oleh fiqoh
Ada yang berkesimpulan bahasa adalah cermin kepribadian. Hingga apa yang tertata kita anggap itulah yang terbaik.
Tapi...
”Lo”, “Gue”, “Anjrit!” terkadang lebih lugas dan jujur – apa yang dikatakan, apa yang dilakukan. Yang selalu ditata, kadang bukan apa adanya, kadang ada rekayasa (contohnya saat aku menulis ini, hehe).
Makanya, kita sering mendapati pembicaraan dan kata-kata yang terlalu banyak menjadi tanpa makna. Salah satunya ya pidato-pidato pejabat gitu lho…kerjanya saling memuji dan memuja.
Dan di sekitarku, aku sering melihat dan sering membuktikan juga. Sebuah komitmen yang bahkan bertaruh nyawa hanya dibangun melalui toast dua telapak tangan dan ucapan, “Beres coy!”
Janji esok datang, dia datang. Berkata akan pergi, dia pergi. Mereka pergi.
Kita tak perlu terjebak pada aturan main berbahasa yang baik dan benar. Hingga tanpa disadari kita bagai hakim di luar pengadilan, menguliti pribadi-pribadi hanya karena kemasan yang tak rapi.
Sampai kapanpun, cermin hanya bisa memantulkan benda. Bukan pribadi, bukan jiwa. Cermin kepribadian bukan bahasa, tapi perbuatan.
Terlalu dangkal dan sembrono mengukur pribadi dari kata-kata. Karena banyak indikasi-indikasi yang lainnya. Dan bahasa bukan satu-satunya. Tentu ini terkait dengan apa yang kita sebut sebagai "kepribadian" yang identik dengan kebaikan. Untuk konteks ksuksesan, itu soal lain, dimana kiat-kiat dan berbabagai kecapakan sangat kita perlukan.
Makanya, belajar itu wajib... :)
(Tulisan ini terinspriasi oleh orang-orang yang selama ini kita anggap urakan, atau kita sebut preman -- freeman).
Jakarta, 22 Sept 2011
Kamis, 22 September 2011
Selasa, 20 September 2011
Huhhh...!
Jalan Raya Bitung, Tangerang menjelang 00:00
Hampir tengah malam,sopir angkot hanya mengankut dua penumpang. Bertiga kami menyusuri jalan raya Cimone - Balaraja. Sopir nampak lelah fisik dan mencemaskan setoran. Aku melihatnya ia sering menghitung-hitung uang lembaran lusuh, menggelang, menerawang, dan menggumam.
Angkot tua rawan ngadat dan rem yang tak pakem.
Di depan, di bawah jembatan layang, sepeda motor melenggang di tengah jalan raya lintas cepat. Pengendaranya seorang bapak membawa anak kecil dan perempuan.
Motor hanya berjarak sekitar satu meter di depan angkot, di posisi tengah, di antara laju cepat kendaraan lain yang menyalip kagok dari kiri dan kanan. Supir angkot mengira motor akan menambah laju begitu mendengar klakson dan suara rem. Tapi berondongan klakson dari sopir angkot yang panik, injakan rem yang menimbulkan suara berdecit-decit, tak membuat motor itu menambah laju atau bergeser menepi.
Pengendara motor tetap bergeming – hanya menoleh, tetap di tengah, dan kembali melenggang santai dengan kaki lebih mengangkang.
Sopir angkot hanya diam. Tapi tenaga dikerahkan habis-habisan untuk mengerem dan menginjak kopling hingga mata cekungnya mendelik. Seluruh energi bagai tersedot dalam perjuangan menahan laju. Semua dilakukan dalam diam – mungkin sudah kehabisan energy untuk marah, atau memang dia bukan tipe gampang marah. Dan mulutku yang reflek mendamprat “nggak pake otak itu orang! Kalau mau jalan santai, di pinggir dong!!!”
Ahhh! Dalam kemangkelan, hatiku terus berbicara, bahkan berpidato di antara kesunyian tanpa pendengar.
Biinatang lebih peka terhadap suara atau bunyi-bunyian seperti dor, dug, atau gesrek dari langkah yang tertahan atau bayangan samar sosok yang mendendap-endap. Kenapa manusia malah tuli dan buta dari bunyi klakson yang memekakkan telinga dan bisa mencelakakannya???
Andai aku jadi istri yang nyemplak di boncengan itu, pasti nafsuku akan hilang di tempat tidur. Aku tak akan nyaman bercinta dengan lelaki yang telah bersifat sembrono dan arogan.Cinta itu bersyarat -- baik dibalas baik. lembut dibalas lembut, hormat dibalas hormat, dan tak setia disuruh ke LAUT.
Bukan artinya kita jadi tanpa prinsip, tapi ini bagian dari sangsi sosial antarmanusia dan bagaimana kecerdasan emosi berfungsi. Kita perlu punya sikap terhadap sesuatu, agar ajaran, hukum dan peraturan memang berjalan. Anggap saja kita berlatih mencicil proses "hari pembalasan" bahwa manusia tak bisa mengelak untuk menerima akibat atau imbalan sesuai amal perbuatan.
Banyak manusia celaka lebih karena ulahnya atau sering kita sebut human error. Tapi binatang tidak, kecuali dilukai oleh manusia. Karena binatang memiliki kejernihan untuk memelihara ketajaman instingnya, dengan menjaga karunia dan anugerah dari-Nya (berupa insting), tanpa menghalanginya dengan sifat keegoan atau sifat BE-LA-GU.
Intuisi, anugerah, wisik,feeling hingga ilham sejatinya bagai atmosfir yang berseliweran di sekeliling kita dalam udara yang kita hirup. Tapi semua bisa sirna karena kitalah yang menutupnya dengan berbagai kesombongan, keegoisan, KE-A-KU-AN.
Hingga anugerah itu sirna, bagai udara bersih yang dicemari polusi.
Tangerang, 19 September 2011
Hampir tengah malam,sopir angkot hanya mengankut dua penumpang. Bertiga kami menyusuri jalan raya Cimone - Balaraja. Sopir nampak lelah fisik dan mencemaskan setoran. Aku melihatnya ia sering menghitung-hitung uang lembaran lusuh, menggelang, menerawang, dan menggumam.
Angkot tua rawan ngadat dan rem yang tak pakem.
Di depan, di bawah jembatan layang, sepeda motor melenggang di tengah jalan raya lintas cepat. Pengendaranya seorang bapak membawa anak kecil dan perempuan.
Motor hanya berjarak sekitar satu meter di depan angkot, di posisi tengah, di antara laju cepat kendaraan lain yang menyalip kagok dari kiri dan kanan. Supir angkot mengira motor akan menambah laju begitu mendengar klakson dan suara rem. Tapi berondongan klakson dari sopir angkot yang panik, injakan rem yang menimbulkan suara berdecit-decit, tak membuat motor itu menambah laju atau bergeser menepi.
Pengendara motor tetap bergeming – hanya menoleh, tetap di tengah, dan kembali melenggang santai dengan kaki lebih mengangkang.
Sopir angkot hanya diam. Tapi tenaga dikerahkan habis-habisan untuk mengerem dan menginjak kopling hingga mata cekungnya mendelik. Seluruh energi bagai tersedot dalam perjuangan menahan laju. Semua dilakukan dalam diam – mungkin sudah kehabisan energy untuk marah, atau memang dia bukan tipe gampang marah. Dan mulutku yang reflek mendamprat “nggak pake otak itu orang! Kalau mau jalan santai, di pinggir dong!!!”
Ahhh! Dalam kemangkelan, hatiku terus berbicara, bahkan berpidato di antara kesunyian tanpa pendengar.
Biinatang lebih peka terhadap suara atau bunyi-bunyian seperti dor, dug, atau gesrek dari langkah yang tertahan atau bayangan samar sosok yang mendendap-endap. Kenapa manusia malah tuli dan buta dari bunyi klakson yang memekakkan telinga dan bisa mencelakakannya???
Andai aku jadi istri yang nyemplak di boncengan itu, pasti nafsuku akan hilang di tempat tidur. Aku tak akan nyaman bercinta dengan lelaki yang telah bersifat sembrono dan arogan.Cinta itu bersyarat -- baik dibalas baik. lembut dibalas lembut, hormat dibalas hormat, dan tak setia disuruh ke LAUT.
Bukan artinya kita jadi tanpa prinsip, tapi ini bagian dari sangsi sosial antarmanusia dan bagaimana kecerdasan emosi berfungsi. Kita perlu punya sikap terhadap sesuatu, agar ajaran, hukum dan peraturan memang berjalan. Anggap saja kita berlatih mencicil proses "hari pembalasan" bahwa manusia tak bisa mengelak untuk menerima akibat atau imbalan sesuai amal perbuatan.
Banyak manusia celaka lebih karena ulahnya atau sering kita sebut human error. Tapi binatang tidak, kecuali dilukai oleh manusia. Karena binatang memiliki kejernihan untuk memelihara ketajaman instingnya, dengan menjaga karunia dan anugerah dari-Nya (berupa insting), tanpa menghalanginya dengan sifat keegoan atau sifat BE-LA-GU.
Intuisi, anugerah, wisik,feeling hingga ilham sejatinya bagai atmosfir yang berseliweran di sekeliling kita dalam udara yang kita hirup. Tapi semua bisa sirna karena kitalah yang menutupnya dengan berbagai kesombongan, keegoisan, KE-A-KU-AN.
Hingga anugerah itu sirna, bagai udara bersih yang dicemari polusi.
Tangerang, 19 September 2011
Selasa, 13 September 2011
Kebinatangan
oleh fiqoh
Manusia disebut makhluk ciptaan Allah yang paling mulia. Ah, masak?
Karena binatang lebih sering kita maknai sebagai makhluk yang dalam hidupnya hanya berorientasi pada keserakahan berburu makan, makhluk yang tak menggunakan akal budi, tak punya perasaan dan hanya dihinggapi syahwat.
Binatang tidak mengenal apa yang sering kita sebut kemanusiaan atau humanisme. Sedangkan manusia sangat lekat dengan istilah-istilah itu. Banyak dari kita rindu dijuluki sebagai orang yang humanis dan pemerhati kemanusiaan. Karena itu, untuk perilaku keji yang kita lakukan, kita enggan menggunakan istilah manusia.
Bahkan untuk kelalaian dan kesengajaan yang merugikan hidup khalayak, kita masih menyebutnya manusiawi untuk mewajarkan. Dan untuk kemuliaan perbuatan, kita akan memberi julukan humanis.
Apa bedanya humanis dan kemanusiaan?
Adalah manusiawi bila kita lalai dan berbuat keliru, meski kekeliruan itu terkadang sebuah kesalahan besar dan fatal. Adalah manusiawi jika kita berhak atas kebendaaan, berhak hidup mewah, meski untuk itu kita melakukan perburuan melampauai batas-batas norma. Perburuan yang dilakukan oleh manusia tidak hanya mengambil yang nampak dari alam, tapi juga menggali hingga ke dalam, menebang, mengeruk, mengeksplorasi dan mengekploitasi bumi. Perburuan manusia bahkan tidak sebatas untuk makan keluarga kecilnya hari itu, tapi juga mendepositkannya di bank-bank, dan menumpuknya di gudang-gudang untuk bekal tujuh turunan kadang lebih. Sedangkan binatang tidak.
Lebih dari itu, manusia juga berburu harta dan tahta. Manusia mengenal intrik, kepentingan komplotan dan berkonspirasi. Sedangkan binatang tidak.
Bagaimana nafsu syahwatnya?
Binatang bersenggama hanya pada periode tertentu untuk melakukan pembuahan. Contohnya ikan-ikan, kucing, gajah, kambing, burung, dan lainnya. Persenggamaan untuk beregenerasi, tidak untuk membuang-buang sperma di sembarang tempat. Maka tak asing lagi kita mengenal istilah musim kawin bagi binatang di sekitar kita – saat purnama penuh musimnya kucing kawin misalnya. Tapi manusia, kawin tak mengenal musim.
Gerombolan burung-burung camar menarik perhatian temanku minggu-minggu belakangan ini. Lebih dari 50 sarang mereka bergerandulan di pelapah-pelapah pohon palem yang menaungi kran air yang biasa kami ambil untuk keperluan memasak.
Tiap pagi saat aku dan temanku mengambil air, burung-burung itu sudah bercericit, terbang jauh dan kembali ke sarang membawa makanan. Mereka bangun lebih awal dariku, sekitar pukul 5:30.
Pohon palem yang menjulang di pelataran masjid di perumahan Taman Adiyasa Tangerang itu hampir didominasi oleh sarang mereka. Sekilas segalanya nampak biasa.
***
Dua minggu sudah kulalui sebagai warga baru di dalam masyarakat itu. Dua minggu tanpa absen mengantri air bersama para ibu-ibu dan bapak-bapak, juga pemuda-pemuda tanggung. Mareka datang dari berbagai blok perumahan itu. Dua minggu baru kusadari kertas-kertas yang menempel di berbagai tempat, berisi pengumuman dan himbauan, bahwa bagi warga yang ingin mengambil air untuk kepentingan pribadi agar mengambil sebelum dan sesudah jam-jam sholat -- subuh, dhuhur, ashar, magrib dan isya. Maksudnya agar kepentingan masyarakat yang ingin beribadah tetap terpenuhi. Dua minggu itu juga aku menyaksikan ada warga yang tak mengindahkan himbauan itu, termasuk diriku.
Di pagi yang masih petang, aku dan temanku Nur menjadi pengambil air yang datang paling awal. Selanjutnya dua bapak dan tiga anak menyusul ditambah ibu-ibu. Sambil mengantri Nur memandang sarang-sarang burung camar yang menjuntai-juntai di setiap pelapah pohon. Aku menghitungnya, satu pelapah ada 12 sarang. Dan pelapah lainnya dihuni rata-rata tiga sampai sembilan sarang..
“Kenapa burung-burung itu lebih suka membuat sarang di pelapah yang itu?” tanyakau pada Nur.
Nur memperhatikan sarang-sarang itu beberapa saat.
“Sepertinya, mereka lebih merasa nyaman dan aman di pelapah itu,” jawabnya tanpa melepaskan pandangannya ke atas.
“Alasannya?”
“Coba perhatikan. Pelapah itu tepat di atas pintu masjid. Otomatis, orang tidak akan mengusik karena di pintu utama ini orang sering lalu-lalang. Mungkin pikir burung, orang-orang juga akan menegur si pengusik sarang dengan berbagai alasan -- karena akan bikin kotor halaman dan mungkin yang lain akan melarang karena empati terhadap binatang-bintang itu.”
Kini aku lebih cermat mengamati pelapah yang menghadap ke luar pagar di atas jalanan lepas. Di sana hanya ada tiga sarang menempati puncak paling atas dan tertutup daun yang menekuk. Kuamati sarang-sarang lain, di pelapah yang lain, dan kecenderungannya hampir sama. Benar-benar perhitungan yang cantik dan cerdik. Sebuah naluri yang hidup dan peka.
Pada saat itu, tiba-tiba aku teringat berbagai kasus kecelakaan di jalan raya yang sering kusaksikan sendiri. Di suatu malam, seorang bapak dengan istri dan dua anaknya tergeletak mandi darah di dekat pembatas jalan di Tangerang. Di tempat terpisah seorang bapak dengan istri dan anaknya yang masih kecil meninggal di tempat dalam kecelakaan di perempatan lampu merah, karena motor yang dikemudikan oleh bapak-bapak itu tancap gas saat lampu rambu-rambu sedang menyelesaikan hitungan detik keenam puluh dari merah berganti hijau.
Kembali kulihat sarang burung camar. Kejelian binatang membidik pelapah yang aman untuk bersembunyi, saya yakini bukan sebuah kebetulan. Mereka menggunakan intuisi dan nalurinya. Naluri yang penuh perasaan, dan kasih. Peletakan sarang, rumput pilihan, pembuatan lobang pintu yang diatur sedemikian rupa, semua bertujuan agar keluarga kecilnya hidup nyaman dan aman. Tapi, kenapa manusia sering ceroboh saat membawa nyawa orang-orang yang katanya ia cintai?
Saat aku memikirkan itu, Nur bilang, manusia kalah dengan burung.
“Kenapa?” begitu tanyaku untuk iseng-iseng menyelidik.
“Burung-burung itu lebih tertib dan disiplin,” katanya sambil memandangku dengan tatapan mengejekku.
“Mereka pagi-pagi sudah bangun untuk mencari makan buat anak-anaknya. Mencari rumput-rumput pilihan untuk sarang. Tidak seperti...,” Nur tak melanjutkan kalimatnya dan lagi-lagi menatapku dengan penuh kemenangan saat aku merasa tersindir. Tawa kami pun berderai.
“Aku mengerti arah pembicaraanmu, kamu akan bilang tidak seperiku yang suka bangun kesiangan kan? Puasss…?” Jawabku berkelakar.
“Selain itu, banyak nilai-nilai pada binatang itu yang tak dimiliki kebanyakan manusia. Sebelum punya anak, burung-burung berpikir mempunyai rumah. Sedang manusia, sudah punya anak banyak tapi tak berpikir bikin rumah. Ada yang keenakan numpang di tempat mertua, dan bahkan malas bekerja.”
“Betul,” kataku.
“Manusia tidak konsisten terhadap kemanusiaannya. Betapa banyak dari kita yang terus melemparkan perilaku buruknya dengan menggunakan istilah “kebinatangan”? Tapi Binatang tetap konsisten akan kebinatangannya. Tidak ada binatang yang memakai istilah “kemanusiaan” untuk menghindar dari perilakunya bukan?”
“Betul juga.”
Berantem tetangga kost di Jakarta kembali terngiang. Suara gaduh karena percekcokan, benturan tubuh ke dinding disertai jeritan yang menyayat, gemerincing pecahan cermin dan piring yang dilempar, juga makian satu sama lain yang bersahutan-sahuatan.
Sang suami selingkuh dan lama tak pulang. Menelantarkan istri dan anak-anak. Si istri dan anaknya berhari-hari dirundung kesengsaraan, makan dari pemberian tetangga, kadang juga makan dari hasil menjual jasa mencuci dan menyetrika. Suaminya kasar dan suka memukul, menonjok, menendang. Sang istri yang depresi sering melampiaskan kemarahan pada anaknya.
Untuk semua perilaku keji yang tak terperi, perilaku yang melukai hati dan perasaan, penganiayaan itu, para tetangga menyebut sifat suaminya benar-benar seperti binatang!
Tadinya aku turut membenarkan ungkapan itu. Tapi burung-burung dan percakapanku dengan Nur membuatku harus berpikir ulang. Kenapa di saat manusia berbuat kesalahan mereka akan menyebut itu manusiawi. Dan jika manusia berbuat kebaikan kita akan menyematkan predikat humanis – sangat mulia, luhur, agung.
Apa sejatinya hakekat kemanusiaan dan kebinatangan? Ketika, manusia gagal menjadi humanis kita timpakan perilaku buruk itu pada binatang?
Beranikah kita menciptakan sebuah ungkapan yang berasal dari kata dasar manusia, untuk menggambarkan titik balik dari apa yang kita sebut mulia?
Semakin nampak betapa manusia memang licik. Meminjam istilah kebinatangan, agar manusia tetap bisa menyandang makhluk paling sempurna dan mulia dari makhluk lainnya. Padahal mulia dan sempurna adalah soal akhlak, bukan soal bentuk tubuh dan rupa kita dari binatang-binatang itu.
Jakarta, 13 September 2011 pkl 05:30
Manusia disebut makhluk ciptaan Allah yang paling mulia. Ah, masak?
Karena binatang lebih sering kita maknai sebagai makhluk yang dalam hidupnya hanya berorientasi pada keserakahan berburu makan, makhluk yang tak menggunakan akal budi, tak punya perasaan dan hanya dihinggapi syahwat. Binatang tidak mengenal apa yang sering kita sebut kemanusiaan atau humanisme. Sedangkan manusia sangat lekat dengan istilah-istilah itu. Banyak dari kita rindu dijuluki sebagai orang yang humanis dan pemerhati kemanusiaan. Karena itu, untuk perilaku keji yang kita lakukan, kita enggan menggunakan istilah manusia.
Bahkan untuk kelalaian dan kesengajaan yang merugikan hidup khalayak, kita masih menyebutnya manusiawi untuk mewajarkan. Dan untuk kemuliaan perbuatan, kita akan memberi julukan humanis.
Apa bedanya humanis dan kemanusiaan?
Adalah manusiawi bila kita lalai dan berbuat keliru, meski kekeliruan itu terkadang sebuah kesalahan besar dan fatal. Adalah manusiawi jika kita berhak atas kebendaaan, berhak hidup mewah, meski untuk itu kita melakukan perburuan melampauai batas-batas norma. Perburuan yang dilakukan oleh manusia tidak hanya mengambil yang nampak dari alam, tapi juga menggali hingga ke dalam, menebang, mengeruk, mengeksplorasi dan mengekploitasi bumi. Perburuan manusia bahkan tidak sebatas untuk makan keluarga kecilnya hari itu, tapi juga mendepositkannya di bank-bank, dan menumpuknya di gudang-gudang untuk bekal tujuh turunan kadang lebih. Sedangkan binatang tidak.
Lebih dari itu, manusia juga berburu harta dan tahta. Manusia mengenal intrik, kepentingan komplotan dan berkonspirasi. Sedangkan binatang tidak.
Bagaimana nafsu syahwatnya?
Binatang bersenggama hanya pada periode tertentu untuk melakukan pembuahan. Contohnya ikan-ikan, kucing, gajah, kambing, burung, dan lainnya. Persenggamaan untuk beregenerasi, tidak untuk membuang-buang sperma di sembarang tempat. Maka tak asing lagi kita mengenal istilah musim kawin bagi binatang di sekitar kita – saat purnama penuh musimnya kucing kawin misalnya. Tapi manusia, kawin tak mengenal musim.
Gerombolan burung-burung camar menarik perhatian temanku minggu-minggu belakangan ini. Lebih dari 50 sarang mereka bergerandulan di pelapah-pelapah pohon palem yang menaungi kran air yang biasa kami ambil untuk keperluan memasak.
Tiap pagi saat aku dan temanku mengambil air, burung-burung itu sudah bercericit, terbang jauh dan kembali ke sarang membawa makanan. Mereka bangun lebih awal dariku, sekitar pukul 5:30.
Pohon palem yang menjulang di pelataran masjid di perumahan Taman Adiyasa Tangerang itu hampir didominasi oleh sarang mereka. Sekilas segalanya nampak biasa.
***
Dua minggu sudah kulalui sebagai warga baru di dalam masyarakat itu. Dua minggu tanpa absen mengantri air bersama para ibu-ibu dan bapak-bapak, juga pemuda-pemuda tanggung. Mareka datang dari berbagai blok perumahan itu. Dua minggu baru kusadari kertas-kertas yang menempel di berbagai tempat, berisi pengumuman dan himbauan, bahwa bagi warga yang ingin mengambil air untuk kepentingan pribadi agar mengambil sebelum dan sesudah jam-jam sholat -- subuh, dhuhur, ashar, magrib dan isya. Maksudnya agar kepentingan masyarakat yang ingin beribadah tetap terpenuhi. Dua minggu itu juga aku menyaksikan ada warga yang tak mengindahkan himbauan itu, termasuk diriku.
Di pagi yang masih petang, aku dan temanku Nur menjadi pengambil air yang datang paling awal. Selanjutnya dua bapak dan tiga anak menyusul ditambah ibu-ibu. Sambil mengantri Nur memandang sarang-sarang burung camar yang menjuntai-juntai di setiap pelapah pohon. Aku menghitungnya, satu pelapah ada 12 sarang. Dan pelapah lainnya dihuni rata-rata tiga sampai sembilan sarang..
“Kenapa burung-burung itu lebih suka membuat sarang di pelapah yang itu?” tanyakau pada Nur.
Nur memperhatikan sarang-sarang itu beberapa saat.
“Sepertinya, mereka lebih merasa nyaman dan aman di pelapah itu,” jawabnya tanpa melepaskan pandangannya ke atas.
“Alasannya?”
“Coba perhatikan. Pelapah itu tepat di atas pintu masjid. Otomatis, orang tidak akan mengusik karena di pintu utama ini orang sering lalu-lalang. Mungkin pikir burung, orang-orang juga akan menegur si pengusik sarang dengan berbagai alasan -- karena akan bikin kotor halaman dan mungkin yang lain akan melarang karena empati terhadap binatang-bintang itu.”
Kini aku lebih cermat mengamati pelapah yang menghadap ke luar pagar di atas jalanan lepas. Di sana hanya ada tiga sarang menempati puncak paling atas dan tertutup daun yang menekuk. Kuamati sarang-sarang lain, di pelapah yang lain, dan kecenderungannya hampir sama. Benar-benar perhitungan yang cantik dan cerdik. Sebuah naluri yang hidup dan peka.
Pada saat itu, tiba-tiba aku teringat berbagai kasus kecelakaan di jalan raya yang sering kusaksikan sendiri. Di suatu malam, seorang bapak dengan istri dan dua anaknya tergeletak mandi darah di dekat pembatas jalan di Tangerang. Di tempat terpisah seorang bapak dengan istri dan anaknya yang masih kecil meninggal di tempat dalam kecelakaan di perempatan lampu merah, karena motor yang dikemudikan oleh bapak-bapak itu tancap gas saat lampu rambu-rambu sedang menyelesaikan hitungan detik keenam puluh dari merah berganti hijau.
Kembali kulihat sarang burung camar. Kejelian binatang membidik pelapah yang aman untuk bersembunyi, saya yakini bukan sebuah kebetulan. Mereka menggunakan intuisi dan nalurinya. Naluri yang penuh perasaan, dan kasih. Peletakan sarang, rumput pilihan, pembuatan lobang pintu yang diatur sedemikian rupa, semua bertujuan agar keluarga kecilnya hidup nyaman dan aman. Tapi, kenapa manusia sering ceroboh saat membawa nyawa orang-orang yang katanya ia cintai?
Saat aku memikirkan itu, Nur bilang, manusia kalah dengan burung.
“Kenapa?” begitu tanyaku untuk iseng-iseng menyelidik.
“Burung-burung itu lebih tertib dan disiplin,” katanya sambil memandangku dengan tatapan mengejekku.
“Mereka pagi-pagi sudah bangun untuk mencari makan buat anak-anaknya. Mencari rumput-rumput pilihan untuk sarang. Tidak seperti...,” Nur tak melanjutkan kalimatnya dan lagi-lagi menatapku dengan penuh kemenangan saat aku merasa tersindir. Tawa kami pun berderai.
“Aku mengerti arah pembicaraanmu, kamu akan bilang tidak seperiku yang suka bangun kesiangan kan? Puasss…?” Jawabku berkelakar.
“Selain itu, banyak nilai-nilai pada binatang itu yang tak dimiliki kebanyakan manusia. Sebelum punya anak, burung-burung berpikir mempunyai rumah. Sedang manusia, sudah punya anak banyak tapi tak berpikir bikin rumah. Ada yang keenakan numpang di tempat mertua, dan bahkan malas bekerja.”
“Betul,” kataku.
“Manusia tidak konsisten terhadap kemanusiaannya. Betapa banyak dari kita yang terus melemparkan perilaku buruknya dengan menggunakan istilah “kebinatangan”? Tapi Binatang tetap konsisten akan kebinatangannya. Tidak ada binatang yang memakai istilah “kemanusiaan” untuk menghindar dari perilakunya bukan?”
“Betul juga.”
Berantem tetangga kost di Jakarta kembali terngiang. Suara gaduh karena percekcokan, benturan tubuh ke dinding disertai jeritan yang menyayat, gemerincing pecahan cermin dan piring yang dilempar, juga makian satu sama lain yang bersahutan-sahuatan.
Sang suami selingkuh dan lama tak pulang. Menelantarkan istri dan anak-anak. Si istri dan anaknya berhari-hari dirundung kesengsaraan, makan dari pemberian tetangga, kadang juga makan dari hasil menjual jasa mencuci dan menyetrika. Suaminya kasar dan suka memukul, menonjok, menendang. Sang istri yang depresi sering melampiaskan kemarahan pada anaknya.
Untuk semua perilaku keji yang tak terperi, perilaku yang melukai hati dan perasaan, penganiayaan itu, para tetangga menyebut sifat suaminya benar-benar seperti binatang!
Tadinya aku turut membenarkan ungkapan itu. Tapi burung-burung dan percakapanku dengan Nur membuatku harus berpikir ulang. Kenapa di saat manusia berbuat kesalahan mereka akan menyebut itu manusiawi. Dan jika manusia berbuat kebaikan kita akan menyematkan predikat humanis – sangat mulia, luhur, agung.
Apa sejatinya hakekat kemanusiaan dan kebinatangan? Ketika, manusia gagal menjadi humanis kita timpakan perilaku buruk itu pada binatang?
Beranikah kita menciptakan sebuah ungkapan yang berasal dari kata dasar manusia, untuk menggambarkan titik balik dari apa yang kita sebut mulia?
Semakin nampak betapa manusia memang licik. Meminjam istilah kebinatangan, agar manusia tetap bisa menyandang makhluk paling sempurna dan mulia dari makhluk lainnya. Padahal mulia dan sempurna adalah soal akhlak, bukan soal bentuk tubuh dan rupa kita dari binatang-binatang itu.
Jakarta, 13 September 2011 pkl 05:30
Senin, 22 Agustus 2011
Tuhan dan Kesendirian Kita
oleh fiqoh
Serpihan surga dan neraka baru saya rapikan dari keterserakan, sejak kedatangan Musdah Mulia beberapa waktu lalu, dimana pandangannya soal agama dan surga berbeda dari yang selama ini saya dengar dan hayati dari guru-guru ngaji.
Kemarin pagi, Andreas Harsono berkirim sms, mengusulkan Luthfi Assyaukanie untuk berbicara di Pantau, tentang buku “Ideologi Islam dan Utopia” bermutu. Menurutnya, dia bisa banyak memperkaya diskusi. Andreas menyarankan sebaiknya buku dibaca lebih dulu. Maka siang ini saya mencari tentangnya di internet.
Dari sekian banyak artikel yang ditulis olehnya, saya baru sempat mengambil satu, tentang shalat, fikih dan tasawuf.
Disiplin fikih menurut Luthfi, banyak membantu kita memahami kegiatan-kegiatan dan urusan-urusan keagamaan yang kompleks. Berbagai peristiwa keagamaan yang memiliki intensitas dan sifat berbeda-beda dikelompokkan menjadi katagori-katagori tertentu. Ada yang wajib, ada yang sunnah, ada yang haram, ada yang halal, dan seterusnya. Sebagai sebuah upaya penyederhanaan, fikih sangat berguna.
Sedangkan shalat, bukanlah urusan fikih semata. Sebagai sebuah aktivitas ubudiyah, shalat tak ada kaitannya dengan fikih. Ia lebih dekat dengan tasawuf yang lebih menekankan dimensi spiritual atau dimensi esoteric manusia. Inti daripada shalat adalah bukan bilangan (menjadi dua, tiga, atau empat rakaat), dan bukan pula waktu (menjadi subuh, zuhur, asar, dan seterusnya). Shalat seseorang yang selalu memperhitungkan bilangan, seperti dikatakan Nabi, adalah shalatnya seorang pedagang.
Terkahir, dalam artikelnya yang ditulis pada 4 Juli 2004 itu, Luthfi mengutip Muhammad Iqbal -- sufi yang juga seorang penyair, pernah menulis sebuah artikel berjudul "Konsep tentang Tuhan dan Makna Shalat" (The Conception of God and the Meaning of Prayer). Artikel yang kemudian menjadi salah satu bab karya agungnya, Reconstruction of Religious Thought in Islam, merupakan penjelasan paling genuine terhadap fungsi dan makna shalat.
Bagi Iqbal, shalat pada dasarnya merupakan "alat bantu" (agency) bagi manusia untuk merefleksikan kesadarannya akan keberadaan Tuhan. Sebagai sebuah alat bantu, shalat memiliki keterbatasan- keterbatasan. Setiap orang, kata Iqbal, mendapatkan efek kesadaran yang berbeda-beda dari shalat yang dijalankannya. Yang paling bagus adalah orang yang mampu menciptakan alat bantu itu pada dirinya sendiri, sehingga ia selalu berada dalam ruang kesadaran di mana Tuhan tak perlu lagi dipancing untuk selalu hadir.
Kali ini, saya tercerahkan. Rasanya jadi tak ingin mengikatkan diri pada yang rutin, yang serba dihitung dan dijumlah. Apalagi ditambah pertanyaan dari seseorang yang dikutip dalam tulisan itu – sebenarnya shalat itu wajib nggak sih? Boleh nggak saya menjamak shalat sesuka hati saya, maksudnya tanpa ada alasan bepergian (safar) atau hujan (mathar)?
Wow, ringan sekali. Ternyata Islam itu sungguh meringankan!
***
“…. Lho, memangnya shalatmu kau jadikan beban?” kata suara dari dalam hati bagai mengejek.
“Oh, bukan itu maksudnya,” ruang hati saya yang lain menjawab tergagap, karena ternyata interpretasi saya yang terburu-buru itu justru menimbulkan perang batin. Ada benturan yang rasional dan yang tak rasional.
Yang tak rasional itu, cukup lama kehilangan suara, tapi ia terus bergema.
Kemudian, dalam peperangan itu, yang tak rasional kok malah lebih dominan. Saya mengingat tentang buku The Secret pemberian seorang teman. Ia menggambarkan bagaimana sebuah kedahsyatan terjadi hanya dengan kekuatan pikiran dan meyakininya. Kedahsyatan itu tak mengenal dimensi ruang dan waktu, dan saya menyebutnya wahyu. Setiap orang berhak mendapatakannya, tergantung kadar kepercayaan yang dimiliki. Dalam buku yang ditulis orang barat itu, kekuatan yang Maha Dahsyat bisa disebut angel, jin, dan apapun. Dan dalam Islam ia disebut Iman, iman kepada Allah, seperti kata guru mengaji saya dulu: Gusti Allah itu tergantung prasangka manusia.
The Secret dan Shalat Berjamaah
Tulisan Luthfi tentang makna shalat kemudian saya renungkan. Dan memang benar, bahwa ibadah itu tak perlu berhitung. Karena ilmu menghitung dan mengukur adalah ilmu yang biasa digunakan manusia, untuk berhubungan dengan manusia juga. Berkomunikasi dengan Tuhan hal itu harus ditanggalkan, agar konsentrasi kita tidak untuk menjumlah tapi ya berkomunikasi. Lagian, jangankan sama Tuhan, berkomunikasi dengan manusia pun, kita harus menunjukkan sikap yang santun dan sungguh-sungguh -- dengan hati, pikiran, tatapan, gestur (alias tidak sambil terima telpon, sms-an, membaca majalah,dll).
Tapi hitungan itu tentu bukan soal rakaat atau mengganti hitungan (dua, tiga, atau empat rakaat dalam shalat) menjadi sesuka masing-masing orang hingga keserasian rukuk dan sujud di sebuah masjid kehilangan harmonisasi dalam kebersamaan. Dan tidak mengubah waktu (subuh, dhuhur, asar, dan seterusnya) menjadi waktu yang membuat kita tak mengenal disiplin, lalu masuk dalam ranah individualis.
Jika shalat merupakan alat bantu merefleksikan kesadaran tentang keberadaan Tuhan, maka sebuah hitungan menjadi ukuran setidak-tidaknya, atau menjadi standar paling minimal. Dengan yang minimal itu, saya merasa belum mendapatkan efek kesadaran tentang keilahian dari shalat yang saya jalankan. Karena dengan yang minimal itupun, kadang saya merasa berat. Bagaimana kalau standar itu dihilangkan sama sekali alias tidak diwajibkan?
Orang tua, sangat paham bahwa anak-anak belum berkesadaran untuk belajar sendiri tanpa diperintah, diingatkan, dan merasa diawasi. Maka orang tua selalu mematok jam belajar untuk melatih disiplin itu. Bagi anak itu terasa sebuah siksaan dan memberatkan. Yang wajib memang selalu terasa berat, meski hasilnya untuk kita juga. Dan nyatanya, kita banyak melihat bahwa keberhasilan, keahlian, kepiawaian, semua berawal dari pelajaran-pelajaran yang baku, aturan-aturan, dan disilpin yang diwajibkan. Seperti pepatah, bahwa keahlian adalah sebuah pekerjaan yang dibiasakan. Ia bisa soal menyetir, menulis, berpidato, dll.
Dalam shalat memang tidak bisa disamakan sebagai kata kerja di atas. Saya setuju dengan tulisan Luthfi maupun Muhammad Iqbal itu -- shalat memang lebih menekankan dimensi spiritual hubungan manusia dengan Tuhannya; shalat pada dasarnya merupakan "alat bantu" (agency) bagi manusia untuk merefleksikan kesadarannya akan keberadaan Tuhan. Dan yang paling bagus adalah orang yang mampu menciptakan alat bantu itu pada dirinya sendiri, sehingga ia selalu berada dalam ruang kesadaran di mana Tuhan tak perlu lagi dipancing untuk selalu hadir.
Tapi, buat saya tetap perlu dibedakan tentang yang wajib, yang sunah, termasuk kenapa kita disarankan untuk berjamaah. Yang wajib membuat kita terbiasa meski ala dipaksa, seperti kedisiplinan menyetir, menulis, yang awalnya berangkat dari seperangkat teori, melihat kiri dan kanan, melihat sekitar, hingga semua teori itu tanggal karena ia sudah menyatu dengan diri kita, hati kita. Begitu juga, dalam menjalani dan menghayati perjalanan keilahian kita.
Kenapa ada shalat wajib dan kenapa ada aturan berjamaah?
Mungkin, supaya shalat kita tidak menjadikan kita sebagai makhluk individualis demi Tuhan kita. Ketuhanan selalu ada dan bersemayam bersama kita di saat kita mampu mengelola hubungan ukhuwah dengan sesama, membaur, tanpa membeda-bedakan status sosial, salah satunya lewat kebersamaan dalam shalat berjamaah itu. Dalam hidup, dalam pekerjaan, profesi, jabatan, kelas pergaulan, semuanya sudah menjadi sekat untuk tidak bisa saling menghargai. Berjamaah, menjadi pengingat untuk melatih kepekaan kemanusiaan kita. Kita mungkin tak bisa selalu bersama-sama di meja makan, di satu ruang yang berjarak, atau di meja transaksi bisnis yang bukan jadi dunia kita. Tapi pada waktu dan jam tertentu kita bisa melebur bersama di mushola-mushola atau masjid-masjid. Di sana tidak ada istilah siapa anak buah dan siapa atasan, siapa yang kaya dan siapa yang miskin. Kita disadarkan untuk kembali menjadi manusia, yang di mata Allah adalah sama, kecuali amal perbuatan yang menjadi pembeda. Berkesadaran tentang Tuhan, harus dimulai dari berkesadaran tentang hal itu.
Saya kira itulah kenapa orang Islam wajib menjalankan Isya, Subuh, Lohor (dhuhur), Ashar, Maghrib: I-S-L-A-M. Jika di dalam buku The The Secret yang banyak digandrungi khalayak itu mengisyaratkan, bahwa satu keyakinan yang diimani oleh seseorang mampu menggerakan hukum semesta bekerja untuk mewujudkannya, sekarang bayangkan, bagaimana dengan satu keyakinan, satu keimanan, satu kesamaan doa, dan satu pengharapan yang dipanjatkan oleh ribuan, bahkan jutaan manusia di saat yang sama di seluruh dunia?
Saya semakin mengagumi bahwa yang disebut wajib adalah bukan untuk-Nya, tapi untuk-nya – hambanya. Yaitu kita.
Seperti kata-kata bijak Mahatma Ghandi, sendirian, tak akan bisa menemukan Tuhan. Dan seperti penggambaran guru mengaji saya, shalat punya nilai satu, sedangkan ibadah yang lain nilainya nol. Untuk menjadi bernilai dan bermakna, kita harus menggabungkan keduanya.
Jakarta, 22 Agustus 2011
Serpihan surga dan neraka baru saya rapikan dari keterserakan, sejak kedatangan Musdah Mulia beberapa waktu lalu, dimana pandangannya soal agama dan surga berbeda dari yang selama ini saya dengar dan hayati dari guru-guru ngaji.
Kemarin pagi, Andreas Harsono berkirim sms, mengusulkan Luthfi Assyaukanie untuk berbicara di Pantau, tentang buku “Ideologi Islam dan Utopia” bermutu. Menurutnya, dia bisa banyak memperkaya diskusi. Andreas menyarankan sebaiknya buku dibaca lebih dulu. Maka siang ini saya mencari tentangnya di internet.
Dari sekian banyak artikel yang ditulis olehnya, saya baru sempat mengambil satu, tentang shalat, fikih dan tasawuf.
Disiplin fikih menurut Luthfi, banyak membantu kita memahami kegiatan-kegiatan dan urusan-urusan keagamaan yang kompleks. Berbagai peristiwa keagamaan yang memiliki intensitas dan sifat berbeda-beda dikelompokkan menjadi katagori-katagori tertentu. Ada yang wajib, ada yang sunnah, ada yang haram, ada yang halal, dan seterusnya. Sebagai sebuah upaya penyederhanaan, fikih sangat berguna.
Sedangkan shalat, bukanlah urusan fikih semata. Sebagai sebuah aktivitas ubudiyah, shalat tak ada kaitannya dengan fikih. Ia lebih dekat dengan tasawuf yang lebih menekankan dimensi spiritual atau dimensi esoteric manusia. Inti daripada shalat adalah bukan bilangan (menjadi dua, tiga, atau empat rakaat), dan bukan pula waktu (menjadi subuh, zuhur, asar, dan seterusnya). Shalat seseorang yang selalu memperhitungkan bilangan, seperti dikatakan Nabi, adalah shalatnya seorang pedagang.
Terkahir, dalam artikelnya yang ditulis pada 4 Juli 2004 itu, Luthfi mengutip Muhammad Iqbal -- sufi yang juga seorang penyair, pernah menulis sebuah artikel berjudul "Konsep tentang Tuhan dan Makna Shalat" (The Conception of God and the Meaning of Prayer). Artikel yang kemudian menjadi salah satu bab karya agungnya, Reconstruction of Religious Thought in Islam, merupakan penjelasan paling genuine terhadap fungsi dan makna shalat.
Bagi Iqbal, shalat pada dasarnya merupakan "alat bantu" (agency) bagi manusia untuk merefleksikan kesadarannya akan keberadaan Tuhan. Sebagai sebuah alat bantu, shalat memiliki keterbatasan- keterbatasan. Setiap orang, kata Iqbal, mendapatkan efek kesadaran yang berbeda-beda dari shalat yang dijalankannya. Yang paling bagus adalah orang yang mampu menciptakan alat bantu itu pada dirinya sendiri, sehingga ia selalu berada dalam ruang kesadaran di mana Tuhan tak perlu lagi dipancing untuk selalu hadir.
Kali ini, saya tercerahkan. Rasanya jadi tak ingin mengikatkan diri pada yang rutin, yang serba dihitung dan dijumlah. Apalagi ditambah pertanyaan dari seseorang yang dikutip dalam tulisan itu – sebenarnya shalat itu wajib nggak sih? Boleh nggak saya menjamak shalat sesuka hati saya, maksudnya tanpa ada alasan bepergian (safar) atau hujan (mathar)?
Wow, ringan sekali. Ternyata Islam itu sungguh meringankan!
***
“…. Lho, memangnya shalatmu kau jadikan beban?” kata suara dari dalam hati bagai mengejek.
“Oh, bukan itu maksudnya,” ruang hati saya yang lain menjawab tergagap, karena ternyata interpretasi saya yang terburu-buru itu justru menimbulkan perang batin. Ada benturan yang rasional dan yang tak rasional.
Yang tak rasional itu, cukup lama kehilangan suara, tapi ia terus bergema.
Kemudian, dalam peperangan itu, yang tak rasional kok malah lebih dominan. Saya mengingat tentang buku The Secret pemberian seorang teman. Ia menggambarkan bagaimana sebuah kedahsyatan terjadi hanya dengan kekuatan pikiran dan meyakininya. Kedahsyatan itu tak mengenal dimensi ruang dan waktu, dan saya menyebutnya wahyu. Setiap orang berhak mendapatakannya, tergantung kadar kepercayaan yang dimiliki. Dalam buku yang ditulis orang barat itu, kekuatan yang Maha Dahsyat bisa disebut angel, jin, dan apapun. Dan dalam Islam ia disebut Iman, iman kepada Allah, seperti kata guru mengaji saya dulu: Gusti Allah itu tergantung prasangka manusia.
The Secret dan Shalat Berjamaah
Tulisan Luthfi tentang makna shalat kemudian saya renungkan. Dan memang benar, bahwa ibadah itu tak perlu berhitung. Karena ilmu menghitung dan mengukur adalah ilmu yang biasa digunakan manusia, untuk berhubungan dengan manusia juga. Berkomunikasi dengan Tuhan hal itu harus ditanggalkan, agar konsentrasi kita tidak untuk menjumlah tapi ya berkomunikasi. Lagian, jangankan sama Tuhan, berkomunikasi dengan manusia pun, kita harus menunjukkan sikap yang santun dan sungguh-sungguh -- dengan hati, pikiran, tatapan, gestur (alias tidak sambil terima telpon, sms-an, membaca majalah,dll).
Tapi hitungan itu tentu bukan soal rakaat atau mengganti hitungan (dua, tiga, atau empat rakaat dalam shalat) menjadi sesuka masing-masing orang hingga keserasian rukuk dan sujud di sebuah masjid kehilangan harmonisasi dalam kebersamaan. Dan tidak mengubah waktu (subuh, dhuhur, asar, dan seterusnya) menjadi waktu yang membuat kita tak mengenal disiplin, lalu masuk dalam ranah individualis.
Jika shalat merupakan alat bantu merefleksikan kesadaran tentang keberadaan Tuhan, maka sebuah hitungan menjadi ukuran setidak-tidaknya, atau menjadi standar paling minimal. Dengan yang minimal itu, saya merasa belum mendapatkan efek kesadaran tentang keilahian dari shalat yang saya jalankan. Karena dengan yang minimal itupun, kadang saya merasa berat. Bagaimana kalau standar itu dihilangkan sama sekali alias tidak diwajibkan?
Orang tua, sangat paham bahwa anak-anak belum berkesadaran untuk belajar sendiri tanpa diperintah, diingatkan, dan merasa diawasi. Maka orang tua selalu mematok jam belajar untuk melatih disiplin itu. Bagi anak itu terasa sebuah siksaan dan memberatkan. Yang wajib memang selalu terasa berat, meski hasilnya untuk kita juga. Dan nyatanya, kita banyak melihat bahwa keberhasilan, keahlian, kepiawaian, semua berawal dari pelajaran-pelajaran yang baku, aturan-aturan, dan disilpin yang diwajibkan. Seperti pepatah, bahwa keahlian adalah sebuah pekerjaan yang dibiasakan. Ia bisa soal menyetir, menulis, berpidato, dll.
Dalam shalat memang tidak bisa disamakan sebagai kata kerja di atas. Saya setuju dengan tulisan Luthfi maupun Muhammad Iqbal itu -- shalat memang lebih menekankan dimensi spiritual hubungan manusia dengan Tuhannya; shalat pada dasarnya merupakan "alat bantu" (agency) bagi manusia untuk merefleksikan kesadarannya akan keberadaan Tuhan. Dan yang paling bagus adalah orang yang mampu menciptakan alat bantu itu pada dirinya sendiri, sehingga ia selalu berada dalam ruang kesadaran di mana Tuhan tak perlu lagi dipancing untuk selalu hadir.
Tapi, buat saya tetap perlu dibedakan tentang yang wajib, yang sunah, termasuk kenapa kita disarankan untuk berjamaah. Yang wajib membuat kita terbiasa meski ala dipaksa, seperti kedisiplinan menyetir, menulis, yang awalnya berangkat dari seperangkat teori, melihat kiri dan kanan, melihat sekitar, hingga semua teori itu tanggal karena ia sudah menyatu dengan diri kita, hati kita. Begitu juga, dalam menjalani dan menghayati perjalanan keilahian kita.
Kenapa ada shalat wajib dan kenapa ada aturan berjamaah?
Mungkin, supaya shalat kita tidak menjadikan kita sebagai makhluk individualis demi Tuhan kita. Ketuhanan selalu ada dan bersemayam bersama kita di saat kita mampu mengelola hubungan ukhuwah dengan sesama, membaur, tanpa membeda-bedakan status sosial, salah satunya lewat kebersamaan dalam shalat berjamaah itu. Dalam hidup, dalam pekerjaan, profesi, jabatan, kelas pergaulan, semuanya sudah menjadi sekat untuk tidak bisa saling menghargai. Berjamaah, menjadi pengingat untuk melatih kepekaan kemanusiaan kita. Kita mungkin tak bisa selalu bersama-sama di meja makan, di satu ruang yang berjarak, atau di meja transaksi bisnis yang bukan jadi dunia kita. Tapi pada waktu dan jam tertentu kita bisa melebur bersama di mushola-mushola atau masjid-masjid. Di sana tidak ada istilah siapa anak buah dan siapa atasan, siapa yang kaya dan siapa yang miskin. Kita disadarkan untuk kembali menjadi manusia, yang di mata Allah adalah sama, kecuali amal perbuatan yang menjadi pembeda. Berkesadaran tentang Tuhan, harus dimulai dari berkesadaran tentang hal itu.
Saya kira itulah kenapa orang Islam wajib menjalankan Isya, Subuh, Lohor (dhuhur), Ashar, Maghrib: I-S-L-A-M. Jika di dalam buku The The Secret yang banyak digandrungi khalayak itu mengisyaratkan, bahwa satu keyakinan yang diimani oleh seseorang mampu menggerakan hukum semesta bekerja untuk mewujudkannya, sekarang bayangkan, bagaimana dengan satu keyakinan, satu keimanan, satu kesamaan doa, dan satu pengharapan yang dipanjatkan oleh ribuan, bahkan jutaan manusia di saat yang sama di seluruh dunia?
Saya semakin mengagumi bahwa yang disebut wajib adalah bukan untuk-Nya, tapi untuk-nya – hambanya. Yaitu kita.
Seperti kata-kata bijak Mahatma Ghandi, sendirian, tak akan bisa menemukan Tuhan. Dan seperti penggambaran guru mengaji saya, shalat punya nilai satu, sedangkan ibadah yang lain nilainya nol. Untuk menjadi bernilai dan bermakna, kita harus menggabungkan keduanya.
Jakarta, 22 Agustus 2011
Jumat, 19 Agustus 2011
Agama dan Keberadaban
oleh fiqoh
Selalu menarik untuk mengulas pernyataan-pernyataan Musdah Mulia. Misalnya tentang ini --untuk apa beragama kalau tidak beradab?
Karena baginya, seharusnya agama membuat orang menjadi lebih manusiawai dan beradab. Saya setuju dengan ini. Juga setuju dengan kegelisahan Musdah, yang menyayangkan bahwa agama tidak menyelesaikan persoalan mendasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Tapi bagaimana jika yang terjadi sebaliknya – ada orang yang sangat beradab tapi tidak beragama? Tidak berketuhanan (atheis) misalnya? Apakah kita yang beragama harus mempersoalkan juga dan menganggapnya tak berguna?
Buat saya, segala sesuatu yang menyangkut Iman atau keyakinan seseorang dengan tuhannya atau dengan apapun, biarlah menjadi ranah setiap individu itu untuk meyakininya, menghayatinya, menjalankannya. Karena pada akhirnya, baik nanti atau sekarang, setiap orang harus mempertanggungjawabkan amal dan perbuatannya.
Kita tidak bisa memberi pilihan hitam putih, agar orang membuat keputusan memilih beradab saja, atau beragama saja, atau harus melakukan keduanya. Hidup adalah sebuah proses pergulatan banyak hal dan dimensi, pertarungan batin dan kepentingan-kepentingan. Karenanya, kita perlu terus belajar, baik dari ajaran agama, peraturan, hukum, pengetahuan umum dan lain-lain. Dan itu bukan hanya tanggungjawab agama atau orang yang beragama, tapi juga negara dan seluruh masyarakat.
Untuk mengatur agar manusia lebih beradab, selain dari agama, juga dari pancasila dan undang-undang dasar 1945 sebagai dasar, falsafah dan ideology berbangsa bernegara. Lalu masih ada pendidikan moral pancasila, ada peraturan pemerintah, hukum perdata, pidana, KDRT dan sebagainya.
Tapi lagi-lagi…jangankan mendalami ajaran Al-quran yang berbahasa arab, sedangkan pancasila yang ditulis dalam bahasa Indonesia pun kita tidak memahami maknanya bukan? Dalam hubungan sosial, sikap yang beradab menjadi kesepakatan umum.
Musdah bilang bahwa agama adalah interpretasi. Dan semakin banyak interpretasi membuat wawasan orang makin luas, tidak terombang-ambing karena mengetahui banyak pendapat, dan orang bisa memilih pendapat mana saja sepanjang tak merugikan orang lain.
Menurut saya, jika agama adalah interpretasi, lalu apa gunanya Al-quran sebagai tuntunan?
Lembaga, serikat, dan kantor-kantor pun punya peraturan organisasi dan SOP untuk mengatur tata-tertib, kedisiplinan dan tanggungjawab setiap pegawai.Bagimana jika semua pegawai melakukan pekerjaan dengan pendapatnya masing-masing? Mungkin akan kacau, meski pendapat tetap diperlukan dalam ranah yang berbeda. Masih soal agama adalah interpretasi, bagaimana, jika Indonesia yang dihuni dengan berbagai latar belakang pendidikan dan status sosial ini, menggunakan berbagai pendapatnya dalam beragama? Barangkali, soal arah kiblat pun sudah akan menghasilkan benturan horisontal justru.
Menurut Musdah, persoalan mendasar yang dihadapi dalam kehidupan orang beragama di Indonesia adalah menegakkan pluralisme, demokrasi, dan humanisme. Ini saya sepakat. Dan solusi harus dicari bersama-sama oleh seluruh komponen bangsa, terutama para pemimpin untuk tidak korup mementingkan diri sendiri dan inkonsistensi dari cita-cita kemerdekaan. Sedangkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) hanya selalu bicara surga dan neraka dengan definisi maskulinitas – surga itu penuh bidadari dan kolam susu, memang sungguh disayangkan. Kok bisa?
Sedangkan orang-orang di kampung yang lugu, dan mereka yang berpendidikan rendah pun (setidaknya di kampung saya), tidak pernah saya dengar dari ucapan mereka memaknainya begitu. Surga dan neraka sama sekali tidak dimaknai sebagai suasana yang bernuansa gairah badaniah. Karena begitu kita mati, lepas sudah segala kebutuhan bioligis kita. Surga dan neraka adalah imbalan atau sangsi atas amal perbuatan.
Setidaknya, surga dan neraka telah mengilhami orang-orang yang lugu itu, untuk memiliki roso kamanungsan dan tepo seliro. Apa salahnya kalau mereka tidak berbuat jahat karena takut kualat dan takut neraka? Dan berlaku baik karena mengharap pahala atau biar masuk surga?
Bagaimana dengan kita, yang mungkin berbuat baik karena demi program, proyek, sponsor? Atau, karena pamrih agar dipuji, disayang mertua, pacar, atasan, dll? Begitu juga dengan alasan untuk takut -- koruptor sembunyi-sembunyi karena takut KPK, takut polisi, aktivis anti korupsi, wartawan, dll?
Kita tahu bahwa setiap perbuatan yang kita lakukan selalu multi motivasi. Tapi kebaikan tetaplah bermanfaat sebagai kebaikan. Termasuk, kebaikan yang dilakukan oleh orang-orang lugu yang takut neraka itu. Mereka berpikir surga dan neraka dengan keimanannya. Dan tanpa banyak bicara, mereka terapkan dalam hidup keseharian. Salahkah?
Musdah bisa bilang agar kita berhenti berbicara sorga dan neraka meski itu ada dalam kitab-kitab suci. Kitab yang menurutnya dibangun atau diturunkan ketika masyarakat belum semodern seperti sekarang. Jika ia sekarang menganggap itu tidak penting, mungkin benar baginya.
Tapi, belum tentu bagi orang-orang lugu itu. Karena kadar keimanan tidak selalu sama, meski satu agama sekalipun.
Jakarta, 19 Agustus 2011 (tanggapan untuk artikel tentang Musdah Mulia: Agama Itu Bukan Candu)
Selalu menarik untuk mengulas pernyataan-pernyataan Musdah Mulia. Misalnya tentang ini --untuk apa beragama kalau tidak beradab?
Karena baginya, seharusnya agama membuat orang menjadi lebih manusiawai dan beradab. Saya setuju dengan ini. Juga setuju dengan kegelisahan Musdah, yang menyayangkan bahwa agama tidak menyelesaikan persoalan mendasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Tapi bagaimana jika yang terjadi sebaliknya – ada orang yang sangat beradab tapi tidak beragama? Tidak berketuhanan (atheis) misalnya? Apakah kita yang beragama harus mempersoalkan juga dan menganggapnya tak berguna?
Buat saya, segala sesuatu yang menyangkut Iman atau keyakinan seseorang dengan tuhannya atau dengan apapun, biarlah menjadi ranah setiap individu itu untuk meyakininya, menghayatinya, menjalankannya. Karena pada akhirnya, baik nanti atau sekarang, setiap orang harus mempertanggungjawabkan amal dan perbuatannya.
Kita tidak bisa memberi pilihan hitam putih, agar orang membuat keputusan memilih beradab saja, atau beragama saja, atau harus melakukan keduanya. Hidup adalah sebuah proses pergulatan banyak hal dan dimensi, pertarungan batin dan kepentingan-kepentingan. Karenanya, kita perlu terus belajar, baik dari ajaran agama, peraturan, hukum, pengetahuan umum dan lain-lain. Dan itu bukan hanya tanggungjawab agama atau orang yang beragama, tapi juga negara dan seluruh masyarakat.
Untuk mengatur agar manusia lebih beradab, selain dari agama, juga dari pancasila dan undang-undang dasar 1945 sebagai dasar, falsafah dan ideology berbangsa bernegara. Lalu masih ada pendidikan moral pancasila, ada peraturan pemerintah, hukum perdata, pidana, KDRT dan sebagainya.
Tapi lagi-lagi…jangankan mendalami ajaran Al-quran yang berbahasa arab, sedangkan pancasila yang ditulis dalam bahasa Indonesia pun kita tidak memahami maknanya bukan? Dalam hubungan sosial, sikap yang beradab menjadi kesepakatan umum.
Musdah bilang bahwa agama adalah interpretasi. Dan semakin banyak interpretasi membuat wawasan orang makin luas, tidak terombang-ambing karena mengetahui banyak pendapat, dan orang bisa memilih pendapat mana saja sepanjang tak merugikan orang lain.
Menurut saya, jika agama adalah interpretasi, lalu apa gunanya Al-quran sebagai tuntunan?
Lembaga, serikat, dan kantor-kantor pun punya peraturan organisasi dan SOP untuk mengatur tata-tertib, kedisiplinan dan tanggungjawab setiap pegawai.Bagimana jika semua pegawai melakukan pekerjaan dengan pendapatnya masing-masing? Mungkin akan kacau, meski pendapat tetap diperlukan dalam ranah yang berbeda. Masih soal agama adalah interpretasi, bagaimana, jika Indonesia yang dihuni dengan berbagai latar belakang pendidikan dan status sosial ini, menggunakan berbagai pendapatnya dalam beragama? Barangkali, soal arah kiblat pun sudah akan menghasilkan benturan horisontal justru.
Menurut Musdah, persoalan mendasar yang dihadapi dalam kehidupan orang beragama di Indonesia adalah menegakkan pluralisme, demokrasi, dan humanisme. Ini saya sepakat. Dan solusi harus dicari bersama-sama oleh seluruh komponen bangsa, terutama para pemimpin untuk tidak korup mementingkan diri sendiri dan inkonsistensi dari cita-cita kemerdekaan. Sedangkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) hanya selalu bicara surga dan neraka dengan definisi maskulinitas – surga itu penuh bidadari dan kolam susu, memang sungguh disayangkan. Kok bisa?
Sedangkan orang-orang di kampung yang lugu, dan mereka yang berpendidikan rendah pun (setidaknya di kampung saya), tidak pernah saya dengar dari ucapan mereka memaknainya begitu. Surga dan neraka sama sekali tidak dimaknai sebagai suasana yang bernuansa gairah badaniah. Karena begitu kita mati, lepas sudah segala kebutuhan bioligis kita. Surga dan neraka adalah imbalan atau sangsi atas amal perbuatan.
Setidaknya, surga dan neraka telah mengilhami orang-orang yang lugu itu, untuk memiliki roso kamanungsan dan tepo seliro. Apa salahnya kalau mereka tidak berbuat jahat karena takut kualat dan takut neraka? Dan berlaku baik karena mengharap pahala atau biar masuk surga?
Bagaimana dengan kita, yang mungkin berbuat baik karena demi program, proyek, sponsor? Atau, karena pamrih agar dipuji, disayang mertua, pacar, atasan, dll? Begitu juga dengan alasan untuk takut -- koruptor sembunyi-sembunyi karena takut KPK, takut polisi, aktivis anti korupsi, wartawan, dll?
Kita tahu bahwa setiap perbuatan yang kita lakukan selalu multi motivasi. Tapi kebaikan tetaplah bermanfaat sebagai kebaikan. Termasuk, kebaikan yang dilakukan oleh orang-orang lugu yang takut neraka itu. Mereka berpikir surga dan neraka dengan keimanannya. Dan tanpa banyak bicara, mereka terapkan dalam hidup keseharian. Salahkah?
Musdah bisa bilang agar kita berhenti berbicara sorga dan neraka meski itu ada dalam kitab-kitab suci. Kitab yang menurutnya dibangun atau diturunkan ketika masyarakat belum semodern seperti sekarang. Jika ia sekarang menganggap itu tidak penting, mungkin benar baginya.
Tapi, belum tentu bagi orang-orang lugu itu. Karena kadar keimanan tidak selalu sama, meski satu agama sekalipun.
Jakarta, 19 Agustus 2011 (tanggapan untuk artikel tentang Musdah Mulia: Agama Itu Bukan Candu)
Selasa, 16 Agustus 2011
Senyum dan Rasa Kemanusiaan
oleh fiqoh
Ini buka sinikal, tapi sungguh Anda perlu tahu bahwa senyum menjadi perenggut rasa kemanusiaan yang keji.
Dua perempuan muda dan cantik, dengan rambut tergerai dan nampak sangat terurus. Yang satu membisikkan sesuatu di telinga yang lain. Mungkin tentang sesuatu yang lucu, mungkin juga menggelikan, dan keduanya tersenyum – lebih tepat menahan tawa.
Dalam suasana glamour, di tempat mewah dan santai, dilengkapi menu kesukaan, siapa yang takkan tersenyum?
Saya kutip paragraf pertama artikel VIVAnews berjudul Tujuh Alasan untuk Selalu Tersenyum -- Menebar senyum pada orang di sekeliling Anda jangan dianggap remeh. Meskipun sederhana namun memberi manfaat kesehatan luar biasa. Bagaimana pun suasana hati Anda, tersenyum bisa memberikan rasa bahagia luar biasa.
Gambar yang ditampilkan ini memukau (mungkin lebih karena mereka keren) dengan segala hal yang menggiurkan. Tapi lihatlah, senyumkah yang membuat mereka bahagia luar biasa, atau kebahagiaan atas eksistensinya yang membuat mereka tersenyum?
Ada pepatatah berakit ke hulu, berenang ke tepian – bersakit dahulu bersenang kemudian. Kebahagiaan atau kesedihan lahir dari sebuah proses. Ia bisa pergumulan rasa atau pergulatan batin. Ia bisa berupa manisnya kesuksesan atau tentang pahitnya perjuangan hidup. semuanya – kondisi dan situasi (secara lahiriah atau batin) dengan sendirinya akan menghasilkan suatu refleksi, apakah kita akan tersenyum, tertawa, menangis, marah atau sedih.
Jika dalam keadaan berkabung dan kita tertawa, justru kita perlu waspada. Sebaliknya, jika dalam keadaan tertekan, teraniaya, tapi kita harus tetap tersenyum, kita pantas untuk sedih.
Masih soal hasil survey Kelompok Perempuan Untuk Keadilan Buruh (KPKB), beberapa pekerja yang menjadi pelayan hotel mengatakan bahwa energi untuk senyum jauh lebih menyiksa di saat mereka dibentak-bentak, dihardik, dan mendapat tatapan yang melecehkan dirinya dari para customer.
“Saya tetap harus tersenyum, meski sebenarnya saya sangat ingin mengangis,” ungkap salah seorang responden itu.
Senyum bagai mengiris dan menjadi sebuah sinisme pada dirinya atas hilangnya sesuatu yang alamiah – sesuatu yang manusiawi ketika tangis harusnya membantu mengeluarkan cairan beracun dalam tubuh.
Tapi para pelayan hotel, kafe, dan restoran-restoran ternama semua melakukannya. Semua tersenyum. Mereka terus tersenyum meski tengkuk sudah terasa kaku dan Limbung, mereke terus tersenyum meski tensi darah sudah memuncak di kepala, mereka terus tersenyum meski cairan air mata tertahan dan mengering, hingga… mereka tak tahu lagi bedanya senyuman dan tangis.
Aku termasuk orang yang tak peduli itu semua hingga adanya sebuah keonaran kecil di kafe. Di sebuah meja di pojok ruang, mata temanku menangkap pemandangan itu.
“Lihat,” kata temanku sambil memberi petunjuk melalui ekor matanya.
Di sana, di meja ujung seorang Om-om bersama perempuan sedang menunjuk-nunjuk muka pelayan. Si perempuan sewot, rupanya minuman yang disajikan bukan yang ia pesan.
“Kamu gimana sih! Tidak dengar saya pesan apa?!” kata perempuan itu.
Mungkin karena briefing supervisor bahwa dalam keadaan apapun pelayan harus tetap tersenyum, kulihat pelayan itu senyum sambil membungkuk, dan tangannya yang gemetar mengambil gelas. Tapi...ah! Gelas miring, dan sebagaian isinya tumpah. Mungkin pelayan perempuan kecil itu grogi. Dan tanpa kendali Si Om itu marah-marah. Ia berdiri, berkacak pinggang dan menunjuk-nunjuk ke muka pelayan itu.
Dengan pandangan, temanku mengikuti langkah pelayan itu. Dan aku melakukan hal sama. Ia berjalan tersaruk-saruk dengan nampan di tangan kiri dan gelas yang tak penuh di tangan kanan. Dan di belakang etalase, nampak atasan dia memarahinya juga.
“Lihat, mereka itu, kerja di tempat makanan,berada di lautan makanan, tapi kok kurus-kurus ya? Mereka makan menu-menu ini juga tidak ya?”
Entahlah.
Temanku menyelipkan selembar 5000 rupiah untuk tips. Dan aku masih tertarik memikirkan alasan tersenyum. Aku kira, senyum bukan alasan untuk bahagia. Tapi bahagia membuat alasan tersenyum. Aku kira, bukan dalam keadaan apapun kita harus tersenyum, karena senyum yang tidak pada tempatnya justru menyedihkan. Di saat secara manusiawi seseorang butuh ruang untuk bisa menangis, menangislah karena itu lebih baik. Kita butuh ruang mengekspresikan kesedihan, kebahagiaan atau kemarahan.
Dalam keadaan berkabung karena kematian, dililit utang, dipecat dari pekerjaan, atau bercerai dari pasangan, senyum tidak bisa mengatasi apapun. Tapi, naluriah kita cukup tahu, mana yang lebih menusiawi untuk saat-saat seperti itu. Tangis, marah, teriak, terkadang jauh lebih berguna untuk tubuh dan jiwa.
Banyak hal di luar diri kita yang tak bisa kita kendalikan. Karena hidup tidak konstan. Sehat itu marah, menangis, sedih, benci, rindu, dsb. Karena itu menandakan bahwa sistem pertahanan tubuh kita atau coping mechanism masih kita miliki. Sebuah kenormalan yang peka.
Normalkah senyum dalam keadaan apapun? Manusiawikah senyum di saat dilecehkan dan dihardik oleh orang-orang congkak dan brengsek?
Mereka harus melakukannya, demi tuntutan kapitalis untuk memberi pelayanan terbaik. Kita terkadang alfa dan luput mencermati, bahwa pelanggaran Ham juga terselubung dibalik senyuman.
Ah. Andai saja pelayan juga bisa teriak. Maka para budak bisa dimerdekakan.
Jakarta, 17 Agustus 2011: 4:15
Ini buka sinikal, tapi sungguh Anda perlu tahu bahwa senyum menjadi perenggut rasa kemanusiaan yang keji.
Dua perempuan muda dan cantik, dengan rambut tergerai dan nampak sangat terurus. Yang satu membisikkan sesuatu di telinga yang lain. Mungkin tentang sesuatu yang lucu, mungkin juga menggelikan, dan keduanya tersenyum – lebih tepat menahan tawa.
Dalam suasana glamour, di tempat mewah dan santai, dilengkapi menu kesukaan, siapa yang takkan tersenyum?
Saya kutip paragraf pertama artikel VIVAnews berjudul Tujuh Alasan untuk Selalu Tersenyum -- Menebar senyum pada orang di sekeliling Anda jangan dianggap remeh. Meskipun sederhana namun memberi manfaat kesehatan luar biasa. Bagaimana pun suasana hati Anda, tersenyum bisa memberikan rasa bahagia luar biasa.
Gambar yang ditampilkan ini memukau (mungkin lebih karena mereka keren) dengan segala hal yang menggiurkan. Tapi lihatlah, senyumkah yang membuat mereka bahagia luar biasa, atau kebahagiaan atas eksistensinya yang membuat mereka tersenyum?Ada pepatatah berakit ke hulu, berenang ke tepian – bersakit dahulu bersenang kemudian. Kebahagiaan atau kesedihan lahir dari sebuah proses. Ia bisa pergumulan rasa atau pergulatan batin. Ia bisa berupa manisnya kesuksesan atau tentang pahitnya perjuangan hidup. semuanya – kondisi dan situasi (secara lahiriah atau batin) dengan sendirinya akan menghasilkan suatu refleksi, apakah kita akan tersenyum, tertawa, menangis, marah atau sedih.
Jika dalam keadaan berkabung dan kita tertawa, justru kita perlu waspada. Sebaliknya, jika dalam keadaan tertekan, teraniaya, tapi kita harus tetap tersenyum, kita pantas untuk sedih.
Masih soal hasil survey Kelompok Perempuan Untuk Keadilan Buruh (KPKB), beberapa pekerja yang menjadi pelayan hotel mengatakan bahwa energi untuk senyum jauh lebih menyiksa di saat mereka dibentak-bentak, dihardik, dan mendapat tatapan yang melecehkan dirinya dari para customer.
“Saya tetap harus tersenyum, meski sebenarnya saya sangat ingin mengangis,” ungkap salah seorang responden itu.
Senyum bagai mengiris dan menjadi sebuah sinisme pada dirinya atas hilangnya sesuatu yang alamiah – sesuatu yang manusiawi ketika tangis harusnya membantu mengeluarkan cairan beracun dalam tubuh.
Tapi para pelayan hotel, kafe, dan restoran-restoran ternama semua melakukannya. Semua tersenyum. Mereka terus tersenyum meski tengkuk sudah terasa kaku dan Limbung, mereke terus tersenyum meski tensi darah sudah memuncak di kepala, mereka terus tersenyum meski cairan air mata tertahan dan mengering, hingga… mereka tak tahu lagi bedanya senyuman dan tangis.
Aku termasuk orang yang tak peduli itu semua hingga adanya sebuah keonaran kecil di kafe. Di sebuah meja di pojok ruang, mata temanku menangkap pemandangan itu.
“Lihat,” kata temanku sambil memberi petunjuk melalui ekor matanya.
Di sana, di meja ujung seorang Om-om bersama perempuan sedang menunjuk-nunjuk muka pelayan. Si perempuan sewot, rupanya minuman yang disajikan bukan yang ia pesan.
“Kamu gimana sih! Tidak dengar saya pesan apa?!” kata perempuan itu.
Mungkin karena briefing supervisor bahwa dalam keadaan apapun pelayan harus tetap tersenyum, kulihat pelayan itu senyum sambil membungkuk, dan tangannya yang gemetar mengambil gelas. Tapi...ah! Gelas miring, dan sebagaian isinya tumpah. Mungkin pelayan perempuan kecil itu grogi. Dan tanpa kendali Si Om itu marah-marah. Ia berdiri, berkacak pinggang dan menunjuk-nunjuk ke muka pelayan itu.
Dengan pandangan, temanku mengikuti langkah pelayan itu. Dan aku melakukan hal sama. Ia berjalan tersaruk-saruk dengan nampan di tangan kiri dan gelas yang tak penuh di tangan kanan. Dan di belakang etalase, nampak atasan dia memarahinya juga.
“Lihat, mereka itu, kerja di tempat makanan,berada di lautan makanan, tapi kok kurus-kurus ya? Mereka makan menu-menu ini juga tidak ya?”
Entahlah.
Temanku menyelipkan selembar 5000 rupiah untuk tips. Dan aku masih tertarik memikirkan alasan tersenyum. Aku kira, senyum bukan alasan untuk bahagia. Tapi bahagia membuat alasan tersenyum. Aku kira, bukan dalam keadaan apapun kita harus tersenyum, karena senyum yang tidak pada tempatnya justru menyedihkan. Di saat secara manusiawi seseorang butuh ruang untuk bisa menangis, menangislah karena itu lebih baik. Kita butuh ruang mengekspresikan kesedihan, kebahagiaan atau kemarahan.
Dalam keadaan berkabung karena kematian, dililit utang, dipecat dari pekerjaan, atau bercerai dari pasangan, senyum tidak bisa mengatasi apapun. Tapi, naluriah kita cukup tahu, mana yang lebih menusiawi untuk saat-saat seperti itu. Tangis, marah, teriak, terkadang jauh lebih berguna untuk tubuh dan jiwa.
Banyak hal di luar diri kita yang tak bisa kita kendalikan. Karena hidup tidak konstan. Sehat itu marah, menangis, sedih, benci, rindu, dsb. Karena itu menandakan bahwa sistem pertahanan tubuh kita atau coping mechanism masih kita miliki. Sebuah kenormalan yang peka.
Normalkah senyum dalam keadaan apapun? Manusiawikah senyum di saat dilecehkan dan dihardik oleh orang-orang congkak dan brengsek?
Mereka harus melakukannya, demi tuntutan kapitalis untuk memberi pelayanan terbaik. Kita terkadang alfa dan luput mencermati, bahwa pelanggaran Ham juga terselubung dibalik senyuman.
Ah. Andai saja pelayan juga bisa teriak. Maka para budak bisa dimerdekakan.
Jakarta, 17 Agustus 2011: 4:15
Minggu, 14 Agustus 2011
Puasa Tanpa Tips
oleh fiqoh
Banyak artikel menarik soal tips-tips ibadah puasa. Membacanya, aku merasa bagai seorang musafir yang tengah bersiap untuk menempuh perjalanan jauh ke wilayah tak tentu medan. Harus begini dan begitu, tak boleh makan ini dan itu.
Sesuai tips, agar selama puasa fisik tetap sehat kita harus melakukannya sesuai aturan yang benar dan tidak asal-asalan. Karena fisik yang sehat akan membuat metabolisme tubuh tetap normal, tensi darah terjaga, dan emosi stabil. Menjaga emosi memiliki makna penting agar puasa kita tidak hanya sebatas menahan haus dan lapar, tapi bernilai ibadah dalam mendekatkan diri kepada Tuhan.
Maka itu, penting pula untuk memilih menu makanan serta jenis olah raga ringan dan tak dilakukan sembarangan.
Tips-tips itu baru sebagian aku terapkan di menu sahurku pagi itu. Dan di layar ponsel, sms temanku membuat tercengang. Pengirimnya dari dari salah seorang buruh pabrik yang malam itu ia tidak sahur karena gas di kontrakannya habis hingga tak bisa menjerang air. Ia, hanya meneguk air putih yang tersisa di gelas sore tadi.
Air putih yang jadi menu sahur temanku, dan daftar menu yang tertera di artikel internet itu membuatku bertanya dalam hati, bisakah temanku menjalankan puasa secara sehat dan baik? Air putih hanya memenuhi satu unsur empat sehat lima sempurna yang dianjurkan. Sedangkan tips-tips puasa yang baik dan sehat juga mengharuskan agar kita mengkonsumsi makanan berserat, berprotein tinggi, mengurangi karbohidrat, dan memperbanyak makan buah. Juga, minum yang manis dan hangat saat berbuka, menghindari minuman dingin apalagi bersoda yang bisa menyebabkan pencernaan tak berfungsi secara sempurna.
Masih kuingat kegembiraan teman-teman buruh pabrik garmen saat bertemu kemarin. Selain mengeluhkan bau bensol (campuran solar dan minyak tanah) yang bikin pusing kepala di tempat kerja, mereka juga girang memperoleh bonus Kuku Bima dari perusahaan karena memenuhi target. Kemasan sachet warna ungu diperlihatkan padaku. Minuman itu yang mereka nikmati sesaat sehabis berbuka, sambil memakan gorengan di mesin masing-masing ketika lembur. Sebagian lagi menyantap mie instan yang diremas dan diseduh dalam bungkusnya. Buruh terbiasa bersantap sambil bekerja, mengejar ketertinggalan proses mengejar target.
Kantung-kantung menggelembung kecil yang diikat karet itu, dulu sering jadi pemandangan yang tak asing buatku. Kantung-kantung berkuncir yang sering kami juluki pocong atau prajurit kalah perang. Dan kami sering tertawa sambil menyantapnya. Entah kenapa, hal yang dulu sering kuanggap lucu, sekarang membuatku sedih. Aku baru tahu belakangan resiko makanan instan itu.
Puasa, menjaga hati dan emosi
Menurut sabda Rasulallah, tujuan puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga tetapi juga menahan nafsu, menahan emosi, menjaga hati dan bersabar. Agar kita bisa mendekatkan diri kepada Tuhan secara lebih baik. Ini masih menurut tips soal puasa yang baik.
Tidak ada yang salah dengan artikel tips berpuasa itu. Mungkin memang begitu seharusnya. Meski tidak semua orang bisa mengatur pola dan menu makan dalam kecukupanannya, juga pola memilih jenis olah raga ringan yang tak membutuhkan energi berlebih seperti lari-lari kecil atau jalan kaki, dan bagaimana bersabar serta me-manage emosi.
Tapi, bagaimana buruh-buruh di pabrik itu memilihnya? Di lapangan produksi hawa memanas berasal dari dynamo ratusan mesin yang mengantung di sela lutut dan menempel di belakang punggung. Ditambah lampu neon panjang yang berderet di atas kepala, di bawah atap seng yang memuai karena matahari.
Panasnya suasana kerja, masih ditambah panasnya situasi karena teriakan-teriakan mandor sambil mememukul-mukulkan besi, tang, obeng atau apa saja untuk memecut anak buah. Sesama pekerja pun akhirnya saling bentakan-bentakan dan saling menekan karena sama-sama ketatukan dan terancam.
Sesuai sosialisasi hasil survey Kelompok Perempuan Peduli Buruh pada Kamis 11 Agustsu 2011, bahwa Kekerasan Terhadap Perempuan di Tempat Kerja salah satunya dipicu keadaan atau pengkondisian – akibat target yang dimaui perusahaan tidak mengukur kemapuan pekerja melainkan memang perusahaan mengambil order sebanyak-banyaknya. Pergantian jenis merk dan model yang diikuti perubahan semua komponen dan penyesuaian stelan pada mesin, jarum, ukuran sepatu, pola, warna dan lainnya membuat mereka harus berpacu,berebut dan saling sruduk. Ini belum termasuk pekera asing yang mestinya dilarang mengatur bagian kepersonaliaan, justru terjun langsung mengatur dan menujuk-nunjuk pekerja sambil teriak-teriak, membentak-bentak bahkan tak segan-segan memukul dan melempari benda-benda.
Masih soal hasil survey KPKB, bahwa pelecehan seksual serta kekerasan, baik psikis maupun fisik akan berpengaruh pada emosi, metabollisme tubuh dan tensi darah. Dan buruh mengalaminya, terganggu, gelisah. Perasaan yang menyiksa itu mengikutinya hingga mereka ke rumah.
Orang-orang yang bekerja dalam keadaan normal dan dihargai hak asasinya, barangkali akan selalu berhasil menjaga emosi. Orang-orang yang berkecukupan, tentu akan berhasil mengatur pola makan, memilih menu sehat dan jenis olah raga.
Tapi bagaimana jika kita hidup di lingkungan yang tak terhindarkan dipenuhi amarah?
Temanku bilang, dia banyak membaca istighfar dalam hati. Temanku yang lainnya lagi melafalkan sholawat nabi. Dan yang lain pula saat kutanya berkata, ” Biarkan saja mereka marah, kami yang waras yang mengalah.”
Untuk kesabaran, aku harus berguru pada mereka. Kesabaran tidak akan pernah punya makna sekalipun ia diucapkan Sang Kiai, sebelum ia dibenturkan pada kenyataan dan makna itu masih teruji. Barangkali puasaku masih sebatas menggeser pantat piring atau cangkir dari pagi ke sore hari, dari siang ke dini hari. Karena aku termasuk berkecukupan, dan tidak berada dalam kungkungan kekuasaan yang menindas secara fisik dan psikis. Rasa haus pun masih tertahan oleh ademnya pendingin ruangan.
Tapi tidak semua orang hidup dalam kondisi ”normal" dan bisa mengkonsumsi makanan sehat, bergaya hidup sehat, tinggal di lingkungan sehat.
Tapi, dari semua kebendaan dan kondisi yang sering tak terkendali dan tak dimiliki, iman-lah yang menguatkannya.
Puasa adalah perjalanan batin yang dilakukan karena Iman kepada-Nya. Ketakcukupan itu barangkali menjadikan nilai berbeda dari perjalanan serupa – ibarat dua kendaraan yang sama-sama melaju, meski ia dengan bahan bakar penuh, setengah, atau tidak sama sekali. Dan ia, sama-sama mencapi garis finish.
Puasa bukan soal mengatur pola makan terkait pindahnya jadwal bersantap guna menjaga fisik tetap sehat agar hati bisa khusuk. Karena khusuk lahir dari keimanan yang tetap teguh, tetap terpelihara, meski dalam keadaan papa. Di sinilah barangkali, keajaiban memilih tempatnya untuk bersemayam.
Mens sana in corpore sano? Tidak selalu. Tubuh yang sehat, juga berada di dalam jiwa yang kuat. Iman yang kuat.
Jakarta, 15 Agustus 2011, 04:15
Banyak artikel menarik soal tips-tips ibadah puasa. Membacanya, aku merasa bagai seorang musafir yang tengah bersiap untuk menempuh perjalanan jauh ke wilayah tak tentu medan. Harus begini dan begitu, tak boleh makan ini dan itu.
Sesuai tips, agar selama puasa fisik tetap sehat kita harus melakukannya sesuai aturan yang benar dan tidak asal-asalan. Karena fisik yang sehat akan membuat metabolisme tubuh tetap normal, tensi darah terjaga, dan emosi stabil. Menjaga emosi memiliki makna penting agar puasa kita tidak hanya sebatas menahan haus dan lapar, tapi bernilai ibadah dalam mendekatkan diri kepada Tuhan.
Maka itu, penting pula untuk memilih menu makanan serta jenis olah raga ringan dan tak dilakukan sembarangan.
Tips-tips itu baru sebagian aku terapkan di menu sahurku pagi itu. Dan di layar ponsel, sms temanku membuat tercengang. Pengirimnya dari dari salah seorang buruh pabrik yang malam itu ia tidak sahur karena gas di kontrakannya habis hingga tak bisa menjerang air. Ia, hanya meneguk air putih yang tersisa di gelas sore tadi.
Air putih yang jadi menu sahur temanku, dan daftar menu yang tertera di artikel internet itu membuatku bertanya dalam hati, bisakah temanku menjalankan puasa secara sehat dan baik? Air putih hanya memenuhi satu unsur empat sehat lima sempurna yang dianjurkan. Sedangkan tips-tips puasa yang baik dan sehat juga mengharuskan agar kita mengkonsumsi makanan berserat, berprotein tinggi, mengurangi karbohidrat, dan memperbanyak makan buah. Juga, minum yang manis dan hangat saat berbuka, menghindari minuman dingin apalagi bersoda yang bisa menyebabkan pencernaan tak berfungsi secara sempurna.
Masih kuingat kegembiraan teman-teman buruh pabrik garmen saat bertemu kemarin. Selain mengeluhkan bau bensol (campuran solar dan minyak tanah) yang bikin pusing kepala di tempat kerja, mereka juga girang memperoleh bonus Kuku Bima dari perusahaan karena memenuhi target. Kemasan sachet warna ungu diperlihatkan padaku. Minuman itu yang mereka nikmati sesaat sehabis berbuka, sambil memakan gorengan di mesin masing-masing ketika lembur. Sebagian lagi menyantap mie instan yang diremas dan diseduh dalam bungkusnya. Buruh terbiasa bersantap sambil bekerja, mengejar ketertinggalan proses mengejar target.
Kantung-kantung menggelembung kecil yang diikat karet itu, dulu sering jadi pemandangan yang tak asing buatku. Kantung-kantung berkuncir yang sering kami juluki pocong atau prajurit kalah perang. Dan kami sering tertawa sambil menyantapnya. Entah kenapa, hal yang dulu sering kuanggap lucu, sekarang membuatku sedih. Aku baru tahu belakangan resiko makanan instan itu.
Puasa, menjaga hati dan emosi
Menurut sabda Rasulallah, tujuan puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga tetapi juga menahan nafsu, menahan emosi, menjaga hati dan bersabar. Agar kita bisa mendekatkan diri kepada Tuhan secara lebih baik. Ini masih menurut tips soal puasa yang baik.
Tidak ada yang salah dengan artikel tips berpuasa itu. Mungkin memang begitu seharusnya. Meski tidak semua orang bisa mengatur pola dan menu makan dalam kecukupanannya, juga pola memilih jenis olah raga ringan yang tak membutuhkan energi berlebih seperti lari-lari kecil atau jalan kaki, dan bagaimana bersabar serta me-manage emosi.
Tapi, bagaimana buruh-buruh di pabrik itu memilihnya? Di lapangan produksi hawa memanas berasal dari dynamo ratusan mesin yang mengantung di sela lutut dan menempel di belakang punggung. Ditambah lampu neon panjang yang berderet di atas kepala, di bawah atap seng yang memuai karena matahari.
Panasnya suasana kerja, masih ditambah panasnya situasi karena teriakan-teriakan mandor sambil mememukul-mukulkan besi, tang, obeng atau apa saja untuk memecut anak buah. Sesama pekerja pun akhirnya saling bentakan-bentakan dan saling menekan karena sama-sama ketatukan dan terancam.
Sesuai sosialisasi hasil survey Kelompok Perempuan Peduli Buruh pada Kamis 11 Agustsu 2011, bahwa Kekerasan Terhadap Perempuan di Tempat Kerja salah satunya dipicu keadaan atau pengkondisian – akibat target yang dimaui perusahaan tidak mengukur kemapuan pekerja melainkan memang perusahaan mengambil order sebanyak-banyaknya. Pergantian jenis merk dan model yang diikuti perubahan semua komponen dan penyesuaian stelan pada mesin, jarum, ukuran sepatu, pola, warna dan lainnya membuat mereka harus berpacu,berebut dan saling sruduk. Ini belum termasuk pekera asing yang mestinya dilarang mengatur bagian kepersonaliaan, justru terjun langsung mengatur dan menujuk-nunjuk pekerja sambil teriak-teriak, membentak-bentak bahkan tak segan-segan memukul dan melempari benda-benda.
Masih soal hasil survey KPKB, bahwa pelecehan seksual serta kekerasan, baik psikis maupun fisik akan berpengaruh pada emosi, metabollisme tubuh dan tensi darah. Dan buruh mengalaminya, terganggu, gelisah. Perasaan yang menyiksa itu mengikutinya hingga mereka ke rumah.
Orang-orang yang bekerja dalam keadaan normal dan dihargai hak asasinya, barangkali akan selalu berhasil menjaga emosi. Orang-orang yang berkecukupan, tentu akan berhasil mengatur pola makan, memilih menu sehat dan jenis olah raga.
Tapi bagaimana jika kita hidup di lingkungan yang tak terhindarkan dipenuhi amarah?
Temanku bilang, dia banyak membaca istighfar dalam hati. Temanku yang lainnya lagi melafalkan sholawat nabi. Dan yang lain pula saat kutanya berkata, ” Biarkan saja mereka marah, kami yang waras yang mengalah.”
Untuk kesabaran, aku harus berguru pada mereka. Kesabaran tidak akan pernah punya makna sekalipun ia diucapkan Sang Kiai, sebelum ia dibenturkan pada kenyataan dan makna itu masih teruji. Barangkali puasaku masih sebatas menggeser pantat piring atau cangkir dari pagi ke sore hari, dari siang ke dini hari. Karena aku termasuk berkecukupan, dan tidak berada dalam kungkungan kekuasaan yang menindas secara fisik dan psikis. Rasa haus pun masih tertahan oleh ademnya pendingin ruangan.
Tapi tidak semua orang hidup dalam kondisi ”normal" dan bisa mengkonsumsi makanan sehat, bergaya hidup sehat, tinggal di lingkungan sehat.
Tapi, dari semua kebendaan dan kondisi yang sering tak terkendali dan tak dimiliki, iman-lah yang menguatkannya.
Puasa adalah perjalanan batin yang dilakukan karena Iman kepada-Nya. Ketakcukupan itu barangkali menjadikan nilai berbeda dari perjalanan serupa – ibarat dua kendaraan yang sama-sama melaju, meski ia dengan bahan bakar penuh, setengah, atau tidak sama sekali. Dan ia, sama-sama mencapi garis finish.
Puasa bukan soal mengatur pola makan terkait pindahnya jadwal bersantap guna menjaga fisik tetap sehat agar hati bisa khusuk. Karena khusuk lahir dari keimanan yang tetap teguh, tetap terpelihara, meski dalam keadaan papa. Di sinilah barangkali, keajaiban memilih tempatnya untuk bersemayam.
Mens sana in corpore sano? Tidak selalu. Tubuh yang sehat, juga berada di dalam jiwa yang kuat. Iman yang kuat.
Jakarta, 15 Agustus 2011, 04:15
Langganan:
Postingan (Atom)