Oleh Fiqoh
Bulan ke delapan. Sudah ke delapan kali juga aku menyisihkan lima ratus ribu rupiah dalam setiap gajiku untuk cicilan hutang. Masih jauh dari lunas.
Sambil kupisahkan sepuluh lembar lima puluh ribuan itu, hatiku masih saja menyimpan kemarahan. Apalagi sejak dua bulan lalu harga sewa kost dinaikkan terkait naiknya Tarif Dasar Listrik dari pemerintah. Kini sewanya jadi Rp 600.000. Setiap kali aku merasa marah, saat itu juga aku sedih memikirkan keluarga itu. Dan tiba-tiba aku sangat menaruh harap pada sesuatu yang kuyakini mereka bisa menolongnya.
“Yah, andai saja, mereka bisa terbantu,” aku berucap pada diri sendiri, sambil terus berandai-andai tentang program Tolong dari SCTV.
Bayangan keluarga itu; pemuda yang melewati seluruh masa hidupnya terbaring di atas papan--mengidap penyakit jenis polio dan gangguan mental; rumah kecil dengan bilik bambu yang mulai lapuk dan berlobang di sana-sini, perempuan tua dengan bola mata tak bisa melihat, laki-laki sakit-sakitan yang rapuh, sungguh sering mengusik kalbuku.
Pertemuanku dengan keluarga ini adalah bagian dari pencarianku, terhadap anaknya yang melakukan kejahatan terhadapku dan Nur temanku pada akhir 2009 lalu. Dadi, anak mereka kabur dari kios kami dan membawa uang dagangan serta motor yang kami gadai.
Malam itu hari Sabtu. Detik-detik waktu akan segera menggenapi akhir tahun. Sebentar lagi manusia dibawa memasuki tahun baru. Namun bagi kami, justru sedang memasuki masalah baru. Banyak orang, seperti juga tetanggaku menunggu saat-saat itu--entah apa tujuan mereka merayakannya–tapi bagi diriku, aku mensyukuri tentang kesempatanku masih bisa melihat dunia. Ketika jarum jam mendekati angka duabelas, tepat tengah malam, aku keluar kamar dalam perasaan gundah, berbaur dengan para tetangga yang mulai berteriak riuh rendah. Nur temanku, berdiri membisu di dekatku. Dan tahun 2009, sejak malam itu sudah berlalu.
Dari sana-sini kembang api meluncur dan pecah di udara, saling mengungguli di ajang pentas alam terbuka. Puncak ketinggian yang terlihat dalam batas pandang, selalu memperdengarkan pekik kekaguman. Sesekali kulihat mata Nur menerawang, seperti mataku juga. Sinar yang berpendaran itu pun, sering luput dari pandanganku.
Tak selalu, perubahan nasib manusia terjadi karena waktu, kecuali waktu mengantar batas usia hidup di dunia. Kecuali upaya dan doa, hari esok hanyalah sebuah teka-teki penuh misteri tentang umur, rejeki, jodoh, dan apapun yang selalu dicita-citakan manusia. Dengan peristiwa yang baru kualami, sungguh membuatku merasakan suatu kehampaan.
“Indramayu… kita harus ke sana,” Nur temanku mengucap nama itu dalam nada yang sangat dalam dan bergetar. Suasana sudah kembali sunyi. Hingar bingar para tetangga pun tak terdengar lagi. Pesta sesaat itu telah lewat. Langit kembali terlihat dalam warna aslinya; hitam, putih, kabut, terus bergerak seperti saling berebut.
Pagi itu, tanpa buang waktu kami langsung menuju Indramayu. Kecepatan bus sesekali menyebabkan kendaraan itu oleng ke kiri dan kanan. Kulihat dua sound system jumbo bertengger di pojok kiri atas kemudi. Dan dari sana musik tarling berbunyi keras tiada henti.
Tengah hari, kami sudah tiba. Kami berhenti di pinggir jalan di depan warung-warung kecil yang menjual nasi dan indomie rebus. Perutku sudah berbunyi kemruyuk dan aku mengisi perut di salah satu warung yang menjual nasi, sayur asam, dan ikan belut sebesar lengan. Di daerah Nur di Pandeglang, belut besar itu disebut Lobang.
Cahaya putih matahari seakan membakar kulit wajah dan lenganku. Udara terasa sangat gersang. Debu-debu beterbangan, hinggap di piring nasi yang kami santap di pinggir jalan itu.
“Tegal Bedug ya?” kataku pada tukang ojek yang agaknya telah menunggu di dekat warung itu. Ia pun mengangguk.
Tak berapa lama kami telah meninggalkan jalanan aspal dan memasuki jalan tanah. Di kiri-kanan membentang hamparan sawah yang usai ditanami bibit baru. Daun-daunnya masih lemah. Sebagian menguning dan goyah diterjang angin. Berbelok ke kanan, roda kendaraan ini sesekali menabrak tumpukan lumpur setengah mengering dan hampir membuat terpeleset. Tukang ojek berkonsentrasi mengikuti jejak-jejak roda yang membelah lumpur jalanan. Kami seperti sedang menyusuri jejak ular atau tikus.
Sebuah kampung mulai terlihat. Rumah-rumah dengan kombinasi tembok dan berpagar bambu beratap daun kelapa. Ada juga rumah permanen yang jumlahnya tak seberapa dibanding rumah bambu. Jaraknya berjejer-jejer seperti membentuk blok. Perkampungan itu terasa lembab.
Ojek yang kutumpangi berhenti di dekat sumur timba. Lima laki-laki yang sedang duduk langsung berdiri menyambut.
Kami memasuki sebuah rumah semi permanen. Susunan bata setinggi satu meter itu menyembul di sana-sini tanpa polesan semen. Kami duduk membentuk lingkaran, karena ruangan sudah penuh maka dua laki-laki berada di pintu.
“Kenapa pulang nggak bilang pak?” tanyaku pada Rasmad setelah meneguk air mineral yang diberikan padaku. Haji Buloh, pemilik penggilingan padi di kampung itu yang menyuruh Rasmad membeli air itu.
“Saya mau bilang tapi nggak boleh sama Goeng,” sahut Rasmad. Goeng adalah panggilan untuk orang yang selama ini kami kenal bernama Dadi.
“Kenapa Pak Mamad tak telpon kami?”
“Nggak tahu nomornya.”
“Kok nggak tahu? Sebelumnya sudah kami kasih kan?”
Saat itu, dengan gerakan halus kakak perempuannya menekan telapak tangan Rasmad dan menimpali pembicaraan. Katanya Rasmad tidak tahu kalau Handphone bisa dihubungi lewat warnet.
“Bapak kan tahu, kami sudah banyak keluar modal buat menyewa kios, membeli etalase, membeli gerobak dan semua peralatan kan? Dan kami selalu mengajak bapak untuk diskusi bersama, termasuk rencana mencari lokasi baru, sehingga kami memesan pembuatan gerobak lagi. Terkahir, kami terima tawaran kalian untuk menggadai motor yang kata kalian untuk memudahkan transportasi. Kenapa tega membiarkan semuanya terjadi pak?”
“Saya diajak Goeng, saya dipaksa.”
Entah kenapa, aku merasakan ketidakpuasan dengan jawaban Rasmad. Rasanya tak masuk akal. Ingin hatiku mendebat dia dengan mengatakan bahwa dia memiliki kesempatan untuk memberitahu rencana Dadi karena sebelum kejadian tersebut, aku mengajaknya ke pasar untuk belanja. Dan saat kutanya perkembangan keseharian di kios dia bilang baik-baik saja.
Rasmad diam. Dia minta maaf karena telah mengecewakan. Lalu aku bertanya tentang barang-barang yang dibawa kabur Dadi di antaranya dua HP, uang dagangan, voucher fisik dan electrik, dan uang muka gerobak Rp 500.000 yang diambil secara diam-diam. Aku juga bertanya soal motor gadaian yang juga raib bersama kaburnya mereka. Ketika aku menyebut motor, Haji Buloh bilang bahwa Goeng mencuri motor Vario punya orang di kampung itu juga. Ia sudah buron sejak enam bulan lalu.
Lho, kata Dadi Vario itu punya keponakan Pak Mamad bukan?” kataku dan aku ingat dua minggu lalu mereka berdua membujukku menggadai motor Vario tersebut. Mamad adalah panggilanku pada Rasmad.
“Bukan mbak. Saya dipaksa ngakuin aja. Ya saya, ya bilang iya aja.”
“Bapak ikut ambil uang gerobak juga? Karena tukang gerobak yang bilang kalau pembuatan dibatalakan sama dua orang. Apakah itu termasuk bapak?”
“Ya iya mbak. Saya ikut.”
Berarti selama ini Pak Rasmad berbohong sama aku dan Nur. Ada sesuatu yang menyesaki tenggorokanku. Aku tercekat. Wajah Nur semakin kelam. Tangannya mengepal sambil sesekali mengatupkan bibirnya rapat.
***
Ujung bawah jembatan layang Kebayoran Lama kembali terbayang membentang. Dari bawah jembatan itu, aku dan Nur sering menempuhnya berjalan kaki di tengah malam untuk mencapai kontrakan. Hal ini karena angkot C01 yang kami tumpangi sering mencari penumpang yang bersedia membayar borongan. Kalau sepakat harga, ke manapun dilayani: Manggarai, Senin, Pulogadung dan lainnya. Dan sopir ingkar janji semula untuk menurunkan penumpang di pangkalan semestinya. Sedangkan dari tempat itu tak ada angkot, kecuali bajaj. Kami berjalan karena menghemat pengeluaran.
Usaha yang kami bangun itu bagian dari upayaku dan Nur untuk memiliki basic ekonomi, seperti yang disarankan oleh orang yang kuanggap sebagai teman, guru dan atasanku bernama Andreas Harsono. Tahun 1993 silam ketika kami berdiskusi tentang dunia pergerakan ia sering menekankan itu. Apalagi kegiatanku di serikat buruh adalah murni kegiatan sosial. Kala itu Mas Andreas mengatakan, kalau secara ekonomi kita kuat, kita akan mandiri dan independen, tak terkooptasi dalam gerakan kita, baik itu gerakan buruh, wartawan atau apapun.
Independensi dan integritas, kemudian menjadi prinsip dasar (ruh) dalam gerakanku bersama Serikat Buruh Bangkit yang kami dirikan sejak lima tahun lalu. Organisasi ini merupakan wahana bagi buruh untuk berbagi, berembug, belajar dan menumbuhkan kesadaran berjuang bersama-sama. Di Bangkit kami bekerja suka rela. Untuk memenuhi kebutuhan hidup masing-masing, kami juga mencari cara masing-masing. Aku bekerja di Pantau sebagai tenaga administrasi. Nur mengelola sebuah Lembaga Konsorsium Pendidikan yang membuka kuliah untuk karyawan. Cutiku dua kali sebulan tak pernah cukup untuk membuatku bisa melakukan pendampingan kasus-kasus. Akhirnya Nur yang sering menggantikanku. Hal ini sering membuatnya harus meninggalkan pekerjaannya dan kini lembaga dia setengah mandeg.
Mengingat kata-kata Andreas, aku juga terkenang para pengusaha yang sering menawarkan uang ketika kami menangani kasus pelanggaran hak-hak karyawannya. Dan selama ini, banyak pula orang yang mengatakan dirinya pengacara dan pengurus serikat ingin mengambilalih kasus-kasus kami. Kadang mereka berceloteh seperti, “Wah, empuk tuh!” atau “Wah, pasti tebal tuh dapetnya!” Dan diam-diam mereka melakukan pendekatan di pihak buruh yang sedang berkasus. Mereka mendekati ketika buruh-buruh tersebut sedang jauh dari kami, bahkan ada juga yang didatangi ke kontrakannya dan dijanjikan hal yang manis-manis. Bagiku, setiap kali menolak tawaran suap, disitulah aku merasa berhasil mempertahankan kekayaanku. Kekayaan yang aku percaya akan abadi. Kejujuran.
***
Hujan mengguyur perkampungan itu ketika hari mulai sore. Roda gundul Atrea Star keluaran 1984 yang dikendari Mamad melindas kerikil-kerikil di jalanan tanah yang membelah kebun dan perkampungan. Sesekali hamper terpeleset oleh bebatuan dan lumpur. Dalam perjalanan menuju rumah Dadi itu, kukirim beberapa sms ke HP-nya. Dalam hatiku membayangkan adegan di film-film, dengan membuat orang tuanya bicara kurasa akan membuat anaknya luluh. Aku juga menawarkan padanya, akan diselesaikan baik-baik atau kami lapor polisi. Dari HP yang kadang aktif dan kadang tidak, Dadi mengirim pesan yang isinya mau bertanggung jawab mengembalikan barang-barang yang dibawanya termasuk motor yang gadai itu. Tapi syaratnya,dia minta bertemu langsung dan menghadirkan Rasmad. Karena Rasmad juga yang merencanakan misi ini bersamanya. Bahkan menurut smsnya, Rasmad ingin membawa semua barang-barang yang ada di kios tapi dicegah Dadi. Rasmad juga telah meminjam Bank Keliling seminggu setelah ia mulai bekerja pada kami.
Tak ada yang bisa dipercaya. Dan aku memilih menyimpan berita itu sendiri.
Rasmad menghentikan motornya di depan sebuah rumah model inpres ukuran kecil. Rumah itu berdinding bata setinggi satu meter dan pagar bambu yang telah lapuk kehitaman. Tiga kursi kumal yang bagian tengahnya amblong berhimpitan di samping kiri pintu rumahnya. Di samping kanan, sebuah bangku kayu tua yang telah boncal-bancel menyangga tubuh pemuda tanggung yang tergeletak tak berdaya. Ia terus bergerak-gerak –mengejang, dan terus menerus berteriak. Mulutnya selalu mangap.
Bau pesing bercampur kotoran menyengat paling dominan di antara aroma yang lain. Lantai tanah di rumah itu serba lembab dan apek.
Seorang perempuan yang telah melewati usia paruh baya, kedua matanya buta. Ia mengerjap-ngerjapkan bola mata yang amblas ke dalam. Tangannya meraba-raba udara, nampak kebingunan sambil memasang pendengaran. Raut mukanya mengerut dan pucat.
Aku diam sambil menimbang nimbang. Tercekat. Apakah aku harus mengungkapkan perilaku anaknya di depan perempuan ini?
Rasmad masuk. Laki-laki tua yang mulai bongkok itu juga melangkah masuk. Dua perempuan muda yang berada di bangku depan rumah langsung menghentikan percakapan. Tak lama salah satu dari perempuan itu masuk ke sepetak rumah di depannya. Kakinya menyerempet plastik lusuh penambal pintu bambu. Ia adalah menantu di rumah itu. Suaminya bekerja sebagai pengumpul dan pengangkut garam di pinggir laut.
Kami duduk mengitari meja bulat dari kayu. Setengah ragu aku duduk di kursi bolong yang lembab dan kotor. Laki laki itu nampak kebingungan. Tangannya memegang parang. Ia menatapku, Nur dan Rasmad. Nafasnya terengah-engah. Dadanya naik turun. Tubuh telanjangnya bergetar.
Rasmad membuka pembicaraan tentang maksud kedatanganku ke rumah itu. Meminta dia bicara kepada anaknya agar bertanggung jawab atas perbuatannya. Dan orang tua itu serba setuju. Dia siap mengikuti, bahkan ketika kami tawarkan untuk dibawa ke Jakarta ke tempat biasa anaknya mangkal, dia juga msiap. Tujuannya supaya temannya memberitahukan dan Dadi menemui kami.
Laki-laki serba mengangguk, dan mendengarkan penjelasanku dengan seksama. Ia juga tampak kawatir dengan kekawatiranku tentang kios yang pintunya juga tak bisa dibuka akibat kuncinya dibawa anaknya. Aku berhenti bicara. Dan ia menerawang. Matanya melirik parang dalam genggaman tangan kirinya yang mulai mengendor.
“Dia sudah enam bulan tak pulang. Saya sudah menyiapkan ini buat dia,” katanya sambil melirik ke parangnya.
“Bisa habis dia. Bisa habis. Waktu itu kalau nggak lari, dia sudah kena,” katanya dalam nada tertahan. Nafasnya kembali memburu dan membuatnya terbatuk-batuk.
Aku memandang ke ruangan itu. Korden-korden kumal menutup tiga kamar tak berpintu yang menghadap ke ruang tamu. Di ujung ruangan itu, sebuah kasur kotor tergulung sekenanya. Awut-awutan bersama kain kain usang. Istrinya masuk, meraba-raba bangku dan ikut mendengarkan percapakan kami.
“Saya ini sebenarnya sakit. Sudah sebulan. Tapi saya nggak berobat…” kata laki-laki itu dengan mata berkaca-kaca.
“Mau suntik tapi…” kalimatnya terputus. Ia seperti mengerahkan tenaga untuk menelan air ludahnya. “ Harus ada lima puluh ribu kalau mau suntik. Orang-orang yang punya hutang ke saya, setiap saya tagih hanya ngasih janji.”
“ Anak itu, tega dia. Nggak tahu diri!” Suaranya semakin terbata-bata dan lirih. Ia mengucek-ucek matanya yang memerah. Tangannya mengusap-suap lengannya sendiri. Ia salah tingkah.
Aku bertanya pekerjaan orang tua itu. Katanya ia sering menjadi perantara bagi para membeli barang-barang keperluan para dukun di desa itu. Ia kadang pergi ke Banten dan ke daerah lain untuk belanja benda-benda yang diperlukan mereka. Ada batu akik, besi kuningan, keris, dan lainnya. Kadang pelanggannya mengambil barang dulu dan membayarnya kalau sudah barangnya laku. Istrinya, hanya mengandalkan ongkos kalau ada pasien yang pijat ke tempatnya.
“Kalau dia pulang, sudah saya siapin itu,” ucapnya dan ia tersedak. Ia kembali melirik parang dan menunduk.
***
Semakin lama berada di rumah itu, aku serasa terkubur dalam kehidupan. Aku meraba-raba uang kertas yang terselip di kantong celana jeans-ku. Aku berhitung dalam hati, jumlah uang untuk kembali ke Jakarta. Aku segera pamit. Sambil menyalami perempuan itu, kusisipkan lembaran 20 ribu ke tangannya. Namun saat kaki melangkah di depan pintu, hujan kembali mengguyur. Dan kami terpaksa duduk di depan emperan rumah itu. Di depan rumah, aku memandang aneka warna tanaman. Pohon singkong, bayam, daun katuk, kacang panjang, terong, tomat dan lainnya berjejal di atas tanah yang luasnya seukuran kamar tidurku di Jakarta (2X3 meter). Dan itu satu-satunya pemandangan yang nampak segar untuk mata.
Tunas bayam yang masih lemah nyaris patah dihempas hujan. Sepertinya pohon sayuran itu tak pernah punya kesempatan bertumbuh mengembangkan daun-daunnya lebih banyak lagi. Tanaman sayuran itu pritil karena barangkali dipetik tiap hari.
Perjalanan kembali ke Jakarta kami lewatkan dalam diam. Entah apa yang Nur pikirkan. Aku sendiri putek membayangkan hutang-hutang.
Malam itu temanku datang. Dia ingin tahu perkembangan dan keadaanku. Kami ceritakan keadaan rumah itu. Temanku mengangguk-angguk sambil menatapku. Setelah merenung sebentar dia menyarankan padaku untuk membatalkan niatku melapor ke polisi.
“Wis, tak apa-apa. Jangan pikirkan hutangmu padaku. Nanti kamu bisa usaha lagi,” kata temanku itu.
Hari itu hitungan ketujuh di tahun 2010. Warung ditutup. Barang-barang di kois kami angkut. Dan kami harus melunasi pinjaman beberapa teman lagi. Ada kesedihan, kekecewaan, juga kekesalan. Semua tumpuk undung jadi satu.
Kali ini, aku menjadi korban kejahatan yang dilakukan oleh orang miskin. Bayangan Dadi, laki-laki jangkung itu sangat jelas di mataku. Laki-laki yang selama dua bulan kulihat hanya memakai celana Jeans biru pudar satu-satunya dan dan dua kali berganti kaos yang itu-itu saja. Entah kapan ia mencuci pakaiannya itu. Menurut Rasmad, setiap malam hari dia memakai celana kolor dan kaos singlet saja. Dan ia telah berbuat jahat padaku.
Lalu aku memikirkan tentang kejahatan yang dilakukan oleh para pejabat. Berita korupsi di kantor Pajak, Jamsostek, gedung DPR, Bank Century, dan isu-isu suap di gedung-gedung pengadilan, dan masih banyak lagi.
Aku kembali merenungi kejahatan yang menimpaku. Dan aku juga menyaksikan kembali bayangan laki-laki itu. Sedu-sedan yang menyesaki kerongkongannya, pekiknya dalam keluh putus asa, juga parang tajam yang disipakan untuk anaknya. Siapa yang bersalah?
Apakah aku harus tetap menuntunya? Atau berpasrah dengan menyebutnya takdir? Hatiku tak bisa menjawab keduanya. Namun yang pasti, aku telah menyaksikan betapa keputusasaan telah membawa manusia ke ambang batas yang siap menggelincirkan akal sehatnya setiap saat.
Kelahiran dan kematian adalah bagian dari sejarah manusia. Tapi, membunuh, dibunuh, atau bunuh diri, kuyakini bukanlah takdir.
Aku ingat kata temanku. Dia bilang, kemiskinan bisa mendekatkan manusia pada kekufuran.
Jakarta 31 Desember 2009
Kamis, 26 Agustus 2010
Sabtu, 21 Agustus 2010
Status
Cerpen
Oleh Siti Nurrofiqoh
Aku pernah melakukan hubungan suami istri. Kamu juga. Bedanya aku melakukan itu tanpa cinta-karena perjodohan saja. Sedangkan kamu melakukannya karena kamu menyukainya.
Ada yang membedakan lagi; menurut agama dan negara penyatuan antara tubuhku dan tubuhnya dianggap sah. Lalu keabsahan ditegaskan lagi dengan surat nikah yang dikeluarkan oleh Kantor Urusan Agama. Kemudian ia seperti sertifikat kepemilikan terhadap suatu benda, yang lalu berkembang sebagai sebuah label pada suatu barang. Fungsinya persis seperti label untuk kendaraan, menerangkan apakah ia masih gress atau sudah second (bekas pakai).
Untuk mendapatkan status second itu aku butuh bertahun-tahun, bahkan lebih dari 6 tahun mengurus proses perpisahan. Kemudian surat cerai pun kudapat, dan statusku di KTP berganti. Ada keterangan janda pada kolom status perkawinan. Dan kamu?
Status di KTP-mu, tak berubah kecuali usia masa berlakunya. Kamu juga tidak perlu menunggu tahun atau bulan ketika harus pisah dengan pasanganmu. Karena kamu tak terikat surat nikah. Sehingga tak harus memikirkan beban moral pada keluarga yang rumit, pandangan sebagian masyarakat, dan berproses di pengadilan yang sulit. Kamu cukup mengatakan pisah. Dan hubungan pun bubar pada saat itu.
Status itu kemudian menjadi penting. Terlebih setatusku di mata ibumu dan keluargamu. Ia teramat menjulang, dan kita bak semut-semut kecil yang merayap di balik ketinggian itu. Aku, tak mampu lagi menjangkaumu. Status menjadi seperti sebuah lambang, atau pintu gerbang, yang orang-orang di luar sana merasa sudah bisa menebak kandungan bobot, bibit dan bebetnya. Ibumu tak restu karena ia menginginkanmu yang masih ‘perjaka’ harus menikah dengan perempuan yang masih perawan.
“Ah. Kenapa mesti sama dia? Memangnya tidak bisa lagi kamu mencari gadis?” begitu ucapmu menirukan kata-kata ibumu. Dan katamu, kamu bilang padanya, “Soal menikah, bagiku bukan soal dengan janda atau perawan Bu. Tapi saya perlu mencari teman hidup yang bisa saling membimbing dan saling mengisi kekurangan satu sama lain. Hari ini pun, bisa kudapatkan banyak gadis Bu. Tapi, mereka sering menuntut banyak syarat. Saya tak suka seperti itu.”
Saat itu aku tak tahu apakah harus tertawa atau menangis mendengar penuturanmu. Aku melihat dirimu tak berdaya. Seperti yang kurasakan juga. Di sisi lain kamu menginginkan kita bersama. Tapi kamu juga mengatakan tak ingin mengecewakan ibumu. Dan kamu meminta waktu seminggu.
Seminggu menantimu, aku sering memikirkanmu. Memikirkan apa-apa yang telah kita bicarakan. Kamu berkata bahwa kamu tak punya pekerjaan tetap, tapi kamu punya otak. Aku bilang tak masalah asalkan terus berusaha. Kamu bilang, bahwa kamu sudah sering bekerja keras dengan menjalani macam-macam usaha tapi belum sukses. Aku menjawab, yang penting terus mengelola semangat. Dan kamu sama sekali tidak suka menjadi pegawai kantoran yang harus berkemeja dan berdasi setiap hari. Kamu ingin memgembangkan usaha sambil menekuni design-mu. Bagiku, yang penting orang harus memiliki semangat juang dalam hidup.
Ketika hidup sendiri, orang berjuang untuk hidup dirinya. Dan ketika hidup berdua, bertiga dan berempat, semangat juangnya harus ditambah pula. Maka itu, kamu sepakat kita berjuang bersama-sama demi keluarga kita kelak. Dan kita nyaris tak pernah membahas tentang status di antara kita, kecuali saat pertama kali kita bertemu. Waktu itu aku bilang ke kamu tentang pendidikanku yang rendah dan aku pernah menikah.
“Apa itu masalah? Aku juga pernah berhubungan dengan pacarku seperti suami istri. Dan kuliahku hampir DO. Besoknya mau ujian malah pada ke diskotik. Dan nyatanya, kuliah tak terlalu membawa peruntungan pekerjaan buatku. Untuk sukses, yang penting kita mau terus belajar,” bagitu katamu.
Kamu sering merasa lemah dan butuh pasangan yang bisa membimbing dan menerimamu apa adanya. Kamu tidak suka dengan cinta yang bersyarat; harus memintamu jadi orang kaya, sukses dan memberikan kemewahan pada pasanganmu kala itu. Dalam hatiku merasa lucu mendengarnya. Tapi kemudian aku mengerti karena sifat manusia berbeda-beda. Aku merasa dibutuhkan olehmu, seperti aku juga merasa begitu. Kita akan saling mengisi, mendukung, dan saling memberi pengorbanan. Aku bilang padamu, agar kamu bisa mengerti dengan organisasiku, kegiatanku, dimana aku akan selalu bersama-sama dengan ratusan, bahkan ribuan buruh di dalamnya. Dan kamu mengangguk. Aku berterima kasih atas pengertianmu. Pengertian yang tak pernah kudengar dari laki-laki sebelummu.
Seminggu berlalu. Dan sms pagimu membangunkanku. “Terima kasih untuk kesabaranmu. Aku minta maaf, setelah merenung, dan hasilnya, aku masih belum yakin dengan rencana married, maaf. Aku harap ini tidak mengganggu hubungan sebagai teman.”
Ragaku terbangun. Aku membaca pesanmu sekali lagi. Dan jiwaku pun terbangun. Jodoh, bukan hanya tentang laki-laki dengan perempuan, juga bukan tentang kita. Dan hatiku berkata, juga bukan di Tangan Tuhan.
Aku tiba-tiba ingin marah untuk satu alasan. Ternyata, ketidakjujuran lagi-lagi menjadi pemenang. Andai aku bisa sepertimu-bersetubuh tanpa ikatan pernikahan, barangkali ibumu akan merestui hubungan kita. Karena, aku seorang perawan. Tapi memikirkan itu, tiba-tiba aku merasa muak dan sedih. Bahwa dunia, selalu saja memelihara kepalsuan dan lebih memberi ruang untuk kemunafikan.
Kuhapus pesan pendekmu. Dan aku tak ingin mengenangnya lagi.
Jakarta, 23 Juli 2010
Oleh Siti Nurrofiqoh
Aku pernah melakukan hubungan suami istri. Kamu juga. Bedanya aku melakukan itu tanpa cinta-karena perjodohan saja. Sedangkan kamu melakukannya karena kamu menyukainya.
Ada yang membedakan lagi; menurut agama dan negara penyatuan antara tubuhku dan tubuhnya dianggap sah. Lalu keabsahan ditegaskan lagi dengan surat nikah yang dikeluarkan oleh Kantor Urusan Agama. Kemudian ia seperti sertifikat kepemilikan terhadap suatu benda, yang lalu berkembang sebagai sebuah label pada suatu barang. Fungsinya persis seperti label untuk kendaraan, menerangkan apakah ia masih gress atau sudah second (bekas pakai).
Untuk mendapatkan status second itu aku butuh bertahun-tahun, bahkan lebih dari 6 tahun mengurus proses perpisahan. Kemudian surat cerai pun kudapat, dan statusku di KTP berganti. Ada keterangan janda pada kolom status perkawinan. Dan kamu?
Status di KTP-mu, tak berubah kecuali usia masa berlakunya. Kamu juga tidak perlu menunggu tahun atau bulan ketika harus pisah dengan pasanganmu. Karena kamu tak terikat surat nikah. Sehingga tak harus memikirkan beban moral pada keluarga yang rumit, pandangan sebagian masyarakat, dan berproses di pengadilan yang sulit. Kamu cukup mengatakan pisah. Dan hubungan pun bubar pada saat itu.
Status itu kemudian menjadi penting. Terlebih setatusku di mata ibumu dan keluargamu. Ia teramat menjulang, dan kita bak semut-semut kecil yang merayap di balik ketinggian itu. Aku, tak mampu lagi menjangkaumu. Status menjadi seperti sebuah lambang, atau pintu gerbang, yang orang-orang di luar sana merasa sudah bisa menebak kandungan bobot, bibit dan bebetnya. Ibumu tak restu karena ia menginginkanmu yang masih ‘perjaka’ harus menikah dengan perempuan yang masih perawan.
“Ah. Kenapa mesti sama dia? Memangnya tidak bisa lagi kamu mencari gadis?” begitu ucapmu menirukan kata-kata ibumu. Dan katamu, kamu bilang padanya, “Soal menikah, bagiku bukan soal dengan janda atau perawan Bu. Tapi saya perlu mencari teman hidup yang bisa saling membimbing dan saling mengisi kekurangan satu sama lain. Hari ini pun, bisa kudapatkan banyak gadis Bu. Tapi, mereka sering menuntut banyak syarat. Saya tak suka seperti itu.”
Saat itu aku tak tahu apakah harus tertawa atau menangis mendengar penuturanmu. Aku melihat dirimu tak berdaya. Seperti yang kurasakan juga. Di sisi lain kamu menginginkan kita bersama. Tapi kamu juga mengatakan tak ingin mengecewakan ibumu. Dan kamu meminta waktu seminggu.
Seminggu menantimu, aku sering memikirkanmu. Memikirkan apa-apa yang telah kita bicarakan. Kamu berkata bahwa kamu tak punya pekerjaan tetap, tapi kamu punya otak. Aku bilang tak masalah asalkan terus berusaha. Kamu bilang, bahwa kamu sudah sering bekerja keras dengan menjalani macam-macam usaha tapi belum sukses. Aku menjawab, yang penting terus mengelola semangat. Dan kamu sama sekali tidak suka menjadi pegawai kantoran yang harus berkemeja dan berdasi setiap hari. Kamu ingin memgembangkan usaha sambil menekuni design-mu. Bagiku, yang penting orang harus memiliki semangat juang dalam hidup.
Ketika hidup sendiri, orang berjuang untuk hidup dirinya. Dan ketika hidup berdua, bertiga dan berempat, semangat juangnya harus ditambah pula. Maka itu, kamu sepakat kita berjuang bersama-sama demi keluarga kita kelak. Dan kita nyaris tak pernah membahas tentang status di antara kita, kecuali saat pertama kali kita bertemu. Waktu itu aku bilang ke kamu tentang pendidikanku yang rendah dan aku pernah menikah.
“Apa itu masalah? Aku juga pernah berhubungan dengan pacarku seperti suami istri. Dan kuliahku hampir DO. Besoknya mau ujian malah pada ke diskotik. Dan nyatanya, kuliah tak terlalu membawa peruntungan pekerjaan buatku. Untuk sukses, yang penting kita mau terus belajar,” bagitu katamu.
Kamu sering merasa lemah dan butuh pasangan yang bisa membimbing dan menerimamu apa adanya. Kamu tidak suka dengan cinta yang bersyarat; harus memintamu jadi orang kaya, sukses dan memberikan kemewahan pada pasanganmu kala itu. Dalam hatiku merasa lucu mendengarnya. Tapi kemudian aku mengerti karena sifat manusia berbeda-beda. Aku merasa dibutuhkan olehmu, seperti aku juga merasa begitu. Kita akan saling mengisi, mendukung, dan saling memberi pengorbanan. Aku bilang padamu, agar kamu bisa mengerti dengan organisasiku, kegiatanku, dimana aku akan selalu bersama-sama dengan ratusan, bahkan ribuan buruh di dalamnya. Dan kamu mengangguk. Aku berterima kasih atas pengertianmu. Pengertian yang tak pernah kudengar dari laki-laki sebelummu.
Seminggu berlalu. Dan sms pagimu membangunkanku. “Terima kasih untuk kesabaranmu. Aku minta maaf, setelah merenung, dan hasilnya, aku masih belum yakin dengan rencana married, maaf. Aku harap ini tidak mengganggu hubungan sebagai teman.”
Ragaku terbangun. Aku membaca pesanmu sekali lagi. Dan jiwaku pun terbangun. Jodoh, bukan hanya tentang laki-laki dengan perempuan, juga bukan tentang kita. Dan hatiku berkata, juga bukan di Tangan Tuhan.
Aku tiba-tiba ingin marah untuk satu alasan. Ternyata, ketidakjujuran lagi-lagi menjadi pemenang. Andai aku bisa sepertimu-bersetubuh tanpa ikatan pernikahan, barangkali ibumu akan merestui hubungan kita. Karena, aku seorang perawan. Tapi memikirkan itu, tiba-tiba aku merasa muak dan sedih. Bahwa dunia, selalu saja memelihara kepalsuan dan lebih memberi ruang untuk kemunafikan.
Kuhapus pesan pendekmu. Dan aku tak ingin mengenangnya lagi.
Jakarta, 23 Juli 2010
Jalan Lain Menuju Surga
Cerpen
Oleh Siti Nurrofiqoh
Di sebuah terminal pemberangkatan menuju ibu kota. Gundukan bukit-bukit terlihat setengah telanjang dalam saputan kabut sore yang gersang. Tak ada hijau yang asri, juga rekahan bunga-bunga jati. Di sana-sini hanya nampak tonjolan-tonjolan bebatuan kering dan ranggas pepohonan, seperti sebuah wajah yang telah kehilangan pesona.
Kemarau panjang selalu disertai musim paceklik. Ladang-ladang tandus dan sawah-sawah mengering. Tanah lendut yang biasanya harum dan lembut, terbelah di sana-sini seperti ranjau mata pedang yang bisa mengiris telapak kaki.
Mesin bus telah dihidupkan sejak tadi. Pintu ditutup dan kendaraan melaju. Tak ada lagi penumpang yang ditunggu. Semuanya sudah naik setengah jam yang lalu.
Kemarin, aku melangkah pasti meninggalkan sesuatu yang tak kupahami. Hari itu aku juga melangkah pasti menuju sesuatu yang aku belum tahu. Manusia sepertiku ini, memang seperti sebuah wayang yang hanya menjalani irama lakon sang ”dalang”. Berjalan, bernafas, hidup, mati, tidak ditentukan oleh diri sendiri.
Bus sudah membawaku melewati perbatasan kabupaten, sebuah wilayah yang masuk dalam catatan buku nikahku. Satu persatu terasa ada yang tanggal dari dalam jiwa. Kupandangi jemariku yang kurus dan keriput, rambutku yang tergerai kusut, sekusut jiwaku.
Sawah-sawah dan ladang petani tampak seperti barisan panjang yang datang menyongsong dan pergi menghilang. Rumah-rumah penduduk dan warung-warung kecil pinggir jalan satu persatu lenyap tertinggal dalam sekejap. Aku memejamkan mata. Membaringkan jiwa.
Gelap mulai merayap. Gunung-gunung berselimut hitam. Dari jauh hanya menampakkan bayangan kukuh yang sunyi. Di depan sana jalan panjang berkelok-kelok. Kadang menanjak kadang menurun. Aku pasrah dalam kendalinya. Saat ini, mati hidupku berada di tangan si pengemudi. Dan aku tak peduli. Semua kujalani dalam kepasrahan. Seperti benda hanyut dan terbawa arusnya. Tapi kehidupan harus menjejak bumi, memerlukan tempat bersinggah. Dan aku menentang arus itu.
Semua bermula ketika sebuah keluarga mendatangi keluargaku. Dan keluargaku menyerahkanku pada seorang laki-laki untuk mengambilku sebagai istri. Serah terima mas kawin menjadi symbol pertukaran atas hak keluargaku dan diriku, menjadi hak laki-laki yang kemudian disebut sebagai suami.
“Wong wedok kuwi kudu manut. Istri adalah konco wingking bagi sang suami. Ojo wani adu ucap karo bojo. Tugas istri adalah melayani suami yang baik. Melahirkan anak dan merawat dengan baik. Wanito, artine kudu gelem lan wani ditoto,” demikian Pek Lek-nya memberi wejangan.
Enam bulan berjalan. Dari rahimku belum juga melahirkan keturunan. Keluarga lelaki itu marah dan menganggapku tidak becus melayani suami. Aku memang tak melayani. Aku hanya menjalankan kewajiban. Aku menjalankan tugas sepenuh hati, bersama rasa yang sudah pergi entah ke mana.
Mungkin mereka juga menyesal telah meminangku dengan paksa. Tapi mereka marah kalau aku meminta berpisah. Laki-laki digugat cerai perempuan bisa menjatuhkan wibawa keluarga, apalagi kakak sepupunya sebagai Kepala Desa.
Alam telah berselimut kegelapan penuh. Diriku sudah terseret kian jauh dari kampung halaman. Orang-orang sibuk bercakap. Aku dengar mereka membicarakan tempat usaha, masalah di tempat kerja, dan tentang si anu dan si itu. Aku sendiri? Entahlah. Aku seperti pendatang dari negeri antah berantah.
Pikiranku terus berputar. Seperti pusaran air yang tak menemukan jalan keluar. Dan bermuara pada sudut yang gelap. Malam pertama yang mengandaskan impianku tentang teman-teman sekolah, tentang guru-guru yang mengajar di depan kelas, tentang kegairahan bangun di pagi hari dan mengenakan seragam biru putih, tentang cinta monyet yang melambungkan jiwa lewat senyuman kecil malu-malu, tentang percakapan sebuah cita-cita, dan tentang banyak hal yang belum aku ketahui dan ingin kuketahui di dalam dunia. Tapi malam itu aku mendapati tubuhku sudah tertindih di bawah laki-laki yang lekuk tengkuknya pun belum kukenali. Laki-laki yang terus berpacu di atas tubuhku, terus mengejar, mendesak, menerjang, layaknya pemerkosa yang takut kehilangan kesempatan. Sebuah mahkota pun terkoyak. Darah mengalir dari sebuah luka. Bukan suka cita.
Jiwaku seperti melayang pergi. Dunia yang kusinggahi seperti membawaku di alam nyata dan mimpi. Dan aku memang sudah kehilangan diriku sejak lama. Ia lenyap dan terpecah dalam sebuah iring-iringan panjang ketika ragaku di arak menuju sebuah bahtera.
Memasuki sebuah rumah yang dihias hingga ke pelataran, harapanku menemui titik penghabisan. Aku didudukkan di depan penghulu. Dan mulutku diminta mengucap sumpah. Wajahku terasa membeku dibalik bedak tebal kuning langsat. Kerongkonganku tercekat dan mulutku tak bisa bersuara. Orang-orang memandangku gusar. Muka laki-laki dihadapanku memucat dan muka laki-laki yang dipanggil Pak Lek merah padam. Agaknya jarang, ada mempelai melamun di hadapan sebuah upacara ”sakral” sepertiku ini.
Pernikahan adalah tujuan akhir dalam hidup, begitu orang-orang di kampungku memaknainya. Dan untuk tujuan akhir itu, sebagian perempuan telah menempuhnya sejak dini, ketika seragam merah putih harusnya masih dikenakan.
Hampir setahun aku hidup bersama laki-laki itu. Dan di rahimku belum ada tanda-tanda benih kehidupan. Di suatu sore Bu Lek-nya memintaku harus bersolek untuk menyambut kedatangan suami malam itu. Katanya aku harus mengerahkan segala pesona yang kumiliki. Belum adanya keturunan bagi mereka bagai musibah, tapi bagiku seperti anugerah. Barangkali sang pemberi hidup lebih memahami kapan Ia harus menitipkan sebuah kehidupan. Dibantu Bu Leknya, kusaputkan bedak di wajahku. Kumerahi bibirku dengan gincu. Dan aku hanya mengenakan be-ha dibalik pinjungan kain. Sepulang perempuan itu, aku berdiri di depan cermin. Menatap wajahku. Dan mendapati diriku yang lain.
Aku meneguhkan diri mengingat perkataan guru mengajiku bahwa istri harus selalu menjaga penampilan untuk suaminya, dan selalu melayaninya. Menolak permintaan suami akan membuat istri masuk neraka. Istri itu ibarat, neroko nunut suwargo kathut. Dan kata guruku, di surga nanti perempuan akan dilayani oleh widodoro, yang laki-laki dengan widadari. Dalam hatiku bertanya, apakah artinya sebuah hubungan laki-laki dan perempuan seperti yang kujalani kini? Entah kenapa, aku semakin tidak menginginkannya. Membayangkan itu kewnitaanku menjadi ngilu.
Malam itu aku bertekad menolak kemauan suamiku. Ingin segera aku hapus riasan di wajahku, namun laki-laki itu sudah sangat bernafsu. Ia terus memburu dan menerjangku, layaknya lelaki hidung belang yang mabuk kepayang pada pesona wanita penggoda.
Kemarau panjang dinginnya mencucuk tulang. Di dalam bilik, udara seperti bercampur bara. Tubuhku dibanjiri keringat lelaki itu. Kaki dipan bergemeretak. Kayu penyangganya patah. Berkali-kali aku tarik kain selimut untuk menutupi tubuhku. Berkali-kali tangannya yang kuat selalu berhasil merampasnya, sambil terus menerjang, memberi rasa nyeri yang tak terperi.
Menjelang subuh, ketika ayam berkokok tiga kali, tubuhnya menggelimpang di sampingku. Aku tinggalkan dipan yang miring, melangkah tertatih menuju sumur, membersihkan cairan yang berlapis-lapis seperti lumpur. Sesekali aku melompat-lompat, untuk memastikan bahwa cairan di dalam rahimku keluar tuntas seluruhnya. Aku kembali ke dalam bilik, mimiringkan badan membelakanginya. Mataku tak bisa terpejam. Seperti matanya yang tidur setengah membuka. Mata yang mengingatkanku pada penjahat tetangga desa yang mati dikeroyok massa. Rambutnya tegak berdiri, tengkuknya yang pendek berlekuk kaku. Baru malam ini aku bisa mengenalinya.
Semburat fajar pagi menembus celah-celah atap genting. Pagi itu kepalaku sangat pening. Di kepalaku seperti ada ribuan serbuk tahi gergaji bercampur dalam otak. Sangat sakit dan nyeri membuat tubuhku limbung. Aku mencoba menarik kain, tapi tanganku lemas tak berdaya.
Subuh tadi, ketika dia mengingatkanku untuk mandi dan sholat subuh aku hanya menggelengkan kepala. Tubuhku benar-benar tak berdaya seperti pelacur yang kelelahan melayani pelanggan. Bulir-bulir bening mengucur deras tanpa bisa dibendung. Dan hari itu, aku akan seperti kaum hawa yang mungkin akan dikeluarkan dari surga karena melakukan dosa.
Sepanjang hari, aku mencoba mengejawantahkan perkataan guru mengajiku. Tentang alam surgawi, tentang widodoro dan widadari. Dan aku tak juga mengerti. Yang kurasakan, hatiku justru semakin gelisah bersama rasa nyeri akibat perlakuan suami. Beginikah jalan menuju surga?
Menjelang sore aku berkemas. Kubungkus baju-bajuku secukupnya. Tengah malam tubuhku sudah menyatu dalam pekatnya. Dalam gelap langkahku telah meninggalkan kota kecamatan itu. Kuketuk sebuah pintu yang lain, untuk menumpang singgah malam itu.
Ada sesak kesedihan. Juga tangis. Tetapi semua menandakan adanya kehidupan. Aku telah memutuskan tak akan kembali. Untuk menjalani hidup dan menemukan diri. Meski harus kehilangan aroma ‘surgawi’.
Akan aku cari, jalan lain menuju surga yang sejati.
Jakarta, 6 Juli 2010
Oleh Siti Nurrofiqoh
Di sebuah terminal pemberangkatan menuju ibu kota. Gundukan bukit-bukit terlihat setengah telanjang dalam saputan kabut sore yang gersang. Tak ada hijau yang asri, juga rekahan bunga-bunga jati. Di sana-sini hanya nampak tonjolan-tonjolan bebatuan kering dan ranggas pepohonan, seperti sebuah wajah yang telah kehilangan pesona.
Kemarau panjang selalu disertai musim paceklik. Ladang-ladang tandus dan sawah-sawah mengering. Tanah lendut yang biasanya harum dan lembut, terbelah di sana-sini seperti ranjau mata pedang yang bisa mengiris telapak kaki.
Mesin bus telah dihidupkan sejak tadi. Pintu ditutup dan kendaraan melaju. Tak ada lagi penumpang yang ditunggu. Semuanya sudah naik setengah jam yang lalu.
Kemarin, aku melangkah pasti meninggalkan sesuatu yang tak kupahami. Hari itu aku juga melangkah pasti menuju sesuatu yang aku belum tahu. Manusia sepertiku ini, memang seperti sebuah wayang yang hanya menjalani irama lakon sang ”dalang”. Berjalan, bernafas, hidup, mati, tidak ditentukan oleh diri sendiri.
Bus sudah membawaku melewati perbatasan kabupaten, sebuah wilayah yang masuk dalam catatan buku nikahku. Satu persatu terasa ada yang tanggal dari dalam jiwa. Kupandangi jemariku yang kurus dan keriput, rambutku yang tergerai kusut, sekusut jiwaku.
Sawah-sawah dan ladang petani tampak seperti barisan panjang yang datang menyongsong dan pergi menghilang. Rumah-rumah penduduk dan warung-warung kecil pinggir jalan satu persatu lenyap tertinggal dalam sekejap. Aku memejamkan mata. Membaringkan jiwa.
Gelap mulai merayap. Gunung-gunung berselimut hitam. Dari jauh hanya menampakkan bayangan kukuh yang sunyi. Di depan sana jalan panjang berkelok-kelok. Kadang menanjak kadang menurun. Aku pasrah dalam kendalinya. Saat ini, mati hidupku berada di tangan si pengemudi. Dan aku tak peduli. Semua kujalani dalam kepasrahan. Seperti benda hanyut dan terbawa arusnya. Tapi kehidupan harus menjejak bumi, memerlukan tempat bersinggah. Dan aku menentang arus itu.
Semua bermula ketika sebuah keluarga mendatangi keluargaku. Dan keluargaku menyerahkanku pada seorang laki-laki untuk mengambilku sebagai istri. Serah terima mas kawin menjadi symbol pertukaran atas hak keluargaku dan diriku, menjadi hak laki-laki yang kemudian disebut sebagai suami.
“Wong wedok kuwi kudu manut. Istri adalah konco wingking bagi sang suami. Ojo wani adu ucap karo bojo. Tugas istri adalah melayani suami yang baik. Melahirkan anak dan merawat dengan baik. Wanito, artine kudu gelem lan wani ditoto,” demikian Pek Lek-nya memberi wejangan.
Enam bulan berjalan. Dari rahimku belum juga melahirkan keturunan. Keluarga lelaki itu marah dan menganggapku tidak becus melayani suami. Aku memang tak melayani. Aku hanya menjalankan kewajiban. Aku menjalankan tugas sepenuh hati, bersama rasa yang sudah pergi entah ke mana.
Mungkin mereka juga menyesal telah meminangku dengan paksa. Tapi mereka marah kalau aku meminta berpisah. Laki-laki digugat cerai perempuan bisa menjatuhkan wibawa keluarga, apalagi kakak sepupunya sebagai Kepala Desa.
Alam telah berselimut kegelapan penuh. Diriku sudah terseret kian jauh dari kampung halaman. Orang-orang sibuk bercakap. Aku dengar mereka membicarakan tempat usaha, masalah di tempat kerja, dan tentang si anu dan si itu. Aku sendiri? Entahlah. Aku seperti pendatang dari negeri antah berantah.
Pikiranku terus berputar. Seperti pusaran air yang tak menemukan jalan keluar. Dan bermuara pada sudut yang gelap. Malam pertama yang mengandaskan impianku tentang teman-teman sekolah, tentang guru-guru yang mengajar di depan kelas, tentang kegairahan bangun di pagi hari dan mengenakan seragam biru putih, tentang cinta monyet yang melambungkan jiwa lewat senyuman kecil malu-malu, tentang percakapan sebuah cita-cita, dan tentang banyak hal yang belum aku ketahui dan ingin kuketahui di dalam dunia. Tapi malam itu aku mendapati tubuhku sudah tertindih di bawah laki-laki yang lekuk tengkuknya pun belum kukenali. Laki-laki yang terus berpacu di atas tubuhku, terus mengejar, mendesak, menerjang, layaknya pemerkosa yang takut kehilangan kesempatan. Sebuah mahkota pun terkoyak. Darah mengalir dari sebuah luka. Bukan suka cita.
Jiwaku seperti melayang pergi. Dunia yang kusinggahi seperti membawaku di alam nyata dan mimpi. Dan aku memang sudah kehilangan diriku sejak lama. Ia lenyap dan terpecah dalam sebuah iring-iringan panjang ketika ragaku di arak menuju sebuah bahtera.
Memasuki sebuah rumah yang dihias hingga ke pelataran, harapanku menemui titik penghabisan. Aku didudukkan di depan penghulu. Dan mulutku diminta mengucap sumpah. Wajahku terasa membeku dibalik bedak tebal kuning langsat. Kerongkonganku tercekat dan mulutku tak bisa bersuara. Orang-orang memandangku gusar. Muka laki-laki dihadapanku memucat dan muka laki-laki yang dipanggil Pak Lek merah padam. Agaknya jarang, ada mempelai melamun di hadapan sebuah upacara ”sakral” sepertiku ini.
Pernikahan adalah tujuan akhir dalam hidup, begitu orang-orang di kampungku memaknainya. Dan untuk tujuan akhir itu, sebagian perempuan telah menempuhnya sejak dini, ketika seragam merah putih harusnya masih dikenakan.
Hampir setahun aku hidup bersama laki-laki itu. Dan di rahimku belum ada tanda-tanda benih kehidupan. Di suatu sore Bu Lek-nya memintaku harus bersolek untuk menyambut kedatangan suami malam itu. Katanya aku harus mengerahkan segala pesona yang kumiliki. Belum adanya keturunan bagi mereka bagai musibah, tapi bagiku seperti anugerah. Barangkali sang pemberi hidup lebih memahami kapan Ia harus menitipkan sebuah kehidupan. Dibantu Bu Leknya, kusaputkan bedak di wajahku. Kumerahi bibirku dengan gincu. Dan aku hanya mengenakan be-ha dibalik pinjungan kain. Sepulang perempuan itu, aku berdiri di depan cermin. Menatap wajahku. Dan mendapati diriku yang lain.
Aku meneguhkan diri mengingat perkataan guru mengajiku bahwa istri harus selalu menjaga penampilan untuk suaminya, dan selalu melayaninya. Menolak permintaan suami akan membuat istri masuk neraka. Istri itu ibarat, neroko nunut suwargo kathut. Dan kata guruku, di surga nanti perempuan akan dilayani oleh widodoro, yang laki-laki dengan widadari. Dalam hatiku bertanya, apakah artinya sebuah hubungan laki-laki dan perempuan seperti yang kujalani kini? Entah kenapa, aku semakin tidak menginginkannya. Membayangkan itu kewnitaanku menjadi ngilu.
Malam itu aku bertekad menolak kemauan suamiku. Ingin segera aku hapus riasan di wajahku, namun laki-laki itu sudah sangat bernafsu. Ia terus memburu dan menerjangku, layaknya lelaki hidung belang yang mabuk kepayang pada pesona wanita penggoda.
Kemarau panjang dinginnya mencucuk tulang. Di dalam bilik, udara seperti bercampur bara. Tubuhku dibanjiri keringat lelaki itu. Kaki dipan bergemeretak. Kayu penyangganya patah. Berkali-kali aku tarik kain selimut untuk menutupi tubuhku. Berkali-kali tangannya yang kuat selalu berhasil merampasnya, sambil terus menerjang, memberi rasa nyeri yang tak terperi.
Menjelang subuh, ketika ayam berkokok tiga kali, tubuhnya menggelimpang di sampingku. Aku tinggalkan dipan yang miring, melangkah tertatih menuju sumur, membersihkan cairan yang berlapis-lapis seperti lumpur. Sesekali aku melompat-lompat, untuk memastikan bahwa cairan di dalam rahimku keluar tuntas seluruhnya. Aku kembali ke dalam bilik, mimiringkan badan membelakanginya. Mataku tak bisa terpejam. Seperti matanya yang tidur setengah membuka. Mata yang mengingatkanku pada penjahat tetangga desa yang mati dikeroyok massa. Rambutnya tegak berdiri, tengkuknya yang pendek berlekuk kaku. Baru malam ini aku bisa mengenalinya.
Semburat fajar pagi menembus celah-celah atap genting. Pagi itu kepalaku sangat pening. Di kepalaku seperti ada ribuan serbuk tahi gergaji bercampur dalam otak. Sangat sakit dan nyeri membuat tubuhku limbung. Aku mencoba menarik kain, tapi tanganku lemas tak berdaya.
Subuh tadi, ketika dia mengingatkanku untuk mandi dan sholat subuh aku hanya menggelengkan kepala. Tubuhku benar-benar tak berdaya seperti pelacur yang kelelahan melayani pelanggan. Bulir-bulir bening mengucur deras tanpa bisa dibendung. Dan hari itu, aku akan seperti kaum hawa yang mungkin akan dikeluarkan dari surga karena melakukan dosa.
Sepanjang hari, aku mencoba mengejawantahkan perkataan guru mengajiku. Tentang alam surgawi, tentang widodoro dan widadari. Dan aku tak juga mengerti. Yang kurasakan, hatiku justru semakin gelisah bersama rasa nyeri akibat perlakuan suami. Beginikah jalan menuju surga?
Menjelang sore aku berkemas. Kubungkus baju-bajuku secukupnya. Tengah malam tubuhku sudah menyatu dalam pekatnya. Dalam gelap langkahku telah meninggalkan kota kecamatan itu. Kuketuk sebuah pintu yang lain, untuk menumpang singgah malam itu.
Ada sesak kesedihan. Juga tangis. Tetapi semua menandakan adanya kehidupan. Aku telah memutuskan tak akan kembali. Untuk menjalani hidup dan menemukan diri. Meski harus kehilangan aroma ‘surgawi’.
Akan aku cari, jalan lain menuju surga yang sejati.
Jakarta, 6 Juli 2010
Sebelum Kematian Tiba
Oleh Siti Nurrofiqoh
Huruf-huruf kapital merah bertuliskan jurnalisme sastrawi tertera di atas kanvas putih. Banner itu pernah menarik perjatian berpasang-pasang mata ketika buku antologi berisi karya yang ditulis dengan mendalam dan memkiat itu kali pertama diluncurkan.
Cover depan buku itu berlatang belakang hitam dan bergaris putih di setiap sisinya menyerupai list pada sebuah bingkai. Di antara kepungan nuansa hitam dari bagian kanan, atas dan bawah, delapan nama disusun berdasarkan abjad pada space warna putih yang memakan separuh lebih dari halaman itu.
Agus Sopian berada di urutan pertama, kemudian Alfian Hamzah, Andreas Harsono, Budi Setiyono, Chick Rini, Coen Husain Pontoh, Eriyanto, dan Linda Christanty.
Saya mengenal secara fisik empat orang dari nama-nama itu. Terlebih Andreas Harsono yang saya penggil Mas Andreas. Kami bertemu sejak 1993. Ketika itu kami sama-sama sering terjun ke jalan. Ia sering meliput banyak peristiwa termasuk demo buruh yang saya lakukan bersama para pekerja di pabrik. Saya juga ikut berdemo menentang pemberangusan kebebasan pers oleh kekuasaan. Kami sering melakukan diskusi-diskusi tentang buruh, kehidupan, bangsa dan penguasa. Darinya, saya banyak belajar tentang sebuah integritas.
Sedangkan Budi Setiyono, Linda Christanty, dan Agus Sopian. Ketiganya saya kenal di Yayasan Pantau, ketika lima tahun lalu saya ditawari Mas Andreas bergabung di yayasan itu.
Dalam keseharian, persentuhan fisik hampir tidak memberi gambaran apa-apa pada saya tentang hal-hal yang dipikirkan orang-orang itu. Pemikiran-pemikiran pentingnya tak muncul secara runut, dan ideologinya tidak tercermin secara jelas. Dalam pertemuan-pertemuan itu saya hanya melihat wajah-wajah yang kadang terlihat letih, mata yang sembab kurang tidur, atau raut tegang dan rambut berdiri karena stres, juga kelakarnya. Kadang juga kebersamaan itu diwarnai ketaksepahaman ide, prinsip, cara pandang, bahkan percekcokan karena kebijakan yang terkadang dirasakan tidak adil di dalam tim, yang yang tak jarang melahirkan ketegangan. Prestasi mereka, justru saya jumpai di lembar yang lain, yaitu tulisan.
Saya tengah meminum kopi siang itu, ketika sekali lagi, saya pandangi judul-judul tulisan mereka. Dan saya jadi teringat ucapan Pak Daoed Joesoef, bahwa tulisan kita adalah pikiran terbaik kita. Artinya, di saat orang tersebut menulis, di saat itulah mereka sedang memberikan pikiran terbaiknya.
Dan saya merenungkan dengan apa yang saya lihat dan saya temui selama ini. Ia seperti dua lajur rel kereta api: sisi kiri dan sisi kanan; atau aliran kiri dan kanan; bisa juga seperti otak kiri dan kanan, pokoknya dua hal yang kontradiktif namun selalu ”berpasangan”. Dan saya berpikir tentang bedanya penulis dan menulis. Penulis terbaik tidak selalu karena perbuatannya baik. Sebagai menusia, kita juga memiliki keburukan, dan kadang banyak melakukan kekeliruan. Kebaikan yang kita miliki, barangkali hanyalah titik-titik kecil di antara bercak-bercak noda yang gelap dari sekian sisi buruk manusia yang kadang njelehi, munafik, dan culas. Menyadari hal itu, kita tidak perlu terlalu mengagungkan atau mengkultuskan sesama, atau terlalu mencintai suatu kelompok dengan membabi buta.
Sore itu, di sebuah kelas menulis narasi yang digelar Pantau, seorang peserta mengusulkan agar Agus Sopian dihadirkan. Ia berpendapat, kalau Pak Agus bisa datang, tentunya akan memperkaya diskusi tentang pengalaman menulisnya. Tulisan Agus memang sering dibahas di kelas narasi maupun jurnalisme sastrawi yang dibawakan oleh Janet Steele, profesor ahli media dari George Washington.
Di kesempatan yang lain, seorang peserta yang lain mengusulkan agar di kelas itu bisa berdiskusi dengan Alfian Hamzah, tentang tulisannya yang lucu dan menarik. Juga karya Chik Rini yang kaya akan deskripsi menegangkan. Permintaan peserta belum terpenuhi. Hingga suatu sore, beberapa bulan kemudian setelah itu, saya menerima kabar, Agus Sopian pergi untuk selamanya.
Karya dan Kematian
Seorang teman mengatakan Kang Agus masih online. Candaan itu membuat jari saya mengetik namanya di kolom pencarian facebook. Dan saya melihat wajahnya yang segar tersenyum mengenakan baju putih. Ucapan selamat jalan berderet panjang dari rekan dan kerabat di dinding pesan meski ia tak akan membalasnya. Di mata beberapa temannya, ia disebut sebagai guru dan sahabat. Dan di mata teman yang lain, bisa jadi ia sebagai lawan.
Para peserta kursus bertanya kepada saya, ”Agus Sopian itu yang mana?” Mereka tidak memiliki gambaran tentang sosok Agus secara fisik, meski mereka mengenal dan mengambil pembelajaran dari karyanya.
Saya jadi teringat ketika orang ramai mengutip istilah Pramoedya Ananta Toer yang sangat populer: menulis adalah bekerja untuk keabadian. Dan belakangan, orang mulai mencari kata-kata yang bisa merepresentasikan atas apa yang mereka pikirkan dan lakukan hingga membuatnya merasa eksis. Seperti ungkapan seorang teman, ”Saya ada karena saya menulis”.
Banner itu kini berada di pojok ruang. Setengahnya tertutup oleh meja dan tumpukan koran. Pegawai kantor Pantau sering memindah-mindahkan posisinya supaya tak mengganggu lalu lintas kegiatan sehari-hari. Mungkin sebentar lagi ia akan dilipat. Karena buku-buku itu kini telah berada di ribuan tangan pembaca.
Mata saya masih tertuju pada urutan nama-nama. Agus Sopian di urutan pertama, dan telah pergi. Kok ya pas, gitu. Dan hati saya berkata, siapa lagi yang akan menyusul setelah dia? Apakah Alfian Hamzah? Atau Andreas Harsono?
.....Kemudian saya berkata pada diri sendiri, akankah saya masih akan menjadi pihak yang menerima kabar tentang kepergian mereka? Atau justru mereka yang menerima kabar kepergian saya?
Delapan nama calon jenazah. Hanyalah susunan terpendek dari barisan panjang nama-nama lain di dunia termasuk kita. Siapapun bisa pergi hanya berselang menit bahkan detik dari sebuah komunikasi yang baru saja dijalin. Setiap detik adalah momen penuh misteri dan teka-teki.
Menyadari hal ini, betapa pentingnya untuk terus menghargai setiap detik dalam hidup. Tidak ada jalan lain, selain menuliskannya segala sesuatu yang terbaik, yang pernah kita lakukan. Biarlah kebaikan yang setitik itu turut memberi ilham, yang akan disambut oleh yang lain, dan terus dikembangkan serta dilengkapi. Kehidupan terus bersisian dengan maut. Dan sejarah manusia, tidak hanya ditandai dengan kelahiran dan kematian.
Manusia hanya terlahir sekali ke dunia. Tapi manusia bisa terlahir berkali-kali melalui karya-karyanya. Manusia akan mati satu kali secara ragawi. Tapi ia bisa terus hidup melalui pemikiran-pemikiran dan perbuatan baik yang ditulisnya.
Di dunia ini, betapa tak terhitung jumlahnya, orang-orang yang banyak berbuat tetapi tidak menulis. Jika penulis bisa menuliskan perbuatan banyak orang, setidaknya kita bisa menuliskan apa yang kita pikirkan dan kita perbuat.
Jakarta, 29 Juli 2010
Huruf-huruf kapital merah bertuliskan jurnalisme sastrawi tertera di atas kanvas putih. Banner itu pernah menarik perjatian berpasang-pasang mata ketika buku antologi berisi karya yang ditulis dengan mendalam dan memkiat itu kali pertama diluncurkan.
Cover depan buku itu berlatang belakang hitam dan bergaris putih di setiap sisinya menyerupai list pada sebuah bingkai. Di antara kepungan nuansa hitam dari bagian kanan, atas dan bawah, delapan nama disusun berdasarkan abjad pada space warna putih yang memakan separuh lebih dari halaman itu.
Agus Sopian berada di urutan pertama, kemudian Alfian Hamzah, Andreas Harsono, Budi Setiyono, Chick Rini, Coen Husain Pontoh, Eriyanto, dan Linda Christanty.
Saya mengenal secara fisik empat orang dari nama-nama itu. Terlebih Andreas Harsono yang saya penggil Mas Andreas. Kami bertemu sejak 1993. Ketika itu kami sama-sama sering terjun ke jalan. Ia sering meliput banyak peristiwa termasuk demo buruh yang saya lakukan bersama para pekerja di pabrik. Saya juga ikut berdemo menentang pemberangusan kebebasan pers oleh kekuasaan. Kami sering melakukan diskusi-diskusi tentang buruh, kehidupan, bangsa dan penguasa. Darinya, saya banyak belajar tentang sebuah integritas.
Sedangkan Budi Setiyono, Linda Christanty, dan Agus Sopian. Ketiganya saya kenal di Yayasan Pantau, ketika lima tahun lalu saya ditawari Mas Andreas bergabung di yayasan itu.
Dalam keseharian, persentuhan fisik hampir tidak memberi gambaran apa-apa pada saya tentang hal-hal yang dipikirkan orang-orang itu. Pemikiran-pemikiran pentingnya tak muncul secara runut, dan ideologinya tidak tercermin secara jelas. Dalam pertemuan-pertemuan itu saya hanya melihat wajah-wajah yang kadang terlihat letih, mata yang sembab kurang tidur, atau raut tegang dan rambut berdiri karena stres, juga kelakarnya. Kadang juga kebersamaan itu diwarnai ketaksepahaman ide, prinsip, cara pandang, bahkan percekcokan karena kebijakan yang terkadang dirasakan tidak adil di dalam tim, yang yang tak jarang melahirkan ketegangan. Prestasi mereka, justru saya jumpai di lembar yang lain, yaitu tulisan.
Saya tengah meminum kopi siang itu, ketika sekali lagi, saya pandangi judul-judul tulisan mereka. Dan saya jadi teringat ucapan Pak Daoed Joesoef, bahwa tulisan kita adalah pikiran terbaik kita. Artinya, di saat orang tersebut menulis, di saat itulah mereka sedang memberikan pikiran terbaiknya.
Dan saya merenungkan dengan apa yang saya lihat dan saya temui selama ini. Ia seperti dua lajur rel kereta api: sisi kiri dan sisi kanan; atau aliran kiri dan kanan; bisa juga seperti otak kiri dan kanan, pokoknya dua hal yang kontradiktif namun selalu ”berpasangan”. Dan saya berpikir tentang bedanya penulis dan menulis. Penulis terbaik tidak selalu karena perbuatannya baik. Sebagai menusia, kita juga memiliki keburukan, dan kadang banyak melakukan kekeliruan. Kebaikan yang kita miliki, barangkali hanyalah titik-titik kecil di antara bercak-bercak noda yang gelap dari sekian sisi buruk manusia yang kadang njelehi, munafik, dan culas. Menyadari hal itu, kita tidak perlu terlalu mengagungkan atau mengkultuskan sesama, atau terlalu mencintai suatu kelompok dengan membabi buta.
Sore itu, di sebuah kelas menulis narasi yang digelar Pantau, seorang peserta mengusulkan agar Agus Sopian dihadirkan. Ia berpendapat, kalau Pak Agus bisa datang, tentunya akan memperkaya diskusi tentang pengalaman menulisnya. Tulisan Agus memang sering dibahas di kelas narasi maupun jurnalisme sastrawi yang dibawakan oleh Janet Steele, profesor ahli media dari George Washington.
Di kesempatan yang lain, seorang peserta yang lain mengusulkan agar di kelas itu bisa berdiskusi dengan Alfian Hamzah, tentang tulisannya yang lucu dan menarik. Juga karya Chik Rini yang kaya akan deskripsi menegangkan. Permintaan peserta belum terpenuhi. Hingga suatu sore, beberapa bulan kemudian setelah itu, saya menerima kabar, Agus Sopian pergi untuk selamanya.
Karya dan Kematian
Seorang teman mengatakan Kang Agus masih online. Candaan itu membuat jari saya mengetik namanya di kolom pencarian facebook. Dan saya melihat wajahnya yang segar tersenyum mengenakan baju putih. Ucapan selamat jalan berderet panjang dari rekan dan kerabat di dinding pesan meski ia tak akan membalasnya. Di mata beberapa temannya, ia disebut sebagai guru dan sahabat. Dan di mata teman yang lain, bisa jadi ia sebagai lawan.
Para peserta kursus bertanya kepada saya, ”Agus Sopian itu yang mana?” Mereka tidak memiliki gambaran tentang sosok Agus secara fisik, meski mereka mengenal dan mengambil pembelajaran dari karyanya.
Saya jadi teringat ketika orang ramai mengutip istilah Pramoedya Ananta Toer yang sangat populer: menulis adalah bekerja untuk keabadian. Dan belakangan, orang mulai mencari kata-kata yang bisa merepresentasikan atas apa yang mereka pikirkan dan lakukan hingga membuatnya merasa eksis. Seperti ungkapan seorang teman, ”Saya ada karena saya menulis”.
Banner itu kini berada di pojok ruang. Setengahnya tertutup oleh meja dan tumpukan koran. Pegawai kantor Pantau sering memindah-mindahkan posisinya supaya tak mengganggu lalu lintas kegiatan sehari-hari. Mungkin sebentar lagi ia akan dilipat. Karena buku-buku itu kini telah berada di ribuan tangan pembaca.
Mata saya masih tertuju pada urutan nama-nama. Agus Sopian di urutan pertama, dan telah pergi. Kok ya pas, gitu. Dan hati saya berkata, siapa lagi yang akan menyusul setelah dia? Apakah Alfian Hamzah? Atau Andreas Harsono?
.....Kemudian saya berkata pada diri sendiri, akankah saya masih akan menjadi pihak yang menerima kabar tentang kepergian mereka? Atau justru mereka yang menerima kabar kepergian saya?
Delapan nama calon jenazah. Hanyalah susunan terpendek dari barisan panjang nama-nama lain di dunia termasuk kita. Siapapun bisa pergi hanya berselang menit bahkan detik dari sebuah komunikasi yang baru saja dijalin. Setiap detik adalah momen penuh misteri dan teka-teki.
Menyadari hal ini, betapa pentingnya untuk terus menghargai setiap detik dalam hidup. Tidak ada jalan lain, selain menuliskannya segala sesuatu yang terbaik, yang pernah kita lakukan. Biarlah kebaikan yang setitik itu turut memberi ilham, yang akan disambut oleh yang lain, dan terus dikembangkan serta dilengkapi. Kehidupan terus bersisian dengan maut. Dan sejarah manusia, tidak hanya ditandai dengan kelahiran dan kematian.
Manusia hanya terlahir sekali ke dunia. Tapi manusia bisa terlahir berkali-kali melalui karya-karyanya. Manusia akan mati satu kali secara ragawi. Tapi ia bisa terus hidup melalui pemikiran-pemikiran dan perbuatan baik yang ditulisnya.
Di dunia ini, betapa tak terhitung jumlahnya, orang-orang yang banyak berbuat tetapi tidak menulis. Jika penulis bisa menuliskan perbuatan banyak orang, setidaknya kita bisa menuliskan apa yang kita pikirkan dan kita perbuat.
Jakarta, 29 Juli 2010
Kamis, 05 Agustus 2010
Rasa Bahasa
Oleh Fiqoh
Kata adalah satuan bahasa terkecil yang bermakna. Ia disebut kata ketika bunyi bertemu dengan konsep atau makna. Maka itu, pekikan (jeritan), sendawa, musik, bukanlah kata.
Bahasa atau kata adalah sebuah kesepakatan konsep. Misalnya ketika kita menyebut kursi, tentu orang akan membayangkan bahwa kursi adalah alat untuk duduk.
Dalam berbahasa, secara umum yang terpenting adalah logika. Untuk kepentingan percakapan, barangkali logika saja sudah cukup, begitu menurut Sitok Srengenge, ketika mengisi sesi kelas menulis yang diadakan Pantau, pada 29 Juli 2010, di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.
Tapi bagi orang-orang kreatif seperti penulis misalnya, tidak cukup hanya dengan konsep. Karena bentuk, warna, ukuran, semuanya menjadi penting. Kursi plastik, mebel, kursi Jepara yang berukir, secara tak langsung menggambarkan sebuah kemewahan dan kelas sosial pemiliknya.
Nuansa, emosi, dan ekspresi itulah yang digambarkan penulis dengan kata-kata. Dan di sinilah pentingnya rasa bahasa, dimana pilihan kata bisa mewakili suasana atau perasaan seseorang. Pelacur, lonte, atau PSK, ketiganya memilki makna yang sama. Tapi ketika suami mendapati istrinya selingkuh dengan lelaki lain, rasanya, ia tak akan menyebut, “Dasar PSK!” bukan?
Begitu juga dengan konsep jatuh untuk daun. Ia ada jatuh, luruh, rontok, dan gugur. Tapi, untuk menggambarkan suasana, kita tak bisa hanya menggunakan konsep jatuh.
“Bayangkan kalau suasananya terang bulan, tenang, angin berhenti, kemudian…daun rontok! Ya kacau!” kata Sitok.
Di situlah suasana menjadi lengkap karena diksi. Bukan hanya faktor konsep bahasa yang sama. Meski demikian, tetap saja kesalahkaprahan sering dilakukan oleh berbagai media. Misalnya, seorang lelaki menghajar istirnya sampai mati.
“Siapa yang mati?” tanya Sitok.
“Kebanyakan dari kita akan menganggap istrinya yang mati. Padahal itu tidak beda dengan orang berlari sampai lelah, atau orang makan sampai kenyang. Kan yang lelah adalah orang yang berlari itu bukan? Tapi kita sering membiarkan kekeliruan tersebut karena kita merasa tahu maksudnya.”
Faktor kelisanan seringkali digunakan ke dalam tulisan. Padahal ia akan menimbulkan kesimpang-siuran. Kata-kata yang bisa dimengerti dalam bahasa lisan, belum tentu dipahami dan bermakna sama dalam sebuah tulisan. Apakah kita akan membiarkan hal itu?
Menurut Sitok, sangat ironis jika sebagai penulis kita tak peduli dengan cara berbahasa yang keliru. Karena cara kita berbahasa, mencerminkan cara kita berpikir.
Unsur personalitas dalam menulis
“Kenapa kematian Sukardal menjadi mengharukan ketika ditulis oleh Goenawan Mohamad? Sementara ketika kita baca di koran rasanya biasa-biasa saja?” tanya Sitok.
Berita lebih sering hanya menyajikan peristiwanya. Tidak ada narasi, tidak memberi ruang bagi tokoh yang diceritakan. Itu sebabnya, Sukardal, tukang becak yang menggantung diri menjadi berita yang mengharukan dan menyentak perasaan kita. Hal itu dikarenakan sentuhan personalitas si penulis terhadap si tokoh. Tokoh menjadi penting karena tokoh itu akan mengungkapkan sendiri tentang setting sosialnya, tempat, dari mana ia berasal, dan bagaiamna ia punya suara dalam menyikapi ketidakadilan. Dalam tulisan itu terbukti bahwa sentuhan personalitas, mampu menghadirkan sisi kedalaman yang membedakan antara satu penulis dan penulis lainnya.
Karena cara kita melihat peristiwa akan berbeda dengan cara orang lain. Ketika kita sama-sama menyaksikan sebuah tabrakan, masing-masing orang akan memiliki perhatian yang berbeda-beda. Penulisan yang dangkal bisa saja hanya memberitakan tentang dua bus yang hancur karena saling membentur dan menewaskan sekian manusia atau korban yang luka. Seakan semua hanya soal benda. Tidak masuk ke tokohnya (orangnya seperti apa, keluarganya, asalnya, perilaku keseharian, dan apa yang dikerjakan sebelum kecelakaan itu terjadi). Kita tidak tahu kalau si sopir yang mengemudikannya semalaman tidak tidur karena mengurusi istrinya yang melahirkan, atau anaknya yang sakit, atau habis bertengkar misalnya.
Narasi, mengubah berita menjadi cerita. Dengan bercerita, kita menggali informasi lebih dalam dan menghidupkan tokohnya. Karena, dibalik ribuan peristiwa, ada manusia-manusia di dalamnya, yang tidak bisa hanya dicantumkan sebagai data dan angka.
Seorang penulis yang baik, ia akan memulai dari sebuah pertanyaan yang ia ketahui dan terus mengembangkan. Tema-tema yang intim dengan dirinya akan menghasilkan karya-karya yang unik. Karena, apa yang kita ketahui, belum tentu diketahui oleh orang lain. Begitu juga dengan apa yang kita pikirkan. Setiap orang mempunyai perbedaan-perbedaan. Dan perbedaan itulah yang menyuguhkan keunikan serta menentukan kekhasan masing-masing penulis.
Sitok mengulas sedikit tentang fungsi jurnalisme. Ia dibutuhkan, agar khalayak tahu tentang sesutau. Dan dari pengetahuan itu kemudian masyarakat berpikir melakukan tindakan. Misalnya hidup sehat dengan tempe, siapa tahu ada yang merasa tidak sehat dan memakannya sehingga menjadi sehat. Atau tentang pejabat yang korupsi, supaya masyarakat tahu dan melakukan sesuatu karena ada hal yang tidak beres.
Sebuah informasi yang sampai ke masyarakat bisa melekat di hati pembaca, tapi juga bisa segera hilang jika tidak menyentuh perasaan dan tidak mengesankan. Tujuan kita menulis, agar pesan yang kita sampaikan bisa dimengerti dan berkesan. Kalau dimengerti tapi tidak mengesan, untuk apa?
"Sentuhlah perasaannya, dan sentuhlah daya ingatnya," kata Sitok.
Jakarta, 5 Agustus 2010
Kata adalah satuan bahasa terkecil yang bermakna. Ia disebut kata ketika bunyi bertemu dengan konsep atau makna. Maka itu, pekikan (jeritan), sendawa, musik, bukanlah kata.
Bahasa atau kata adalah sebuah kesepakatan konsep. Misalnya ketika kita menyebut kursi, tentu orang akan membayangkan bahwa kursi adalah alat untuk duduk.
Dalam berbahasa, secara umum yang terpenting adalah logika. Untuk kepentingan percakapan, barangkali logika saja sudah cukup, begitu menurut Sitok Srengenge, ketika mengisi sesi kelas menulis yang diadakan Pantau, pada 29 Juli 2010, di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.
Tapi bagi orang-orang kreatif seperti penulis misalnya, tidak cukup hanya dengan konsep. Karena bentuk, warna, ukuran, semuanya menjadi penting. Kursi plastik, mebel, kursi Jepara yang berukir, secara tak langsung menggambarkan sebuah kemewahan dan kelas sosial pemiliknya.
Nuansa, emosi, dan ekspresi itulah yang digambarkan penulis dengan kata-kata. Dan di sinilah pentingnya rasa bahasa, dimana pilihan kata bisa mewakili suasana atau perasaan seseorang. Pelacur, lonte, atau PSK, ketiganya memilki makna yang sama. Tapi ketika suami mendapati istrinya selingkuh dengan lelaki lain, rasanya, ia tak akan menyebut, “Dasar PSK!” bukan?
Begitu juga dengan konsep jatuh untuk daun. Ia ada jatuh, luruh, rontok, dan gugur. Tapi, untuk menggambarkan suasana, kita tak bisa hanya menggunakan konsep jatuh.
“Bayangkan kalau suasananya terang bulan, tenang, angin berhenti, kemudian…daun rontok! Ya kacau!” kata Sitok.
Di situlah suasana menjadi lengkap karena diksi. Bukan hanya faktor konsep bahasa yang sama. Meski demikian, tetap saja kesalahkaprahan sering dilakukan oleh berbagai media. Misalnya, seorang lelaki menghajar istirnya sampai mati.
“Siapa yang mati?” tanya Sitok.
“Kebanyakan dari kita akan menganggap istrinya yang mati. Padahal itu tidak beda dengan orang berlari sampai lelah, atau orang makan sampai kenyang. Kan yang lelah adalah orang yang berlari itu bukan? Tapi kita sering membiarkan kekeliruan tersebut karena kita merasa tahu maksudnya.”
Faktor kelisanan seringkali digunakan ke dalam tulisan. Padahal ia akan menimbulkan kesimpang-siuran. Kata-kata yang bisa dimengerti dalam bahasa lisan, belum tentu dipahami dan bermakna sama dalam sebuah tulisan. Apakah kita akan membiarkan hal itu?
Menurut Sitok, sangat ironis jika sebagai penulis kita tak peduli dengan cara berbahasa yang keliru. Karena cara kita berbahasa, mencerminkan cara kita berpikir.
Unsur personalitas dalam menulis
“Kenapa kematian Sukardal menjadi mengharukan ketika ditulis oleh Goenawan Mohamad? Sementara ketika kita baca di koran rasanya biasa-biasa saja?” tanya Sitok.
Berita lebih sering hanya menyajikan peristiwanya. Tidak ada narasi, tidak memberi ruang bagi tokoh yang diceritakan. Itu sebabnya, Sukardal, tukang becak yang menggantung diri menjadi berita yang mengharukan dan menyentak perasaan kita. Hal itu dikarenakan sentuhan personalitas si penulis terhadap si tokoh. Tokoh menjadi penting karena tokoh itu akan mengungkapkan sendiri tentang setting sosialnya, tempat, dari mana ia berasal, dan bagaiamna ia punya suara dalam menyikapi ketidakadilan. Dalam tulisan itu terbukti bahwa sentuhan personalitas, mampu menghadirkan sisi kedalaman yang membedakan antara satu penulis dan penulis lainnya.
Karena cara kita melihat peristiwa akan berbeda dengan cara orang lain. Ketika kita sama-sama menyaksikan sebuah tabrakan, masing-masing orang akan memiliki perhatian yang berbeda-beda. Penulisan yang dangkal bisa saja hanya memberitakan tentang dua bus yang hancur karena saling membentur dan menewaskan sekian manusia atau korban yang luka. Seakan semua hanya soal benda. Tidak masuk ke tokohnya (orangnya seperti apa, keluarganya, asalnya, perilaku keseharian, dan apa yang dikerjakan sebelum kecelakaan itu terjadi). Kita tidak tahu kalau si sopir yang mengemudikannya semalaman tidak tidur karena mengurusi istrinya yang melahirkan, atau anaknya yang sakit, atau habis bertengkar misalnya.
Narasi, mengubah berita menjadi cerita. Dengan bercerita, kita menggali informasi lebih dalam dan menghidupkan tokohnya. Karena, dibalik ribuan peristiwa, ada manusia-manusia di dalamnya, yang tidak bisa hanya dicantumkan sebagai data dan angka.
Seorang penulis yang baik, ia akan memulai dari sebuah pertanyaan yang ia ketahui dan terus mengembangkan. Tema-tema yang intim dengan dirinya akan menghasilkan karya-karya yang unik. Karena, apa yang kita ketahui, belum tentu diketahui oleh orang lain. Begitu juga dengan apa yang kita pikirkan. Setiap orang mempunyai perbedaan-perbedaan. Dan perbedaan itulah yang menyuguhkan keunikan serta menentukan kekhasan masing-masing penulis.
Sitok mengulas sedikit tentang fungsi jurnalisme. Ia dibutuhkan, agar khalayak tahu tentang sesutau. Dan dari pengetahuan itu kemudian masyarakat berpikir melakukan tindakan. Misalnya hidup sehat dengan tempe, siapa tahu ada yang merasa tidak sehat dan memakannya sehingga menjadi sehat. Atau tentang pejabat yang korupsi, supaya masyarakat tahu dan melakukan sesuatu karena ada hal yang tidak beres.
Sebuah informasi yang sampai ke masyarakat bisa melekat di hati pembaca, tapi juga bisa segera hilang jika tidak menyentuh perasaan dan tidak mengesankan. Tujuan kita menulis, agar pesan yang kita sampaikan bisa dimengerti dan berkesan. Kalau dimengerti tapi tidak mengesan, untuk apa?
"Sentuhlah perasaannya, dan sentuhlah daya ingatnya," kata Sitok.
Jakarta, 5 Agustus 2010
Sabtu, 03 Juli 2010
Belajar dari Fira Basuki
Oleh Siti Nurrofiqoh
“Stres karena menulis? Lho, wong nulis kok malah stres? Harusnya kan happy? Bingung aku,” kata Fira Basuki malam itu, ketika menceritakan keluhan temannya.
Menulis adalah sebuah pergumulan penuh cinta. Hati, jiwa, rasa, terlibat seluruhnya. Begitulah setidaknya yang saya tangkap dari diskusi bersama Fira Basuki pada Rabu malam, di Gedung Pantau, Jl Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, di kelas narasi angkatan ke Sembilan.
Menurutnya, saat menulis adalah saat-saat yang paling menyenangkan. Apalagi ketika bukunya sudah mau selesai. Dan, ketika buku sudah selesai dan berada di tangan penerbit, justru ada rasa kehilangan. Rasa tak rela. Perasaan itu hampir sama ketika kita berpisah dengan orang yang kita cintai. Bisa juga seperti berpisah dengan anak kita.
Banyak yang berpikiran menulis itu sebuah kebutuhan, sekedar iseng, hobi, atau tuntutan pekerjaan. Bagi Fira, menulis merupakan perpaduan semuanya. Kebutuhan, berbagi, kenang-kenangan, membangun personality branding dan mencari uang.
Harimau mati meninggalkan belang. Manusia mati meninggalkan kenangan. Dalam karyanya yang terkesan ringan, setidaknya mengingatkan kita perlunya memberi ruang dalam jiwa untuk berimajinasi dan rehat sesekali, dari penatnya persoalan yang menuntut keseriusan.
Untuk menjadi penulis, kita perlu dekat dengan kata-kata. Artinya jangan takut mencoba menggunakan kata-kata. Kemudian pengalaman, pengetahuan, dan waktu. Mengenai waktu, kita memang harus melatihnya. Siang hari kita memang sering sibuk untuk pekerjaan. Dan kita perlu melatihnya untuk bangun pagi, lalu menulis.
Dari mana datangnya ide? Ia bisa dari pengalaman, sekeliling, imajinasi dan mimpi. Karya Fira berjudul Jendela-jendela, Pintu dan Atap, juga kisah yang diambil dari pengalamannya bersama kedua kakaknya dan teman kakaknya. Menurutnya, kedekatan kita pada dunia yang kita ketahui, akan menghasilkan tulisan yang lebih dalam dan jujur.
Dunia yang kita ketahui masing-masing akan menjadi kunci yang menarik. Dari sana setiap pribadi menghadirkan kekhasannya sendiri-sendiri. Kita tidak bisa menjadi seperti Fira Basuki, dan sebaliknya.
“Jangan memaksa saya menulis sesuatu yang tidak familiar dan tidak saya ketahui. Kalau saya nulis itu, berarti saya harus hidup dalam itu. Kalau hidup dalam itu berarti saya harus meninggalkan dunia saya dan meluangkan waktu untuk masuk ke dunia itu. Saya punya anak dan harus bertanggung jawab, jadi nggak mungkin aku tinggalin anakku sebuln karena aku mau ngegembel, misalnya, kan nggak bisa!” begitu kata Fira, ketika ada peserta diskusi bertanya, kenapa Ia tak mengangkat persoalan-persoalan tentang kultur dan problem yang terjadi di berbagai lapisan masyarakat bawah.
Jalan hidup orang berbeda beda. Dan di sanalah sesungguhnya, setiap kita memiliki peluang menuliskannya. Tinggal bagaimana kita menerapkan teori yang kita miliki, dan mengelola kedisiplinan diri soal waktu. Dan...ini dia, ada hal mesti kita simpan untuk menambah koleksi pengetahuan kita. Kata Fira, lead akan berpengaruh memikat pembaca. Maka itu, jangan membuat kata pembuka atau kalimat panjang pada lead tulisan kita. Lead yang menarik biasanya lead yang pendek. Misalnya sapaan, mati, nafas, dan sebagainya. Ia akan membuat orang penasran. Tapi, tentu kalimat berikutnya juga harus menarik. Apalagi isi ceritanya. Rahasia?
Fira mencermati rahasia dari karya-karya Sheakpeare. Di sana, ia mencatat tiga unsur: drama, komedi, tragedi. Unsur itulah yang mampu memainkan emosi dan perasaan pembacanya.
B1ru, adalah karyanya juga. Paris Pandora, Brownies dan Kapitan Pedang Panjang juga judul-judul novel yang dihasilkannya. Ia bilang, “Aku bernafas dari kata-kata.”
Hm, siapakah dari kita yang akan menambahkan warna merah, kuning atau jingga? Menulislah terus. Dunia menunggu disemarakkan oleh warna hidup kita melalui karya-karya tulisan yang positif dan membangun.
Jakarta 30 juni 2010
“Stres karena menulis? Lho, wong nulis kok malah stres? Harusnya kan happy? Bingung aku,” kata Fira Basuki malam itu, ketika menceritakan keluhan temannya.
Menulis adalah sebuah pergumulan penuh cinta. Hati, jiwa, rasa, terlibat seluruhnya. Begitulah setidaknya yang saya tangkap dari diskusi bersama Fira Basuki pada Rabu malam, di Gedung Pantau, Jl Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, di kelas narasi angkatan ke Sembilan.
Menurutnya, saat menulis adalah saat-saat yang paling menyenangkan. Apalagi ketika bukunya sudah mau selesai. Dan, ketika buku sudah selesai dan berada di tangan penerbit, justru ada rasa kehilangan. Rasa tak rela. Perasaan itu hampir sama ketika kita berpisah dengan orang yang kita cintai. Bisa juga seperti berpisah dengan anak kita.
Banyak yang berpikiran menulis itu sebuah kebutuhan, sekedar iseng, hobi, atau tuntutan pekerjaan. Bagi Fira, menulis merupakan perpaduan semuanya. Kebutuhan, berbagi, kenang-kenangan, membangun personality branding dan mencari uang.
Harimau mati meninggalkan belang. Manusia mati meninggalkan kenangan. Dalam karyanya yang terkesan ringan, setidaknya mengingatkan kita perlunya memberi ruang dalam jiwa untuk berimajinasi dan rehat sesekali, dari penatnya persoalan yang menuntut keseriusan.
Untuk menjadi penulis, kita perlu dekat dengan kata-kata. Artinya jangan takut mencoba menggunakan kata-kata. Kemudian pengalaman, pengetahuan, dan waktu. Mengenai waktu, kita memang harus melatihnya. Siang hari kita memang sering sibuk untuk pekerjaan. Dan kita perlu melatihnya untuk bangun pagi, lalu menulis.
Dari mana datangnya ide? Ia bisa dari pengalaman, sekeliling, imajinasi dan mimpi. Karya Fira berjudul Jendela-jendela, Pintu dan Atap, juga kisah yang diambil dari pengalamannya bersama kedua kakaknya dan teman kakaknya. Menurutnya, kedekatan kita pada dunia yang kita ketahui, akan menghasilkan tulisan yang lebih dalam dan jujur.
Dunia yang kita ketahui masing-masing akan menjadi kunci yang menarik. Dari sana setiap pribadi menghadirkan kekhasannya sendiri-sendiri. Kita tidak bisa menjadi seperti Fira Basuki, dan sebaliknya.
“Jangan memaksa saya menulis sesuatu yang tidak familiar dan tidak saya ketahui. Kalau saya nulis itu, berarti saya harus hidup dalam itu. Kalau hidup dalam itu berarti saya harus meninggalkan dunia saya dan meluangkan waktu untuk masuk ke dunia itu. Saya punya anak dan harus bertanggung jawab, jadi nggak mungkin aku tinggalin anakku sebuln karena aku mau ngegembel, misalnya, kan nggak bisa!” begitu kata Fira, ketika ada peserta diskusi bertanya, kenapa Ia tak mengangkat persoalan-persoalan tentang kultur dan problem yang terjadi di berbagai lapisan masyarakat bawah.
Jalan hidup orang berbeda beda. Dan di sanalah sesungguhnya, setiap kita memiliki peluang menuliskannya. Tinggal bagaimana kita menerapkan teori yang kita miliki, dan mengelola kedisiplinan diri soal waktu. Dan...ini dia, ada hal mesti kita simpan untuk menambah koleksi pengetahuan kita. Kata Fira, lead akan berpengaruh memikat pembaca. Maka itu, jangan membuat kata pembuka atau kalimat panjang pada lead tulisan kita. Lead yang menarik biasanya lead yang pendek. Misalnya sapaan, mati, nafas, dan sebagainya. Ia akan membuat orang penasran. Tapi, tentu kalimat berikutnya juga harus menarik. Apalagi isi ceritanya. Rahasia?
Fira mencermati rahasia dari karya-karya Sheakpeare. Di sana, ia mencatat tiga unsur: drama, komedi, tragedi. Unsur itulah yang mampu memainkan emosi dan perasaan pembacanya.
B1ru, adalah karyanya juga. Paris Pandora, Brownies dan Kapitan Pedang Panjang juga judul-judul novel yang dihasilkannya. Ia bilang, “Aku bernafas dari kata-kata.”
Hm, siapakah dari kita yang akan menambahkan warna merah, kuning atau jingga? Menulislah terus. Dunia menunggu disemarakkan oleh warna hidup kita melalui karya-karya tulisan yang positif dan membangun.
Jakarta 30 juni 2010
Kamis, 01 Juli 2010
Emisi di Balik Pepohonan
Oleh Siti Nurrofiqoh
Di hari menjelang senja, gerimis mengguyur lembut hamparan rumput yang tumbuh di sepanjang tepi jalan. Dari ketinggian, terlihat seperti ular naga yang meliuk-liuk mengapit jalanan hitam beraspal. Kami duduk bertiga di teras Café Daun, sebuah bangunan yang menempati dataran tinggi di Kebun Raya Bogor itu.
“Perjalanan wisata yang buruk,” kata temanku. Ia sudah terlihat kesal ketika pertama menginjakkan kaki di tempat itu.
Di bawah sana, beberapa kendaraan sering melintas. Mobil-mobil sering mengganggu pemandangan dan memberi kebisingan. Tadinya dalam hatiku berharap, begitu memasuki Kebun Raya, mata bisa dimanjakan oleh hijaunya pepohonan, bisa berjalan santai sambil menghirup wanginya dedauan, atau mencium bau tanah kering yang mendadak basah oleh hujan.
Tetapi harapan itu hanya bertahan beberapa meter saja dari loket penjual karcis masuk. Deretan mobil sudah terparkir di sana. Dan emisi terus ditaburkan dari para pengunjung yang berkeliling menggunakan kendaraan. Selain menghirup kepulan asap hitam dari knalpot, pejalan kaki juga selalu dibuat was-was dan harus terus waspada setiap kali mobil-mobil itu melintas.
“Duh, ketemu emisi lagi,” kata temanku dengan raut tegang.
“Ndak tahu nih. Kok pada ndak punya etika sih. Kalau begini, sama saja seperti jalan raya. Benci aku,” temanku yang satu menimpali lagi. Mimik mukanya tampak keruh.
“Hm. Beginilah kalau pergi sama aktivis lingkungan,” kataku mencoba bercanda, mencairkan suasana. Meski hatiku kesal dan tak berselera.
“Bukan begitu. Masak mobil di mana-mana, kayak jalan raya jadinya. Tuh lihat!” katanya seraya menujuk deretan mobil parkir di sepanjang jalanan yang kami lalui. Mirip tempat parkir di DPR-RI.
“Gimana sih pengelolanya? Kok membolehkan mobil-mobil masuk? Emsisinya itu lho,”
Cemberut di muka kedua temanku semakin bertambah, ketika mobil-mobil sering menyalip dan datang dari arah depan.
Akhirnya kami hanya duduk-duduk di tepi kolam sambil memandang tumbuhan teratai. Daunnya yang mirip jamur raksasa itu sebagian terkoyak oleh ranting kering yang jatuh, sebagian tertaburi bunga-bunga yang luruh dari pepohonan.
Ada keheningan menyelusup jiwa dan mengendurkan syaraf-syaraf ketegangan. Tapi semakin siang, semakin sering juga bunyi klakson dan deru kendaraan yang lewat mengusik ketenangan, mengalahkan cicit burung yang terbang di ketinggian. Burung-burung itu, agaknya ketakutan bercengkrama di dahan-dahan yang rendah.
Kami berdiri dan berjalan memasuki hutan kecil di sekitar rerumpunan bambu. Di sepanjang jalan kecil yang membelah perkebunan itu, terkadang telinga masih menangkap bunyi kendaraan. Kedamaian yang alami telah pergi. Tak ada lagi kesenyapan alam, yang mampu memberi jeda pada pikiran, untuk sekedar diam, dan menikmatinya tanpa kata.
Kami memutuskan mendatangi sebuah kafe. Dan memesan beberapa makanan dan minuman hangat. Temanku memesan bandrek untuk bertiga. Hujan masih terus mengguyur kawasan itu. Hujan seperti menyembunyikan kami di balik tirai yang maha luas. Namun entah kenapa, ia menghadirkan perasaan yang lepas.
“Lihat, hujannya lembut. Indah. Aku selalu suka dengan hujan,” kata salah seorang temanku. Kami bertiga menikmati pemandangan itu dalam diam.
Kami berhenti menggerutu. Di bawah sana, orang-orang berlari mencari tempat teduh. Sebagian lagi terlihat sengaja membasahkan diri, melebur bersama anugerah Illahi. Hal itu mengingatkanku akan masa kecil dulu. Mandi hujan selalu ada kenikmatan tersendiri. Meski harus sembunyi-sembunyi karena takut dimarahi.
Di antara orang-orang yang berlari ingin cepat menemukan tempat berteduh, sebuah sedan warna biru juga memacu kecepatannya. Entah bagaimana awalnya, sedan itu menerobos jalur hijau, melayang meninggalkan jalanan aspal.
“Brakk!”
Mobil masuk ke selokan. Orang-orang berteriak. Para pejalan kaki yang baru melewati tempat itu menoleh dan mengusap dada sambil menggelengkan kepala.
Kami juga menggelengkan kepala menyaksikan pemandangan itu. Dan, bergumam: untung, orang-orang itu sudah lewat. Selisih beberapa menit, jiwa-jiwa bisa melayang sia-sia.
Jakarta 31 Januari 2009
Di hari menjelang senja, gerimis mengguyur lembut hamparan rumput yang tumbuh di sepanjang tepi jalan. Dari ketinggian, terlihat seperti ular naga yang meliuk-liuk mengapit jalanan hitam beraspal. Kami duduk bertiga di teras Café Daun, sebuah bangunan yang menempati dataran tinggi di Kebun Raya Bogor itu.
“Perjalanan wisata yang buruk,” kata temanku. Ia sudah terlihat kesal ketika pertama menginjakkan kaki di tempat itu.
Di bawah sana, beberapa kendaraan sering melintas. Mobil-mobil sering mengganggu pemandangan dan memberi kebisingan. Tadinya dalam hatiku berharap, begitu memasuki Kebun Raya, mata bisa dimanjakan oleh hijaunya pepohonan, bisa berjalan santai sambil menghirup wanginya dedauan, atau mencium bau tanah kering yang mendadak basah oleh hujan.
Tetapi harapan itu hanya bertahan beberapa meter saja dari loket penjual karcis masuk. Deretan mobil sudah terparkir di sana. Dan emisi terus ditaburkan dari para pengunjung yang berkeliling menggunakan kendaraan. Selain menghirup kepulan asap hitam dari knalpot, pejalan kaki juga selalu dibuat was-was dan harus terus waspada setiap kali mobil-mobil itu melintas.
“Duh, ketemu emisi lagi,” kata temanku dengan raut tegang.
“Ndak tahu nih. Kok pada ndak punya etika sih. Kalau begini, sama saja seperti jalan raya. Benci aku,” temanku yang satu menimpali lagi. Mimik mukanya tampak keruh.
“Hm. Beginilah kalau pergi sama aktivis lingkungan,” kataku mencoba bercanda, mencairkan suasana. Meski hatiku kesal dan tak berselera.
“Bukan begitu. Masak mobil di mana-mana, kayak jalan raya jadinya. Tuh lihat!” katanya seraya menujuk deretan mobil parkir di sepanjang jalanan yang kami lalui. Mirip tempat parkir di DPR-RI.
“Gimana sih pengelolanya? Kok membolehkan mobil-mobil masuk? Emsisinya itu lho,”
Cemberut di muka kedua temanku semakin bertambah, ketika mobil-mobil sering menyalip dan datang dari arah depan.
Akhirnya kami hanya duduk-duduk di tepi kolam sambil memandang tumbuhan teratai. Daunnya yang mirip jamur raksasa itu sebagian terkoyak oleh ranting kering yang jatuh, sebagian tertaburi bunga-bunga yang luruh dari pepohonan.
Ada keheningan menyelusup jiwa dan mengendurkan syaraf-syaraf ketegangan. Tapi semakin siang, semakin sering juga bunyi klakson dan deru kendaraan yang lewat mengusik ketenangan, mengalahkan cicit burung yang terbang di ketinggian. Burung-burung itu, agaknya ketakutan bercengkrama di dahan-dahan yang rendah.
Kami berdiri dan berjalan memasuki hutan kecil di sekitar rerumpunan bambu. Di sepanjang jalan kecil yang membelah perkebunan itu, terkadang telinga masih menangkap bunyi kendaraan. Kedamaian yang alami telah pergi. Tak ada lagi kesenyapan alam, yang mampu memberi jeda pada pikiran, untuk sekedar diam, dan menikmatinya tanpa kata.
Kami memutuskan mendatangi sebuah kafe. Dan memesan beberapa makanan dan minuman hangat. Temanku memesan bandrek untuk bertiga. Hujan masih terus mengguyur kawasan itu. Hujan seperti menyembunyikan kami di balik tirai yang maha luas. Namun entah kenapa, ia menghadirkan perasaan yang lepas.
“Lihat, hujannya lembut. Indah. Aku selalu suka dengan hujan,” kata salah seorang temanku. Kami bertiga menikmati pemandangan itu dalam diam.
Kami berhenti menggerutu. Di bawah sana, orang-orang berlari mencari tempat teduh. Sebagian lagi terlihat sengaja membasahkan diri, melebur bersama anugerah Illahi. Hal itu mengingatkanku akan masa kecil dulu. Mandi hujan selalu ada kenikmatan tersendiri. Meski harus sembunyi-sembunyi karena takut dimarahi.
Di antara orang-orang yang berlari ingin cepat menemukan tempat berteduh, sebuah sedan warna biru juga memacu kecepatannya. Entah bagaimana awalnya, sedan itu menerobos jalur hijau, melayang meninggalkan jalanan aspal.
“Brakk!”
Mobil masuk ke selokan. Orang-orang berteriak. Para pejalan kaki yang baru melewati tempat itu menoleh dan mengusap dada sambil menggelengkan kepala.
Kami juga menggelengkan kepala menyaksikan pemandangan itu. Dan, bergumam: untung, orang-orang itu sudah lewat. Selisih beberapa menit, jiwa-jiwa bisa melayang sia-sia.
Jakarta 31 Januari 2009
Langganan:
Postingan (Atom)