Kamis, 11 Agustus 2011

Disorientasi Historis

oleh fiqoh

Mungkin yang akan saya sampaikan ini usang. Tapi saya percaya bahwa yang usang ini penting. Kata orang tua jaman dulu, ia menjadi pengeling-eling, ketika kita tersesat dan butuh jalan untuk kembali.

Kata kuncinya sederhana – jangan pernah melupakan sejarah.

Pesan Bung Karno ini sudah kedengaran sangat klise memang. Tapi lelaki itu membuktikan hal paling konkrit melalui kisah dua bangsa yang alfa, dan kini terus-menerus kebingungan bagai terjerat akar hutan, dan terseret putaran labirin yang membingungkan.

“Sejarah selalu saya jadikan fondasi dalam menganalisa dan menulis,” katanya, dan dalam hati saja stuju.

Lelaki itu Wilson, penulis buku A Luta Continua, karya yang lahir karena kekecewaan pada orang-orang yang dulu disebutnya kawan.

Saat ia mencontohkan dua bangsa yang kehilangan sejarah, saya membuka kotak-kota kecil berisi kelompok-kelompok kecil yang sering mudah melupakan komitmen bersama. Ia tentang kesetiakawanan yang dibangun oleh dua sahabat, janji setia dari pasangan hidup, atau solidaritas dan integritas yang dibangun dan dijaga oleh buruh yang berserikat.

Tapi bicara sejarah bangsa, penting bagi kita bicara siapa yang menuliskannya. Apakah Nugoroho Notosusanto yang kemudian menjadi kurikulum di sekolah-sekolah itu? Atau sejarah Timor Leste yang justru lebih banyak ditulis oleh orang luar?

Sejarah yang ada, dan terutama di Indonesia telah diseragamkan versi tentara atau pemerintah untuk melegitimasi kekuasaan. Padahal kemerdekaan harus memiliki makna intelektual dan historis. Dan ini yang tak dimiliki oleh Bangsa Indonesia maupun Timor Leste.

Hal itu yang dikritisi Wilson dalam bukunya, tentang pergerakan di Timor Leste, saat masa perjuangan, referendum dan pasca kemerdekaan. Para pejuang yang awalnya sangat dipercaya memegang teguh cita-cita bersama, tak dinyana bagaikan bunglon yang berkamuflase.

Para aktivis yang dulunya menentang rezim penguasa korup dan otoriter, kini perilaku mereka tak ada bedanya. Mereka yang dulunya pejuang, langsung sibuk dengan urusan kekuasaan dan tidak sempat menulis sejarahnya.

“Ah, segalanya tak semudah yang dulu kita bayangkan,” kata Wilson menirukan kawannya yang menjabat Menteri Pertanian di negara termuda itu.

“Kenapa di saat segalanya di tangan kita justru malah susah? Budget di tangan kita, kekuasaan di tangan kita, kebijakan di tangan kita, kok jadi malah susah? Yang susah itu kan pejuang-pejuang yang tak punya dana, hidup di hutan-hutan, di jalan-jalan, dan tak bisa menyewa secretariat dan kontrakan!” ucapnya.

Lagi, bahwa tidak menuliskan sejarahnya membuat mereka lupa dengan cita-cita semula. Dan lupa bahwa dalam proses kemerdekaan bangsa itu, semua terlibat, semua menyumbang, semua ikut berharap. Sejarah membuat kita memiliki ikatan emosi terhadap bangsanya, cita-citanya.

Bangsa yang lupa, adalah bangsa yang bingung. Makanya di bangsa ini terus terjadi kekacauan karena pelanggar Ham di masa lalu tidak pernah diadili, dan justru perilaku itu diduplikasi. Kesepakatan bersama dilanggar, konsesus nasional tidak dijalankan, dan kesalahan terus diulang. Karena tidak ada bahan merefleksi diri baik rakyat maupun penguasa.

Bicara sejarah dua bangsa, perlu dimulai dari komitmen dan integritas kelompok-kelompok kecil seperti aktivis lingkungan hidup, mahasiswa, serikat buruh, dll. Integirtas bisa saja berubah, srigala bisa saja berganti bulu, tapi sejarah yang dituliskan dengan benar akan menjadi pengingat, bahwa ketika hari ini siapa menjadi apa, jangan hanya ditulis apa yang dilakukan sekarang.

Merawat sejarah, juga bagian dari menyimak dan mencatat perubahan setiap individu yang menjadi pejuang atau pelaku perubahan. Barangkali ini salah satu yang membedakan alasan Wilson dengan Budiman Sudjatmiko meninggalkan Partai Rakyat Demokratik (PRD). Wilson bilang, ia keluar karena perlu mencari kelompok lain, dan demi menjaga adrenalin bersama orang-orang yang tak mau dikekang oleh kemoderatan dan keadaan yang kelewat mapan. Sedang Budiman bergabung ke PDIP dan menjadi anggota DPR.

Bangsa Indonesia telah kehilangan Jembatan Emas dalam istilah Bung Karno -- Jembatan untuk menggapai kesejahteraan berbangsa dan bernegara; Timor Leste telah kehilangan ruh sebagai “Masyarakat Maubere”.

Kita hanya berdaulat secara politik tapi tidak secara ekonomi. Kita berdaulat sebagai bangsa, tapi tidak berdaulat dengan sejarahnya. Padahal sejarah akan membuat kita tidak kebingungan menentukan masa depan.

Tapi Negara-negara ini sama-sama telah menjadi alat kepentingan global bernama neoliberalisme atau kapitalis internasional. Negara bagai kehilangan eksistensi. Janji memandirikan pangan dengan menumbuhkan ekonomi kerakyatan, janji menjadi masyarakat sosialis yang anti borjuasi dan tidak korup, seluruhnya tidak terbukti.

Perjuangan harus berlanjut!

Jakarta, 11 Agustus 2011 (notulensi diskusi dengan Wilson di Pantau)







Selasa, 09 Agustus 2011

Jurnalisme Advokasi di Indonesia

oleh fiqoh

“Dalam menulis, saya selalu memihak. Saya tak percaya dengan yang namanya netralitas, obyektifitas atau metode cover both sidel!”

Begitu kata Wilson, saat berbicara di sesi kelas Jurnalisme Sastrawi yang diadakan Pantau di Kebayoran Lama Jakarta Selatan.

Pernyataannya ini lekat dengan jiwa keaktivisannya. Wilson telah menerjuni dunia aktivis sejak 1998. Ia ada di gerakan mahasiswa, serikat buruh, PRD, dan gerakan mendukung solidaritas untuk Timor Leste, Aceh, Papua, dan masih banyak lagi. Ia banyak menyaksikan fakta-fakta penindasan -- orang-orang lemah dan bangsa atau negara lemah oleh kekuasaan bangsa atau negara yang kuat; kelompok minoritas oleh kekuatan kelompok mayoritas; atau warga negara oleh penguasa.

Dimensi penindasan itu bermacam-macam, sedari politik, ekonomi, gender, lingkungan hidup, dan masih banyak lagi. Seluruh persoalan itu belum mempunyai jalan keluarnya hingga sekarang.

“Maka itu, keberpihakan pada yang lemah dan tertindas adalah filosofi saya dalam menulis.”

Tentu, yang dimaksud keberpihakan positif. Keberpihakan untuk melakukan perubahan yang lebih baik. Karena kelas-kelas dominan dan penguasa selalu menguasai sumber-sumber berita, sumber-sumber pengatauhan. Mereka semua bisa menghegemoni masyarakat dan bisa memaksa orang untuk menerima informasi itu.

“Jadi, dengan fakta itu tindakan yang harus saya lakukan adalah melawan!”

Apalagi media-media mainstream saat ini lebih berorientasi pada rating penjualan (oplah). Dan ia sangat terkait dengan pengiklan, pemilik modal, sponsor. Prinsip yang digunakan adalah nilai sensasi atau keseksian yang bisa menarik pengiklan tertentu atau sponsor tertentu pula. Prinsip itu jelas berbenturan dengan nilai-nilai keberpihakan pada kemanusiaan – sejauh mana orang-orang kecil disuarakan media; berapa persentasenya persoalan mereka bisa diadvokasi melalui media; berapa banyak orang-orang pembawa perubahan di masyarakat (aktivis kalangan bawah) dan suara yang lemah diberi panggung dll.

Jurnalisme Advokasi

Jika para pemilik modal dan birokrat-birokrat media lebih menjaga bisnis industri medianya ketimbang menggunakan media untuk sebuah perubahan yang positif. Masih relefankah kita percaya?

Wilson miris melihat perubahan fungsi media di Indonesia. Di televise dan koran-koran perseteruan kalangan elit menjadi berita utama. Mereka yang sudah berkuasa yang diberi panggung berbicara, untuk ditonton dan didengar jutaan rakyatnya meski kerjanya hanya membual dan menghasilkan sampah.

Padahal, dalam keadaan seperti sekarang ini harusnya jurnalisme kritis mendapat tempat. Tapi yang terjadi sebaliknya, hingga para jurnalis yang memiliki idealis dibenturkan dengan kebijakan redaksi media-media itu. Wartawan akhirnya bagai mesin-mesin industri birokat media yang lama kelamaan membuat komitmennya tergerus sedikit demi sedikit, atau malah mencari aman.

Makanya, jangan harap kita menemukan berita tentang lumpur Lapindo di TV One, atau hal-hal negative Partai Golkar di Metro TV.

Sebelum reformasi tahun 1998, sebagian jurnalis (sekarang AJI) melakukan gerakan advokasi dengan menerbitkan media-media alternatif seperti Suara Independent. Dan ia memang menjadi sumber terpercaya bagi masyarakat, aktivis, LSM atau mahasiswa. Lalu Wilson mencontohkan, jika kita ingin mengetahui politik lingkungan yang merusak masyarakat adat dan komunitas petani, lebih baik membaca berita Walhi. Dan jika mau tahu bagaimana industri tambang berkolaborasi dengan tentara dan pemodal internasional merusak lingkungan dan sistem masyarakat lokal, akan lebih lengkap lihat di situs Jatam. Termasuk blognya Andreas Harsono yang kata Wilson bisa menyajikan berita paling update soal penembakan di Papua dibanding koran Kompas, misalnya.

Dan masih banyak situs-situs penyedia informasi alternatif seperti Kasbi, KPA, dan lainnya yang menyajikan berita-berita berdasarkan fakta-fakta sosial di masyarakat, komunitas gerakan, organisasi-organisasi peduli keadilan, pelaku-pelaku perubahan di masyarakat yang tidak mendapat porsi di media.

Pada intinya, industri media yang orientasinya bisnis akan berhadapan dengan jurnalisme advokasi. Hegemoni dan oligarki modal serta kekuasaan harus dilawan. Masyarakat harus lebih cerdas membedakan berita. Kita tak butuh berita jika ia hanya menyajikan runutan peristiwa –bagaimana jaman orba wartawan bercerita tentang Marsinah, hanya dengan sumber militer atau Kodam Brawijaya. Secara news ia memang menjadi berita -- menceritakan kronologinya, atau hasil visum dari rumah sakit, “Tapi saya pikir itu tidak cukup!” kata Wilson

Bayangkan, jika wartawan hanya meliput dan menceritakan apa yang mereka lihat hari itu, peristiwa di acara itu, atau kebaikan pejabat pada saat itu. Wilson penulis buku A Luta Continua, mengatakan benar-benar kecewa, karena ia membuktikan sendiri betapa teman-temannya yang dulu pejuang kemerdekaan untuk Timor Leste akhirnya menduplikasi sistem penguasa yang pernah mereka lawan – korup, melupakan sejarah, dan menjadi agen kepentingan kapitalisme internasional ketika mereka berkuasa.

Jusnalisme Advokasi adalah cara kita menunjukkan bahwa media bisa menjadi satu alat kritik kebijakan-kebijakan, praktek-praktek kekuasaan yang menyimpang, atau layanan public yang buruk, juga analisa dan mengklarifikasi berita-berita media mainstream yang belum tentu benar.

Tulisan kita harus menyumbang perubahan yang konstruktif dan positif, memihak pada korban dan meminta pertanggungjawaban pada pelaku-pelakunya. Ia harus mengubah cara pandang orang yang membacanya, atau orang-orang yang ada di dalam sistem itu

Menulis itu, pekerjaan lintas profesi, ruang, status. Ujung pena itu, mewakili suara-suara yang tak harus dan tak selalu mampu kita organisir. Kita semua bisa melakukannya dari rumah, kantor, dan tempat-tempat lain di mana saja, tanpa kehilangan hobi-hobi kita yang lain.

Kita bisa menyelinap barang sekejap, menjadi diri kita yang lain, atau diri kita yang sesungguhnya, untuk menyelingi ragamnya rutinitas kita yang terkadang tak selalu kita ingini – profesi tuntutan pekerjaan.

Memihaklah pada yang lemah, yang tertindas, yang tidak punya akses terhadap berita, pengetahuan, atau korban kebijakan penguasa yang merugikan rakyat. Sejatinya, kita dan mereka yang terpinggirkan adalah sama, ketika yang tak memperoleh akses informasi atau yang dibanjiri informasi, sama-sama korban manipulasi oligarki dan hegemoni kekuasaan.

Kata Wilson, jurnalis menggantungkan pada kekuatan lain untuk membuat perubahan. Tapi jurnalisme advokasi membuat wartawan bisa menggunakan media dan pekerjaannya berkontribusi untuk sebuah perubahan.
Jakarta, 8 Agustus 2011

Senin, 08 Agustus 2011

Mandi Pagi

Handuk sudah kulilitkan ditubuh kuputar gagang pintu untuk keluar. Tapi…..eit!

Kutarik tahan gagang pintu kamar mandi itu. Dan meskipun mengintip itu perbuatan tidak baik, tapi aku melakukannya.

Dua perempuan yang besarnya hampir sama sedang berhadap-hadapan di ruang belakang, ruang yang akan aku lewati. Yang bertubuh agak kecil sedang khusuk melakukan “ritualnya” menjulurkan lidah, mendorongkan tubuh, menyapu bagian leher bawah, samping hingga lekuk di bawah dagu perempuan satunya.

Perempuan yang usianya jauh lebih tua itu memejamkan mata sambil tiduran. Tubuhnya condong ke belakang setengah terdorong oleh gerakan Si Enis -- panggilanku padanya.

Aku hampir tak bisa menahan diri karena gemas, dan gregetan! Betapa tidak, seumur hidupku baru aku menyaksikan hal seperti ini. Tapi kuatur nafasku agar tak mengusik kebersamaan mereka.

Adegan terus berlangsung. Si Enis lebih agresif mendorong-dorong perempuan yang nampak pasrah itu. Dengan lidahnya yang kecil, sapuannya beralih ke pipi kiri, kanan, hidung, dan pinggiran mulut – kosat…kasut…kosat…kasut.

“Idih, opo to iki…?” gumamku sendiri sambil nyengir sendiri pula.

Seiring itu perempuan tengah baya mendongak, menunduk, miring ke kiri dan kanan. Ia seperti menyesuaikan gerakan untuk memudahkan aktivitas Si Enis yang masih sangat belia dan belum berpengalaman.

Lagi-lagi, aku hampir tak bisa mendiamkan hal itu terus berlangsung. Apalagi kini keduanya malah saling memeluk, bergumul dan nampak semakin hangat. Dalam rangkulan tangan yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu, jilatan Enis tak berhenti, dan berpindah ke telinga yang mirip contongan daun pisang(seperti kue pasung tradisional). kini ia tak hanya kosat-kasut, tapi juga mulai mengigit, dan memasukkan moncong kecilnya ke dalam contong. Jelas saja si pemilik kuping berbentuk contong tak kuasa menahan geli.

“Eh, kok begitu nak? Ibu kan geli..hihihi” kata perempuan yang lebih pantas jadi ibunya kira-kira.

“Kok geli. Kan itu pula yang sering Ibu lakukan ke aku. Aku berusaha menirukan Ibu,hiks…hiks.” Jawab Enis sambil merajuk (mungkin) karena aku hanya melihat wajah mereka yang embas-embis sambil saling melepas pelukan tanpa engerti kata-katanya.

“Tapi moncongmu itu bikin geli nak…heheheh….heheheh…heheheh”

“Ya udah, enggak gitu lagi deh. Beneran…!”, Jawab Enis bersikukuh -- masih menurut perkiaraanku Enis bilang begitu, sambil tetap tak melepas pelukan dan ngotot meneruskan ritual di sekitar kuping.

Tapi…adegan itu segera terhenti karena perempuan setengah baya langsung menarik kepalanya dan memukul-mukul (terlihat bohongan memukulnya) sambil bangkit. Ia berjalan meninggalkan ruang belakang seiring derit pintu kamar mandi yang aku buka.

Jejak-jejak mirip buah brenuk ukuran kecil nampak di lantai berkeramik putih. Si Enis kecil berlari-lari menyusul. Mereka saling mengejar sambil terus bercanda, melompati tembok pembatas kamar menuju bawah jemuran, sambil sesekali melipat dan menekuk ekornya.

Keduanya adalah (ibu dan anak), induk kucing dengan anak satu-satunya. Mereka tinggal di sekitar tempat kost dan sering bertamu ke kamarku. Karena aku sering memberinya makan malam bervareasi sedari kepala lele, tulang ayam, dll.

Mungkin karena anak satu-satunya itulah Si Enis jadi sangat manja, masih ngempeng meski ia sudah besar. Tapi, pagi ini dia menjadi anak yang berbakti. Memperhatikan dan memandikan ibunya.

5 Agustus 2011 (Hiburan pagi hari saat mata ngantuk kurang tidur)

Rabu, 03 Agustus 2011

Pemimpin Bangsa dan Jatuhnya Buah Apel

oleh fiqoh

Andai saja, guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Andai saja orang tua, guru dan para pemimpin bisa mengajarkan yang baik lewat ucapan, itupun tidak cukup tanpa contoh melalui perbuatan.

Semrawutnya berlalulintas, cermin semrawutnya kepribadian. Tentu ini hanya salah satu contoh. Dan ini dimulai dari kerumunan anak-anak yang bermain di rumah, dan di sekolah. Salah satu dari kerumunan anak itu menarik perhatianku mengamatinya, karena ia selalu merebut mainan teman-temannya.

“Sini nak,” panggilku dan anak itu mendekat.

“Kenapa kamu selalu merebut mainan teman-temanmu nak..?” tanyaku dan anak itu hanya menggeleng.

“Ayah dan Ibumu, pernah tidak mengajarkanmu untuk tidak merebut mainan teman-temanmu?” Anak itu memandangku dan menggeleng lagi.

Aku teringat kata temanku Dit, jika ingin melihat orang tuanya, lihatlah anaknya. Jika ingin melihat perilaku pemimpin bangsa, lihat perilaku rakyatnya. Ketidakdisiplinan, ketidakkonsistenan dalam menaati peraturan bermula karena pemimpin selalu bersikap inkonsisten! Contoh kecil, ketertiban dalam berlalu-lintas.

Dan kenapa masih banyak rakyat terbelakang dan miskin? Tentu mudah menjawabnya. Salah satunya, dalam hal pendidikan, murid harus mendaftar ulang setiap kenaikan kelas. Tetanggaku mengeluh, karena ia harus membayar minimal 250 ribu untuk itu.

Ibarat pepatah Belanda, apel jatuh tak jauh dari pohonnya. Dan pohon-pohon kurang bermutu sudah tumbuh subur di negeri ini.

Jakarta 22 Juli 2011 07:27

Benarkah Tak Butuh Tuhan?

oleh fiqoh

Sekali lagi kutanyakan hal itu padanya. Karena menurutnya, segala sesuatu yang ada di dunia ini semuanya proses alam. Pohon bertumbuh dan mati, biji dilempar dan tumbuh. Begitu juga berkembang biaknya binatang dan manusia, semuanya terjadi secara naluriah dan alamiah. Kita tak butuh Tuhan untuk itu semua.

“Kok bisa?” tanyaku.

“Soal itu anak kecil pun tahu,” jawabnya.

“Coba saja, kamu tanya pada anak kecil yang lapar. Kira-kira siapa yang dibutuhkan oleh anak itu? Pasti ibunya kan? – Ibu aku pengen makan." katanya menirukan.

Cukup lama aku biarkan argumen itu, hingga kudengar dialog dari sebuah sinetron tadi pagi. Ini tentang sepasang suami-istri keluarga yang sakinah. Mereka hendak membantu keluarga lain yang tidak mampu.

“Bu, bagaimana kalau kita membantu keluarga itu?” tanya suaminya dengan bahasa yang sangat halus dan membungkuk dalam over acting.

Sang istri diam sebentar, mengerjap-ngerjapkan mata dan berkata, “Apa kira-kira yang bisa kita berikan ya Pak…?”

Keduanya terdiam dan hanya salaing memandang. Lalu, senyum paling manis dan menawan (masih dalam over acting) diberikan suaminya sebelum berkata, “Ibu kan istri Bapak yang cantik dan solehah. Pasti Ibu akan mendapat petunjuk dari Allah. Kita tunggu ya Bu?”

“Halah…gimana tho ini. Wong mau memberi bantuan saja kok pake meminta petunjuk Allah. Gimana kalau orang yang mau dibantu keburu meninggal? Atau mereka adalah korban tertimpa bencana alam yang harus segera mendapat pertolongan? Apakah harus menunggu petunjuk Allah juga?” komentar teman kosku.

Dialog sinetron menunjukkan betapa sikap si keluarga sakinah yang taat beragama, malah jadi tidak simpel dan keblinger dalam memutuskan hal-hal kecil. padahal kita mau bersifat kikir atau bermurah hati, keputusan ada di tangan kita. Sama seperti ketika seseorang memilih jujur atau menjadi koruptor. Keduanya mutlak pilihan kita.

Tapi kita sering melihat bahwa posisi kita dan Tuhan dicampuradukkan. Di televisi sering kita lihat para artis, pejabat, atau tokoh agama membawa-bawa Tuhan ketika kesandung masalah dan masuk penjara. Tuhan juga sering dibawa untuk kasus kawin cerainya seseorang. Biasanya mereka berkata, ya saya hanya manusia biasa, dan Tuhan yang mengatur semua ini, saya hanya menjalani, ini sudah takdir dari sananya, dll.

Kalau begitu apakah kita juga akan meminta Tuhan mengatur lalu lintas supaya tak ada musibah kecelakaan? Mengatur nama-nama calon korupsi mendapat gilirannya? Mengatur siasat membawa lari uang pajak?

Anak kecil yang lapar tentu butuh ibunya. Bukan Tuhan. Itu betul. Tapi, keputusan memberi atau tidak, itu adalah keputusan kita.

Kita tak bisa menyamakan peran yang berwujud dengan yang tak berwujud. Jadi, jika kita membutuhkan sesuatu yang berwujud dan secara langsung, mintalah pada yang berwujud. Ia bisa pasangan hidup, orang tua, pelayan kafe, teman, dll.

Meski Tuhan mencipta semesta, bukan berarti kita bisa memintanya menyediakan kacang goreng atau mengambilkan nasi dan menyuapi kita.

Mengingat pernyataan Musdah Mulia bahwa agama adalah interpretasi, maka Allah menyuruh kita menuntut ilmu dan belajar untuk menggunakan nalar dan berpikir. Setidaknya kita tahu bahwa di dunia ini manusia perlu menjaga dan menghormati hubungan-hubungan -- vertikal, diagonal, horizontal. Masing-masing memiliki porsi dan fungsinya.

Jakarta menjelang subuh, 03:45,3 Agustus 2011

Selasa, 02 Agustus 2011

Kesetaraan Gender

Di depan rumahku selalu runtang-runtung sepasang ayam jantan dan betina. Si jantan sibuk dengan dirinya, membersihkan bulu-bulu, mengatur bahasa tubuh, sambil mencari-cari kesempatan untuk menunggangi si betina.

Si betina selalu menghindar sambil kakinya terus mencakar-cakar. Gundukan tanah, tumpukan sampah, gumpalan rumput, dan celah-celah bebatuan ia sibakkan. Titik-titik putih menyembul seriring perginya rombongan semut meninggalkan telor-telornya. Dan si betina bersuara krak-kruk...krak-kruk... memanggil anak-anaknya.

Satu demi satu diperhatikannya untuk memastikan semua kebagian jatah. Dan si jantan sibuk menelan butir-butir nasi yang dibuang si pemilik rumah.

Jika ada emansipasi demi kesetaraan atas keduanya, kesetaraan tak akan pernah bisa menggantikan peran, naluri dan fungsi satu sama lain. Salah satunya fungsi reproduksi, fungsi merawat generasi, yang dikutip dari Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902 dalam buku “Kartini Mati Dibunuh”, menyiratkan bahwa: pentingnya kesetaraan pendidikan anak perempuan, agar kaum perempuan lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.


Jkt 20 Juli 2011

Kamis, 28 Juli 2011

Berhentilah Bicara Surga dan Neraka

oleh fiqoh

Dalam semua agama ada pengertian tentang surga dan neraka. Ada yang menyebutnya Taman Firdaus, Taman Eden, atau Nirwana. Semua tergantung pada keyakinannya masing-masing. Dalam bahasa Inggris surga disebut Heaven dan neraka disebut Hell.

Sore itu, aku tersadar untuk melihat perjalanan diriku sendiri. Perjalanan yang lebih banyak bergulat pada kerja-kerja fisik memenuhi kebutuhan hidup, dan lebih sering abai memikirkan perjalanan yang lain, yaitu perjalanan jiwa dan imanku.

Ibarat rel kereta, jalurku tak berbanding lurus, melainkan pincang. Ia terpotong di sana-sini, dan barangkali akan tetap terberai hingga mati.

Perjumpaan dengan Musdah Mulia malam itu bagai menerbangkan potongan-potongan dari jalurnya. Setidaknya ketika ia menyampaikan tentang surga dan neraka yang tak harus kita percaya.

“Sebenarnya sudah lama saya tidak tertarik pada surga dan nareka kalau definisinya selalu dikaitkan tempat yang dihuni bidadari, susu, dan air yang mengalir. Saya kan perempuan, jadi apa gunanya? Kalau hanya untuk mandi susu, kita bisa di tempat-tempat sauna! Iya kan? ”

Musdah memeragakan saat berdiskusi dengan para Kiai sepuh di lingkup Majelis Ulama Indonesia (MUI). Selain itu, dalam penelitiannya selama dua tahun, dia mendapati bahwa di forum-forum keagamaan, isi ceramah selalu hanya berisi surge dan neraka, halal dan haram.

“Berhentilah bicara surga dan neraka,” tegasnya lagi. Meski ia tahu itu ada si semua Kitab Suci. Karena menurutnya, Kitab Suci itu diturunkan pada abad ke 7 dimana tentu saja masyarakat kita ketika itu, secara sosiologis belum semodern dan secanggih sekarang, dan karena itu orang-orang masih perlu diberikan inspirasi surga dan neraka. “Jadi, kalau sekarang untuk apa?” tambahnya.

Kembali darahku tersirap. Tapi, tunggu dulu, kata hatiku menasehati. Dan aku mencermati apa yang ia paparkan kemudian, sambil mencoba mengheningkan pikiran, hingga bisa kudengar dengus nafasku, degup jantungku, gejolakku. Lalu aku berkata dalam hati, bukankah keyakinan milik setiap orang? Lakumdinukum Waliyadin.

Suasana panas, beberapa orang terlihat berkeringat. Ini akibat AC di Pantau rusak dan sudah dimatikan sebelum diskusi dimulai. Musdah yang dijadwalkan mengisi sesi pukul 19:00 dan baru tiba sekitar 45 menit kemudian itu mengatakan, bahwa esensi paling dalam dari agama adalah membuat orang menjadi beradab, menyempurnakan akhlak manusia untuk menjadi manusiwai. Salah satunya tidak menghadapi perbedaan dengan kekerasan.

Beradab merupakan salah satu bab yang termagtub dalam lima sila ideologi bangsa Indonesia, termasuk sila keadilan sosial. Dan ia tak bisa dipisahkan dari peran kita sebagai makhluk sosial, makhluk Tuhan, dan dalam menjalani kehidupan berbangsa dan benegara.

Maka itu ia bilang, kalau agama hanya bicara akhirat, itu kejauhan. Setidaknya jika dibanding dengan persoalan mendasar di negeri ini -- kemiskinan terus meningkat di masyarakat, pelayanan kesehatan yang buruk, pengangguran merajalela, korupsi membabi buta, ketidakadilan terus terjadi, belum lagi ditambah naiknya harga-harga kebutuhan hidup.

Musdah mengatakan dengan lantang soal sikap para tokoh agama yang menurutnya tak mencari solusi untuk mengatasi persoalan-persoalan itu. Jadi, untuk apa beragama jika ia tak menjawab persoalan-persoalan social yang terjadi di masyarakat kita?

“Benar kata Karl Mark, bahwa agama itu betul-betul candu. Karena yang diajarkan di Majelis Taklim itu sama sekali nggak pakai mikir. Dan agama yang saya perjuangkan adalah agama yang membuat kita berpikir dan menganalisis,” kata Musdah.

Maka, bagaimana kita memahami agama, adalah bagaimana kita memahami Indonesia, dan memahami problem sosial kita sebagai sebuah bangsa.

Agama dan Ideologi Bangsa

Tidak ada keadilan sosial kalau masih ada kemiskinan, masih ada ketidakadilan gender, kesempatan yang sama dalam memperoleh kerja. Dan kesempatan kerja tak bisa dipisahkan dari kesempatan memperoleh pendidikan bagi warga Negara. Kasus TKI terus belulang dikarenakan pemerintah tidak menyediakan pembelajaran untuk meningkatkan skill dan proteksi. Tapi, para ulama malah mengeluarkan fatwa yang mengharamkan perempuan bekerja ke luar negeri tanpa muhrim. Pertanyaannya, apakah para pembantu yang bekerja di dalam negeri diikuti muhrim-nya?

Lagi, bahwa Musdah menemukan agama tak menjawab persoalan social yang terjadi di masyarakat. Tapi meski demikian, masyarakat tetap enggan diajak kritis, sekalipun acap kali agama dijadikan symbol-simbol untuk kepentingan meraih kekuasaan dalam kepentingan politik. Jangankan masyarakat, bahkan menurut Musdah, Depdagri pun tak ada yang bernai mengutak-atik perda-perda yang berbau agama, meski mereka berani telah membatalkan sekitar 300 perda yang bertentangan dengan konstitusi.

“Kenapa? Kalau kita percaya Allah satu-satunya Tuhan, berarti selain Tuhan semuanya mahkluk. Dalam posisi itu nggak ada perbedaan di antara kita -- raja dan rakyat, laki dan perempuan. Kita adalah sama-sama manusia. Karena itu tidak boleh ada diskriminasi di antara manusia. Dan hanya dengan itu kita dapat membangun masyarakat yang adil dan beradap.”

Kita sudah berjanji dalam konstitusi kita untuk membangun demokrasi hukum. Tapi sampai sekarang di Indonesia belum terjadi. Kata Musdah, berdasarkan penelitian Freedom House 2010, hasil polling menyebutkan bahwa di dunia ini ada 192 negera. 47 di antaranya adalah Islam atau yang berpenduduk Islam, Indonesia masuk kategri penduduk Islam terbsedar. Dari 47 negara Islam itu hanya ada 11 negara yang demokratik, itupun baru sebatas demokrasi elektoral, bukan demokrasi hukum. Kenapa? Karena segala sesuatu diambil berdasarkn keinginan penguasa.

“Ini kan sungguh-sungguh merupakan hal yang benar bahwa salah satu hambatan dalam demokrasi kita adalah betul-betul agama, dan itu termasuk pada Negara-negara yang kental Katoliknya, Hindunya, atau Budhanya. Maka asumsi bahwa agama merupakan problem dan penghambat demokarasi, itu kenyataan.”

“Kenapa itu bisa terjadi?” Tanya Basilius Triharyanto.

“Karena agama yang dipahami di masyarakat kita berbeda dengan esensi yang ada dalam agama itu.” kita hanya membaca tekstur kitab suci, padahal agama adalah interpretasi. Dan siapa yang interpretasinya lebih baik, ya itu yang diambil.”

Diskusi ditutup dengan tepuk tangan yang gemuruh. Musdah yang malam itu berkerudung krem dan berbaju kurung nuansa coklat segera meninggalkan ruangan, turun dari tanggal lantai empat gedung Pantau, Jl Raya kebayoran Lama Jakarta Selatan. Aku mengiringinya, dan ketika kakinya menyentuh lantai dasar aku bertanya padanya, “Menurut Mbak Musdah, surga dan neraka itu ada atau tidak?”

Karena terus terang aku terganggu dengan pernyataannya

“Ya, kalau kita meyakini ada ya yakini saja, tapi tidak dalam bentuk yang begitulah. Dan lagian, kenapa kita harus membahas itu?”

Sambil mengantarnya masuk mobil, aku juga teringat pada temanku Mbak Karsih. Ketika itu aku mencoba mempraktekkan ilmu hipnotis di televisi untuk membuatnya merasa rileks. Maka aku berkata pada Mbak Karsih, agar ia membayangkan dirinya sedang berada di salon mewah, dengan sofa yang empuk, dan udara AC yang dingin. Tapi sampai waktu yang lama, ia malah tegang, karena ia capek membayangkan benda-benda dan nuansa kemewahan yang aku sebutkan. Di pabrik garmen tempat kerjanya, ia tak menemukan semua itu.

Lalu, surga dan neraka aku reka-reka sendiri malam itu. Taman sejuk yang indah, air mengalir, para bidadari, adalah bahasa yang dipilih untuk manusia agar mudah dimengerti, dan manusia bisa membayangkan definisi keindahan itu. Sofa mewah di salon mewah memang tidak dipahami Mbak Karsih, tapi ia bisa memahami gambaran air mengalir dan taman yang indah sebagai situasi yang mendamaikan.

Lebih dari itu, ia yakin betul bahwa surga atau neraka adalah sebuah pilihan apakah kita memilih berada dalam suasana sejuk dan nyaman, atau panas yang mencemaskan. Ia tidak harafiah, tapi sebuah sangsi dan penghormatan atas perilaku manusia. Sehingga ia sangat berhati-hati untuk tidak menipu orang, berbuat jahat, atau mencuri yang bukan haknya.

Bagiku, surga dan neraka serta hari kiamat adalah sesuatu yang tak bisa divisualisasikan. Karena ia sesuatu yang ghaib. Dan salah satu keimaman dalam agamaku adalah meyakini yang ghaib itu. Tapi aku tak bisa membuktikan, begitu juga bagi yang tak meyakininya. Jika kita harus berhenti bicara surga dan neraka, adalah berhenti untuk tidak mengatakan ada atau tiada.

Dan kedangkalanku, memaknai bahwa surga dan neraka adalah sebuah gambaran hitam putih soal penerapan snagsi hukum baik di dunia maupun akhirat. Agar setidaknya diriku ini memiliki rasa takut berbuat jahat terlalu banyak, dan terus belajar untuk lebih beradab, seperti yang dilakukan Mbak Karsih dan dikatakan Musdah. Penghisaban amal perbuatan sebenarnya tidak harus menunggu nanti, tapi sudah dimulai sejak kita di bumi. Perilaku buruk dan merugikan orang lain akan mendpat cap seumur hidup. Dan harusnya, begitu juga hukum di negara ini.

Kenapa agama berbicara halal dan haram? Kalau bicara neraka dianggap keajuhan, kita bisa membuktikan sekarang bahwa pengguna narkoba, telah didera siksaan luar biasa sebelum kematiannya. Karena yang haram, apapun bentuknya selalu menyengsarakan.


Jakarta, 26 Juli 2011