Rabu, 21 Maret 2012

Putih

Puisi

Tahun ini akan berakhir, bersama udara dingin yang terasa menusuk
Malam tadi, tubuh kita menyatu dalam bisu
Kita seperti gelas anggur yang telah lama mengkristal

Tahun ini akan segera berakhir, saat aku mencatat sebuah tanggal
Bersama udara siang yang gersang membalut debu
Mengantar tubuhku yang tersuruk

Setahun lamanya, aku bagai seorang pertapa
Yang berdiam, menunggu kau datang, melihat kau pergi
Hingga pagi ini, ketika malam mengakhiri perjalanan
Aku terjaga dari mimpi, di penghabisan malam tanpa mata terpejam

Setahun yang putih, tanpa warna yang lain
Ketika pagi tadi, semua sudah berlalu
Ketika waktu jauh meninggalkanku
Dan aku tetap di sini

Adiyasa, 10 Desember 2011 (fiqoh)

Mengalir

oleh fiqoh

Ia tidak dari ketinggian menuju tempat yang rendah, tapi dari bawah memancar ke atas.

Sering aku mendengar kata-kata seperti, Jalani saja, atau Biarlah semua berjalan sebagaimana adanya, atau Biarlah semuanya mengalir.

Apakah Anda juga pernah mendengar kata-kata seperti itu?

Sekilas terdengar puitis. Sekilas terdengar romantis, apalagi ditambah rangkulan lengan di bahu kita dari kekasih atau sahabat. Ia seperti mengajarkan sebuah kepasarahan yang baik, dari jiwa yang qona’ah. Tapi selebihnya memberi kebingungan, karena masalah tak beranjak dari tempatnya.

Harus bagaimana menuju jalan keluar?

Dalam ketersesatan arah, jalan keluar tidak bisa datang dengan sendirinya jika membiarkan semua berjalan apa adanya. Apalagi membiarkan mengalir begitu saja. Karena dalam hidup, teramat banyak arah meski kita hanya perlu menuju sesuatu.

Konon sebuah sungai terbentuk secara alami, dan dalam prosesnya ia menerjang apa saja yang dilewatinya. Bahkan tak jarang menelan korban jiwa. Curahan air dari pegunungan yang terkadang liar bahkan membelah ladang-ladang dan sawah. Mleber ke mana-mana, padahal ia lebih diperlukan untuk mengaliri sawah-sawah. Akhirnya manusia mulai menggagas pembuatan irigasi, situ, waduk, bendungan dan sebainya. Tinggi rendah, lebar dan sempitnya serba diperhitungkan, agar tekanan dan arus bisa diselaraskan. Jika posisinya rata maka ia akan seperti kolam atau bak mandi. Bagai hidup yang stagnan atau...bagai nada yang sumbang.

Seperti sungai mengalir menuju muara, manusia selalu berbuat sesuatu demi asa. Dan mereka yang sukses adalah mereka yang berupaya.

Tapi, selain banyak jalan menuju roma, banyak juga kendala yang menjadi penghambat. Sebuah kelalaian bisa mengakibatkan sebuah situ jebol. Atau sebuah bendungan rekah. Sungai-sungai dan got yang yang tak terurus bisa menyebabkan banjir dan membawa dampak kerugian. Harga sebuah kelaian selalu mahal. Itulah aliran yang tak teratur atau tidak diatur. Dalam arti, dibiarkan mengalir sebagaimana adanya.

Masihkah, kita akan selalu berpedoman membiarkan segalanya mengalir apa adanya?

Orang bekerja bakti agar got di sekeliling rumah tidak tersumbat sampah. Petani mengatur aliran irigasi ke saluran-saluran kecil menuju sawahnya supaya rumpun padi mereka bersemi.

Dalam hidup, kita tidak bisa membirkan segalanya mengalir begitu saja. Melainkan harus ada keinginan, harus kita upayakan. Seperti yang Allah firman-kan, bahwa Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang mengubahnya.

Mengalir bukanlah sebuah proses yang kita biarkan begitu saja. Seperti halnya kesuksesan hidup, ia adalah rentetan panjang penuh perjuangan. Di sana ada kerja-kerja, ada kreatifitas, ada upaya yang lebih, ilmu yang terus dikembangkan, skil yang terus ditingkatkan, dan sebagainya.

Air yang mengalir secara asal, pasti akan selalu menuju titik paling rendah. Tapi manusia yang menggunakan akal, bahkan bisa membuatnya memancar dari bawah menuju ketingian. Seperti kita saksikan, air mancur yang menyejukkan ruang-ruang publik, yang lahir dari tangan kreatif dan memiliki jiwa seni.

Mengalir adalah kreatif, yang diupayakan karena kemauan yang cerdas. Bukan kemalasan yang diperhalus dalam kata pasrah.


Jakarta, 20 Maret 2012

Rabu, 21 Desember 2011

Pendatang di Kehidupan Malam

Gadis mungil berbadan kecil, dengan T. Shirt tetoron bendera amrik
Celana loreng pudar pendek, menyembulkan pangkal paha dari ujungnya
Ia menerobos kawasan belanja, meninggalkan tubuhnya, pada tatap setiap mata

Tenggelam di kawasan Mall Citra Raya, yang tak lagi bangga dengan budayanya
Yang lokal telah berganti global
Warung-warung tradisional, diganti kafe-kafe megah, mewakili tangan penjajah

Sepatu beludru berbahan kaku, diseret kasar oleh ukuran kaki yang longgar
Dia berjalan, terus berjalan, menyerahkan tubuhnya dalam ganasnya malam
Dia menunggu, untuk sebuah peruntungan, dengan segala kemungkinan

Malam itu, dunia kegelapan mencatat pendatang baru

Tangerang, 11 Desember 2011

Minggu, 11 Desember 2011

Sebuah Sore

oleh fiqoh

Pagi

06:25 rata-rata, kereta membawaku bersama ratusan penumpang. Geliat matahari sering terlewat, kornea mata sering diberati kelopak.

Sore

18:00 hampir bisa dipastikan. Rangkaian gerbong akan meliuk-liuk di atas dua besi berliku, di tikungan itu. Kudekatkan wajahku ke kaca jendela. Gerbong bagian belakang menjulur bagai ular raksasa.

Ketika roda-roda tak terlihat caranya bekerja, kereta seakan mengambang di udara. Kusandarkan kepalaku setengah merebah. Dan aku mulai menikmati awan cantik yang menari, mengejar kereta yang pergi. Sore itu awan melukiskan warna-warna cerah, putih salju, biru, jingga, membentuk pulau-pulau mengepung danau.

Kabut mulai menyembul lembut, berarak, dan memudar di dekat jalur lintasan. Jalan setapak terlihat putih di antara barisan rumput yang berdiri di tepi. Dari jauh terlihat seperti belahan rambut di kepala.

Kereta terus melaju, membelah angin yang tak henti menghempas celah kaca. Sinar hijau di balik bulatan lampu kereta bagai kerlingan indah di alam yang mulai temaram. Di kiri kanan pepohonan mulai terlihat kehitaman, menyuguhkan kecantikannya yang megah. Ada deretan mahoni, sono keling, sengon, diselingi tanaman palawija petani. Lalu ada beberapa rumah penduduk berpagar bambo, kayu, yang diapit kebun sayur dan sawah-sawah.

Bumi membentang dalam keasliannya yang alami. Pohon-pohon besar yang mulai menguning, bagai lambang kesetiaan yang siap berkorban setiap saat menggantikan pilar rumah yang lapuk. Dan kebun itu, menjadi sumber kehidupan keseharian. Ah, yang terakhir...sawah itu. Hamparan lumpur halus yang sangat luas dan tiada putus-putusnya, hingga jam di tanganku sudah 20 menit menghitung waktu.

Luas yang menentramkan, tak seperti gang-gang janalan Ibu Kota yang kerap menjadi ajang perebutan dan sengketa. Dan entah kenapa, emosiku tertanam di sana. Sebuah keterikatan, bahkan ketergantungan, pada benih yang ditabur, dan hasil yang dituai -- nasi yang kubtuhkan setiap hari.

***

Awan yang indah kini sudah jauh terlewat. Berganti semburat layung memancarakan warna merah saga. Pohon-pohon padi yang tumbuh subur, bagai perempuan-perempuan dewasa yang tengah mempersiapkan kelahiran. Kebun-kebun sayur di pematang, mulai terlihat seperti gundukan-gundukan lunak, bagai gadis-gadis desa yang berkemas menyambut petang.

18:27, hampir selalu. Roda kereta mulai menyentak-nyentak, mengguncang yang tertidur. Di stasiun itu aku mengakhiri perjalananku. Hari ini, hari ke 99 sejak kutempuh rute yang sama, menuju tempat yang sama, berangkat dari rumah yang sama, pada jam-jam yang sama.

Apakah ini sebuah rutinitas? Jawabku, bukan.

Karena rutinitas bagai sebuah kepastian, yang statis, yang seakan tidak mengalami pasang surut, dan berada di luar segala kemungkinan.

Padahal kemungkinan adalah keniscayaan abadi, yang hari ini masih bermurah hati memberi kesempatan, tapi esok belum tentu.

Sore itu anugerah yang indah, karenanya masih bisa kulakukan ini semua.

Terima kasihku pada-Mu, untuk sebuah sore-Mu.


Adiyasa, 7 Desember 2011

Kamis, 08 Desember 2011

Rutinitas Yang Tak Biasa

oleh fiqoh

Sering aku menganggap, segala sesuatu yang kulakukan secara rutin setiap hari sebagai rutinitas. Berangkat ke kantor, duduk di depan komputer, melakukan pekerjaan marketing, dan kembali pulang di jam-jam yang sama.

Kegiatan itu memang selalu sama, persis seperti ketika aku berdiri di sebuah titik menunggu kereta. Juga, seperti sembahyang yang dilakukan pada jam-jam sama, dengan hitungan sama.

Rutinitas kumaknai sebagai sesuatu yang menjadi kebiasaan, dan karenanya menjadi sesuatu yang biasa. Tapi, sembahyangku siang ini mengubah pemikiranku sendiri, karena ia tidak biasa -- intonasi yang kurasakan berbeda, tingkat konsentrasi yang berbeda, juga niat di hati yang kadang tebal kadang tipis.

Biasa (kutandai tebal), karena menurutku ia sangat kompleks. Sembahyang lima waktu, mungkin akan bisa menumbuhkan kadar keimanan, tapi kadang juga tidak, selalu berbeda dari waktu ke waktu. Meski dalam kasat mata segalanya tampak biasa -- sembahyang yang tetap kutunaikan.

Biasa itu bagai stabil. Seakan-akan, segalanya berjalan dengan sendirinya bersama gerak tubuh kita saat menuju sesuatu, baik tempat maupun pekerjaan yang sama. Seakan-akan, segalanya pasti berjalan sesuai perkiraan, hasilnya sesuai perhitungan, tidak ada naik turun. Ia bagai sebuah ketetapan, seperti lambang yang diselempangkan, dikalungkan, atau dikenakan di kepala.

Padahal, apa yang kuanggap biasa, sejatinya selalu butuh upaya-upaya yang selalu berbeda, selalu lain, dan perlu adanya kesadaran soal itu. Mungkin orang hanya melihat bahwa kita selalu ada pada pintu masuk stasiun sebelum jam keberangkatan kereta, tapi orang tidak tahu bagaimana pergulatan kita pagi ini. Ada anak, istri, atau suami yang sedang sakit yang harus kita tinggalkan karena tugas, karena deadline, dsb. Semua akan mempengaruhi emosi, mood, bahkan kadar keimanan.

Hidup selalu dinamis, seperti halnya dunia yang terus berkembang. Kadang kita dituntut menaiki tingkat berikutnya, atau kadang turun dari tingkat sebelumnya.

Tapi, di luar semua itu, aku hanya ingin menyadarkan diri sendiri bahwa dari segala yang nampaknya bisa dikendalikan dan dianggap biasa, ada sesuatu yang secara niscaya tidak bisa kita sebut biasa.

Sesuatu itu adalah sang waktu...yang penuh dengan segala kemungkinan. Mungkin hari ini kita masih tenggelam dalam rutinitas itu, mungkin besok tidak lagi.

Selagi jiwa ini hidup, segalanya tak bisa disederhanakan sebagai perjalanan yang biasa. Rutinitas yang kita kerjakan hari ini, adalah karena adanya kesempatan yang masih diberikan oleh-Nya. Tuhan. Dimana aku sendiri sering lupa mensyukuri.

Padahal ia begitu berwarna.


Adiyasa, 8 Desember 2011

Rabu, 16 November 2011

Menggapai Pelangi

Kau sebut luka ini warna pelangi
Dan aku butuh waktu memikirkan itu
Pelangi yang indah dengan tujuh warna
Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu

Kubayangkan andai warna itu tak menyatu
Kuning yang gersang
Merah penuh bara
Atau hijau saja...dimana kehidupan tanpa dinamika

Untuk memiliki keindahan pelangi, aku perlu merengkuh seluruhnya
Bahkan, jika ada warna yang lain.

Adiyasa, 16 November 2011 pkl 21:00

Minggu, 06 November 2011

Duafa Tanpa Data

oleh fiqoh

Pagi yang redup, di sebuah hamparan rumput tak jauh dari persawahan penduduk. Berbondong-bondong para Ibu menuntun anak-anak kecil, dan membawa bayi dalam gendongannya.

Mereka menyaksikan, ketika hewan-hewan mulai didekatkan pada bilah-bilah parang. Gress. Darah mengucuri bumi. Tangan para pemuda dan bapak-papak dengan gesit segera menyeset dan memotong-motong dagingnya sesuai jumlah yang tertera di daftar nama. Tapi bukan mereka.

Tahun ini, diperkirakan angka pengangguran di Indonesia berjumlah 8,12 juta jiwa. Itu belum termasuk semi pengangguran. Minggu lalu, daftar penerima daging qurban telah didata beberapa hari sebelum momen Idul Adha 1432H, yang tiba pada 6 November 2011.

Kaum duafa memang selalu berada di wilayah paling pinggir, sebagaimana kemiskinan di masyarakat kita, yang mengepung luas di pinggir arena para elit berpesta pora. Tak sepenuhnya kemiskinan bisa dideteksi dan direduksi melalui angka. Tapi setidaknya, sebuah kondisi selalu memberi suatu indikasi. Dan para penghuni komlplek perumahan kelas menengah, setidaknya lebih mampu dibanding para pendatang yang kumal-kumal itu.

Hari Raya Qurban, menghadirkan semangat berkorban dan semangat mencintai dalam ketakwaan. Sebagaimana dilakukan Nabi Ibrahim, yang sanggup untuk mengerat leher putranya dengan tajamnya pedang.

Kecintaan dan ketakwaan Nabi Ibrahim dengan cara itu, adalah salah satu bantuk, yang terjadi di masa itu, dengan ilham tertentu.

Kini kita mengambil nilai, dari satu peristiwa dalam peristiwa yang berbeda, ilham yang berbeda. Nilai kesadaran untuk mengorbankan dan mempersembahkan dalam semangat cinta -- yang kaya berkorban kepada yang miskin, demi mengatasi kesenjangan sosial antarmanusia.

Qurban adalah semangat mencintai, semangat merengkuh dengan kasih. Mencintai-Nya dengan cara mencintai mereka – yang terpinggirkan, dan yang dipinggirkan dari hukum sosial kita.

Sebagaimana ayat ini, "…telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak, maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir.." (Qur'an. S.al-Hajj:27-28)

Dalam ayat di atas, binatang ternak merupakan salah satu harta. Dan harta pada jaman ini, tidak selalu berbentuk binatang seperti jaman itu. Berbagi daging qurban, bagian dari cara kita peduli melalui harta yang kita miliki – orang berkecukupan harta peduli pada mereka yang sengsara. Tapi kita jarang mengerti makna sengsara, dan kita mengubah kaya dan miskin menjadi yang mampu dan tak mampu, meski ia relatife. Selanjutnya, yang mampu dan tak mampu dibawa dalam sekup yang kecil bernama lingkungan – dimana yang disebut mampu memiliki mobil tiga, dan yang tak mampu bermobil satu.

Kembali kepada data dan kaum yang duafa. Data sungguh bersikap diskriminasi kepada mereka yang terpinggirkan. Karena ia sama sekali tak mengakomodir realita yang sebenarnya.

Di hari Qurban, adalah sebuah saat, dimana kita lepas dari kepentingan komunitas. Melihat kemiskinan setidaknya bisa melalui pekerjaannya, tempat tinggalnya, lingkungannya.

Qurban, bukan untuk dibagikan pada yang tidak mampu di lingkungan kita saja. Kasih sayang kita harus menjangkau mereka yang berada di pinggir kemapanan kita, zona lingkungan nyaman kita. Semangat qurban adalah semangat menanggalkan yang formalitas -- tidak lagi berbagi lewat data, tapi berbagi dengan hati, nurani, pikir, dan rasa yang peka. Mereka yang sekian lama terpinggirkan oleh pemiskinan struktural, jangan kita pinggirkan lagi oleh hukum sosial kita.

Hari Raya Qurban, adalah sebuah refleksi tentang makna berbagi. Bukan sebuah penjiplakan ulang perbuatan semata. Agar kesalehan kita, tidak membuat kita menjadi tamak di mata-Nya.

Adiyasa, 6 November 2011