Kamis, 29 Oktober 2009

Kriminalisasi Perburuhan

Oleh Fiqoh

Berbuat kriminal. Siapapun, bisa menjadi pelaku. Namun jeratan pasal-pasal pidana, tidak berlaku pada siapapun, melainkan pada “siapa dia”.

Biasanya, dalam relasi yang tak seimbang, pihak yang kuatlah yang lebih berpotensi melakukan tindak kekerasan itu. Dalam hubungan buruh dan majikan, buruh selalu menjadi pihak yang terus dieksploitasi, diintimidasi, dan dirampas hak-haknya. Dan ironisnya, para pengusaha yang melakukan pelanggaran, justru bebas melenggang di jalur hukum. Di Disnaker mereka lolos, di pengadilan mereka pun menang. Uang, telah menjadi sutradara, ke mana kebenaran dan kesalahan diarahkan.

Hal ini mengingatkan saya pada pada kejadian tujuh tahun silam. Saat itu, delapan terdakwa diintrograsi secara terpisah di ruang pemeriksaan Polres Tangerang. Wajah-wajah sayu, muka-muka pucat dan tubuh yang lunglai berhamburan dari ruang introgasi di tengah malam yang dingin. Semuanya perempuan. Dalam introgasi yang dimulai sejak pukul 11 siang itu, berkali-kali kami dipaksa mengakui perbuatan yang tidak kami lakukan; merusak gerbang pabrik, merobohkan papan nama dan menggulingkan loker-loker besi tempat menaruh alas kaki.

Saya dan delapan teman yang ditangkap hari itu adalah buruh PT Koinus Jaya Garment, dan berstatus sebagai pengurus serikat buruh bernama SPTP. Sebagai pengurus, kami berkewajiban memperjuangkan hak-hak buruh yang dilanggar oleh pengusaha.

Saat kami akan dilepaskan, komandan yang memimpin penangkapan kami menekankan kalimat yang intinya, agar kami jangan sampai mengulangi perbuatan kami lagi. Kalau kami mengulangi perbuatan itu lagi, akan ditangkap lagi. Ancaman telah diberlakukan untuk hal yang tidak jelas: mengulangi apa? Perbuatan yang mana?

Bagaimana mungkin kami tak akan mengulangi perbuatan kami, jika ketidakadilan terus terjadi; upah yang dihutang, iuran Jamsostek digelapkan, dan tindak kekerasan selalu dilakukan oleh pengusaha. Apakah harus didiamkan?

Sejak perusahaan itu berdiri. Pelanggaran terus terjadi, meskipun kami sudah melaporkan ke semua instansi yang terkait; Disnaker, DPRD, Walikota dan Polisi.

Namun pelanggaran yang lebih arogan justru terjadi setelahnya. Pengurus serikat buruh dipecat, anggotanya diusir keluar pintu gerbang. Kebuntuan, ketersudutan, membuat tangan-tangan yang sesungguhnya lemah itu pada akhirnya mendorong kokohnya pintu gerbang. Keesokan harinya kami ditangkap. Meski bukan kami yang melakukan.

Asisah yang lemah hanya mampu meronta-ronta sebantar dan langsung masuk ke dalam mobol setelah salah satu aparat menekuk kepalanya. Siti yang bertubuh mungil dan lemas hanya melwan sebentar dan segera tak berdaya. Lusi yang sempat shock dengan penyeregapan tiba-tiba tanpa surat penangkapan sempat melakukan penolakan. Dan dan penokan yang ia lakukan justru membuat para aparat samakin beringas. Ia ditenteng dan dilemparkan ke mobil. Kancing-kancing bajunyaa copot hingga kutangnya terlihat. Jeritan histeris terdengar di antara bunyi tembakan pasukan PHH yang diterjunkan saat itu.

Mungkin ini hanya babak kecil dari keseluruhan peran yang terus dimainkan oleh para aparat yang berslogan mengayomi rakyat itu. Kita masih bisa membaca catatan panjang yang merwarnai lembaran perjanalan para aktivis di tanah air. Sedari Indah Dita Sari hingga Mohtar Pakpahan, sedari Sunarti hingga Hamdani, Ngadinah, Imas, juga Marsinah yang mati dibunuh.

Saya dan teman-teman pergerakan sering dibuat miris karenanya. Perjuangan yang kami tempuh, laksana menyimpan ranjau. Hubungan antara pemilik modal dan buruh memang tak sebanding. Jangankan hanya dengan buruh. Pemerintah pun, juga dikuasai oleh pemilik modal yang menjanjikan keuntungan. Penindasan dilakukan secara sistematis melalui kebijakan, termasuk melibatkan peran aparat dalam permasalahan perburuhan.

Gulungan benang di tas Imas, Sendal bolong untuk Hamdani, pemenjaraan terhadap Ngadinah, hanyalah titik kecil yang mudah dikais dari pasal keranjang sampah KUHP negeri ini, untuk membelokkan perjuangan aktivis ke penjara. Itulah kriminalisasi perburuhan.

Jakarta, 20 Mei 2009



Jakarta, 20 Mei 2009

Selasa, 27 Oktober 2009

Keegoan

Oleh Fiqoh

Ini bukan tentang berapa kali kamu meminta maaf. Juga bukan berapa kali mengulang permohonan. Bukan itu.

Tak usah terus-menerus meminta. Nanti malah membuatmu lelah dan membuatku bosan. Tak perlu selalu memohon pengertian dan pemakluman. Sudahlah, usah habiskan waktumu dan jangan ganggu waktuku untuk itu.

Yah, kita pernah saling berjanji; apapaun yang terjadi, kita akan selalu bersama. Memikirkan itu, aku kasihan padamu dan tentu pada diriku. Janji itu laksana belenggu. Dengan itu kita saling menjerat. Ketika yang satu berkhianat, yang lain menggugat. Cinta diam-diam pergi menghilang. Semua kata hanya demi memberi alasan pada keegoan. Hubungan yang terjalin, lebih mirip pertemuan dua pengacara di ajang debat.

Tadinya, lebih baik kau memberiku mimpi. Lalau kau ajak aku meraihnya. Kita meraihnya bersama. Kata temankau, mimpi akan memberi kita harapan, dan harapan menjadi keyakinan yang dahsyat. Keyakinan, bahwa impian itu mendekati kenyataan.

Bagiku, tak apa kau berkali-kali salah, berkali-kali ingkar. Yang penting aku juga melihatmu berkali-kali berusaha benar. Bagiku, cukuplah aku tahu bahwa kau berupaya. Upaya itu lebih konkrit dari sekedar kata-kata, dibanding banyak berkata, namun sikapnya bertentangan dalam realita. Sia-sia.

Ada pepatah, di saat cinta mulai menipis, maka kesalahan mulai menumpuk. Janji setia di saat mencinta, sumpah serapah di kala kebosanan mendera. Untuk apa masih mempertahankannya? Mungkin lebih baik kita lepaskan saja.

Cinta dan kepercayaan, akan bersemayam pada siapa yang memang pantas. Tidak mungkin kebohongan berdampingan dengan kejujuran. Jika dipaksakan, yang nampak justru hitam-putih yang kian kontras.

Sekali lagi, ini bukan tentang berapa kali kamu meminta maaf. Meminta pengertian. Meminta kepercayaan.

Karena, meski beribu kali kamu meminta maaf, kalau kau terus mengulangnya, semua akan percuma. Karena, jika terus-menerus kau menciderainya, ia akan retak dan tak lagi seperti semula. Dan jika kau tetap menginginkannya utuh, maka yang akan kau dapati adalah egomu sendiri.

Dalam hidup ini, yang terpenting adalah berkarya. Hasilnya, biarkan orang lain menilai. Dan jika cinta hendak kau jadikan kerya terindahmu, indahkanlah ia. Jangan malah kau merusaknya dari waktu ke waktu.


Jakarta, 26 Oktober 2009

Jumat, 23 Oktober 2009

Selamat Pagi

Oleh Fiqoh

Matahari sudah tinggi. Pagi sudah terlewati. Berbatang-batang rokok tinggal menyisakan puntungnya. Kaleng bir berserakan, isinya tertuang tanpa sisa.

Selamat pagi. Kuucap dari sini. Meski ini terlambat. Aku tetap mengucapkannya untukmu. Tak harus melalui sms. Atau email. Atau bertelpon. Semoga kau tahu.

Selamat pagi. Sekali lagi kuingin mengulangnya untukmu. Tapi dari sini. Dari hatiku saja. Biarlah ia tak lagi terdengar, tapi cukup dirasa. Semoga.

Kau bilang rasa itu tetap akan bersama kita. Meski ia tak hadirkan raga. Abstrak.

Tapi bagiku, itu disebut kehilangan. Karena kau pernah ada dan kusentuh. Aku kehilanganmu. Jejaknya meningalkan luka.

Yang abstrak itu, sejak semula memang tak tergambarkan; bukan tentangmu. Kamu yang pernah bergumul denganku. Menempati sisi ruang di hatiku. Ruang yang kini kau tinggalkan. Kosong. Hampa. Menyesakkan.

Segalanya berubah seketika.

Sikapku, menurut teman-teman dekatku tak seperti biasanya
Makanku, kehilangan selera
Syarafku, entah kenapa selalu membuatku terjaga
Meski mataku perih, ia tetap saja terbuka

Tapi, aku tak menangis
Mungkin telah kering dari sumbernya.
Sekering jiwaku, jiwa yang telah bergeser dari tempatnya semula
Mungkin, ini yang disebut trauma

Tadinya kupikir, tak sama. Antara kau dan dia. Tadinya kupikir, tak sama antara kau dan mereka. Tapi, mungkin itulah manusia. Semua datang dan pergi dengan alasannya.

Januari aku terluka
Tiga bulan kemudian kau membalutnya
Kau bawa aku ke dunia yang lain, penuh semerbak bunga-bunga
April yang indah
Mei, kau bawa aku bermimpi
Juni, kau melambungkan aku tinggi
Juli, kau tinggalkan aku di sini
Dan aku tak tahu jalan kembali
Aku masih mengawang, kau sudah memijak bumi
Dari sana, kau sentakkan aku untuk bangun dan melihat dari ketinggian, dimana aku harus meluncur ke titik nadirku.

Kosong. Putih.

Lepaslah. Mungkin kau akan kembali putih tanpaku. Namun aku belum tentu.

Tapi, aku mengerti. Setiap manusia, punya prinsipnya sendiri. Tempuhlah jalanmu. Aku juga akan menempuh jalanku.


14 Juli 2009

Rabu, 17 Juni 2009

Perikemanusiaan

Oleh Fiqoh

Kedekatan, terkadang membuat sikap kita menjadi bias. Entah itu kedekatan dalam hubungan keluarga, hubungan persahabatan, ataupun percintaan. Dan barangkali itu sah-sah saja.

Belakangan ini saya sering mendapat berbagai ucapan manis dari beberapa teman. Mereka selalu bertanya apakah aku sudah makan atau belum, sehat atau tidak. Mereka sering khawatir berlebihan kalau mengetahui aku sakit kepala, atau sekedar kehilangan nafsu makan. Ucapan-ucapan selamat selalu mewarnai saat menjelang tidur, saat jam makan siang, atau di kala datang pagi. Sapaan yang terasa klise. Menanyakan hal-hal kecil, mengkhawatirkan masalah-masalah sepele. Dan tentu kuhargai semua itu sebagai bentuk perhatian. Barangkali, inilah salah satu manfaat suatu kedekatan. Hangat. Menentramkan.

Ke tataran yang lebih tinggi, bentuk kedekatan mungkin sudah lain lagi. Jika menyangkut hubungan anak buah dan pimpinan, atasan dan bawahan, rakyat dan pejabat, biasanya, pihak yang di bawahlah yang selalu memberi perhatian pada yang di atas, yang memiliki kedudukan lebih tinggi. Feodalisme, tak pernah hengkang meski penjajahan telah berlalu labih dari 60 tahun.

Kita seringkali mendengar dan melihat sikap para bawahan yang suka sibuk memberi perhatian kepada seorang atasan. Mereka mengantri, saling sikut, demi perhatiannya mendapat “perhatian” juga. Dan yang terpenting, masing-masing ingin dianggap yang paling dekat. Kedekatan yang mungkin bermotif investasi. Memberi kecil berharap besar, memberi sekian ribu berharap sekian dollar, atau demi mempertahankan kemapanan hidup, melanggengkan kedudukan, memuluskan transaksi-transaksi. Ia, bukan lagi sebuah ketulusan.

Sementara di sekeliling kita, bertebaran manusia yang tak seberuntung kita membutuhkan perhatian kita. Mereka berada di wilayah paling pinggir, meski mereka berbaur di antara kita. Kadang kita mendapati wajahnya di ujung sepatu kita. Kadang mereka begitu dekat dengan roda kendaraan kita, bergumul dengan asap knalpot kendaraan kita. Mereka ada di pinggir-pinggir jalan, di jembatan-jembatan, pasrah dalam berbagai keadaan dengan segala kemungkinan yang tak selalu ramah. Itulah nasib kehidupan gelandangan dan pengemis.

Saat kita ingin segera enyah dari terik matahari atau guyuran hujan, mereka tetap bertahan. Selain tak ada pilihan, barangkali itulah momen untuk menaruh harap. Harapan yang akan terwujud, jika di antara kita ada yang merasa iba, lalu menjatuhkan uang recehan. Meski tak selalu begitu.

Entah siapa biang keladinya, kita seolah sepakat menuding mereka memang kerjanya mendramatisir keadaan, dan kita pun sinis. Teman saya malah mengatakan mereka itu penipu.

Mungkin kadang ada benarnya. Mereka menipu. Sikap yang juga kadang kita lakukan untuk berbagai alasan. Alasan tak mau menyakiti pasangan, alasan medis, kode etik profesi, melindungi klien dan sebagainya. Dan parahnya, kadar penipuan besar-besaran justru marak dilakukan oleh para pejabat yang mengkorupsi uang rakyat. Penipuan melalui institusi. Penipuan yang jika terbongkar, juga akan melahirkan penipuan-penipuan baru, demi saling melindungi. Korupsi, tetap saja langgeng.

Penipu yang dilakukan pengemis, masih sebatas untuk isi perut. Uang tak seberapa, yang saya tak yakin bisa untuk makan di restoran atau minum kopi di café yang harga secangkirnnya bisa sampai 60 ribu rupiah.

Kita terbiasa untuk hanya mengeluhkan realita. Entah itu kemiskinan, kebodohan dan pendindasan. Kita cemas ketika di pemberhentian lampu merah berseliweran perempuan-perempuan pucat bermata jalang, anak-anak kecil yang terampil memaksa tangan kita menerima amplop, atau tubuh-tubuh kurus dengan sorot mata tak takut mati.

Tidak semuanya begitu memang. Kita juga melihat para ibu-ibu, nenek-nenek renta, yang tetap khusuk bersimpuh di anak-anak tangga dan pojok jalanan. Masih banyak juga pengamen-pengamen yang sungguh-sungguh berkarya demi mendapatkan uang, pengamen yang baik hati dan gampang dimintai pertolongan.

Kita resah dengan keberadaan mereka. Namun kurang sungguh-sungguh, mencegah sesuatu yang menjadi penyebabnya. Jika yang masih kerja pun terancam PHK, yang menganggur tak kunjung mendapat pekerjaan, yang menjadi petani digusur tanahnya, perkampungan ditenggelamkan lumpur, bagaimana jumlah gelandangan tak semakin menggila?

Tapi entah kenapa, kita terus membiarkan ketidakadilan itu terjadi. Kita terbiasa membiarkan perusuh besar melenggang dan lolos dari jeratan hukum, dan menghakimi penjahat kecil hingga babak-belur. Kita hanya mau peduli dengan orang-orang terdekat dan menghormati para pejabat. Pejabat yang bahkan kabarnya, menurut artikel Majalah Tempo edisi 1 Maret 2009, wakil presidan kita, hanya untuk operasi ringan saja, mesti dilakukan di rumah sakit ternama di Mayo seharga Rp 220.000.000.

Sementara, di kiri kanan tetangga kita, di gang-gang sempit pemukiman kumuh, ibu-ibu sesak nafas menghitung recehan untuk menggenapi harga seliter beras kualitas murah. Mereka terpaksa mengangkat nasi yang masih setengah matang karena kehabisan minyak tanah dan tak mampu membeli gas.

Pernahkan terpikir, bahwa di bak sampah yang kita enggan menengoknya itu, telah menjadi ajang persaingan ketat yang tak jarang berujung pada pertarungan sengit?

Hanya untuk mendapatkan kemasan hand body bekas yang terselip bersama lembabnya kotoran itupun, tak selalu mudah.

Mereka memang bukan siapa-siapa kita. Mereka tetap saja asing, meski selalu ada di tengah-tengah kita. Mereka begitu dekat tapi sekaligus juga sangat jauh. Kasta, telah membuat jarak antar manusia hingga bermil-mil jauhnya. Membuat kita tak lagi mengenalnya, seolah satu sama lain hidup di planet yang berbeda.

Jika demikian, di mana sesungguhnya letak perikemanusiaan itu?

Jakarta, 5 Maret 2009, pukul 12.00

Rabu, 04 Maret 2009

Pahlawan

Oleh Fiqoh

Ia bukan kau atau aku. Di serikat buruh yang kuikuti pertumbuhannya, mereka berbentuk tim. Terdiri atas banyak orang. Beragam manusia, beragam karakter. Ada yang keras ada yang lembut. Ada yang penyabar ada yang tak sabaran. Ada yang sangat cerdas, ada yang biasa saja, bahkan ada kecerdasan yang di bawah rata-rata. Di sana, kekuatan dan kelemahan berpadu. Di sana, persatuan itu berbeda, perbedaan itu bersatu.

Ruang diskusi acap kali menjadi ajang debat. Kadang memanas. Tapi, semua masih dalam platform yang disebut perjuangan bersama. Tak ada yang lebih tinggi, tak ada yang lebih rendah. Tak ada satu harapan, yang melebihi harapan lainnya. Semua untuk mewujudkan hak-hak buruh.

Mereka berjalin tangan. Mengepalkan jemari. Bertekad mengusung misi dan visi. Masing-masing sadar bahwa semua memang tak mudah. Maka, sebuah komitmen mutlak dibutuhkan.

Sejak saat itu, kesetiakawanan dibangun. Meski tak selalu kokoh pada mulanya. Tapi ia terus bergerak, terus merambat, bak sulur-sulur elung yang meski belum tegak namun ia bertumbuh.

Hak buruh bukan sekedar diperhitungkan sebatas alat tukar bernama rupiah. Karena dibalik itu semua, ada deretan tragedi kemanusiaan. Manausia yang terus dilucuti hak asasinya, harkatnya. Penghinaan, penyiksaan, pembodohan, pemerasan. Dari ketakberdayaan yang terus mengendap, mengalirkan lelehan duka yang sunyi. Kesunyian, kebekuan, yang mengkristal dan mematikan jiwa-jiwa yang masih bernyawa.

“Kan kami hanya buruh. Kan kami tak bisa ngomong. Kan kami tak punya uang, tak seperti pengusaha yang punya duit dan bisa membeli keadilan. Membayar hukum dan aparat di negara kita.” Itulah bentuk psimistis yang telah terbangun secara masif. Sikap pasrah yang tidak seharunya.

Bila semua merasa begitu. Seratus, seribu, bahkan jutaan pun jumlah mereka tak akan punya nilai kekuatan apa-apa. Yang lemah semakin tenggelam, yang penakut semakin tersurut, yang pintar terpasung, yang beranipun kesepian sendirian.

Semua merasa sendiri-sendiri. Meski siku mereka saling beradu, satu sama lain menganggapnya asing. Mereka menjadi masing-masing, alias individual. Yang lemah semakin ditindas, yang kuat diintimidasi, yang bodoh dikibuli, yang pintar dikooptasi. Bagitu biasanya.

Dan masing-masing dari mereka akan saling berhadapan untuk saling bermusuhan, saling memojokkan, sekedar mencari aman. Menyedihkan. Sungguh tragis ketika, mereka yang sama-sama lemah, sama-sama susah, harus selalu dipertarungkan.

Individu, tak mungkin menghadapi kekuatan yang terorganisir bernama manajemen, ditambah kekuatan birokrasi, ditambah kekuatan yang…terkadang “liar” namun terlembagakan. Premanisme. Baik secara harfiah memang preman beneran, atau sikap para pejabat yang sering lebih sadis, melebihi preman yang biasa digambarkan saya dan buruh pada umumnya.

Kita sering tak sadar bahwa kita sudah kehilangan terlalu banyak. Sudah tertinggal terlalu jauh. Sampai tak tahu lagi dari mana kita akan memulai menata masa depan. Bagaimana seharusnya manusia menjalani kehidupan di tengah manusia lainnya. Bahwa sesungguhnya, kita bisa saling menguatkan, saling membutuhkan.

Kita harus memulai. Memulai menata. Memulai bangkit. Menyatukan pemikkiran, menyatukan jemari, menyatukan pandangan, menghimpun kekuatan. Bukan hanya kekuatan fisik, yang sekedar bergerak karena komando. Tapi kekuatan yang lahir dari setiap individu atas dasar kesadaran. Kita perlu persatuan, tapi bukan persatuan yang rapuh, terdiri dari orang-orang yang bermental oportunis. Melainkan, persatuan yang terbangun karena isi kepala.

Dan di sinilah segala bentuk perbedaan memberikan warnanya. Satu ide menjadi inspirasi bagi yang lain, dan segala bentuk kontribusi, berapapun kadarnya, memiliki nilai peran. Di situlah manusia memiliki eksistensi. Eksistensi yang tak bisa diwakili oleh siapapun selain dirinya.

Pahlawan, ia bukanlaah dia atau aku. Pahlwan, adalah barisan dari ratusan, ribuan, bahkan jutaan masnuia. Tidak mungkin satu orang bisa melawan berbagai kekejaman yang telah terstruktur ini.

Jalan perjuangan masih sangat panjang. Namun, jika kita bersatu, kita akan mampu melintasinya hingga ke ujung. Ujung pengharapan. Dimana, semu punya kemauan untuk mewujudkan hak-haknya dalam proses perjuangan.

Dan kita, tak akan lagi berteriak agar buruh merapatkan barisan. Karena, jalanan itu sudah akan penuh sesak, oleh buruh-buruh yang berjejer untuk saling menyambung langkah.

Perubahan nasib, tak mungkin dilakukan oleh seorang yang kita sebut “Pahlawan”. Tak akan ada. Jangan menunggu.

(Jakarta, 4 Maret 2009, untuk Suara Pinggiran. Obrolan dengan Imam dan JJ Kusni telah mengilhami tulisan ini)

Selasa, 24 Februari 2009

Diam

Oleh Fiqoh

Di sebuah sore yang gerimis. Kaca jendela muram oleh tampias hujan. Kupandang sekeliling, hanya bayanganku sendiri. Bayanganmu tak tampak. Ia hanya dalam pikiranku yang kosong. Sekosong jiwaku.

Saat ini aku mengingat seseorang. Yang entah sudah berapa ribu menit ia habiskan waktu di depan tembok kusam pembatas pandangan. Takkan lebih dari tiga langkah kakinya bisa terayun. Tentu menjemukan. Kulangkahkan kaki, menyapu setiap sudut ruang. Ah, masih beruntung bisa kulakukan ini.

Tumpukan kertas kerja kubiarkan berserakan di depanku. Proposal, surat kontrak, seharusnya segera kuselesaikan. Tapi tanganku enggan menyentuhnya.

Rasanya aku ingin berlari sejauh-jauhnya. Melintasi batas waktu. Waktu yang selalu saja menjadi belenggu antara kita meski ia tak terlihat. Yah, semua soal waktu. Harap kita selalu begitu. Dan waktu menyimpan rahasianya sendiri. Ada kalanya ia membuat segalanya indah pada saatnya, namun terkadang ia juga menorehkan sejarah luka, kehilangan, yang takkan bisa tergantikan. Semoga kamu baik-baik saja.

Detak jam di kesunyian. Gemericik air hujan menjelang reda. Hadirkan suasana syahdu. Dan aku sadar tak harus mengejarmu. Aku tahu tanganmu takkan sanggup terentang menyambutku. Aku tahu. Mengejar atau menunggu, sama saja.

Kita sudah sering begitu dekat. Kulihat senyummu, meski matamu tidak. Kita sudah sering bicara. Bicara banyak namun terbatas. Tak menyimpulkan apapun. Tanpa arah. Diakhiri lambaian tangan di menit kesepuluh. Diikuti tatapan nanarmu. Juga mataku yang tiba-tiba berkabut. Selalu begitu. Dan kita serasa kian jauh.

Kudapati gairahku menghilang. Rasanya tak ingin lakukan apa-apa saat ini. Dan aku diam. Kutahan getar perasaanku. Dalam anganku ada diamku, diammu. Diam yang terkadang menjadi jarak saat kita begitu dekat. Tapi juga, menyulurkan benang penghubung dari jauhnya jarak dan waktu. Membuatku merasa terikat. Selalu bertanya tentangmu, selalu memikirkanmu.

Aku mulai mengerti, bahwa diam terkadang, sanggup mewakili deretan kata yang tak terlontar, atau debat panjang yang tak selalu menjelaskan apa-apa.

Aku sayang kau. Ah kadang tak penting. Aku mencintaimu, sudah terlalu sering juga kata-kata itu kudengar. Kata-kata sangat mudah diucapkan. Hari ini ikrarkan janji, besok meminta maaf karena tak menepati. Itu biasa.
***

Kemudian, kita mulai dengan hal-hal sederhana. Aku bertanya dan kamu menjawab. Iya dan tidak. Hitam putih. Meski dalam hatiku, lembaran kanvas sudah penuh oleh warna. Hanya aku yang tahu. Mungkin.

Diam. Aku menyukainya ketika aku mulai bosan dengan manisnya rangkaian kata indah bertabur bunga, tapi semakin menjauhkannya dari realita. Setidaknya diammu, bisa kulihat sebagai representasi sebuah kehadiran. Kehadiran yang nyata dalam kebersamaan yang bisa kusentuh. Kehadiranmu yang kompleksitas.

Tak semua hal bisa dikatakan. Benar, tak semua hal. Mungkin kecemburuanmu yang selalu gagal menahan langkahku bersama yang lain. Mungkin kejenuhanmu dalam ketakberdayaan. Mungkin juga keputusasaanmu yang tenggelam dalam pengabaianku. Dan memilih diam. Tapi justru dengan itu, kau nampak utuh.

Anggap saja sama. Sulit kujelaskan kenapa aku ingin jauh darimu. Kenapa aku mengacuhkanmu. Kenapa kau kuabaikan. Ingin tahu kenapa? Aku takut jatuh cinta padamu. Hal itu, sulit kujelaskan hingga detik ini.


Jakarta, 19 Februari 2009

Jumat, 20 Februari 2009

Sahabat 2

Oleh
Emmy Kuswandari

Senang bisa sharing dan mendengar banyak hal tentangmu. Semua ceritamu turut menguatkan aku.

Aku menangis untuk semua rasa sakit yang pernah kau alami. Aku tersenyum untuk kenakalan dan akal cerdasmu. Aku tertegun dengan ketabahanmu.

Jangan lagi lihat ke belakang. Toh karet pensilmu tidak akan bisa menghapus sejarah yang pernah kau lalui. Cukup sekali lalu kau maknai. Kalau yang lalu kau warnai kelam, kini torehkan pulas warna cerah untuk perjalananmu ke depan.

Hidup itu mudah dan indah kalau kita melihatnya dari kacamata keindahan dan kemudahan. Tetapi hidup juga akan menjadi rumit dan njlimet kalau kita memilih meneropongnya dari sisi itu. Sekarang terserah pilihanmu, mana jendela yang akan kau pakai untuk melihat dan menjalani hidup ke depanmu.

Aku tahu, kamu aku atau kita yang lain pasti punya kerinduan yang tak terungkapkan. Entah lelaki atau perempuan ia berwujud. Kita perlu tangan yang akan menguatkan saat-saat lemah kita, perlu pundak untuk bersandar barang sejenak, atau tatapan mata teduh yang menyemangati. Toh kita tak selamanya bisa tegar dan perkasa. Ketegaran kita kadang rapuh. Keperkasaan kita kadang lantak juga. Sesekali memang perlu kita istirahat sejenak. Mungkin tangan, pundak dan mata itu milik lelaki yang kita rindukan. Barangkali. Meski tak selalu begitu.

Tanyaku sekarang, lelaki seperti apa yang kita inginkan? Mungkin kamu akan bilang, aku lelah mencari lelaki seperti imajiku. Percayai kata hatimu, lelaki apa yang ingin kau dapatkan dalam hidupmu. Bukan karena kataku atau kata yang lain. Semua pendapat itu cuma pembanding. Kamu yang berkuasa atas hidup. Pilihan ada di tanganmu.

Lalu kau tanya lagi hatimu, apakah dia yang datang dalam hidupku nanti akan mengembangkan diriku? Atau membunuh semua potensiku? Kalau dia datang mengajakku untuk berkembang bersama, terimalah tawaran itu. Tetapi kalau kau melihat akan terpasung karenanya, bertanya dan bertanyalah lagi pada dirimu.

Apapun pilihan yang kamu ambil, itu adalah pilihan kesadaran. Karena di situlah sebenarnya letak kemanusiaan kita.

Buatlah skala prioritas. Tentang apapun yang ingin kau lakukan dalam hidupmu. Prioritas pada pekerjaanmu, prioritas untuk kehidupan pribadimu. Ini akan memudahkan kamu mengambil keputusan-keputusan yang tepat. Dan akan menghindarkan diri dari pusaran permasalahan yang tidak perlu.

Satu pesanku, milikilah waktu yang berkualitas untuk dirimu sendiri. Aku tahu betapa sesaknya kamu ketika bilang sangat merindukan dunia kecil, milikmu sendiri. Ketika kau ingin telanjang mematut diri, ketika kau ingin menangis tanpa henti, atau tersenyum sendiri mengenang kebodohanmu, tanpa perlu ragu ada orang lain yang akan memerhatikanmu. Masing-masing dari kita perlu ruang pribadi yang tak bisa diusik siapapun. Milikilah itu. Dunia kecil yang tak akan bisa direbut oleh siapapun. Dunia kecil tempat kita mendapatkan kembali semangat, kemudaan dan keberanian berharap.

Sesekali kita memang perlu menarik diri dari siang yang gaduh dalam kehidupan kita. Aku tahu, tak mudah hidupmu harus berbagi dengan beribu masalah buruh yang harus kau hadapi. Belum lagi teman-teman dekatmu yang mendengungimu dengan cerita mereka. Atau keluarga besarmu yang menuntut kau sempurna. Jangan panik dengan kegaduhan itu. Senyumlah, lalu anggaplah semua masalah itu hanya permainan kecerdasan. Dan yakinlah, pasti akan kau temukan jalan keluarnya. Kau pasti jadi juaranya.

Maaf, kalau aku sudah banyak menyesakimu dengan kata-kata. Jangan pernah ragu berbagi denganku, aku punya hati untuk mendengarkan.

Jakarta 10 Februari 2009