporsional dan tidak menjadi
rasis atau sektarian.
Berita dan kebenaran
Salah satu tugas wartawan adalah memberitakan
kebenaran. Tapi itu pun perlu dipertanyakan, buat siapa kebenaran itu? Menurut
orang Batak-kah? orang Aceh-kah? Jawa? Partai yang mana? Jawabnya bisa iya,
bisa tidak.
Apakah akurat sudah pasti benar? Bisa iya, bisa tidak.
Karena akurat bukan sekedar akurat, tapi juga konteks.
Di sini, pengajar juga menjelaskan bahwa kebenaran
bukan merupakan debat filsafat yang tak berujung, melainkan kebenaran
fungsional -- orang butuh informasi lalu lintas agar bisa mengambil rute yang
lancer; polisi melacak dan menangkap tersangka untuk disidik dan dikembangkan;
atau keputusan-keputusan hakim yang bisa digugat dan dipraperadilankan. Semua
dilakukan berdasarkan kebenaran fungsional. Bukan kebenaran dalam tataran
filosofis. Kebenaran itu dibentuk hari demi hari, lapis demi lapis, tetes demi
tetes hingga terbentuk bangunan kebenaran yang lebih lengkap dan lebih besar.
Kebenaran ini bisa senantiasa direvisi layaknya ilmu pengetahuan, sejarah, dsb.
Jakarta, 25 November 2009
Writing Attitude dari Harry Bhaskara
Mata dan hati harus menjadi satu, dan diperlukan konsentrasi yang intens. Kalau mata kita melihat, tangan kita mengukur, dan hati kita tenang, artinya sudah ada keserasian. Itulah yang membuat karya yang dihasilkan selalu tepat, sangat halus dan sangat harmonis.
Dikutip dari Hadi Wiyono, pembatik berusia tujuh puluhan tahun dari Yogya, oleh Harry Bhaskara, editor The Jakarta Post.. Dan ia mengubahnya menjadi begini:
Ada sesuatu antara pikiran, jari, mata dan hati. Irama itu yang mesti disatukan. Karena ia bergerak sendiri-sendiri. Irama itu akan terbentuk kalau kita melatihnya setiap hari.
”Jika ingin menjadi penulis, ya teruslah menulis,” kata Harry.
Hal yang kedengarannya sederhana inilah yang disampaikan oleh Harry Bhaskara ketika berdiskusi dengan teman-teman World Agroforestry Centre (ICRAF) di Bogor Mei lalu. Ia menuturkan tentang bagaimana dunia wartawan bekerja keras penuh ketekunan, tak kenal waktu, lupa makan dan sering didera stres. Mereka bekerja dalam tekanan deadline ke deadline, menggunakan setiap menitnya hanya berfokus pada berita.
”Menulislah terus,” itulah pesan yang selalu ditekankan Harry. Proseslah yang akan membentuk kita menjadi penulis sesungguhnya. Para penulis terkenal di luar negeri sekalipun, melakukan itu. Mereka juga terkadang dihantui keraguan dan merasa bodoh. Itulah dunia penulisan. Maka, kita perlu terus mencoba.
”Inspirasi, ia hanya 1% diperlukan. Dan 99% adalah, belajar menulis itu sendiri. Menulislah apa saja,” kata Harry.
Tulisan Harry Bhaskara yang rutin mengisi kolom The Jakarta Post, lahir dari potongan-potongan kertas kecil yang selalu ia sisipkan di dompetnya. Ide-ide itu tidak muncul dari belakang meja. Kadang ia timbul dari keriuhan orang yang berlalu-lalang, kadang muncul ketika menyaksikan antrian orang-orang saat menunggu bus, dan di mana saja ia berada.
Tak selalu, kesunyian memberi ilham, tak selalu keramaian hanya menyisakan kebisingan. Banyak inspriasi akan muncul dari sana. Konon, kehadiran orang-orang di sekitar kita dapat menyebarkan energi.. Dan tugas kita, menuliskan setiap ide yang ada di kepala. Karena kepala kita tidak pernah kosong dan tidak pernah berhenti.
”Kalau tidak ada ide, tulis saja tidak ada ide,” kata Harry menegaskan.
Selebihnya, buatlah janji pada diri sendiri. Duduk di tempat yang sama, pada jam yang sama, setiap hari, meski hanya sepuluh menit saja. Berikan waktu pada diri sendiri untuk menulis.
Jangan berubah jamnya, jangan berubah tempatnya. Kalau pagi, ya pagi. Kalau mau sore, ya sore. Kalau maunya malam, ya malam. Misalnya jam 5 pagi, ya harus rutin jam 5 pagi. Posisi tempat, juga jangan diganti-ganti. Begitu Harry berpesan.
Disiplin macam itu, akan membuat kita terpacu. Mungkin pada akhirnya kita akan merasa tak cukup dengan 10 menit. Proses itulah yang sesungguhnya menuntun kita untuk mencari apa yang disebut writing attitude.
”Majalah Times kenapa bisa begitu bagus? Mengapa majalah itu bisa digemari di seluruh dunia? Penyuntingnya dilakukan oleh sapuluh orang yang hebat. Artinya, jangan bosan untuk selalu menyunting tulisan kita. Kita akan terus merangkai kata-kata sampai tepat.
”Mengapa ada penulis yang sering jadi dan ada penulis yang tidak?” tanya Harry.
Justru memang hanya itu bedanya. Terkenal dan tidak terkenal. Tapi, sama-sama disebut penulis. Menurut Harry, penulis-penulis terkenal juga melalui proses yang tak mudah. Mereka mengalami penolakan hingga berpuluh kali agar tulisannya bisa masuk ke media. Bahkan ada yang lebih dari 20 kali.
Namun, terlepas berbagai kendala yang kadang tak mudah dilalui, bagaimanapun menulis itu indah. Indahnya penulisan itu karena tidak ada yang sama. Itu salah satu seninya.
”Dan kita perlu terus berjuang untuk melawan kesulitan itu. Itu yang harus kita tanamakan pada diri kita sendiri. Ibarat gunung, ia tinggi sekali dan tidak pernah ada puncaknya,” tutur Harry.
Menurutnya, menulis hanya salah satu cabang dari Liberal Art. Ada yang disebut dialektika, gramer dan retorika. Tulis menulis dan berbicara itu termasuk retorika. Dan kalau kita menulis, sebenarnya kita berpikir. Dan kalau kita berpikir, sebenarnya kita melakukan dialektika.
Dan dialektika itulah yang dilakukan oleh para figur pemimpin-pemimpin terdahulu. Sebut saja Soekarno, Hatta, Cokro Aminoto, Sutan Syahrir, Ahmad Dahlan dan lainnya yang semuanya penulis.
Mengapa mereka menjadi pemimpin? Karena mereka melakukan dialektika. Dialektika, terkadang untuk mengadu atau menguji argumentasi kita. Tak perlu takut kalau ia kontroversi. Kontroversi akan membuat orang berpikir. Dan kita akan terus berpikir.
Jakarta, 6 Mei 2009 (Fiqoh)
Dikutip dari Hadi Wiyono, pembatik berusia tujuh puluhan tahun dari Yogya, oleh Harry Bhaskara, editor The Jakarta Post.. Dan ia mengubahnya menjadi begini:
Ada sesuatu antara pikiran, jari, mata dan hati. Irama itu yang mesti disatukan. Karena ia bergerak sendiri-sendiri. Irama itu akan terbentuk kalau kita melatihnya setiap hari.
”Jika ingin menjadi penulis, ya teruslah menulis,” kata Harry.
Hal yang kedengarannya sederhana inilah yang disampaikan oleh Harry Bhaskara ketika berdiskusi dengan teman-teman World Agroforestry Centre (ICRAF) di Bogor Mei lalu. Ia menuturkan tentang bagaimana dunia wartawan bekerja keras penuh ketekunan, tak kenal waktu, lupa makan dan sering didera stres. Mereka bekerja dalam tekanan deadline ke deadline, menggunakan setiap menitnya hanya berfokus pada berita.
”Menulislah terus,” itulah pesan yang selalu ditekankan Harry. Proseslah yang akan membentuk kita menjadi penulis sesungguhnya. Para penulis terkenal di luar negeri sekalipun, melakukan itu. Mereka juga terkadang dihantui keraguan dan merasa bodoh. Itulah dunia penulisan. Maka, kita perlu terus mencoba.
”Inspirasi, ia hanya 1% diperlukan. Dan 99% adalah, belajar menulis itu sendiri. Menulislah apa saja,” kata Harry.
Tulisan Harry Bhaskara yang rutin mengisi kolom The Jakarta Post, lahir dari potongan-potongan kertas kecil yang selalu ia sisipkan di dompetnya. Ide-ide itu tidak muncul dari belakang meja. Kadang ia timbul dari keriuhan orang yang berlalu-lalang, kadang muncul ketika menyaksikan antrian orang-orang saat menunggu bus, dan di mana saja ia berada.
Tak selalu, kesunyian memberi ilham, tak selalu keramaian hanya menyisakan kebisingan. Banyak inspriasi akan muncul dari sana. Konon, kehadiran orang-orang di sekitar kita dapat menyebarkan energi.. Dan tugas kita, menuliskan setiap ide yang ada di kepala. Karena kepala kita tidak pernah kosong dan tidak pernah berhenti.
”Kalau tidak ada ide, tulis saja tidak ada ide,” kata Harry menegaskan.
Selebihnya, buatlah janji pada diri sendiri. Duduk di tempat yang sama, pada jam yang sama, setiap hari, meski hanya sepuluh menit saja. Berikan waktu pada diri sendiri untuk menulis.
Jangan berubah jamnya, jangan berubah tempatnya. Kalau pagi, ya pagi. Kalau mau sore, ya sore. Kalau maunya malam, ya malam. Misalnya jam 5 pagi, ya harus rutin jam 5 pagi. Posisi tempat, juga jangan diganti-ganti. Begitu Harry berpesan.
Disiplin macam itu, akan membuat kita terpacu. Mungkin pada akhirnya kita akan merasa tak cukup dengan 10 menit. Proses itulah yang sesungguhnya menuntun kita untuk mencari apa yang disebut writing attitude.
”Majalah Times kenapa bisa begitu bagus? Mengapa majalah itu bisa digemari di seluruh dunia? Penyuntingnya dilakukan oleh sapuluh orang yang hebat. Artinya, jangan bosan untuk selalu menyunting tulisan kita. Kita akan terus merangkai kata-kata sampai tepat.
”Mengapa ada penulis yang sering jadi dan ada penulis yang tidak?” tanya Harry.
Justru memang hanya itu bedanya. Terkenal dan tidak terkenal. Tapi, sama-sama disebut penulis. Menurut Harry, penulis-penulis terkenal juga melalui proses yang tak mudah. Mereka mengalami penolakan hingga berpuluh kali agar tulisannya bisa masuk ke media. Bahkan ada yang lebih dari 20 kali.
Namun, terlepas berbagai kendala yang kadang tak mudah dilalui, bagaimanapun menulis itu indah. Indahnya penulisan itu karena tidak ada yang sama. Itu salah satu seninya.
”Dan kita perlu terus berjuang untuk melawan kesulitan itu. Itu yang harus kita tanamakan pada diri kita sendiri. Ibarat gunung, ia tinggi sekali dan tidak pernah ada puncaknya,” tutur Harry.
Menurutnya, menulis hanya salah satu cabang dari Liberal Art. Ada yang disebut dialektika, gramer dan retorika. Tulis menulis dan berbicara itu termasuk retorika. Dan kalau kita menulis, sebenarnya kita berpikir. Dan kalau kita berpikir, sebenarnya kita melakukan dialektika.
Dan dialektika itulah yang dilakukan oleh para figur pemimpin-pemimpin terdahulu. Sebut saja Soekarno, Hatta, Cokro Aminoto, Sutan Syahrir, Ahmad Dahlan dan lainnya yang semuanya penulis.
Mengapa mereka menjadi pemimpin? Karena mereka melakukan dialektika. Dialektika, terkadang untuk mengadu atau menguji argumentasi kita. Tak perlu takut kalau ia kontroversi. Kontroversi akan membuat orang berpikir. Dan kita akan terus berpikir.
Jakarta, 6 Mei 2009 (Fiqoh)
Menulis itu Gampang
Malam itu, ada tiga hal yang saya catat saat diskusi bersama Arswendo Atmowiloto. Pertama soal kreatifitas, profesionalitas dan komunitas. Kreatifitas muncul dari setiap orang, setiap peristiwa. Dan ia, akan selalu berbeda-beda.
Ada tragedi, juga dramatisasi atas tragedi. Ada realita terlihat, juga realitas yang tak terlihat, namun ia ada dalam rasa. Dalam karya fiksi, rasa juga sebuah realitas, bahkan ketika ia berupa imajinasi sekalipun. Dan iamjinasi yang lahir dari pikiran yang bebas, seringkali melahirkan karya yang dahsyat.
Sebagai contoh, siapapun pernah mengalami patah hati. Tapi rasa yang kita alami tidak akan sama dengan siapapun. Dari situlah kreatifits dimunculkan. Dari sanalah sebenarnya keunikan itu menunjukkan kekhasannya sekaligus perbedaannya.
Fiksi atau non fiksi, sama-sama membutuhkan kreatifitas. Dan kreatifitas ini yang menurut Wendo membedakan seratus persen manusia dengan binatang. Kreatifitas itu bisa berupa penciptaan akan hal-hal yang baru atau memperbarui cetakan yang lama. Lampu, baju, kacamata, pembalut dan lainnya, semua ada karena ada kreatifitas. Kreatifitas dalam menyikapi hidup keseharian, akan memberi kebaruan-kebaruan.
Orang sering mengatakan bahwa perubahan tak selalu identik dengan hal yang baik. Maka itu, kreatifitas harus menuju pada profesionalitasnya.
Dalam proses itu, kita butuh orang-orang yang mendukung. Orang-orang yang memuji, hingga mengkritisi. Biasanya, sebuah komunitas akan membawa kita kepada komunitas lainnya, sehingga penulis tak hanya dengan komunitas penulis, tapi juga jaringan media, penerbit, juga produser. Net working tersebut, setidaknya bisa menjadi koneksi yang bisa memberi peluang pekerjaan, dan setidaknya, sebuah kesempatan.
WS Rendra yang punya nama besar pun, ia tidak menuju puncak itu seorang diri. Begitu juga pengarang lain seperti Hilman, Ayu Utami, Dewi Lestari, dan Andrea Hirata. Di sekeliling mereka ada teman-teman yang setia, ada koneksi, juga lobi. Wendo mengatakan ini sebagai contoh perkembangan orang perorang atau kelompok dalam karir kepenulisan.
Mengenal komunitas lain, artinya mengenal dan belajar hal-hal yang baru. Hal ini menyadarkan kita bahwa pintar di bidang yang lain, kadang bodoh di bidang tertentu. Sehebat-hebatnya manusia, tetap saja ada batasnya. Interaksi dengan orang-orang ’baru’, akan menumbuhkan pemikiran baru, membuka paradigma baru, dan ide-ide baru. Dan bisa memperkaya kemanusaiaan kita. Kata siapa menulis itu sulit?
”Percayalah sama saya, bahwa menulis itu gampang!” katanya.
Segampang apa? Menurutnya, segampang niat kita. Karena ia lahir di setiap situasi. Keadaan sedang jatuh cinta, patah hati, bahkan ketika kita berada di dalam penjara. Sesuatu yang dialami seseorang, belum tentu dialami seseorang yang lain. Dan...ia bukan hanya tenang’tulisan’ , tapi lebih kepada pergumulan-pergumul an bathin, sikap, juga semangat moral di dalamnya.
Arswendo memaknainya sebagai proses mengubah perilaku.
Jakarta, 10 Februari 2010 (Fiqoh)
Rabu, 10 Februari 2010
Nebeng Pamor
Hari itu Hermien mengajar untuk kedua kalinya, dilanjutkan oleh Otto. Kemudian sesi ditutup dengan acara foto bersama. Aku ikut mengabadikan gambar mereka. Dan saat itu George bilang, “Nanti Fiqoh masuk ke sini juga,” katanya.
Dua jepretan saja, lalu aku menyeruak di antara mereka. Sesudah itu, aku minta George untuk foto bertiga saja. Aku Nur dan dia.
“Mau saya pasang di sekretariat saya pak,” kataku.
George pun tersenyum, membetulkan topi hitamnyanya, menggandeng kami berdua. Acara ditutup. Ruangan mulai redup. George berlalu, bersama 20 peserta pelatihan itu.
Siang itu Ia bilang akan langsung menjadi fasilitator di sebuah komunitas masyarakat pribumi selepas acara di Pantau. Diskusi itu ada kaitannya dengan lingkungan, juga pertambangan. George kadang terlihat lelah. Turun naik tangga empat lantai, juga sering dikeluhkan peserta yang masih berusia muda. Hari pertama ia minta obat diare dan Enkasari, obat kumur yang mengandung daun sirih, untuk mengobati sariawannya yang sedang kumat. Ia juga minta disediakan jus belimbing saat makan siang untuk menjaga stamina tensinya.
Selama lima hari, bergantian para instruktur datang ke gedung Pantau, Jl Raya Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Di sana, berbagai pengalaman dan metode mereka paparkan. Sedari pembuatan outline hingga penelusuran, sedari memilih dan memilah data. Ada data obyketif, ada data subyektif. Ada audit rutinitas, ada audit investigasi. Subyektifitas data, bisa timbul karena sikap pro atau kontra, keterlibatan emosi dan sikap empati wartawannya. Namun tak ada yang lebih penting dari tujuan melakukan pendalaman, mengungkap kebenaran, untuk menghasilkan fakta yang tak bisa terbantahkan. Kalaupun datanya benar, kalaupun peristiwa itu fakta, maka kita masih perlu mempertanyakan: apakah itu berguna bagi publik? Itulah salah satu tujuan investigasi.
Mereka orang-orang hebat dan berani. Buat apa hebat kalau tak memiliki keberanian? Setidaknya itu yang kupikirkan ketika sesekali menyempatkan waktu, ikut mendengar apa yang mereka paparkan.
George selalu datang tepat waktu. Ia juga tinggal bersama-sama dengan para peserta di sebuah Wisma yang tak terlalu jauh dari Pantau. AC yang telah rusak tak mendinginkan ruangan secara maksimal dan sering dikeluhkan para peserta. Namun George tak mempersoalkannya. Ia justru sering terlihat bercanda.
“Selamat beristirahat dari satu kegiatan, dan selamat berganti dengan kegiatan yang lain. Selamat berkarya!” aku mengirim pesan padanya, sesampainya di tempat kos dengan sedikit keletihan.
“Terima kasih sobat. Sekali lagi terima kasih”, balasnya.
George akan terus melanglang buana. Berbagai persoalan sudah menunggunya. Salah satunya adalah pro dan kontra terhadap buku yang Ia tulis berjudul “Membongkar Gurita Cikeas”.
Ah, semoga ia tak lekas lelah. Dunia membutuhkan orang-orang yang memiliki kepedulian dan keberanian. Malam itu, udara panas di kamar kos tak lagi kurasa. Sudah terlalu sering, orang kecil sepertiku ini terlalu mempersoalkan hal-hal kecil. Padahal banyak persoalan besar di depan mata. Persoalan bangsa, persoalan bersama, tanggungjawab bersama pula.
George melakukan hal-hal besar, menyoroti persoalan-persoalan besar. Mungkin yang aku lakukan adalah hal-hal yang kecil, bersama orang-orang ‘kecil’. Aku berteriak di jalan, Ia berteriak di pengadilan, juga media. Semua bertujuan melakukan perubahan sesuai bidangnya: buruh, petani, nelayan, juga masyarakat yang menjadi korban dampak pertambangan, dll.
Sering aku merasa, betapa pating jrepot-nya memikirkan perjuangan buruh. Dalam realita keseharian, banyak masalah mendera. Membuat kami terjebak pada penyelesaian-penyelesaian yang secara langsung mengancam hidup mati mereka. Tapi persoalan berskala nasional, bahkan internasional, juga terus bertubi-tubi dan harus disikapi. Semuanya memberi sebab akibat yang tak jarang mematikan rakyat secara perlahan juga.
Persoalan lokal dan nasional, sejatinya berada pada satu pengendalian: komando pemerintahan, komando yang seringkali anti terhadap azas demokrasi yang sesungguhnya.
Aku ketawa sendiri memikirkan kata-kataku pada George sore itu, bahwa foto bersamanya hendak kujadikan penambah pamorku dalam gerakan serikat buruhku. Tapi… pamor yang sejati, dibentuk oleh laku. Tak ada jejak, tanpa sebuah perjalanan.
Setidaknya, pertemuanku dengan laki-laki tambun itu, bisa menambah pengetahuanku, dan kian meneguhkan langkahku. Masih terlalu banyak persoalan, dan membutuhkan kepedulian siapapun yang ingin peduli.
Jakarta, 29 Januari 2010 (Fiqoh)
Selasa, 02 Februari 2010
Yang Terpilih
Oleh Fiqoh
Rutinitas menggerus seluruh waktu. Waktu yang terasa…tak memberi kebaruan, antara yang lampau dan kekinian. Pengusaha boleh bilang, waktu adalah uang. Tapi bagi buruh di pabrik-pabrik, waktu kadang hanya bermakna proses penantian ke penantian, yang tak selalu membahagiakan.
Rutinitas itu berupa bangun pukul empat pagi, memasak nasi, menjerang air, menyeduh teh, atau memasak mie instan. Lalu menuju antrian WC umum, kamar mandi umum. Kemudian berdiri di mulut gang, dan masuk ke sesaknya bus jemputan. Memacu dinamo mesin, mengejar target produksi. Menahan air kemih sambil menyuap nasi. Pergi pagi pulang malam, kadang pergi malam pulang pagi.
Bulan demi bulan berlalu tanpa terasa. Tagihan sewa kontrakan menandainya. Tahun demi tahun berlalu, menghadirkan momen bahagia bagi umat manusia: Lebaran, Natal, Tahun Baru, sebuah saat yang ‘seharusnya’ memberi harapan baru dan kebahagiaan. Sebuah saat yang sering dimaknai ajang merefleksi diri untuk menjadi manusia seutuhnya. Setidaknya pada saat itu, ada nuansa kebersamaan derajat antarsesama.
Namun selalu saja, ada sisi gelap yang menegangkan, mencemaskan. Ia bak sisi sekeping mata uang yang selau bertautan; kontrak dihentikan, karena perusahaan tak mau membayar bonus tahunan. Target dilipatgandakan, untuk stock selama liburan. Tulsah mudik naik berlipat ganda. Dan kelambatan masuk kerja disambut PHK. Pemerintah gagal memenuhi kewajiban melindungi rakyatnya.
Sebulan, dua bulan, tiga bulan, tak terasa. Yang penting mengabdi sepenuh jiwa raga. Program 100 hari SBY, Skandal Bank Century, kenaikan gaji anggota dewan, bagi-bagi mobil di kalangan pejabat, semuanya lewat.
Roda waktu berjalan, pemilih dan yang dipilih segera kembali ke ranahnya masing-masing. Pendemo tak lagi bertebaran di jalanan. Kembali tenggelam berjuang melanjutkan kehidupan, sumpah serapahpun tertahan. Buruh, tukang becak, pedagang kaki lima, pengamen, semua memeras keringat di bawah terik matahari. Orang-orang yang terpilih pun memeras otak di ruang-ruang yang sejuk. Hasilnya?
Buruh masih jauh dari kesejahteraan. Mereka masih berkutat pada rendahnya upah, pelanggaran normatif, pelanggaran kebebasan berserikat. Petani, nelayan, dan rakyat kecil berada dalam kubangan bernama penindasan, bergelut dengan naiknya bahan-bahan makanan, dan jauh dari harapan akan hadirnya rasa keadilan.
Persoalan buruh dengan pengusaha, keributan pembeli dan pedagang, berantemnya sopir dan penumpang, sesungguhnya tidak hanya menjadi persoalan mereka. Kenakalan pengusaha, kenaikan BBM, kenaikan bahan-bahan kebutuhan hidup, memicu emosi siapapun yang menanggung dampaknya.
Ketika buruh menuntut agar pengusaha membayar upah sesuai UMK, pengusaha bilang tidak bisa. Kenakalan pengusaha, terkadang bukanlah kenakalannya sendiri. Ia juga dampak dari kenakalan birokrasi, pungli, juga korupsi yang membuat hukum menjadi kendor untuk memberi peluang adanya pelanggaran. Juga pasar bebas yang menyebabkan daya saing rendah.
Setahun, dua tahun, lima tahun. Geliat pemilu akan dimulai lagi, berbagai iklan bertebaran lagi, berbagai janji berhamburan lagi. Berbagai partai sibuk lagi, rayu sana, rayu sini, jatuhkan sana, jatuhkan sini. Warga negara ‘harus’ menggunakan hak pilihnya kembali.
Ketika saat itu tiba, rakyat tak punya pilihan lain, selain dipaksa menyaksikan dan menerima kehadiran iklan-iklan yang menyerbu dan menjajah lingkungan tempat tinggal mereka. Wajah senyum, tawa, hingga seringai kelicikan terpajang dalam poster-poster dan bertengger di tempat-tempat umum, dapur umum, hingga WC umum.
Memilih, adalah menitipkan amanat, aspirasi, dan harapan. Kemakmuran, keadilan yang beradab, baru akan tercapai kalau para pemimpin adalah para pejuang. Mengutip apa yang dikatakan WS. Renda, perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata. Namun yang terjadi, para pemimpin negeri ini pengidap inkonsistensi.
Jakarta, 28 Januari, 2010
Rutinitas menggerus seluruh waktu. Waktu yang terasa…tak memberi kebaruan, antara yang lampau dan kekinian. Pengusaha boleh bilang, waktu adalah uang. Tapi bagi buruh di pabrik-pabrik, waktu kadang hanya bermakna proses penantian ke penantian, yang tak selalu membahagiakan.
Rutinitas itu berupa bangun pukul empat pagi, memasak nasi, menjerang air, menyeduh teh, atau memasak mie instan. Lalu menuju antrian WC umum, kamar mandi umum. Kemudian berdiri di mulut gang, dan masuk ke sesaknya bus jemputan. Memacu dinamo mesin, mengejar target produksi. Menahan air kemih sambil menyuap nasi. Pergi pagi pulang malam, kadang pergi malam pulang pagi.
Bulan demi bulan berlalu tanpa terasa. Tagihan sewa kontrakan menandainya. Tahun demi tahun berlalu, menghadirkan momen bahagia bagi umat manusia: Lebaran, Natal, Tahun Baru, sebuah saat yang ‘seharusnya’ memberi harapan baru dan kebahagiaan. Sebuah saat yang sering dimaknai ajang merefleksi diri untuk menjadi manusia seutuhnya. Setidaknya pada saat itu, ada nuansa kebersamaan derajat antarsesama.
Namun selalu saja, ada sisi gelap yang menegangkan, mencemaskan. Ia bak sisi sekeping mata uang yang selau bertautan; kontrak dihentikan, karena perusahaan tak mau membayar bonus tahunan. Target dilipatgandakan, untuk stock selama liburan. Tulsah mudik naik berlipat ganda. Dan kelambatan masuk kerja disambut PHK. Pemerintah gagal memenuhi kewajiban melindungi rakyatnya.
Sebulan, dua bulan, tiga bulan, tak terasa. Yang penting mengabdi sepenuh jiwa raga. Program 100 hari SBY, Skandal Bank Century, kenaikan gaji anggota dewan, bagi-bagi mobil di kalangan pejabat, semuanya lewat.
Roda waktu berjalan, pemilih dan yang dipilih segera kembali ke ranahnya masing-masing. Pendemo tak lagi bertebaran di jalanan. Kembali tenggelam berjuang melanjutkan kehidupan, sumpah serapahpun tertahan. Buruh, tukang becak, pedagang kaki lima, pengamen, semua memeras keringat di bawah terik matahari. Orang-orang yang terpilih pun memeras otak di ruang-ruang yang sejuk. Hasilnya?
Buruh masih jauh dari kesejahteraan. Mereka masih berkutat pada rendahnya upah, pelanggaran normatif, pelanggaran kebebasan berserikat. Petani, nelayan, dan rakyat kecil berada dalam kubangan bernama penindasan, bergelut dengan naiknya bahan-bahan makanan, dan jauh dari harapan akan hadirnya rasa keadilan.
Persoalan buruh dengan pengusaha, keributan pembeli dan pedagang, berantemnya sopir dan penumpang, sesungguhnya tidak hanya menjadi persoalan mereka. Kenakalan pengusaha, kenaikan BBM, kenaikan bahan-bahan kebutuhan hidup, memicu emosi siapapun yang menanggung dampaknya.
Ketika buruh menuntut agar pengusaha membayar upah sesuai UMK, pengusaha bilang tidak bisa. Kenakalan pengusaha, terkadang bukanlah kenakalannya sendiri. Ia juga dampak dari kenakalan birokrasi, pungli, juga korupsi yang membuat hukum menjadi kendor untuk memberi peluang adanya pelanggaran. Juga pasar bebas yang menyebabkan daya saing rendah.
Setahun, dua tahun, lima tahun. Geliat pemilu akan dimulai lagi, berbagai iklan bertebaran lagi, berbagai janji berhamburan lagi. Berbagai partai sibuk lagi, rayu sana, rayu sini, jatuhkan sana, jatuhkan sini. Warga negara ‘harus’ menggunakan hak pilihnya kembali.
Ketika saat itu tiba, rakyat tak punya pilihan lain, selain dipaksa menyaksikan dan menerima kehadiran iklan-iklan yang menyerbu dan menjajah lingkungan tempat tinggal mereka. Wajah senyum, tawa, hingga seringai kelicikan terpajang dalam poster-poster dan bertengger di tempat-tempat umum, dapur umum, hingga WC umum.
Memilih, adalah menitipkan amanat, aspirasi, dan harapan. Kemakmuran, keadilan yang beradab, baru akan tercapai kalau para pemimpin adalah para pejuang. Mengutip apa yang dikatakan WS. Renda, perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata. Namun yang terjadi, para pemimpin negeri ini pengidap inkonsistensi.
Jakarta, 28 Januari, 2010
Langganan:
Postingan (Atom)