Rabu, 28 September 2011

Independen Anti Klimaks

oleh fiqoh

Andreas Harsono: independen terkadang membuat kita menggigit jari tangan orang yang memberi kita makan. Dan aku melihat, betapa orang lebih memilih hengkang meninggalkan lingkungan kerja atau organisasi karena tak tahan dengan ketidakadilan.

Di mana sikap independen itu?

Menurut pendapat kebanyakan rekanku, lebih baik pergi kalau sudah tak bisa dibenahi. Dan tindakan kebanyakan, mereka memilih mundur, keluar kerja – memecat diri sendiri.

Lho, menzalimi diri sendiri saja berani. Tapi kenapa mencoba mengargumenkan dan mempertahankan prinsip yang benar kok takut? Memperjuangkan hak-hak keadilan takut?

Tindakan-tindakan di atas, gentle atau pengecut?

Entahlah. Tapi bahwa pola terbalik sudah terlanjur lekat dan memakan korban yang begitu banyak. Makanya, kalau pimpiman sudah nggak suka, segala kesalahan bisa dicari dan diada-ada. Bila perlu, intimidasi saja. Pasti pekerja akan keluar dengan sendirinya.

Mengingat perkataan Mas Andreas, ingat juga akan pepatah Inggris ini -- birds of the same feather flock together (burung yang sama bulunya akan hinggap bersama).

Bagaimana jika beda?

Independen itu tetap berdiri teguh, memegang prinsip, tetap jernih, meski di dalam air yang keruh.
Independen itu tak takut berbeda, meski segalanya menjadi tak leluasa.
Independen itu menjadi burung dengan bulunya sendiri, meski ia bertengger di antara burung yang berbeda bulu
Independen itu tidak menjadi ofortunis, meski lingkungan sudah berubah bengis

Independen…
Memang kadang menggigit jari tangan yang “memberi” makan
Karena isi kepala, batin, jiwa, tidak sama dengan isi perut!


Independen tanpa sikap, adalah independen yang antikilmaks.


Jakarta, 29 Sept 2011 pkl :07:45 (menuggu buka pintu kantor)

Tentang Pepatah Jawa

oleh fiqoh

Adoh nggondo kembang, cedak nggondo t-a-i.

Jika ingin tahu sisi lain tokoh yang “hebat”, jangan hanya melihatnya melalui statement dan layar televisi. Atau menemuinya di ruang seminar, meja kerja, tempat-tempat ibadah dan tempat-tempat formal. Di sana semuanya pasti baik.

Kita sering hanya mendongak ke atas, hanya mendengar omongan pakar dan tokoh. Padahal, kesaksian orang-orang kecil di sekitar tokoh seperti bawahan, sopir, tukang parkir, pembantu, tim kerja, dan tetangga jauh lebih berwarna. Bila perlu tanyalah sama seseorang yang sering menemaninya masuk kamar hotel… J

Ini tidak bermaksud untuk sinis, tapi hanya untuk menemukan keseimbangan informasi dari orang “hebat” atau tokoh yang mungkin selalu kita kagumi. Cover bothside bukan hanya beralih dari satu pihak ke pihak yang lain, tapi juga…dalam pribadi seseorang itu. Istilahnya, jika ia jadi tokoh masyarakat, jadilah tokoh bagi orang-orang terdekatnya juga.

Terkadang kebengisan, kekerdilan, kebijakannya yang tidak adil, justru terungkap melalui kesaksian yang diam, kesaksian orang-orang yang sekian lama kena getah dan sasaran amarah, dan membendung rasa muak menyaksikan ia punya polah tingkah.

Dalam ajaran jurnalisme – wawancara untuk menggali informasi. Tapi dalam realita, wawancara terkadang jadi peluang memanipulasi informasi. Di televisi, semua yang diberi ajang bicara, tentunya sudah pasang kuda-kuda untuk berkelit ini dan itu. Sehingga, penjahat di depan mata susah sekali ditangkapnya.

Semua tokoh berkata baik. Kebaikan kata-kata, menjadi kebalikan dari pepatah ini -- Rame ing gawe sepi ing pamrih.

Jkt, 28 Sept 2011



Kamis, 22 September 2011

Cermin

oleh fiqoh

Ada yang berkesimpulan bahasa adalah cermin kepribadian. Hingga apa yang tertata kita anggap itulah yang terbaik.

Tapi...

”Lo”, “Gue”, “Anjrit!” terkadang lebih lugas dan jujur – apa yang dikatakan, apa yang dilakukan. Yang selalu ditata, kadang bukan apa adanya, kadang ada rekayasa (contohnya saat aku menulis ini, hehe).

Makanya, kita sering mendapati pembicaraan dan kata-kata yang terlalu banyak menjadi tanpa makna. Salah satunya ya pidato-pidato pejabat gitu lho…kerjanya saling memuji dan memuja.

Dan di sekitarku, aku sering melihat dan sering membuktikan juga. Sebuah komitmen yang bahkan bertaruh nyawa hanya dibangun melalui toast dua telapak tangan dan ucapan, “Beres coy!”

Janji esok datang, dia datang. Berkata akan pergi, dia pergi. Mereka pergi.

Kita tak perlu terjebak pada aturan main berbahasa yang baik dan benar. Hingga tanpa disadari kita bagai hakim di luar pengadilan, menguliti pribadi-pribadi hanya karena kemasan yang tak rapi.

Sampai kapanpun, cermin hanya bisa memantulkan benda. Bukan pribadi, bukan jiwa. Cermin kepribadian bukan bahasa, tapi perbuatan.

Terlalu dangkal dan sembrono mengukur pribadi dari kata-kata. Karena banyak indikasi-indikasi yang lainnya. Dan bahasa bukan satu-satunya. Tentu ini terkait dengan apa yang kita sebut sebagai "kepribadian" yang identik dengan kebaikan. Untuk konteks ksuksesan, itu soal lain, dimana kiat-kiat dan berbabagai kecapakan sangat kita perlukan.

Makanya, belajar itu wajib... :)

(Tulisan ini terinspriasi oleh orang-orang yang selama ini kita anggap urakan, atau kita sebut preman -- freeman).

Jakarta, 22 Sept 2011

Selasa, 20 September 2011

Huhhh...!

Jalan Raya Bitung, Tangerang menjelang 00:00

Hampir tengah malam,sopir angkot hanya mengankut dua penumpang. Bertiga kami menyusuri jalan raya Cimone - Balaraja. Sopir nampak lelah fisik dan mencemaskan setoran. Aku melihatnya ia sering menghitung-hitung uang lembaran lusuh, menggelang, menerawang, dan menggumam.

Angkot tua rawan ngadat dan rem yang tak pakem.

Di depan, di bawah jembatan layang, sepeda motor melenggang di tengah jalan raya lintas cepat. Pengendaranya seorang bapak membawa anak kecil dan perempuan.

Motor hanya berjarak sekitar satu meter di depan angkot, di posisi tengah, di antara laju cepat kendaraan lain yang menyalip kagok dari kiri dan kanan. Supir angkot mengira motor akan menambah laju begitu mendengar klakson dan suara rem. Tapi berondongan klakson dari sopir angkot yang panik, injakan rem yang menimbulkan suara berdecit-decit, tak membuat motor itu menambah laju atau bergeser menepi.

Pengendara motor tetap bergeming – hanya menoleh, tetap di tengah, dan kembali melenggang santai dengan kaki lebih mengangkang.

Sopir angkot hanya diam. Tapi tenaga dikerahkan habis-habisan untuk mengerem dan menginjak kopling hingga mata cekungnya mendelik. Seluruh energi bagai tersedot dalam perjuangan menahan laju. Semua dilakukan dalam diam – mungkin sudah kehabisan energy untuk marah, atau memang dia bukan tipe gampang marah. Dan mulutku yang reflek mendamprat “nggak pake otak itu orang! Kalau mau jalan santai, di pinggir dong!!!”

Ahhh! Dalam kemangkelan, hatiku terus berbicara, bahkan berpidato di antara kesunyian tanpa pendengar.

Biinatang lebih peka terhadap suara atau bunyi-bunyian seperti dor, dug, atau gesrek dari langkah yang tertahan atau bayangan samar sosok yang mendendap-endap. Kenapa manusia malah tuli dan buta dari bunyi klakson yang memekakkan telinga dan bisa mencelakakannya???

Andai aku jadi istri yang nyemplak di boncengan itu, pasti nafsuku akan hilang di tempat tidur. Aku tak akan nyaman bercinta dengan lelaki yang telah bersifat sembrono dan arogan.Cinta itu bersyarat -- baik dibalas baik. lembut dibalas lembut, hormat dibalas hormat, dan tak setia disuruh ke LAUT.

Bukan artinya kita jadi tanpa prinsip, tapi ini bagian dari sangsi sosial antarmanusia dan bagaimana kecerdasan emosi berfungsi. Kita perlu punya sikap terhadap sesuatu, agar ajaran, hukum dan peraturan memang berjalan. Anggap saja kita berlatih mencicil proses "hari pembalasan" bahwa manusia tak bisa mengelak untuk menerima akibat atau imbalan sesuai amal perbuatan.

Banyak manusia celaka lebih karena ulahnya atau sering kita sebut human error. Tapi binatang tidak, kecuali dilukai oleh manusia. Karena binatang memiliki kejernihan untuk memelihara ketajaman instingnya, dengan menjaga karunia dan anugerah dari-Nya (berupa insting), tanpa menghalanginya dengan sifat keegoan atau sifat BE-LA-GU.

Intuisi, anugerah, wisik,feeling hingga ilham sejatinya bagai atmosfir yang berseliweran di sekeliling kita dalam udara yang kita hirup. Tapi semua bisa sirna karena kitalah yang menutupnya dengan berbagai kesombongan, keegoisan, KE-A-KU-AN.

Hingga anugerah itu sirna, bagai udara bersih yang dicemari polusi.

Tangerang, 19 September 2011

Selasa, 13 September 2011

Kebinatangan

oleh fiqoh

Manusia disebut makhluk ciptaan Allah yang paling mulia. Ah, masak?

Karena binatang lebih sering kita maknai sebagai makhluk yang dalam hidupnya hanya berorientasi pada keserakahan berburu makan, makhluk yang tak menggunakan akal budi, tak punya perasaan dan hanya dihinggapi syahwat.

Binatang tidak mengenal apa yang sering kita sebut kemanusiaan atau humanisme. Sedangkan manusia sangat lekat dengan istilah-istilah itu. Banyak dari kita rindu dijuluki sebagai orang yang humanis dan pemerhati kemanusiaan. Karena itu, untuk perilaku keji yang kita lakukan, kita enggan menggunakan istilah manusia.

Bahkan untuk kelalaian dan kesengajaan yang merugikan hidup khalayak, kita masih menyebutnya manusiawi untuk mewajarkan. Dan untuk kemuliaan perbuatan, kita akan memberi julukan humanis.

Apa bedanya humanis dan kemanusiaan?

Adalah manusiawi bila kita lalai dan berbuat keliru, meski kekeliruan itu terkadang sebuah kesalahan besar dan fatal. Adalah manusiawi jika kita berhak atas kebendaaan, berhak hidup mewah, meski untuk itu kita melakukan perburuan melampauai batas-batas norma. Perburuan yang dilakukan oleh manusia tidak hanya mengambil yang nampak dari alam, tapi juga menggali hingga ke dalam, menebang, mengeruk, mengeksplorasi dan mengekploitasi bumi. Perburuan manusia bahkan tidak sebatas untuk makan keluarga kecilnya hari itu, tapi juga mendepositkannya di bank-bank, dan menumpuknya di gudang-gudang untuk bekal tujuh turunan kadang lebih. Sedangkan binatang tidak.

Lebih dari itu, manusia juga berburu harta dan tahta. Manusia mengenal intrik, kepentingan komplotan dan berkonspirasi. Sedangkan binatang tidak.

Bagaimana nafsu syahwatnya?

Binatang bersenggama hanya pada periode tertentu untuk melakukan pembuahan. Contohnya ikan-ikan, kucing, gajah, kambing, burung, dan lainnya. Persenggamaan untuk beregenerasi, tidak untuk membuang-buang sperma di sembarang tempat. Maka tak asing lagi kita mengenal istilah musim kawin bagi binatang di sekitar kita – saat purnama penuh musimnya kucing kawin misalnya. Tapi manusia, kawin tak mengenal musim.

Gerombolan burung-burung camar menarik perhatian temanku minggu-minggu belakangan ini. Lebih dari 50 sarang mereka bergerandulan di pelapah-pelapah pohon palem yang menaungi kran air yang biasa kami ambil untuk keperluan memasak.

Tiap pagi saat aku dan temanku mengambil air, burung-burung itu sudah bercericit, terbang jauh dan kembali ke sarang membawa makanan. Mereka bangun lebih awal dariku, sekitar pukul 5:30.

Pohon palem yang menjulang di pelataran masjid di perumahan Taman Adiyasa Tangerang itu hampir didominasi oleh sarang mereka. Sekilas segalanya nampak biasa.

***
Dua minggu sudah kulalui sebagai warga baru di dalam masyarakat itu. Dua minggu tanpa absen mengantri air bersama para ibu-ibu dan bapak-bapak, juga pemuda-pemuda tanggung. Mareka datang dari berbagai blok perumahan itu. Dua minggu baru kusadari kertas-kertas yang menempel di berbagai tempat, berisi pengumuman dan himbauan, bahwa bagi warga yang ingin mengambil air untuk kepentingan pribadi agar mengambil sebelum dan sesudah jam-jam sholat -- subuh, dhuhur, ashar, magrib dan isya. Maksudnya agar kepentingan masyarakat yang ingin beribadah tetap terpenuhi. Dua minggu itu juga aku menyaksikan ada warga yang tak mengindahkan himbauan itu, termasuk diriku.

Di pagi yang masih petang, aku dan temanku Nur menjadi pengambil air yang datang paling awal. Selanjutnya dua bapak dan tiga anak menyusul ditambah ibu-ibu. Sambil mengantri Nur memandang sarang-sarang burung camar yang menjuntai-juntai di setiap pelapah pohon. Aku menghitungnya, satu pelapah ada 12 sarang. Dan pelapah lainnya dihuni rata-rata tiga sampai sembilan sarang..

“Kenapa burung-burung itu lebih suka membuat sarang di pelapah yang itu?” tanyakau pada Nur.

Nur memperhatikan sarang-sarang itu beberapa saat.

“Sepertinya, mereka lebih merasa nyaman dan aman di pelapah itu,” jawabnya tanpa melepaskan pandangannya ke atas.

“Alasannya?”

“Coba perhatikan. Pelapah itu tepat di atas pintu masjid. Otomatis, orang tidak akan mengusik karena di pintu utama ini orang sering lalu-lalang. Mungkin pikir burung, orang-orang juga akan menegur si pengusik sarang dengan berbagai alasan -- karena akan bikin kotor halaman dan mungkin yang lain akan melarang karena empati terhadap binatang-bintang itu.”

Kini aku lebih cermat mengamati pelapah yang menghadap ke luar pagar di atas jalanan lepas. Di sana hanya ada tiga sarang menempati puncak paling atas dan tertutup daun yang menekuk. Kuamati sarang-sarang lain, di pelapah yang lain, dan kecenderungannya hampir sama. Benar-benar perhitungan yang cantik dan cerdik. Sebuah naluri yang hidup dan peka.

Pada saat itu, tiba-tiba aku teringat berbagai kasus kecelakaan di jalan raya yang sering kusaksikan sendiri. Di suatu malam, seorang bapak dengan istri dan dua anaknya tergeletak mandi darah di dekat pembatas jalan di Tangerang. Di tempat terpisah seorang bapak dengan istri dan anaknya yang masih kecil meninggal di tempat dalam kecelakaan di perempatan lampu merah, karena motor yang dikemudikan oleh bapak-bapak itu tancap gas saat lampu rambu-rambu sedang menyelesaikan hitungan detik keenam puluh dari merah berganti hijau.

Kembali kulihat sarang burung camar. Kejelian binatang membidik pelapah yang aman untuk bersembunyi, saya yakini bukan sebuah kebetulan. Mereka menggunakan intuisi dan nalurinya. Naluri yang penuh perasaan, dan kasih. Peletakan sarang, rumput pilihan, pembuatan lobang pintu yang diatur sedemikian rupa, semua bertujuan agar keluarga kecilnya hidup nyaman dan aman. Tapi, kenapa manusia sering ceroboh saat membawa nyawa orang-orang yang katanya ia cintai?

Saat aku memikirkan itu, Nur bilang, manusia kalah dengan burung.

“Kenapa?” begitu tanyaku untuk iseng-iseng menyelidik.

“Burung-burung itu lebih tertib dan disiplin,” katanya sambil memandangku dengan tatapan mengejekku.

“Mereka pagi-pagi sudah bangun untuk mencari makan buat anak-anaknya. Mencari rumput-rumput pilihan untuk sarang. Tidak seperti...,” Nur tak melanjutkan kalimatnya dan lagi-lagi menatapku dengan penuh kemenangan saat aku merasa tersindir. Tawa kami pun berderai.

“Aku mengerti arah pembicaraanmu, kamu akan bilang tidak seperiku yang suka bangun kesiangan kan? Puasss…?” Jawabku berkelakar.

“Selain itu, banyak nilai-nilai pada binatang itu yang tak dimiliki kebanyakan manusia. Sebelum punya anak, burung-burung berpikir mempunyai rumah. Sedang manusia, sudah punya anak banyak tapi tak berpikir bikin rumah. Ada yang keenakan numpang di tempat mertua, dan bahkan malas bekerja.”

“Betul,” kataku.

“Manusia tidak konsisten terhadap kemanusiaannya. Betapa banyak dari kita yang terus melemparkan perilaku buruknya dengan menggunakan istilah “kebinatangan”? Tapi Binatang tetap konsisten akan kebinatangannya. Tidak ada binatang yang memakai istilah “kemanusiaan” untuk menghindar dari perilakunya bukan?”

“Betul juga.”

Berantem tetangga kost di Jakarta kembali terngiang. Suara gaduh karena percekcokan, benturan tubuh ke dinding disertai jeritan yang menyayat, gemerincing pecahan cermin dan piring yang dilempar, juga makian satu sama lain yang bersahutan-sahuatan.

Sang suami selingkuh dan lama tak pulang. Menelantarkan istri dan anak-anak. Si istri dan anaknya berhari-hari dirundung kesengsaraan, makan dari pemberian tetangga, kadang juga makan dari hasil menjual jasa mencuci dan menyetrika. Suaminya kasar dan suka memukul, menonjok, menendang. Sang istri yang depresi sering melampiaskan kemarahan pada anaknya.

Untuk semua perilaku keji yang tak terperi, perilaku yang melukai hati dan perasaan, penganiayaan itu, para tetangga menyebut sifat suaminya benar-benar seperti binatang!

Tadinya aku turut membenarkan ungkapan itu. Tapi burung-burung dan percakapanku dengan Nur membuatku harus berpikir ulang. Kenapa di saat manusia berbuat kesalahan mereka akan menyebut itu manusiawi. Dan jika manusia berbuat kebaikan kita akan menyematkan predikat humanis – sangat mulia, luhur, agung.

Apa sejatinya hakekat kemanusiaan dan kebinatangan? Ketika, manusia gagal menjadi humanis kita timpakan perilaku buruk itu pada binatang?

Beranikah kita menciptakan sebuah ungkapan yang berasal dari kata dasar manusia, untuk menggambarkan titik balik dari apa yang kita sebut mulia?

Semakin nampak betapa manusia memang licik. Meminjam istilah kebinatangan, agar manusia tetap bisa menyandang makhluk paling sempurna dan mulia dari makhluk lainnya. Padahal mulia dan sempurna adalah soal akhlak, bukan soal bentuk tubuh dan rupa kita dari binatang-binatang itu.

Jakarta, 13 September 2011 pkl 05:30

Senin, 22 Agustus 2011

Tuhan dan Kesendirian Kita

oleh fiqoh

Serpihan surga dan neraka baru saya rapikan dari keterserakan, sejak kedatangan Musdah Mulia beberapa waktu lalu, dimana pandangannya soal agama dan surga berbeda dari yang selama ini saya dengar dan hayati dari guru-guru ngaji.

Kemarin pagi, Andreas Harsono berkirim sms, mengusulkan Luthfi Assyaukanie untuk berbicara di Pantau, tentang buku “Ideologi Islam dan Utopia” bermutu. Menurutnya, dia bisa banyak memperkaya diskusi. Andreas menyarankan sebaiknya buku dibaca lebih dulu. Maka siang ini saya mencari tentangnya di internet.

Dari sekian banyak artikel yang ditulis olehnya, saya baru sempat mengambil satu, tentang shalat, fikih dan tasawuf.

Disiplin fikih menurut Luthfi, banyak membantu kita memahami kegiatan-kegiatan dan urusan-urusan keagamaan yang kompleks. Berbagai peristiwa keagamaan yang memiliki intensitas dan sifat berbeda-beda dikelompokkan menjadi katagori-katagori tertentu. Ada yang wajib, ada yang sunnah, ada yang haram, ada yang halal, dan seterusnya. Sebagai sebuah upaya penyederhanaan, fikih sangat berguna.

Sedangkan shalat, bukanlah urusan fikih semata. Sebagai sebuah aktivitas ubudiyah, shalat tak ada kaitannya dengan fikih. Ia lebih dekat dengan tasawuf yang lebih menekankan dimensi spiritual atau dimensi esoteric manusia. Inti daripada shalat adalah bukan bilangan (menjadi dua, tiga, atau empat rakaat), dan bukan pula waktu (menjadi subuh, zuhur, asar, dan seterusnya). Shalat seseorang yang selalu memperhitungkan bilangan, seperti dikatakan Nabi, adalah shalatnya seorang pedagang.

Terkahir, dalam artikelnya yang ditulis pada 4 Juli 2004 itu, Luthfi mengutip Muhammad Iqbal -- sufi yang juga seorang penyair, pernah menulis sebuah artikel berjudul "Konsep tentang Tuhan dan Makna Shalat" (The Conception of God and the Meaning of Prayer). Artikel yang kemudian menjadi salah satu bab karya agungnya, Reconstruction of Religious Thought in Islam, merupakan penjelasan paling genuine terhadap fungsi dan makna shalat.

Bagi Iqbal, shalat pada dasarnya merupakan "alat bantu" (agency) bagi manusia untuk merefleksikan kesadarannya akan keberadaan Tuhan. Sebagai sebuah alat bantu, shalat memiliki keterbatasan- keterbatasan. Setiap orang, kata Iqbal, mendapatkan efek kesadaran yang berbeda-beda dari shalat yang dijalankannya. Yang paling bagus adalah orang yang mampu menciptakan alat bantu itu pada dirinya sendiri, sehingga ia selalu berada dalam ruang kesadaran di mana Tuhan tak perlu lagi dipancing untuk selalu hadir.

Kali ini, saya tercerahkan. Rasanya jadi tak ingin mengikatkan diri pada yang rutin, yang serba dihitung dan dijumlah. Apalagi ditambah pertanyaan dari seseorang yang dikutip dalam tulisan itu – sebenarnya shalat itu wajib nggak sih? Boleh nggak saya menjamak shalat sesuka hati saya, maksudnya tanpa ada alasan bepergian (safar) atau hujan (mathar)?

Wow, ringan sekali. Ternyata Islam itu sungguh meringankan!

***

“…. Lho, memangnya shalatmu kau jadikan beban?” kata suara dari dalam hati bagai mengejek.

“Oh, bukan itu maksudnya,” ruang hati saya yang lain menjawab tergagap, karena ternyata interpretasi saya yang terburu-buru itu justru menimbulkan perang batin. Ada benturan yang rasional dan yang tak rasional.

Yang tak rasional itu, cukup lama kehilangan suara, tapi ia terus bergema.

Kemudian, dalam peperangan itu, yang tak rasional kok malah lebih dominan. Saya mengingat tentang buku The Secret pemberian seorang teman. Ia menggambarkan bagaimana sebuah kedahsyatan terjadi hanya dengan kekuatan pikiran dan meyakininya. Kedahsyatan itu tak mengenal dimensi ruang dan waktu, dan saya menyebutnya wahyu. Setiap orang berhak mendapatakannya, tergantung kadar kepercayaan yang dimiliki. Dalam buku yang ditulis orang barat itu, kekuatan yang Maha Dahsyat bisa disebut angel, jin, dan apapun. Dan dalam Islam ia disebut Iman, iman kepada Allah, seperti kata guru mengaji saya dulu: Gusti Allah itu tergantung prasangka manusia.

The Secret dan Shalat Berjamaah

Tulisan Luthfi tentang makna shalat kemudian saya renungkan. Dan memang benar, bahwa ibadah itu tak perlu berhitung. Karena ilmu menghitung dan mengukur adalah ilmu yang biasa digunakan manusia, untuk berhubungan dengan manusia juga. Berkomunikasi dengan Tuhan hal itu harus ditanggalkan, agar konsentrasi kita tidak untuk menjumlah tapi ya berkomunikasi. Lagian, jangankan sama Tuhan, berkomunikasi dengan manusia pun, kita harus menunjukkan sikap yang santun dan sungguh-sungguh -- dengan hati, pikiran, tatapan, gestur (alias tidak sambil terima telpon, sms-an, membaca majalah,dll).

Tapi hitungan itu tentu bukan soal rakaat atau mengganti hitungan (dua, tiga, atau empat rakaat dalam shalat) menjadi sesuka masing-masing orang hingga keserasian rukuk dan sujud di sebuah masjid kehilangan harmonisasi dalam kebersamaan. Dan tidak mengubah waktu (subuh, dhuhur, asar, dan seterusnya) menjadi waktu yang membuat kita tak mengenal disiplin, lalu masuk dalam ranah individualis.

Jika shalat merupakan alat bantu merefleksikan kesadaran tentang keberadaan Tuhan, maka sebuah hitungan menjadi ukuran setidak-tidaknya, atau menjadi standar paling minimal. Dengan yang minimal itu, saya merasa belum mendapatkan efek kesadaran tentang keilahian dari shalat yang saya jalankan. Karena dengan yang minimal itupun, kadang saya merasa berat. Bagaimana kalau standar itu dihilangkan sama sekali alias tidak diwajibkan?

Orang tua, sangat paham bahwa anak-anak belum berkesadaran untuk belajar sendiri tanpa diperintah, diingatkan, dan merasa diawasi. Maka orang tua selalu mematok jam belajar untuk melatih disiplin itu. Bagi anak itu terasa sebuah siksaan dan memberatkan. Yang wajib memang selalu terasa berat, meski hasilnya untuk kita juga. Dan nyatanya, kita banyak melihat bahwa keberhasilan, keahlian, kepiawaian, semua berawal dari pelajaran-pelajaran yang baku, aturan-aturan, dan disilpin yang diwajibkan. Seperti pepatah, bahwa keahlian adalah sebuah pekerjaan yang dibiasakan. Ia bisa soal menyetir, menulis, berpidato, dll.

Dalam shalat memang tidak bisa disamakan sebagai kata kerja di atas. Saya setuju dengan tulisan Luthfi maupun Muhammad Iqbal itu -- shalat memang lebih menekankan dimensi spiritual hubungan manusia dengan Tuhannya; shalat pada dasarnya merupakan "alat bantu" (agency) bagi manusia untuk merefleksikan kesadarannya akan keberadaan Tuhan. Dan yang paling bagus adalah orang yang mampu menciptakan alat bantu itu pada dirinya sendiri, sehingga ia selalu berada dalam ruang kesadaran di mana Tuhan tak perlu lagi dipancing untuk selalu hadir.

Tapi, buat saya tetap perlu dibedakan tentang yang wajib, yang sunah, termasuk kenapa kita disarankan untuk berjamaah. Yang wajib membuat kita terbiasa meski ala dipaksa, seperti kedisiplinan menyetir, menulis, yang awalnya berangkat dari seperangkat teori, melihat kiri dan kanan, melihat sekitar, hingga semua teori itu tanggal karena ia sudah menyatu dengan diri kita, hati kita. Begitu juga, dalam menjalani dan menghayati perjalanan keilahian kita.

Kenapa ada shalat wajib dan kenapa ada aturan berjamaah?

Mungkin, supaya shalat kita tidak menjadikan kita sebagai makhluk individualis demi Tuhan kita. Ketuhanan selalu ada dan bersemayam bersama kita di saat kita mampu mengelola hubungan ukhuwah dengan sesama, membaur, tanpa membeda-bedakan status sosial, salah satunya lewat kebersamaan dalam shalat berjamaah itu. Dalam hidup, dalam pekerjaan, profesi, jabatan, kelas pergaulan, semuanya sudah menjadi sekat untuk tidak bisa saling menghargai. Berjamaah, menjadi pengingat untuk melatih kepekaan kemanusiaan kita. Kita mungkin tak bisa selalu bersama-sama di meja makan, di satu ruang yang berjarak, atau di meja transaksi bisnis yang bukan jadi dunia kita. Tapi pada waktu dan jam tertentu kita bisa melebur bersama di mushola-mushola atau masjid-masjid. Di sana tidak ada istilah siapa anak buah dan siapa atasan, siapa yang kaya dan siapa yang miskin. Kita disadarkan untuk kembali menjadi manusia, yang di mata Allah adalah sama, kecuali amal perbuatan yang menjadi pembeda. Berkesadaran tentang Tuhan, harus dimulai dari berkesadaran tentang hal itu.

Saya kira itulah kenapa orang Islam wajib menjalankan Isya, Subuh, Lohor (dhuhur), Ashar, Maghrib: I-S-L-A-M. Jika di dalam buku The The Secret yang banyak digandrungi khalayak itu mengisyaratkan, bahwa satu keyakinan yang diimani oleh seseorang mampu menggerakan hukum semesta bekerja untuk mewujudkannya, sekarang bayangkan, bagaimana dengan satu keyakinan, satu keimanan, satu kesamaan doa, dan satu pengharapan yang dipanjatkan oleh ribuan, bahkan jutaan manusia di saat yang sama di seluruh dunia?

Saya semakin mengagumi bahwa yang disebut wajib adalah bukan untuk-Nya, tapi untuk-nya – hambanya. Yaitu kita.

Seperti kata-kata bijak Mahatma Ghandi, sendirian, tak akan bisa menemukan Tuhan. Dan seperti penggambaran guru mengaji saya, shalat punya nilai satu, sedangkan ibadah yang lain nilainya nol. Untuk menjadi bernilai dan bermakna, kita harus menggabungkan keduanya.

Jakarta, 22 Agustus 2011

Jumat, 19 Agustus 2011

Agama dan Keberadaban

oleh fiqoh

Selalu menarik untuk mengulas pernyataan-pernyataan Musdah Mulia. Misalnya tentang ini --untuk apa beragama kalau tidak beradab?

Karena baginya, seharusnya agama membuat orang menjadi lebih manusiawai dan beradab. Saya setuju dengan ini. Juga setuju dengan kegelisahan Musdah, yang menyayangkan bahwa agama tidak menyelesaikan persoalan mendasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tapi bagaimana jika yang terjadi sebaliknya – ada orang yang sangat beradab tapi tidak beragama? Tidak berketuhanan (atheis) misalnya? Apakah kita yang beragama harus mempersoalkan juga dan menganggapnya tak berguna?

Buat saya, segala sesuatu yang menyangkut Iman atau keyakinan seseorang dengan tuhannya atau dengan apapun, biarlah menjadi ranah setiap individu itu untuk meyakininya, menghayatinya, menjalankannya. Karena pada akhirnya, baik nanti atau sekarang, setiap orang harus mempertanggungjawabkan amal dan perbuatannya.

Kita tidak bisa memberi pilihan hitam putih, agar orang membuat keputusan memilih beradab saja, atau beragama saja, atau harus melakukan keduanya. Hidup adalah sebuah proses pergulatan banyak hal dan dimensi, pertarungan batin dan kepentingan-kepentingan. Karenanya, kita perlu terus belajar, baik dari ajaran agama, peraturan, hukum, pengetahuan umum dan lain-lain. Dan itu bukan hanya tanggungjawab agama atau orang yang beragama, tapi juga negara dan seluruh masyarakat.

Untuk mengatur agar manusia lebih beradab, selain dari agama, juga dari pancasila dan undang-undang dasar 1945 sebagai dasar, falsafah dan ideology berbangsa bernegara. Lalu masih ada pendidikan moral pancasila, ada peraturan pemerintah, hukum perdata, pidana, KDRT dan sebagainya.

Tapi lagi-lagi…jangankan mendalami ajaran Al-quran yang berbahasa arab, sedangkan pancasila yang ditulis dalam bahasa Indonesia pun kita tidak memahami maknanya bukan? Dalam hubungan sosial, sikap yang beradab menjadi kesepakatan umum.

Musdah bilang bahwa agama adalah interpretasi. Dan semakin banyak interpretasi membuat wawasan orang makin luas, tidak terombang-ambing karena mengetahui banyak pendapat, dan orang bisa memilih pendapat mana saja sepanjang tak merugikan orang lain.

Menurut saya, jika agama adalah interpretasi, lalu apa gunanya Al-quran sebagai tuntunan?

Lembaga, serikat, dan kantor-kantor pun punya peraturan organisasi dan SOP untuk mengatur tata-tertib, kedisiplinan dan tanggungjawab setiap pegawai.Bagimana jika semua pegawai melakukan pekerjaan dengan pendapatnya masing-masing? Mungkin akan kacau, meski pendapat tetap diperlukan dalam ranah yang berbeda. Masih soal agama adalah interpretasi, bagaimana, jika Indonesia yang dihuni dengan berbagai latar belakang pendidikan dan status sosial ini, menggunakan berbagai pendapatnya dalam beragama? Barangkali, soal arah kiblat pun sudah akan menghasilkan benturan horisontal justru.

Menurut Musdah, persoalan mendasar yang dihadapi dalam kehidupan orang beragama di Indonesia adalah menegakkan pluralisme, demokrasi, dan humanisme. Ini saya sepakat. Dan solusi harus dicari bersama-sama oleh seluruh komponen bangsa, terutama para pemimpin untuk tidak korup mementingkan diri sendiri dan inkonsistensi dari cita-cita kemerdekaan. Sedangkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) hanya selalu bicara surga dan neraka dengan definisi maskulinitas – surga itu penuh bidadari dan kolam susu, memang sungguh disayangkan. Kok bisa?

Sedangkan orang-orang di kampung yang lugu, dan mereka yang berpendidikan rendah pun (setidaknya di kampung saya), tidak pernah saya dengar dari ucapan mereka memaknainya begitu. Surga dan neraka sama sekali tidak dimaknai sebagai suasana yang bernuansa gairah badaniah. Karena begitu kita mati, lepas sudah segala kebutuhan bioligis kita. Surga dan neraka adalah imbalan atau sangsi atas amal perbuatan.

Setidaknya, surga dan neraka telah mengilhami orang-orang yang lugu itu, untuk memiliki roso kamanungsan dan tepo seliro. Apa salahnya kalau mereka tidak berbuat jahat karena takut kualat dan takut neraka? Dan berlaku baik karena mengharap pahala atau biar masuk surga?

Bagaimana dengan kita, yang mungkin berbuat baik karena demi program, proyek, sponsor? Atau, karena pamrih agar dipuji, disayang mertua, pacar, atasan, dll? Begitu juga dengan alasan untuk takut -- koruptor sembunyi-sembunyi karena takut KPK, takut polisi, aktivis anti korupsi, wartawan, dll?

Kita tahu bahwa setiap perbuatan yang kita lakukan selalu multi motivasi. Tapi kebaikan tetaplah bermanfaat sebagai kebaikan. Termasuk, kebaikan yang dilakukan oleh orang-orang lugu yang takut neraka itu. Mereka berpikir surga dan neraka dengan keimanannya. Dan tanpa banyak bicara, mereka terapkan dalam hidup keseharian. Salahkah?

Musdah bisa bilang agar kita berhenti berbicara sorga dan neraka meski itu ada dalam kitab-kitab suci. Kitab yang menurutnya dibangun atau diturunkan ketika masyarakat belum semodern seperti sekarang. Jika ia sekarang menganggap itu tidak penting, mungkin benar baginya.

Tapi, belum tentu bagi orang-orang lugu itu. Karena kadar keimanan tidak selalu sama, meski satu agama sekalipun.

Jakarta, 19 Agustus 2011 (tanggapan untuk artikel tentang Musdah Mulia: Agama Itu Bukan Candu)