Kamis, 31 Maret 2011

Kursus Menulis Narasi

Genre narrative reporting (narasi) adalah gaya penulisan yang mensyaratkan tujuh unsur pertimbangan. Ia bukan laporan monolog, tapi juga ada dialog, kutipan, dan deskripi untuk menggambarkan peristiwa. Adegan demi adegan dihidupkan kembali (scene by scene construction), reportase yang menyeluruh (immersion reporting), menggunakan sudut pandang orang ketiga (third person point of view), serta penuh dengan detail. Itulah reportase yang utuh.

Roy Peter Clark, seorang guru menulis dari Poynter Institute Florida, mengembangkan pedoman standar 5W 1H menjadi pendekatan baru yang naratif. 5W 1H adalah singkatan dari who (siapa), what (apa). Where (dimana), when (kapan), why (mengapa), dan how (bagaimana). Pada narasi, menurut Clark dalam sebuah esei Nieman Reports, who berubah menjadi karakter, what menjadi plot atau alur, where menjadi setting, when menjadi kronologi, why menjadi motif, dan how menjadi narasi.

Bentuk tulisan yang umum kita kenal adalah hard news, feature dan narasi. Feature dan narasi berbeda dari segi struktur. Pada narasi ada tempo yang dimainkan. Struktur karangan narasi biasanya menggunakan tempo time base, issu base, yang biasa digunakan untuk tulisan pendek. Untuk membuat liputan panjang dan menarik, struktur yang digunakan bisa bermacam-macam, misalnya struktur yang meletakkan setengah dari ending di depan. Begain of the end dan end of the end.

Menurut Robert Vare—pernah bekerja untuk Majalah New Yorker dan The Rolling Stones, ada tujuh pertimbangan bila kita hendak menulis narasi.

Pertama, fakta. Setiap detail harus berupa fakta. Nama-nama orang adalah nama sebenarnya. Tempat kejadian juga memang nyata. Kejadian benar-benar kejadian. Merah disebut merah. Hitam disebut hitam, dst.

Kedua, konflik. Sebuah tulisan panjang lebih mudah dipertahankan daya pikatnya bila ada konflik. Bila ingin berminat menulis narasi, sebaiknya perlu dipikirkan berapa besar sengketa yang ada dan bagaimana menggambarkan permasalahan.

Ketiga, karakter. Dalam narasi kegiatan adalah pelaksana. Siapa yang terlibat, melibatkan dan bagaimana keterlibatan orang-orang dalam kegiatan itu.

Keempat, akses. Bagaimana kita melakukan akses pada orang-orang yang terlibat kegiatan itu. Akses bisa berupa wawancara, dokumen, korespondensi, foto, gambar dan sebagainya.

Kelima, emosi. Bagaimana kita menggambarkan cinta, kekaguman, kebencian, kegelisahan. Mungkin ada perdebatan pemikiran di masyarakat tentang isu yang sedang kita gagas.

Keenam, perjalanan waktu. Robert Vare mengibaratkan laporan suratkabar “biasa” dengan sebuah potret. Laporan panjang adalah sebuah film yang berputar-Video. Narasi macam video. Feature macam potret. Vare menyebutnya “series of time”. Peristiwa berjalan bersama waktu. Konsekuensinya, ada pada penyusunan struktur karangan. Mau bersifat kronologis, dari awal hingga akhir. Atau mau membuat flashback. Dari akhir hingga mundur ke belakang? Atau kalau mau bolak balik bagaimana agar yang membaca laporan tidak bingung? Panjang perjalanan waktu tergantung kebutuhan. Laporan kegiatan bisa dibuat sesuai lama proyek berlangsung. Bisa juga dibuat sekian waktu, sesuai kebutuhan kita.

Ketujuh, unsur kebaruan. Tak ada gunanya mengulang-ulang lagu lama. Mungkin lebih mudah mengungkapkan kebaruan itu dari kacamata orang biasa yang terlibat pada kegiatan tersebut.

PANTAU merancang kursus narasi untuk orang yang ingin belajar menulis panjang, memikat sekaligus mendalam. Ia juga diperuntukkan bagi mereka yang berminat menulis esai atau narasi.

Kursus ini diadakan dua kali setiap tahun (Mei dan November), sebanyak 18 sesi dengan frekuensi pertemuan mingguan, setiap Rabu malam pukul 19.00-21.00. Tenggang waktu bertujuan agar peserta punya waktu mengendapkan materi belajar, membaca dan mengerjakan tugas. Kelas ditekankan pada banyak latihan. Kelas ini juga membicarakan karya-karya klasik nonfiksi penulis terkenal seperti Joseph Mitchell, Truman Capote, John Hersey, Gay Talese dan Ryszard Kapuscinski.

Kursus ini juga telah menghadirkan penulis-penulis besar sebagai pembicara tamu. Mereka adalah Arief Budiman, Bre Redana, Daoed Joesoef, Donald K Emmerson, Fadjroel Rahman, Jean Jacques Kusni, Julia Suryakusuma, Putu Oka Sukanta, Riri Riza, Samuel Mulia, Martin Aleida, Arswendo Atmowiloto, Ayu Utami, Maria Hartiningsih, Fira Basuki, Sitok Srengenge, Wilson, dan Jaleswari Pramodhawardani.

Pengampu utama kursus ini adalah Andreas Harsono dan Budi Setiyono.

Untuk angkatan kesebelas periode Mei - September 2011, di kursus ini akan menghadirkan pembicara tamu Musdah Mulia dan Seno Gumira Ajidarma.

Siti Musdah Mulia – seorang feminis Muslim terkemuka di Asia, peneliti, konselor, penulis, dan aktif di berbagai lembaga masyarakat. Ia juga menjadi dosen Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah serta menjadi pembicara di berbagai seminar. Peraih penghargaan Yap Thiam Hien 2008, Women of the Year 2009 dari Il Premio Internazionale La Donna Dell ‘Anno (International Prize for the Woman of the Year) di Italia, dan International Women of Courage dari pemerintah Amerika Serikat. Musdah Mulia juga menulis buku di antaranya berjudul Pemikiran Politik Haikal (Paramadina, 2001); Islam Menggugat Poligami (Gramedia, 2004); Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Perspektif Islam (2001); Islam dan Inspirasi Kesetaraan Gender (Kibar, 2007), Poligami: Budaya Bisu yang Merendahkan Martabat Perempuan (Kibar, 2007).

Seno Gumira Ajidarma—Wartawan, Fotografer, Penulis, Dosen Institut Kesenian Jakarta. Ia telah melahirkan banyak karya. Karya fiksinya antara lain Penembak Misterius, Saksi Mata, dan Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi. Sementara karya nonfiksinya antara lain Obrolan Tentang Jakarta, Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra harus Bicara, Layar Kata, Sembilan Wali dan Siti Jenar, serta Surat dari Palmerah. Beberapa penghargaan diraihnya yaitu Sea Write Award pada tahun 1987, Dinny O’Hearn Prize for Literary untuk karyanya Saksi Mata (1997), dan Khatulistiwa Literary Award 2004 untuk Negeri Senja.

Peserta bisa dari berbagai latar belakang disiplin ilmu, minat atau profesi. Kursus ini banyak diikuti oleh kalangan aktivis, wartawan, dokter, pengacara, mahasiswa, dosen, peneliti, manajer humas, dan sebagainya. Peserta dibatasi 18 orang untuk memudahkan lalu-lintas ide dalam kelas.


Informasi hubungi:
Siti Nurrofiqoh
Program Officer
P a n t a u
Mobile. 0813 82 460 455

Kursus Menulis Jurnalisme Sastrawi

Hari ini hampir tak ada warga yang mendapatkan breaking news dari suratkabar. Mereka mendapatkannya dari televisi, radio, sms, telepon atau internet. Tantangan baru muncul: bagaimana cara menulis panjang? Bukankah relevansi suratkabar makin terletak pada kemampuannya menyajikan analisis?

Inilah pentingnya The New Journalism. Ia mengawinkan disiplin paling keras dalam jurnalisme dengan daya pikat sastra. Ibarat novel tapi faktual. Gerakan ini dimunculkan Tom Wolfe pada 1973 di New York.

Genre ini kemudian dikenal dengan nama literary journalism atau narrative reporting. Suratkabar-suratkabar Amerika banyak memakai elemennya ketika kecepatan televisi dan dotcom memaksa mereka tampil dengan laporan-laporan yang analitis dan mendalam. Suratkabar tak mungkin bersaing cepat dengan televisi.

Pantau mulai menawarkan pengajaran genre ini pada media tahun 2001. Peserta maksimal 16 orang. Jumlah ini dianggap optimal untuk sebuah metode pelatihan. Setiap sesi 90-menit diformat serius namun santai. Peserta bisa berdiskusi langsung. Total, Pantau sudah mengadakan 18 kali kursus ini. Peserta datang dari berbagai kota, dari Banda Aceh hingga Jayapura, dari Pontianak hingga Kucing, dari Ende hingga Kupang. Alumninya, terus bermunculan. Ada yang menulis buku. Ada yang jadi pemimpin redaksi. Ada yang sekolah lanjut.

INSTRUKTUR
Janet Steele -- Profesor dari George Washington University, spesialisasi sejarah media, mengajar mata kuliah narrative journalism. Menulis buku The Sun Shines for All: Journalism and Ideology in the Life of Charles A. Dana dan Wars Within: The Story of Tempo, an Independent Magazine in Soeharto’s Indonesia, yang ahlibahahaskan oleh Arif Zulkifli dan diterbitkan oleh PT Dian Rakyat tahun 2007. Juga menulis tentang jurnalisme di Timor Leste dan Malaysia.

Andreas Harsono -- Wartawan feature service Pantau, anggota International Consortium of Investigative Journalists, mendapatkan Nieman Fellowship di Universitas Harvard. Menyunting buku Jurnalisme Sastrawi: Antologi Liputan Mendalam dan Memikat. Kini menyelesaikan buku From Sabang to Merauke: Debunking the Myth of Indonesian Nationalism, membahas hubungan media dengan kekerasan etnik, agama dan nasionalisme di Indonesia dan Timor Lorosae.

INSTRUKTUR TAMU
Wilson -- Sejarahwan, aktivis HAM, dan penulis. Sering menulis di berbagai media nasional, jurnal ilmiah, dan terbitan LSM. Peraih Michele Turner Award dari East Timor Relief Association (ETRA), Australia, November 1998 untuk katagori Esai Terbaik. Menerbitkan sejumlah buku. Karya terbarunya: “A Luta Continua” tentang gerakan pembebasan Timor Leste.


PESERTA
Peserta adalah wartawan, atau orang yang biasa menulis untuk media maupun blog.

Untuk informasi hubungi:

Siti Nurrofiqoh
P a n t a u
Jl. Raya Kebayoran Lama
No 18 CD Jakarta Selatan 12220
Telp/Fax. 021 722-1031/021-7221055
Siti_pantau@yahoo.com
www.pantau.or.id
Mobile. 0813 82 460 455

Kursus Investigasi

Investigative reporting adalah salah satu genre dalam jurnalisme di mana reporter memakai metode tertentu guna membuktikan kesalahan seseorang atau sekelompok orang. Karya investigasi awalnya dipelopori Ida Tarbell (1857–1944) dari majalah McClure’s Magazine. Pada 1902, Tarbell menurunkan serial laporan tentang monopoli perusahaan Standard Oil Company. Laporan tersebut, belakangan dijadikan buku, mendorong Mahkamah Agung Amerika Serikat memerintahkan perusahaan itu dibagi dua.

Dalam “The Elements of Journalism” (April 2001) karya Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, investigative reporting merupakan artikulasi dari elemen kelima jurnalisme yang bertugas “memantau kekuasaan dan menyambung lidah mereka yang tertindas.” Praktiknya sinonim dalam kerangka ikut menegakkan demokrasi. Si penulis berhasil menunjukkan siapa yang salah, siapa yang melakukan pelanggaran hukum, yang seharusnya jadi terdakwa dalam suatu kejahatan publik yang sebelumnya dirahasiakan.

Pelatihan ini dirancang untuk memahami prosedur dan teknik liputan investigasi. Peserta akan diperkenalkan dengan teknik atau metodologi liputan diantaranya Investigasi Korupsi Pemangku Jabatan Publik; Skema Dampak Kasus; Penelitian Kualitatif; dan Metode Studi Kasus. Selain itu peserta juga akan belajar dari studi kasus yang dibawakan oleh para instruktur serta bagaimana menuliskan hasil liputannya.

Kursus diadakan 10 sesi dengan frekuensi mingguan, setiap hari dua sesi mulai pukul 10.00-12.00 sampai 13.00-15.00. Termasuk satu sesi dengan pembicara tamu. Tempat di kantor Yayasan Pantau, Jalan Raya Kebayoran Lama 18 CD, Jakarta Selatan.

INSTRUKTUR
George Junus Aditjondro – peneliti senior, sejak 1980-an terlibat dalam aktivisme lingkungan dan hak-hak masyarakat terpinggirkan secara politik terutama di Papua Barat, Timor Leste dan Aceh. Pada 1990-an meneliti harta-harta keluarga Soeharto. Pada 1996, di Universitas Newcastle, Australia, mengembangkan matakuliah sosiologi korupsi dan sosiologi gerakan kemerdekaan pasca kolonial. Pada 2000-an, aktivismenya disalurkan di Sulawesi. Kini mukim di Yogyakarta dan pengajar tamu di Universitas Sanata Dharma.

Andreas Harsono – wartawan Jakarta, pernah bekerja di harian The Jakarta Post, The Nation (Bangkok), The Star (Kuala Lumpur), Associated Press Television (Hong Kong) dan majalah Pantau (Jakarta). Ia menerima Nieman Fellowship on Journalism dari Universitas Harvard (1999-2000). Co-editor buku Jurnalisme Sastrawi: Antologi Liputan Mendalam dan Memikat (2005). Buku antologinya Agama Saya Adalah Jurnalisme (Kanisius, Desember 2010). Tengah menyelesaikan buku A Nation in Name: Debunking the Myth of Indonesian Nationalism.

PEMBICARA TAMU
Otto Syamsuddin Ishak – Sosiolog dari Universitas Syah Kuala, Banda Aceh. Ia peneliti hak asasi manusia dari Imparsial, Jakarta. Buku-bukunya, antara lain, Dari Maaf ke Panik Aceh (tiga serial), Peristiwa Idi Cut, Aceh: Dari tragedi ke impunitas (2001), serta kumpulan kolom Bandar: Refleksi tentang Aceh (2005).

SYARAT DAN BIAYA
Peserta diutamakan wartawan yang sudah bekerja minimal 3 tahun. Bisa juga penulis yang punya minat khusus terhadap jenis reportase ini. Ia juga tak terbatas untuk para aktivis yang pekerjaan di lembaganya sehari-hari berurusan dengan isu-isu korupsi, kejahatan hak asasi manusia, maupun isu pertambangan atau kerusakan lingkungan. Biaya kursus 3 juta rupiah.

PESERTA
Peserta dibatasi 20 orang untuk memudahkan lalu-lintas diskusi dalam kelas. Peserta diharapkan mengirim biodata agar instruktur bisa mengenal background peserta. Peserta juga diminta mempelajari dan membaca materi kursus dan mengerjakan tugas kelas.

Untuk informasi hubungi:
Yulan (085228754848)
Fiqoh (081382460455)

P a n t a u
Jl. Raya Kebayoran Lama
No 18 CD Jakarta Selatan 12220
Telp/Fax. 021 722-1031/021- 7221055
www.pantau.or. id

Minggu, 13 Februari 2011

Catatan Dari Jaleswari Pramodhawardani

Kita sering mendengar bahwa menulis bertujuan menyampaikan informasi data dan fakta. Tapi menurut Jaleswari Pramodhawardani, data dan fakta, terkadang tidak berbicara apa-apa.

Fakta bisa berlapis-lapis, dan tidak bisa disajikan begitu saja secara hitam putih. Akhirnya, menulis adalah cara memperlihatkan kecerdasan kita—apakah kita bisa menganalisis fakta dan merangkainya dengan fakta yang lain, memberikan ide-ide baru yang segar, atau tawaran-tawaran yang original.

Malam itu, 9 Februari 2011, pukul tujuh malam di gedung Pantau yang berada di Kebayoran Lama, Jaleswari menawarkan “tantangan” pada peserta diskusi kelas narasi angkatan X dan alumni kursus ini. Tantangan itu termasuk kesediaan penulis mengambil ruang di forum publik.

Penulis itu berada dalam dua “dunia”, yaitu lingkungan dan dirinya sendiri. Walaupun apa yang kita ceritakan menyangkut wilayah publik, personalitas atau pengalaman terhadap sesuatu akan mempengaruhi tulisan kita. Pengalaman itu mencakup pemahaman serta pengetahuan, yang akan menjadi background dan turut mempengaruhi cara kita memandang sesuatu.

Sebagai personil otonom, sungguh tidak mudah menghapus bias yang ada di kepala kita. Ketika melihat homoseksual, kita kadang sulit menerima karena sosialisasi mengenai konsep normal dan abnormal sudah dijejalkan sejak kita kecil, bahwa yang heterolah yang normal. Di sinilah pentingnya bahwa menulis bukan sekedar memperlakukan substansi. Tapi juga bagaimana kita bersedia memasuki ruang, yang darinya kita sendiri bergulat dengan persoalan-persoalan itu. Hingga pada satu titik, kita memiliki pemikiran bahwa di atas segala perbedaan, kita bisa berpikir dan bertanya, mengapa stigmatisasi diberikan oleh manusia kepada manusia lain atas nama agama, ekonomi, budaya, sosial, dan sebagainya.

Ia bilang, menulis juga merupakan pertarungan mengambil ruang. Di atas segala perbedaan—keyakinan beragama, orientasi seksual, dan apapun, semua itu harus dihormati dengan nilai universal yaitu kemanusiaan. Kesadaran itulah yang mestinya dimiliki penulis untuk terus dikomunikasikan kepada publik.

Karena sikap peduli itulah yang akan membuat tulisan kita bisa menegaskan, mencerahkan, dan memberi pengaruh pada publik. Tulisan kita akan mencerminkan siapa kita, melalui sikap, serta keberpihakan kita terhadap suatu persoalan.

“Pemerintah bisa bilang bahwa penduduk miskin berkurang sekian persen. Ekonom bisa bilang kalau data statistic menunjukkan pertumbuhan ekonomi meningkat sekian persen. Sebenarnya, ketika kita melihat data statistic angka kemiskinan atau pertumbuhan ekonomi, apa arti semua itu jika dalam faktanya kita masih melihat kenapa orang makan tiwul, makan keladi, makan tikus atau mencuri kakao? Artinya, fakta itu bertentangan dengan persentase yang digambarkan para ekonom itu bukan? Bahkan data statistik bisa jadi hanya alat untuk mengelabui,” tutur Jaleswari.

Menurut Jaleswari, penulis itu harus jeli. Termasuk memaknai data-data yang ada. Hanya data saja, tidak bisa menjadi ukuran membeberkan fakta-fakta. Sekali lagi, bahwa fakta itu berlapis-lapis. Kita harus bisa membaca fakta, menganalisis, dan memiliki argumen yang didukung oleh fakta-fakta itu. Jaleswari yang bekerja sebagai peneliti sejak 1989 berpikir bahwa data penelitian, jika hanya dituangkan berdasarkan data, ia hanya sekedar perpanjangan dari mata. Data akan menjadi perpanjangan hati, pikiran, dan perasaan, ketika di sana ada sikap kita.

Gagasan, Pemecahan Angle & Strategi untuk Media
“Rutinitas terkadang membuat kita kehilangan kepekaan. Kalau menuruti itu, kita nggak akan menulis. Caranya ya harus dipaksa. Jangan menunggu ide. Bagaimana kalau ide itu munculnya 20 tahun kemudian?” katanya.

Ia punya cara memunculkan ide-idenya dengan mengkondisikan diri sedang berkomunikasi pada seorang teman. Bercerita memang membuat percakapan mengalir dan gagasan-gagasan bermunculan. Kemudian, ia memecah sebuah gagasan ke berbagai angle. Kadang 3-4 angle. Pemecahan angle-angle itu ternyata sangat berguna ketika tulisan akan dimuat di media. Misalnya ketika ia hendak menulis pengambilalihan bisnis TNI. Angle-nya adalah anggaran pertahanan yang rendah, mengembalikan fungsionalis TNI sesuai undang-undang, dan sebagainya. Ketika Kompas meminta ia menulis soal militer, Jaleswari menuliskan tentang pengambilalihan bisnis TNI yang menyimpang dari kompetensinya. Tapi ketika diminta menulis di Media Indonesia, ia menggunakan pintu masuk yang lain, yaitu mengembalikan profesionalisme TNI sesuai undang-undang yang mengatur soal itu. Begitu seterusnya.

Masih soal gagasan dan angle. Di dalam menyikapi persoalan homoseksual atau lesbian, sesungguhnya ada beberapa persepektif yang bisa kita gunakan. Misalnya dari perdebatan agama, budaya, atau cara kita membaca seksualitas kita. Begitu juga dalam konteks pornografi, kita bisa mengaitkan dengan budaya, agama, atau kemunafikan kita. Analisis akan menghadirkan nilai-nilai yang kadang mencengangkan, bahwa ternyata kita adalah masyarakat yang hipokrit. Masyarakat yang bahkan bisa berlaku buas terhadap sesama, membunuh dan menganiaya atas nama agama dan perbedaan.

Intinya, menulis adalah proses kreatifitas. Bukan hanya menyoal substansinya, tapi juga harus melihat dari berbagai perspektif, juga cara menyajikannya. Ibarat makanan, tempe itu bisa digoreng, dibacem, direbus, dibakar, dan sebagainya.

Pertarungan Mengambil Ruang
Jaleswari, perempuan, feminis, gelar S2 kajian wanita, hadir melalui tulisan dan sebagai pembicara di sebuah forum publik sebagai pengamat militer, dimana banyak pihak mengatakan bahwa bicara militer hádala domain-nya laki-laki. Ia berhadapan dengan pengamat lain yang memiliki background sebagai politisi, doctor, yang telah memiliki jam terbang internasional. Itu bukan perkara mudah. Ada upaya yang luar biasa untuk bisa mewarnai atau merebut forum itu.

“Bukan saya sok seksis, tapi saya ingin mengatakan bahwa meski sulit, perempuan harus berani mengambil ruang itu supaya dilihat dan dipertimbangkan. Poin-nya adalah, saya ingin menegaskan bahwa menulis juga sebuah pertarungan mengambil ruang dalam kancah pertempuran gagasan untuk diwacanakan ke publik,” katanya.

“Perhatian pengamat militer laki-laki terhadap perang tentu berbeda dengan saya. Cara mereka melihat konflik di Poso dan di Ambon tentu juga berbeda dengan saya. Dalam wilayah konflik saya melihat perempuan sebagai korban. Tapi mereka bisa saja melihatnya lebih ke soal taktis militernya, system komandonya, atau dalam konteks pertahanan negara. Sedangkan saya melihatnya bagaimana perempuan dalam konteks pertahanan,” tuturnya.

Soal ruang, kita juga sering terjebak untuk menciptakan semacam kapling-kapling terhadap isu-isu tertentu. Persoalan perempuan, homoskesual, buruh, keyakinan kelomok minoritas, seakan hanya menjadi persoalan komunitas itu. Media pun juga membuat kapling-kapling berupa rubrik tertentu sehingga, misalnya persoalan perempuan harus masuk di rubrik perempuan. Jaleswari sering melakukan negosiasi dengan media, agar persoalan perempuan misalnya, harus dipasang di rubrik lain dan halaman depan agar bisa dibaca banyak orang dan dilihat sebagai persoalan publik.

Tentu, dibutuhkan strategi pengemasan. Misalnya ketika kita ingin mengangkat persoalan pornografi, maka yang harus kita titikberatkan adalah tentang keadilan, bagaimana sebuah wilayah private diobok-obok oleh Negara.

Intinya, akan selalu ada jalan jika kita terus merawat keperpihakan kita, kepedulian kita, dan integritas. Tidak kompromi terdadap ketidakadilan, dismkimirnasi, dan hati nurani. Pada akhirnya, menulis adalah cermin siapa kita. Dan sikap kita mencerminkan ideology kita.


Jakarta, 9 Februari 2011 (oleh Fiqoh)





Rabu, 05 Januari 2011

Gebyar Optimisme

Oleh Fiqoh

Gebyar kembang api tak terhitung jari. Begitu selalu, pesat rakyat menyambut tahun baru. Glamor dan meriah mewarnai detik pergantian 2011. Semua serba cepat, serba sesaat. Dan segala yang gemerlap segera berganti gelap.

Instan. Seperti jeritan anak kecil di tetangga kamar sebelah, memaksa ibunya membelikan petasan yang bisa terbang, saat itu juga. Sang ibu terpaksa tebalkan muka, meminjam uang ke kamar tetangga. Demi menyenangkan anak yang mungkin mengira ibunya tukang sulap. Setengah berlari ia menuju pasar. Terbelilah sebatang kembang api untuk menyambut tahun baru malam itu.

Segalanya serba sesaat, bagai menyantap produk instan siap saji. Si anak yang tak peka kemiskinan orang tua, mengingatkanku pada sebuah hubungan globalisasi. Jiwa-jiwa saling berhimpit tanpa adanya kedekatan emosi.

Agaknya, seperti itu juga hubungan pemerintah dengan rakyat di negeri ini. Bedanya, permintaan si anak masih sebatas kebutuhan, sedangkan keinginan pemerintah dikarenakan keserakahan. Ketakpekaan si anak pada kemiskinan orang tua, karena si anak memang belum mengerti dan belum dewasa. Sedangkan ketakpekaan pemerintah terhadap rakyat karena keculasannya.

Dengan sepuluh ribu yang dipinjam dariku, malam itu anak tetanggaku tertawa-tawa bersama anak-anak yang lain, juga para orang tua. Semua tertawa. Kembang api miliknya meletus satu kali, melesat di antara kembang-api yang lain, dan ibunya nampak lega. Serba cepat, sesaat, dan semua yang gemerlap berganti gelap.

Itulah potret negeri ini. Negeri yang sering didominasi hal-hal serba instan. Mudah menjanjikan harapan, keadilan, kemakmuran, meski yang terjadi adalah sebaliknya. Instan dan karbitan sering juga ditempuh bagi orang-orang yang ingin menjadi pejabat, anggota dewan, pegawai negeri, dan cara memperoleh gelar. Barang instan bukan lagi sebatas produk makanan, tapi juga kejujuran. Semudah bersumpah, berjanji, dan mengingkarinya.

Polanya selalu terbalik. Yang penting bersumpah dulu, jujurnya belakangan. Tidakkah kejujuran itu sebuah jejak laku? Jika telapak kita kecil, jejaknya kecil. Jika lakunya miring jejaknya pasti miring. Ia tidak ditentukan oleh sumpah atas nama apapun. Karena kejujuran adalah perbuatan setiap individu yang akan terus terekam (track record). Rakyat kecil perlu meningkatkan kepekaan, kejernihan dan kewaspadaan terhadap pola itu.

Sebatas janji, belum bisa disebut jujur, apalagi jika masih sebatas teori ataupun sumpah. Para pejabat yang senang bersumpah terbukti bersifat serakah. Pejabat yang sering memberi janji-janji kenyataannya berotak pencuri.

Aset-aset negara dijual, diswastanisasikan. Negeri tenggelam oleh hutang-hutang. Di saat koruptor merajalela merusak di berbagai lini bangsa ini, pedagang-pedagang kecil akan diperas untuk membayar pajak di luar upeti-upeti yang tak resmi.

Pergantian tahun akan terus terjadi. Dan 2011 ini, adalah hitungan ke 65 tahun lebih sejak kemerdekaan diproklamirkan. Tapi, jika perilaku para pemimpin negeri ini tidak berubah, kesengsaraan yang dialami rakyat tak beda dari 65 tahun lalu, ketika belum merdeka. Kekerasan, kerusuhan, ketidakadilan, pembungkaman, terjadi di mana-mana. Selalu saja, ada bentrok pedagang kaki lima dengan Satpol PP, buruh dengan polisi, petani, nelayan dan kaum miskin dengan TNI, dan lainnya. Kelaparan, penindasan, masih terus terjadi di pelosok negeri.

Gebyar kembang api tahun baru kali ini tak terhitung oleh jari. Seperti jumlah kemiskinan yang juga, tak terhitung lagi.

Gebyar adalah simbol. Mungkin simbol semangat juang, bahwa rakyat mampu bertahan dengan caranya sendiri dan optimis menatap hari depan. Simbol bahwa kemiskinan tidak berarti menghilangkan selera humor. Atau barangkali…penghiburan diri untuk sesaat. Sebelum segalanya kembali gelap, segelap lorong gang di antara got berair hitam tempat tinggal mereka.

Jakarta, 5 Januari 2011





Sabtu, 25 Desember 2010

Pudarnya Mantera Simbok

Cerpen
Oleh Siti Nurrofiqoh

Anak-anaknya memanggilnya Simbok. Dan para tetangga memanggil Mbah Bur, nama depan anak sulungnya, Burqi.

Perempuan tua itu menghitung suara kentongan bambu yang dipukul peronda sebanyak tiga kali. Artinya, pukul 03 dini hari. Entah kenapa, malam itu matanya sulit dipejamkan. Ia kenakan satu lagi baju hangat untuk menghalau udara dingin yang semribit kencang menerobos celah-celah bilik bambu.

Ia terus membesut berhelai-helai mendong yang akan dianyam menjadi tikar. Dari tikar itulah ia mencukupi sebagian kebutuhan hidup. Tiga tikar sering dihasilkan dalam sebulan untuk dijual.

Kelembaban udara pagi membuat mendong-mendong seakan hidup kembali. Padahal tumbuhan sebesar lidi aren yang panjangnya sekitar satu meter itu sudah direbus, direndam dan dijemur. Tapi udara dingin bercampur embun membuat mendong menggelembung dan susah digepengkan. Dan ia makin letih. Ia letakkan besutan bambu, lalu memijit-mijit lengannya dalam diam.

Ingin sekali malam itu ia bercerita. Tapi tak tahu harus dengan siapa ia bercerita. Tak seperti biasa, malam itu kelima anaknya membayang satu persatu. Kenangan-kenangan mereka di masa kanak-kanak bermunculan dengan segala kelucuan dan kenakalannya. Semua itu ibarat bunga-bunga di taman yang beraneka warna. Meski ia mawar berduri sekalipun. Ya, lima anak, lima macam tabiat.

Ia mengenang masa-masa sulit ketika membesarkan mereka. Matanya bagai menyaksikan kembali keributan-keributan kecil anak-anaknya yang berebut mainan atau makanan. Dan sebagai seorang ibu, ia sering menahan lapar demi mereka. Kala itu, hanya sekali saja sepiring nasi lembek ditemui dalam sehari. Menjelang sore, ia sering berpura-pura makan sambil menyuapi satu dua anak paling kecil yang masih terlihat lapar. Baginya, cukuplah menyantap dedaunan yang direbus atau ubi saja. Sendirian ia merangkap ibu dan bapak, semenjak suaminya meninggal dunia karena sakit malaria.

Dari semua kenangan yang muncul satu persatu, pikirannya kini tertuju pada bungsunya. Anak bungsu itu, dulu sering menolak disuapi karena tahu ibunya juga lapar. Anak itu sering meraih sendok dan berpura-pura mau makan sendiri, kemudian sendoknya dibalikkan ke mulut ibunya. Dan jika ada tetangga yang bertanya di rumah masak apa, ia akan selalu mengatakan masak sayur tahu, meski yang dimasak adalah daun talas. Lima anak lima macam tabiat. Semoga semuanya hidup berbahagia dan baik-baik saja, begitu selalu perempuan itu mengucapkan doa untuk manyabarkan hati jika ada anaknya susah dinasehati.

Sebuah senyuman menghiasai wajah keriputnya malam itu. Tubuhnya yang ringkih turun dari atas lincak dan menata cumplung-cumplung di mulut tungku. Ia menyalakan bedian untuk menghangatkan badan. Di depan tungku ia terlihat melamun, pandangannya menembus kegelapan melalui lobang-lobang besar pada bilik dapurnya.

Seekor kucing menyembul dari bilik yang growak karena lapuk. Kucing berbulu kembang benguk yang dinamai Si Bawuk. Mendapati si perempuan tua masih terjaga Bawuk mengeang-ngeong manja. Ia tatap wajah di depannya dan mengeong sekali lagi.

“Eh, kamu pulang. Dari mana Wuk...? Tidak berantem lagi kan?” kata perempuan itu sambil mengelus Bawuk yang menggelendot di kakinya.

Keduanya kembali diam. Dan Bawuk menggesek-nggesekkan badan serta ekornya minta naik ke pangkuan. Kemudian tangan perempuan itu mengangkat tubuh Bawuk ke pangkuannya.

Lima anak, lima tabiat. Dulu ia sering mendengar mereka menyebutkan impian-impian. Ada yang ingin jadi orang kaya, ada yang ingin jadi orang biasa, ada yang ingin punya pangkat, dan ada yang ingin jadi sopir oplet. Dan kini mereka sudah besar-besar, bahkan sudah memiliki banyak anak, dan sebagian dari anak-anaknya sudah punya anak lagi.

”Berapa buyutku ya...” gumamnya. Dan ia menghitung, seluruhnya ada tujuh dan ia bergumam lagi, ”Meski mereka tak pernah datang, yang penting mereka berbahagia dan baik-baik saja.”

Lima anak, lima tabiat dan keinginan. Mereka sudah sibuk dengan urusan masing-masing. Entah kenapa, yang laki-laki, dengan segala alasannya semakin tak ada waktu menjengkuknya. Pernah sekali waktu ketika menjelang lebaran, ia minta salah seorang anaknya untuk memperbaiki jalan di depan rumahnya. Namun istrinya langsung menyusul dan meminta suaminya segera pulang karena harus menyelesaikan pekerjaan di ladang. Di waktu yang lain, ketika ia sedang mesem-mesem melihat tingkah Mina, cucunya, ibu Mina memanggil-manggil dari atas rumah dengan nada keras dan getas. Mina cucunya yang berumur 4 tahun, dia sudah pintar bercerita dan sering sembunyi-sembunyi dari ibunya untuk main ke tempat neneknya yang hanya dibatasi jalan di atas rumahnya. Namun sang menantu alias ibunya Mina, sering melarangnya bahkan sering pula menggeretnya pulang secara paksa. Karena kalau Mina berlama-lama main sama neneknya, biasanya suaminya akan ikut main ke rumah ibunya.

Dan kata para tetangga yang sering memperbincangkan sikap menantunya itu, Ibu Mina pernah bilang kalau suaminya sering menjenguk ibunya, takut nanti dimintai uang dan bantuan ini itu. Sudah sering pula sikap kurang sedap ia terima dari menantunya, tapi ia pura-pura tidak tahu agar tidak timbul masalah. Maka itu sejak tujuh tahun lalu ia meminta kepada anaknya untuk memindahkan bekas kandang kambing ke bawah jalan untuk ia tempati. Sedangkan rumah yang dulu ia tempati diberikan pada bapak Mina, karena dari semua anaknya hanya bapak Mina lah yang belum memiliki rumah.

Keputusan memilih hidup sendiri supaya kehidupan semua anaknya baik-baik saja dan bahagia. Kini kata-kata itu, semakin lama baginya seperti sebuah mantera yang ampuh untuk membahagiakan hatinya, juga demi mengikhlaskan segala sesuatunya.

Tapi entah kenapa, kejadian tadi sore, kegetasan suara itu, terasa menyakiti telinga yang sudah mulai berkurang pendengarannya. Dan ia buru-buru menyuruh cucunya pulang, karena tak ingin Mina menjadi sasaran kemarahan ibunya. Tak tahu kenapa, anak kecil sering menjadi sasaran penyaluran kemarahan orang tua.

Tubuh tuanya terasa makin letih. Dan ia teringat anak-anaknya lagi. Ia menghitung lagi. Dua anaknya tinggal dalam satu desa. Yang dua di Jakarta, dan yang satu lagi menjadi orang kaya dan tinggal di kampung tetangga. Sebagian dari mereka hidupnya pas-pasan saja. Dan ia tak pernah berhenti berdoa, kerena hal itu mengingatkannya pada masa-masa sulit ketika dulu membesarkan mereka. Tapi sebagai seorang ibu, di hatinya juga sering rindu untuk dijenguk. Kehadiran seorang anak, selalu membuat hatinya lega dan sejuk. Namun kerinduan-tinggal kerinduan, dan untuk kesekian kali bibirnya merapalkan mantera: biarlah, yang penting mereka berbahagia, dan baik baik saja.

***
Seorang anak bisa saja lupa dan jarang memikirkan orang tuanya. Apalagi jika sudah berumah tangga dan tenggelam dalam berbagai urusan. Tapi, tidak demikian bagi seroang ibu terhadap anaknya.

Malam itu kenangan demi kenangan menyembul bagai benang setring yang ditinggalkan jejak jarum sulam pada kain. Semakin usang kainnya, semakin nampak bekas sulaman yang pernah menancapinya. Ia tengah meniti kenangan demi kenangan itu, tersenyum sendiri dan juga, ....kadang mulut keriputnya tergeragap menahan isak, sendiri.

Ia sungguh rindu mereka satu persatu. Ia ingat ketika dulu, dulu sekali, anak sulungnya datang pagi-pagi dan menubruk pangkuannya karena berantem dan diusir itrinya. Dulu juga, anak yang ketiga, datang malam-malam dan mengingap saat mengalami kekecewaan karena istrinya selingkuh. Anak lelakinya menyatakan menyesal karena selama ini melupakan ibunya sendiri. Harta yang ia cari semuanya diberikan pada istrinya dan bahkan untuk membiayai adik-adik keluarga istrinya, tapi istrinya mengkianatinya. Istri yang sebelum dinikahinya telah memiliki anak yang tidak jelas ayahnya di mana. Ketika itu, sebagai ibu ia memilih diam membiarkan anaknya menuntaskan beban hatinya.

Bawuk mengusek-usek ketiaknya. Lalu si perempuan tua menyelimutinya dengan menarik tepi kain. Kemanjaan Bawuk mengingatkan pada anak bungsunya yang di Jakarta, yang setiap lebaran pulang menjengkuknya. Dan terakhir, ia mengingat anak perempuan yang kini telah menjadi orang kaya dan makin sibuk. Waktunya terkuras untuk banyak hal. Tujuh tahun lalu membuat rumah mewah, hingga ia merupakan orang pertama yang memiliki rumah mewah dengan lampu-lampu kristal model orang kota di kampungnya. Sekitar empat tahun lalu keluarga itu membeli mobil, sampai-sampai sawah warisan yang pernah diberikannya dijual tanpa memberitahu. Dan tiga tahun lalu sibuk untuk meminang menantu. Dalam keseharian, jangan ditanya lagi, keluarga itu disibukkan mengurus berkarung-karung cengkeh, kopi, berkerjanjang-kerjanjang ayam, bebek, dan belakangan ditambah warung kelontong di depan ruamhnya. Hingga, saat lebaran pun, ia baru bisa datang di hari ketiga atau keempat, itupun paling lama dua jam. Lebaran tahun lalu, ia malah tak datang. Kata tukang ojek yang dimintai tolong mencari tahu mengatakan, di sana sedang merayakan ulang tahun cucunya yang pertama dan sangat meriah. Dan meski sedih ia mengucapkan Alhamdulillah. Tadinya ia sempat cemas mengira terjadi apa-apa dengan keluarganya.

Beribu maaf, pemahaman dan pengertian seakan tiada habisnya dari dalam hatinya buat anak-anaknya. Kecuali satu, ia mulai kehabisan alasan untuk para tetangga yang mengeriknya jika ia sedang sakit. Karena para tetangga akan selalu menanyakan kenapa anak-anaknya tak pernah datang. Dan ia akan bilang bahwa anak yang ini sedang mengurus ini, yang itu sedang mengurus itu, apalagi yang di sono, mereka sibuk sekali.Dan selalu, penjelasan ditutup dengan ucapan: bahwa anak-anaknya menyayanginya tapi mereka tak pernah menjenguk karena sibuk. Yang penting mereka sehat dan baik-baik saja.

Tahun demi tahun sudah berganti, berulangkali tanpa pernah dihitungnya lagi. Perjalanan usia menambahkan kerentaan pada fisiknya. Kini usianya sudah hampir 80 tahun, dan ia sudah sering masuk angin, sesering itu pula tetangga dekat yang menolong mengerik badannya yang tinggal tulang berbalut kulit itu. Tapi anak-anaknya pun semakin jauh karena mereka juga semakin tenggelam dengan cucu-cucunya yang sebagian belum pernah dilihatnya dan barangkali lucu-lucu.

Seiring waktu yang merapuhkan segalanya, sekali waktu juga mantera yang sekian lama diyakini memudar dari keteguhan hatinya yang nestapa. Mantera yang sesungguhnya telah lama juga diragukan oleh para tetangganya--terbukti anak-anaknya tidak peka lagi dan tak peduli pada keadaan ibunya. Hubungan batin mereka bagai telah putus.

Ia ceburkan satu cumplung lagi ke atas bara yang sudah mulai padam. Tubuhnya mengigil. Dan ia membaca istighfar berkali-kali, lalu merapalkan mantera saktinya sekali lagi dalam suara lirih: yang penting... mereka bahagia, dan...

Tubuhnya terus menggigil. Bawuk yang meringkuk di pangkuannya menggeliat dan mengusek-usekkan tubuhnya kian dalam. Seakan binatang itu turut merasakan duka nestapa perempuan renta.

Fajar telah menjelang pertanda kehidupan baru akan dimulai. Dan tak lama rumah itu telah ramai oleh para tetangga. Mereka bahu membahu mengurus jenazah Mbah Bur yang ditemukan sedang menelungkup bersama Bawuk yang nampak berduka mencangkung di sampingnya.


Magelang, 23 Desember 2010

Tulisan ini saya persembahkan untuk memperingati Hari Ibu. Inspirai muncul dari kisah nyata teman-teman dekat. Semoga para anak bisa lebih peduli kepada ibunya, yang telah menjadi perantara kita melihat dunia. Melahirkan, merawat dan mengasihi kita semasa kecil hanyalah serangkain dari beribu suka-duka yang sering luput dari penglihatan dan perasaan kita. Sentuhlah Ibu...selagi bisa menyentuhnya dengan jemari kita.

Rabu, 15 Desember 2010

TKI, Kendala Bahasa, dan Aku

Oleh Fiqoh


Berita penganiayaan terhadap Tenaga Kerja Indonesia mewarnai berbagai media massa. Dan bahasa, disebut sebagai kendala utama pemicu konflik sebuah hubungan yang tak seimbang itu.

Hal itu mengingatkanku pada hubungan pendek, di jam-jam pendek, ketika aku menjadi TKI lokal--bekerja di Indonesia bermajikan warga negara asal Korea. Aku mengartikan TKI adalah tenaga kerja asal Indonesia yang bekerja di manca negara, yang tentunya bermajikan bukan orang Indonesia alias orang asing.

Bukan soal keasingan yang ingin aku tekankan, melainkan perbedaan bahasa, budaya, juga adat-istiadat. Itulah kenapa aku menyebut hubungan kerjaku kala itu, sebagai ’TKI” lokal, meski tak serumit TKI di manca negara yang setidaknya soal paspor pun sering menjadi kendala.

Di pertengahan tahun 1996 aku melamar ke sebuah alamat yang tercantum di iklan pinggir jalan. Manggala Sport, nama perusahaan itu. Pengumuman itu selengkapnya berbunyi: membutuhkan seorang perempuan menarik, tinggi 158-160, lulusan SMA atau sederajat, menguasai bahasa asing. Demi pekerjaan, meski aku tidak memenuhi semua syarat itu datanglah aku melamar dan diwawancara dengan dua orang warga negara Korea. Alhamdulillah aku diterima di tempat usaha yang awalnya kupikir tempat fitness. Mister yang mewawancaraiku menjelaskan bahwa usaha mereka di bidang Trading sepatu-sepatu kualitas ekspor. Setelah aku bekerja, lama-lama aku mulai mengerti dunia tempatku bekerja saat itu. Dunia yang sama sekali tidak preñah terbayangkan!

Sore di sebuah ruangan remang dan disemarakkan bunga-bunga serta alunan musik Korea, aku diperkenalkan mesin-mesin. Mister yang mewawancaraiku bilang bahwa itu mesin game, untuk hiburan orang-orang Korea yang tinggal di Indonesa. Tugasku menerima tamu, berdiri di depan pintu, mengucap salam dalam bahasa Korea. Selama seminggu aku dan dua temanku menjalani training, dan dibekali kamus.

Sebulan berjalan, aku mengenal lima Mister yang notabene sebagai manajemen. Dan seiring waktu, aku memberi gelar pada mereka satu persatu dan teman-temanku setuju. Gelar itu kusesuaikan dengan tabiat dan pembawaan mereka masing-masing. Tiga Mister bernama depan sama yaitu bermarga Kim. Dua lagi bernama Yun, dan Ree. Dan kendala berbahasa dimulai dari sana, dari salah seorang Kim yang selanjutnya aku sebut Kim K.

Inilah satu persatu dari tripel Kim itu. Pertama adalah Kim I artinya intelek. Dia tampan, berbadan agak tambun, murah senyum, menyukai warna hitam, merah, dan sopan, dan sering bicara dengan bahasa Inggris dengan kami. Jika kami mengalami kesulitan berkomunikasi dalam bahasa Inggris dia akan membuka kamus bahasa Indonesia. Sering juga dia bertanya padaku arti kosa kata ini dan itu. Sebaliknya, dia mengajariku dan kedua temanku bahasa Inggris, dan membiasakan komunikasi dengan bahasa itu, meski Inggrisku jauh dari benar, yang penting tahu artinya. Dia bilang, bahwa dia ingin kami pintar berbahasa Inggris. Dan aku terkesan padanya.

Kim kedua adalah Kim P, artinya perlente. Ia mengingatkanku pada aktor pemain film-film Asia sekaligus bintang film sindikat mafia. Berbadan atletis dan gesit. Dia selalu mengenakan kemeja putih, celana hitam dan dasi. Dialah yang paling peduli untuk melindungi kami jika ada tamu yang iseng untuk menggoda kami. Kalau itu terjadi dia akan menegur dengan caranya yang sangat sopan dan elegan—senyum, menepuk-nepuk punggung si tamu dan membungkuk hormat. Tapi suatau malam dia juga bersikap tegas sekali, membentak tamu dan hampir memukul tamu yang mabuk membawa minuman dari luar. Di tempat itu Mister kami tak mengijinkan tamu mabuk. Belakangan baru aku ketahui dia pintar memainkan samurai dan bela diri.

Dan dari Kim P pula, kami dipaksa membuka rekening untuk menabung. Sehabis gajian dan di pertengahan bulan, dia akan menanyakan saldo dan memeriksanya. Dia kawatir bahwa nabung kami hanya pura-pura. Cara bertanyanya lucu, layaknya seorang kakak pada adik-adiknya. Dia juga ikut menghitung persenan yang harus masuk rekening dan memilah untuk kebutuhan hidup. ”Jangan borose,” katanya, yang artinya boros.

Kim ketiga adalah Kim K, artinya kebo. Dan aku akan menyebut tentang orang ini di urutan belakang tulisan ini. Maka biarlah kusebut nama Mr Yun, pria lembut, sering nampak lemah dan pendiam tapi jika ada hal yang mengganggu pikirannya mukanya langsung merah seperti udang rebus. Ia sering didampingi Awiwa, orang Indonesia yang sepintas lalu kudengar obrolan mereka bahwa Awiwalah yang mengurus perijinan usaha itu. Dan dari situ, aku baru tahu tentang perjudian bernama Kasino!

Dan selanjutnya adalah Mr Ree, manager kami. Soal karyawan, keperluan rumah tangga kantor, rumah untuk karyawan dan sopir antar jemput dia yang mengurusnya. Kami tinggal di perumahan Villa Taman Cibodas Tangerang, tak jauh dari tempat Kasino itu beroperasi. Pulang dan pergi harus dengan sopir. Ia ingin kami selalu fit, maka itu pernah dia memarahi kami karena ketahuan tidak minum air mineral yang saat itu lupa diantar oleh sopir. Selain kebaikan, kami juga dikekang tak boleh membawa pacar, membawa teman, dan harus banyak istirahat, katanya supaya tak mudah sakit. Aku seperti terisolir dan berpikir negatif, karena itu aku selalu sedia potongan besi dan semprotan air cabe di kamar.

Tapi dari semua pengekangan itu, kami dianjurkan mengambil kursus bahasa Inggris di waktu senggang, katanya supaya sukses di masa depan.

Mr Ree yang berbadan kerempeng tapi tampan itu humoris, suka bernyanyi tapi temperamennya tinggi. Nyanyian dan goyang regge-nya dalam sekejap bisa berganti bentakan ke kami jika ia meminta sesuatu dan kami tak langsung mengerti. Keadaan ini, entah kenapa membuatku berpikir seperti di masa penjajahan.

Dan inilah, tentang Mr Kim K. Dia gemuk, sering bermalas-malasan, curi-curi waktu untuk tidur saat yang lain bekerja. Jauh dari gesit, dan masa bodoh. Tidak pernah berbahasa Inggris dan hanya sedikit bisa berbahasa Indonesia. Kalau ada tamu datang dan belum ada Mister lain, dia akan bersembunyi di ruang kerja Mr Yun. Barangkali dia malas menyambut tamu-tamu. Dan yang lebih membuatku kesal adalah, dia sering minta dilayani membuat kopi, mie, dan meludah di lantai. Mister lain tak pernah memnita dilayani karena menurut mereka kami tidak bekerja untuk itu. Dan Kim K sering ditegur Kim P saat sikapnya itu ketahuan. Sedang bagiku, bukan soal aku keberatan melayani permintaannya, tapi karena aku sering depresi dalam berkomunikasi dengannya.

Seperti yang terjadi siang itu ketika aku shift siang. Dia datang pukul 16:00, satu jam setelah aku. Ia menelpon seseorang dan memintaku mengambilkan bulgen.

”Bulgen. Bulgene!” katanya.

Tentu aku perlu berpikir sejenak, apa itu bulgene? Aku mencari-cari benda yang ada di ruangan itu tapi tak menemukan karena yang ada hanya mesin-mesin, tumpukan krat-krat Coca-cola, Sprite dan Fanta. Dan aku menebak-nebak barangkali yang dimaksud adalah bougenvile? Kusambar bunga di sebuah meja pembatas mesin. Barangkali itu bunga Bougenvile.

Aku dekati dia dan bilang, ”Inikah yang dimaksud?”

”Ya. Bulgene ya! Aisssttt, aegooohh! Kenapa orang Indonesia bodoh ya? Aissstt!”

Aku diam sambil menerka-nerka lagi. Dan aku naik ke lantai atas, mencari-cari sesuatu yang namanya mirip. Di jendela korden berkibar-kibar tertiup udara AC. Kordenkah? Tapi, untuk apa korden? Akhirnya aku menghadap dan memintanya mengulangi nama yang dimaksud—tentu aku sampaikan itu dengan kata-kata yang dieja. Dan...bukannya mendapat penjelasan malah dia mulai kalap. Matanya merah, mukanya sembab, dan giginya beradu.

”Bulgene, bulgene, bulgene ya....!!! Aissstt, cekk! Orang Indonesia bodoh ya!”

Aku kembali berlalu dan berpikir tentang nama barang itu. Bulgene...mungkinkah buntelan? Tapi buntelan apa? Aku memandang seisi ruangan dan melihat kalender bergambar laut Bunaken. Aku sedikit lega dan berlari mendekatinya.

”Apakah ini yang diperlukan?”

Dia berdiri, memegang benda itu sambil melotot dan giginya kian gemeretak seperti ingin memakanku. Ia menghentakkan kakinya ke lantai sambil mendesis dan merampas benda itu dari tangangku dan membantingnya ke lantai.

”Aissssstt, cekk! Kamu bodoh, ckkk. Kamu bodoh, cekkk. Bulgene!!!”

Kutabahkan diri dan menatapnya. Dan dia tambah kalap, berdiri dan duduk dari kursi. Menggebrak meja. Kemudian berangsur-angsur diam, seperti anak babi gemuk yang terkurung di kandang dan klimpungan. Keadaan yang sungguh-sungguh membuat putus asa. Aku mengamatinya, sambil memutar otak menemukan cara dan berdoa. Lalu muncul di pikiranku untuk memberinya kertas dan pulpen agar dia bisa menuliskan apa yang diinginkannya.

Ketiga kalinya aku dekati dia lagi sambil memberikan benda itu. Begitu melihat aku membawa pulpen matanya terlihat mendelik jalang dan merebut pulpenku.

”Ini apa....???”

”Pulpen,” kataku.

”Aisssttt, cekkkk, aissst, bodoh ya. Tadi saya mau ini!”

Pulpen, menjadi bulgene, siapa yang bodoh? Aku sadari belakangan bahwa orang Korea sering menambahi ’e’ di belakang suku kata yang diucapkan. Di hatiku ingin sekali berkata bahwa kamulah yang bodoh Mr Kebo! Tapi demi pekerjaan aku mengalah. Kuterima keegoisan dan kekasarannya. Dalam diamku, aku teringat tentang lagu kebangsaan Indonesia Raya. Bangunlah badannya, bangunlah jiwanya...seperti apa peran pemerintah untuk membangun bangsa ini?

Dalam diamku, aku kumpulkan kekuatan dan pepatah yang waras mengalah dan mengalah untuk menang—kemenanganku agar aku tetap bekerja. Ya, sekali lagi demi pekerjaan. Biarlah di matanya, aku ibarat kerbau yang bodoh. Dan dihatiku bertanya lagi, di mana peranmu negara? Aku memaki pemerintah yang abai sehingga kemiskinan dan kebodohan merajalela.

Bangsaku, negeriku. Di kiri dan kanan ruko yang hanya berbatas selapis tembok ada Hans, warga Maumere yang membuka bengkel mobil. Dan sebelahnya lagi agen Coca-cola, lalu depannya tempat usaha pembordiran sepatu. Semua orang-orang sebangsaku. Tapi, kenapa aku terjajah seperti ini? Terjajah oleh segelintir orang asing yang datang ke Indonesia? Dan kenapa justru orang asing bisa leluasa berbuat seenaknya, mengolok-bangsa Indonesia, bangsa yang ia datangi untuk mencari makan? Ah, barangkali tidak sebatas untuk makan dia datang ke Indonesia, tapi untuk mengeruk keuntungan dan dibawa pulang ke negara asalnya, dengan cara menipu. Termasuk menipu pemerintah.

Tapi justru karena ia segelintir, membuatku jadi tidak ingin buru-buru bersikap picik dan menyebut “Korea jahat”. Apalagi menjadikan bahwa ini persoalan antara Korea dan Indonesa. Toh, meski benar adanya bahwa aku diperlakukan tidak adil, pemerintah juga tidak akan turun tangan kalau belum ada tenaga kerja yang mati dibunuh. Bahkan pembunuhan Marsinah pun, tidak diusut tuntas. Teringat ketika demo menuntut berbagai pelanggaran di sebuah pabrik, alih-alih haknya dibayar, malah empat pengurus serikat ditangkap polisi dengan tuduhan provokator dan para buruh dipecat.

Orang Indonesia bodoh? Barangkali saja ini suatu pertanda bahwa kemiskinan dan kebodohan di Indonesia memang bukan lagi rahasia umum di mata warga negara lain. Pemerintah Indonesia tak punya wibawa makanya dihina-hina, atau memang hina beneran? Perilaku hina ini mungkin terlihat dan dirasakan ketika warga asing itu masuk ke Indonesia dan mengurus semua keperluannya sedari ijin tinggal, tempat tinggal, hingga tempat usaha yang semuanya bisa dibeli dan dimanipulasi? Buktinya, perjudian Kasino bisa beroperasi.

Dan ini menurutku penting kenapa aku tak mengeneralisir bahwa Korea jahat, karena aku masih mendapati sikap-sikap baik dari warga Korea lainnya.

Kembali ke maraknya penyiksaan yang dialami para TKI, aku jadi terbayang akan hubungan kerja yang kualami saat itu. Kalau di negeri sendiri saja aku diperlakukan sedemikian rupa, bagaimana dengan mereka yang di negeri orang?

Barangkali, kalau saat itu Mr Kim K memukulku aku masih bisa lari dan minta tolong sama tetangga di kiri dan kanan ruko. Bagaimana dengan mereka yang terisolir di dalam rumah majikan di negeri orang? Belum lagi, jika mereka kabur bisa jadi ditangkap polisi seperti kisah temanku.

Sebuah kecemasan bertambah ketika suatu sore yang hujan, sebuah saluran air mampat. Seorang tukang membuka lobang saluan air yang tertutup keramik, kira-kira selebar satu meter persegi dan berkedalaman sekitar 3 meter. Di sore yang lain, Mr Kim K berdiri di sana dan memandangku. Sore itu aku hanya berdua dengannya. Ketika aku naik ke lantai atas untuk membereskan ruangan tiba-tiba dia sudah di belakangku dan memelukku. Saat kekagetanku berlangsung, dia telah menciumku, lidah besarnya memenuhi rongga mulut. Aku berontak melepaskan diri, turun ke lantai satu. Aku sudah tak peduli apa yang akan terjadi dengan pekerjaanku dan siap berteriak jika dia mengejarku. Tapi dia tidak mengejar dan hanya berjalan pelan sambil cengar-cengir. Aku menatapnya tajam dan dia terkesiap salah tingkah. Sikapnya membuatku tambah berani, dan aku terus menatapnya dan dia meminta maaf dengan menangkupkan kedua tangan di dadanya. Malam itu aku berkumur air garam hangat berkali-kali untuk membuang perasaan mual dan jijik.

Malamnya aku bercerita pada Mr Kim P soal kejadian itu. Dan aku katakan kalau aku tidak bisa menerima diperlakukan begitu, dan kalau Mr Kim K tetap di sana, maka aku akan keluar dan akan menuntutnya. Mr Kim P gusar. Dia marah sama Kim K, tapi juga terlihat kecewa sama aku. Dan di hari berikutnya aku tak melihat MR Kim K lagi. Aku hanya sekali melihatnya datang mengambil sesuatu. Dan dia bilang kalau dia kecowa padaku. “kamu tahu, apa arti kecowa?” Aku bilang tidak tahu, dan dia menuliskan kata: kecewa.

Aku hanya tersenyum. Sebelum pergi ia berdiri di dekat keramik penutup lobang sambil menatap tajam ke arahku. Entah apa maksudnya.

Dan pada saat itu Mr Kim P masuk ruangan dan dia kaget melihat ada Mr Kim K di ruko itu. Wajahnya tegang dan bicara cepat dalam bahasa mereka. Dan Mr Kim K ngeloyor pergi. Mr Kim P mendekatiku dan dia bilang agar aku tak perlu kawatir karena dia telah dipecat.

”Kamu mengerti pecate? P-e-c-a-t. Kamu bisa mengerti?” katanya tegang.

Aku mengangguk dan menyampaikan terima kasihku.

Itulah gambaran sebuah hubungan kerja dan kendala bahasa. Aku masih memiliki keuntungan karena aku di negeri sendiri, dan dekat dengan teman-teman, tidak terkendala soal paspor jika aku mesti kabur untuk hindari kekerasan.

Berpikir Mr Kim K, aku berpikir tentang orang-orang maniak yang pernah kubaca dalam berita koran, bagaimana mereka berbuat kriminal. Dan, bayangan lobang saluran air yang dari atas terlihat meling-meling dalam samar lampu itu, selalu saja menyisakan keresahan setiap kali aku mengenangnya. Kejahatan bisa terjadi di manapun. Cerita tentang istri yang dibunuh suami dan ditanam di tembok rumah, atau di buang di tempat sampah menghantuiku. Aku tak ingin gambling soal hidup. Dan aku memilih keluar, setelah punya sedikit uang simpanan untuk melamar kerja lagi ke pabrik-pabrik.

Kini aku mengenang Mr Kim K dalam pengandaian yang lain--bagaimana jika orang orang macam Kim K adalah anggota keluarga majikan si tenaga kerja yang tak mungkin dipecat? Mengadu bonyok, tidak mengadu remuk.

Tengarang, 1997