Kamis, 28 Juli 2011

Berhentilah Bicara Surga dan Neraka

oleh fiqoh

Dalam semua agama ada pengertian tentang surga dan neraka. Ada yang menyebutnya Taman Firdaus, Taman Eden, atau Nirwana. Semua tergantung pada keyakinannya masing-masing. Dalam bahasa Inggris surga disebut Heaven dan neraka disebut Hell.

Sore itu, aku tersadar untuk melihat perjalanan diriku sendiri. Perjalanan yang lebih banyak bergulat pada kerja-kerja fisik memenuhi kebutuhan hidup, dan lebih sering abai memikirkan perjalanan yang lain, yaitu perjalanan jiwa dan imanku.

Ibarat rel kereta, jalurku tak berbanding lurus, melainkan pincang. Ia terpotong di sana-sini, dan barangkali akan tetap terberai hingga mati.

Perjumpaan dengan Musdah Mulia malam itu bagai menerbangkan potongan-potongan dari jalurnya. Setidaknya ketika ia menyampaikan tentang surga dan neraka yang tak harus kita percaya.

“Sebenarnya sudah lama saya tidak tertarik pada surga dan nareka kalau definisinya selalu dikaitkan tempat yang dihuni bidadari, susu, dan air yang mengalir. Saya kan perempuan, jadi apa gunanya? Kalau hanya untuk mandi susu, kita bisa di tempat-tempat sauna! Iya kan? ”

Musdah memeragakan saat berdiskusi dengan para Kiai sepuh di lingkup Majelis Ulama Indonesia (MUI). Selain itu, dalam penelitiannya selama dua tahun, dia mendapati bahwa di forum-forum keagamaan, isi ceramah selalu hanya berisi surge dan neraka, halal dan haram.

“Berhentilah bicara surga dan neraka,” tegasnya lagi. Meski ia tahu itu ada si semua Kitab Suci. Karena menurutnya, Kitab Suci itu diturunkan pada abad ke 7 dimana tentu saja masyarakat kita ketika itu, secara sosiologis belum semodern dan secanggih sekarang, dan karena itu orang-orang masih perlu diberikan inspirasi surga dan neraka. “Jadi, kalau sekarang untuk apa?” tambahnya.

Kembali darahku tersirap. Tapi, tunggu dulu, kata hatiku menasehati. Dan aku mencermati apa yang ia paparkan kemudian, sambil mencoba mengheningkan pikiran, hingga bisa kudengar dengus nafasku, degup jantungku, gejolakku. Lalu aku berkata dalam hati, bukankah keyakinan milik setiap orang? Lakumdinukum Waliyadin.

Suasana panas, beberapa orang terlihat berkeringat. Ini akibat AC di Pantau rusak dan sudah dimatikan sebelum diskusi dimulai. Musdah yang dijadwalkan mengisi sesi pukul 19:00 dan baru tiba sekitar 45 menit kemudian itu mengatakan, bahwa esensi paling dalam dari agama adalah membuat orang menjadi beradab, menyempurnakan akhlak manusia untuk menjadi manusiwai. Salah satunya tidak menghadapi perbedaan dengan kekerasan.

Beradab merupakan salah satu bab yang termagtub dalam lima sila ideologi bangsa Indonesia, termasuk sila keadilan sosial. Dan ia tak bisa dipisahkan dari peran kita sebagai makhluk sosial, makhluk Tuhan, dan dalam menjalani kehidupan berbangsa dan benegara.

Maka itu ia bilang, kalau agama hanya bicara akhirat, itu kejauhan. Setidaknya jika dibanding dengan persoalan mendasar di negeri ini -- kemiskinan terus meningkat di masyarakat, pelayanan kesehatan yang buruk, pengangguran merajalela, korupsi membabi buta, ketidakadilan terus terjadi, belum lagi ditambah naiknya harga-harga kebutuhan hidup.

Musdah mengatakan dengan lantang soal sikap para tokoh agama yang menurutnya tak mencari solusi untuk mengatasi persoalan-persoalan itu. Jadi, untuk apa beragama jika ia tak menjawab persoalan-persoalan social yang terjadi di masyarakat kita?

“Benar kata Karl Mark, bahwa agama itu betul-betul candu. Karena yang diajarkan di Majelis Taklim itu sama sekali nggak pakai mikir. Dan agama yang saya perjuangkan adalah agama yang membuat kita berpikir dan menganalisis,” kata Musdah.

Maka, bagaimana kita memahami agama, adalah bagaimana kita memahami Indonesia, dan memahami problem sosial kita sebagai sebuah bangsa.

Agama dan Ideologi Bangsa

Tidak ada keadilan sosial kalau masih ada kemiskinan, masih ada ketidakadilan gender, kesempatan yang sama dalam memperoleh kerja. Dan kesempatan kerja tak bisa dipisahkan dari kesempatan memperoleh pendidikan bagi warga Negara. Kasus TKI terus belulang dikarenakan pemerintah tidak menyediakan pembelajaran untuk meningkatkan skill dan proteksi. Tapi, para ulama malah mengeluarkan fatwa yang mengharamkan perempuan bekerja ke luar negeri tanpa muhrim. Pertanyaannya, apakah para pembantu yang bekerja di dalam negeri diikuti muhrim-nya?

Lagi, bahwa Musdah menemukan agama tak menjawab persoalan social yang terjadi di masyarakat. Tapi meski demikian, masyarakat tetap enggan diajak kritis, sekalipun acap kali agama dijadikan symbol-simbol untuk kepentingan meraih kekuasaan dalam kepentingan politik. Jangankan masyarakat, bahkan menurut Musdah, Depdagri pun tak ada yang bernai mengutak-atik perda-perda yang berbau agama, meski mereka berani telah membatalkan sekitar 300 perda yang bertentangan dengan konstitusi.

“Kenapa? Kalau kita percaya Allah satu-satunya Tuhan, berarti selain Tuhan semuanya mahkluk. Dalam posisi itu nggak ada perbedaan di antara kita -- raja dan rakyat, laki dan perempuan. Kita adalah sama-sama manusia. Karena itu tidak boleh ada diskriminasi di antara manusia. Dan hanya dengan itu kita dapat membangun masyarakat yang adil dan beradap.”

Kita sudah berjanji dalam konstitusi kita untuk membangun demokrasi hukum. Tapi sampai sekarang di Indonesia belum terjadi. Kata Musdah, berdasarkan penelitian Freedom House 2010, hasil polling menyebutkan bahwa di dunia ini ada 192 negera. 47 di antaranya adalah Islam atau yang berpenduduk Islam, Indonesia masuk kategri penduduk Islam terbsedar. Dari 47 negara Islam itu hanya ada 11 negara yang demokratik, itupun baru sebatas demokrasi elektoral, bukan demokrasi hukum. Kenapa? Karena segala sesuatu diambil berdasarkn keinginan penguasa.

“Ini kan sungguh-sungguh merupakan hal yang benar bahwa salah satu hambatan dalam demokrasi kita adalah betul-betul agama, dan itu termasuk pada Negara-negara yang kental Katoliknya, Hindunya, atau Budhanya. Maka asumsi bahwa agama merupakan problem dan penghambat demokarasi, itu kenyataan.”

“Kenapa itu bisa terjadi?” Tanya Basilius Triharyanto.

“Karena agama yang dipahami di masyarakat kita berbeda dengan esensi yang ada dalam agama itu.” kita hanya membaca tekstur kitab suci, padahal agama adalah interpretasi. Dan siapa yang interpretasinya lebih baik, ya itu yang diambil.”

Diskusi ditutup dengan tepuk tangan yang gemuruh. Musdah yang malam itu berkerudung krem dan berbaju kurung nuansa coklat segera meninggalkan ruangan, turun dari tanggal lantai empat gedung Pantau, Jl Raya kebayoran Lama Jakarta Selatan. Aku mengiringinya, dan ketika kakinya menyentuh lantai dasar aku bertanya padanya, “Menurut Mbak Musdah, surga dan neraka itu ada atau tidak?”

Karena terus terang aku terganggu dengan pernyataannya

“Ya, kalau kita meyakini ada ya yakini saja, tapi tidak dalam bentuk yang begitulah. Dan lagian, kenapa kita harus membahas itu?”

Sambil mengantarnya masuk mobil, aku juga teringat pada temanku Mbak Karsih. Ketika itu aku mencoba mempraktekkan ilmu hipnotis di televisi untuk membuatnya merasa rileks. Maka aku berkata pada Mbak Karsih, agar ia membayangkan dirinya sedang berada di salon mewah, dengan sofa yang empuk, dan udara AC yang dingin. Tapi sampai waktu yang lama, ia malah tegang, karena ia capek membayangkan benda-benda dan nuansa kemewahan yang aku sebutkan. Di pabrik garmen tempat kerjanya, ia tak menemukan semua itu.

Lalu, surga dan neraka aku reka-reka sendiri malam itu. Taman sejuk yang indah, air mengalir, para bidadari, adalah bahasa yang dipilih untuk manusia agar mudah dimengerti, dan manusia bisa membayangkan definisi keindahan itu. Sofa mewah di salon mewah memang tidak dipahami Mbak Karsih, tapi ia bisa memahami gambaran air mengalir dan taman yang indah sebagai situasi yang mendamaikan.

Lebih dari itu, ia yakin betul bahwa surga atau neraka adalah sebuah pilihan apakah kita memilih berada dalam suasana sejuk dan nyaman, atau panas yang mencemaskan. Ia tidak harafiah, tapi sebuah sangsi dan penghormatan atas perilaku manusia. Sehingga ia sangat berhati-hati untuk tidak menipu orang, berbuat jahat, atau mencuri yang bukan haknya.

Bagiku, surga dan neraka serta hari kiamat adalah sesuatu yang tak bisa divisualisasikan. Karena ia sesuatu yang ghaib. Dan salah satu keimaman dalam agamaku adalah meyakini yang ghaib itu. Tapi aku tak bisa membuktikan, begitu juga bagi yang tak meyakininya. Jika kita harus berhenti bicara surga dan neraka, adalah berhenti untuk tidak mengatakan ada atau tiada.

Dan kedangkalanku, memaknai bahwa surga dan neraka adalah sebuah gambaran hitam putih soal penerapan snagsi hukum baik di dunia maupun akhirat. Agar setidaknya diriku ini memiliki rasa takut berbuat jahat terlalu banyak, dan terus belajar untuk lebih beradab, seperti yang dilakukan Mbak Karsih dan dikatakan Musdah. Penghisaban amal perbuatan sebenarnya tidak harus menunggu nanti, tapi sudah dimulai sejak kita di bumi. Perilaku buruk dan merugikan orang lain akan mendpat cap seumur hidup. Dan harusnya, begitu juga hukum di negara ini.

Kenapa agama berbicara halal dan haram? Kalau bicara neraka dianggap keajuhan, kita bisa membuktikan sekarang bahwa pengguna narkoba, telah didera siksaan luar biasa sebelum kematiannya. Karena yang haram, apapun bentuknya selalu menyengsarakan.


Jakarta, 26 Juli 2011

Rabu, 27 Juli 2011

Aku Tak Takut Tuhan

oleh fiqoh

Karena di dunia ini, polisi, militer, hakim dan KPK lebih menakutkan. Dan dalam tataran sosial di masyarakat, hukum massa jauh lebih mengerikan.

Mereka, bisa melenyapkan kehidupan – membunuh jiwa dan karakter yang masih hidup hingga menghilangkan nyawa. Sungguh sebuah peran yang melebihi Tuhan bukan?

Di suatu hari di pertengahan malam, seseorang yang telah berbuat kesalahan dan membuatku marah berkirim sms meminta maaf. Karena kemarahanku kadarnya tinggi, dia memohon ampunan yang seakan mendudukkanku dalam posisi yang sangat tinggi.

”Mohon maafkan aku, ampuni kekhilafan aku. Sekarang ini aku sedang mengenang segala kebaikanmu, dan merenungkan segala kekhilafanku. Aku adalah makhluhk dhoif yang pantas dicaci, tapi kumohon janganlah kau cerita ke orang-orang tentang kebodohan dan kekurangajaran ini. Biarlah hanya engkau, Allah, dan malaikat pencatat amal jelek sajalah yang tahu, wassalam al fakir.”

Banyak hal jelek dan kejahatan yang kita lakukan dalam hidup. Dan untuk semua kesalahan itu, kita terbukti lebih takut dengan penghakiman sesama manusia dibanding Tuhan. Ini membuktikan bahwa Tuhan memang jauh lebih bijak, lebih ramah dan tidak menakutkan.

Masihkah kita ingin mencari-cari kedholiman Tuhan melalui penggambaran siksa neraka yang memotong tangan pencuri dan lidah pembohong? Jika di dunia, sebagai manusia kita bahkan sanggup melakukan penyiksaan yang lebih keji? Maling ayam yang tertangkap basah bisa dibakar hidup-hidup dan dicincang-cincang bukan?

Maka, ketika temanku berkata, kenapa situasi negeri sudah carut-marut kok Gusti Allah membiarkan ya? Jawabnya, karena sifat-Nya tidak seperti sifat kita.

Sms temanku, bagaimanapun, disadari atau tidak jelas membuktikan bahwa ia lebih takut pada orang-orang, pada hukum sosial di masyarakat kita. Dan masih banyak lagi. Misalnya, pasangan yang bersetubuh di tempat prostitusi, para penipu, dan pelaku korupsi, ia lebih takut sama KPK, Hakim dan polisi.

Ada sebuah kebalikan pola hukum yang kita berlakukan dimana azas legalitas sering tidak mengusung azas universalitas. Melanggar undang-undang ditindak berdasarkan undang-undang (kalau ada undang-undangnya), tapi yang universalitas adalah soal kesepkatan umum yang konsekuensinya ditanggung oleh khalayak. Maka koruptor yang merugikan dan menyengsarakan umat, harusnya tidak hanya dijerat dengan undang-undang korupsi dan bisa berdamai di pengadilan. Begitu juga dengan undang-undang tentang lalulintas, yang semuanya bermuara pada pembayaran denda kepada negara. Lho, memangnya negara yang dirugikan?

Ketika sikap ugal-ugalan pengemudi hanya mengakibtakan hilangnya nyawanya sendiri, maka boleh saja pelanggarannya cukup diselesaikan dengan berdamai kepada polisi atau membayar denda di pengadilan. Tapi, kita semua tahu bahwa sikap ugal-ugalan yang mengakibatkan kecelakaan, selalu mengancam keselamatan jiwa orang lain bukan?

Kembali kepada ranah privat dan wilayah publik, hukum Tuhan dan manusia. Belum lama ini ada sebuah konflik kecil dimana aku terganggu dengan seseorang yang bersikap tidak senonoh. Kukatakan padanya, bahwa aku tidak suka dengan sikapnya dan marah. Lalu ia bilang, dia akan bertobat untuk kesalahan yang dia lakukan padaku.

Menurutku, masalah tobat masuk di ranah privat dan setiap orang memiliki caranya sendiri. Sedangkan masalah harga menghargai adalah masuk wilayah hubungan antarsesama. Bahwa kita telah bertobat, bertakwa atau atau tidak, siapapun tak akan bisa membuktikan kecuali melihat perbuatannya, itupun hanya salah satu indikator. Maka, aku sepakat dengan perkataan temanku, bahwa agama bukanlah apa yang kita katakan tetapi apa yang kita jalani.

Sudah terlalu lama, dan terus-menerus kita menerapkan pola terbalik dalam hukum kita. Kesalahan dengan sesama kok minta maafnya sama Tuhan, dan kesalahan dengan rakyat minta maafnya sama Penguasa. Padahal Tuhan sudah berfirman yang kurang lebihnya, Ia tidak akan mengampuni kesalahan yang kita buat kepada sesama manusia, sebelum kesalahan itu dimaafkan oleh manusia yang kita sakiti.

Di luar itu, kita juga sering salah sasaran dalam memahami takdir. Kemiskinan, ketidakdilan, kebodohan, selalu kita tumpahkan pada agama. Meski jelas sudah diisyararatkan bahwa Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu yang mengubahnya.

Hak veto dari Tuhan yang istimewa ini jarang kita gunakan. Sehingga rejeki, jodoh dan kematian diterima sebagai harga mati. Padahal, ia harusnya menjadi sinyal sebagai semangat juang.

Jangan lagi, manusia yang bejat, agama yang dihujat.


Jakarta, 27 Juli 2011

Senin, 25 Juli 2011

Menjadi Buruk Atau Hipokrit Selamanya

oleh fiqoh

Sejak kita kecil, orang tua selalu tidak membolehkan ini dan itu, di antaranya melarang anak-anaknya membaca novel, mengenal pornografi, dan mengeluarkan ide-ide yang liar atau nyeleneh.

Tidak boleh mendengar pembicaraan orang tua (kecuali menguping), atau mengingtip secara sembunyi-sembunyi hal-hal yang ganjil. Sementara itu, para orang tua bebas bergosip ria, ghibah, dan kadang bahkan memfitnah.

Inikah edukasi?

Jangan heran kalau sebuah kesopanan atau waktu belajar menjadi sebuah tujuan bermain-main, dan keseriusan yang mengkawatirkan justru berlangsung tersembunyi. Karena, kita selalu diajarkan dan mengajarkan untuk menyembunyikan yang jorok, curang, jahat, dan keliaran. Kita selalu dituntut hanya menampakkan sesuatu yang baik (kadang bersandiwara bila perlu) di hadapan orang tua dan dunia.

Hingga tiba-tiba kita dikejutkan oleh hebohnya berita tentang kasus skandal seksual atau kehidupan asmara para pemimpin dunia dan tokoh agama. Ada soal Bill Clinton yang dituduh selingkuh dengan Monica Lewinsky, Alan Garcia Roxanne Cheesman, dan poligaminya dai kondang A.A Gymnastiar.

Banyak yang menyayangkan, juga tak sedikit yang menghujat. Ada juga sebuah spekulasi yang menyatakan bahwa pembocoran kasus itu sebagai upaya pemakzulan, dalam kasus Clinton misalnya. Apapun itu, menurutku bukan soal bagaimana para pemimpin harus waspada, atau bagaimana kita memberi hujatan.

Apa bedanya A.A Gym dengan kita – melakukan selingkuh sembunyi-sembunyi, memiliki kekasih gelap, menikah sirih diam-diam, memiliki istri lebih dari dua tanpa diketahui istri pertama, atau sering mendatangi ke tempat-tempat pelacuran?

Kegemparan poligami dan perceraian A.A Gym, sungguh bagai badai yang menggemuruh hingga kita hanya sibuk melihat kegaduhan di luar, tapi tak sempat meraba gajah di tengkuk dan melihat ketelanjangan pikiran kita yang sering penuh dengan porno setiap hari.

Kita maupun para pemimpin itu, tak akan bisa seperti malaikat yang tanpa nafsu dan sifat-sifat yang keliru. Menuntut pemimpin atau penceramah layaknya dewa, jelas kita akan kecewa dan rasanya tak akan pernah ada. Bukankah yang baik dan buruk selalu berdampingan?

Jemaah tak perlu naïf mendewakan penceramah atau figur yang jadi idola, yang bisa menghilangkan kekritisan. Penceramah jangan selalu menganggap dirinya paling sempurna. Kekritisan penting dalam segala hal, karena menuju sempurna adalah tugas setiap individu dan tak bisa diwakilkan melalui tokoh, seperti ketika menonton sepak bola.

Kita butuh pemimpin, seperti menyepekati bahwa barisan perlu komando. Kita butuh penceramah untuk menambah wacana dan pengeling-eling untuk bahan pemikiran dan analisa. Tapi, ia tak harus mematikan nalar dan kreatifitas, layaknya ketika kita membaca litertaur sebuah bacaan.

Ibarat pepatah, mutiara yang keluar dari mulut anjing tetaplah mutiara.

Kurasa, kita tak harus buru-buru bersikap apatis, apalagi buru-buru mengguyurkan air hujan untuk kemarau setahun. Jika kita tak belajar memberi kesempatan pada keburukan yang nampak, kita akan menjadi masyarkaat yang hipokirt selamanya.

Jakarta, 25 Juli 2011




Senin, 18 Juli 2011

Ketika Sang Guru Nakal

oleh fiqoh

Di sebuah kesempatan singkat, seorang guru yang dielu-elukan di mata anak didik dan masyarakatnya, bersikap nakal pada sang pacar.

“Hush! Nggak boleh nakal! Apa kata mereka jika mereka tahu kau seperti ini, sedang mereka pendengar setia ceramahmu dan belajar kebaikan darimu!” sergah sang pacar sambil melengos dan menepis tangan lelaki yang sering terlihat santun itu.

“Kau tahu, ceramah itu selalu untuk orang lain tapi tidak untuk diri sendiri.”

“Ya, aku tahu sekarang. Perbuatanmu berbeda sama sekali dengan kata-katamu. Selama ini kau hanya selalu berteori!”

“… Tak selalu begitu, tapi aku ingin bilang bahwa, yang untuk diri sendiri itu disebut bertafakur dan berbaur. Dari sana, kita melihat bahwa kita masih selalu di ambang – apakah sebuah ajaran cukup dihafalkan atau sudah kita amalkan.”

Sang pacar menatap tajam pada Sang Guru yang ambigu.

“Jalan hidup penceramah tidak sama dengan jalan yang ditempuh jema’ahnya. Di luar perilakumu yang barusan, aku mau bertanya, apakah kau masih bisa bersabar, jika sehari saja, kau ikut denganku berinjak-injakan kaki di kereta api, agar tetap bisa masuk kerja?”

Sang Guru tertunduk ragu.

“Yang kulalui selama ini adalah bentangan permadani. Sebelum kakiku menyentuhnya, orang-orang akan memberiku jalan sambil membungkukkan diri.”

“Satu saja, apa solusi Guru agar saya tetap beristiqomah saat menghadapi penegak hukum yang berkhianat, majikan yang curang, dan…”

“Cukup!” Sang Guru memotong.

“Jangan ditambah pertanyaanmu. Bahkan aku mulai ragu apakah aku masih bisa memelihara senyum manis dan tatapan teduhku, jika aku harus berjejal, berhimpit, dan berinjak-injakan kaki seperti itu. Itulah cacatku. Dan inilah cacat-cacat berikutnya -- perilaku rendahku di hadapanmu saat ini.”

“Kau bermain-main dengan ini semua?”

“Aku hanya ingin kau tahu, bahwa keseriusanku terkadang menjadi saat bagiku bermain-main.”

Kata Bang Dit, Agama adalah apa yang kita jalani, bukan yang kita katakan.

Jakarta, 18 Juli 2011

Rabu, 22 Juni 2011

Tentang Keajaiban

Di suatu malam bulan Mei 2011, aku berada di tengah-tengah Majelis Al Ghifary. Sebuah khotbah usai sholawat, mengisahkan sahabat Rosul bernama Jabir RA, yang bermaksud menjamu Nabi Muhammad dan para sahabatnya.

Jabir yang tak mengira bahwa Muhammad bersama bala tentaranya, mulai cemas dengan sedikit makanan yang dimilikinya. Lalu ia mengungkapkan kecemasan itu pada Rosulullah. Kemudian Rosul memberkati makanan yang sedikit itu, dan meminta Jabir agar tamunya disuruh memasuki ruang makan secara bergiliran.

Berkelompok para sahabat Nabi memasuki ruang makan untuk bersantap. Begitu seterusnya hingga seluruhnya bisa makan secukupnya bahkan kenyang. Tapi setelah semuanya pulang, makanan masih tersisa. Bahkan hingga berhari-hari, gandum yang terus ia masak itu bagai tiada habisnya. Jabir yang penasaran lalu menimbangnya. Dan ketika itu, sisa gandum yang ia masak habis pada keesokan harinya.

Jabir lalu memberitahukan pada Muhammad, kenapa gandum yang tadinya berkah dan tak pernah habis akhirnya habis juga. Maka Muhammad bertanya, “Kamu apakan gandum itu?”

“Saya menimbangnya Ya Rosul,” jawab Jabir.

***

Malam itu juga, aku teringat cerita Simbahku di kampung. Ini sebuah wejangan dari seorang dukun bayi.

“ Jika kita mendapati bayi yang baru lahir tanpa kegenapan anggota badan, tak perlu banyak bicara dan melihatnya berlama-lama. Berpura-puralah tidak tahu itu. Segeralah ambil tampah atau daun untuk menutupnya, lalu bilang, “Tuhan, sepertinya masih ada yang kurang. Tolong digenapi.”

Dan kita akan mendapati bayi mungil dengan anggota badan yang telah tergenapi saat membukanya kembali.

Hal di atas sepertinya hendak memberitahu kita, bahwa keajaiban perlu ruangnya sendiri, dengan caranya sendiri. Ia tak kasat mata. Karena keajaiban yang kasat mata adalah sebuah sulap yang dibuat manusia.

Di dunia ini, kita sering hanya percaya pada yang logika – kita ada karena menulis, atau kita ada karena berpikir.

Persis. Di sinilah letaknya, menulis atau berpikir -- sebuah keberadaan yang sering terasa melambungkan, justru menandakan betapa kita memang dangkal dari yang Maha Tinggi, maha yang tak terjangkau dengan daya pikir serta logika.

Untuk mengalami sebuah transenden, manusia perlu sejenak tidak melihat dengan mata, serta tidak menghitung dengan logika.

Jakarta, 21 Juni 2011 (Fiqoh)

Selasa, 07 Juni 2011

Terpesona

Cerpen
Oleh Fiqoh

Ini beda — bukan pesona yang hadir pada pandangan pertama dan menumbuhkan hasrat pada tubuh. Tapi, pesona yang barangkali membutuhkan ruang hening, untuk diam-diam memasuki jiwa.

Dan aku akan menuliskannya sekarang. Ya, sekarang. Meski sejenak, agar ia terabadikan.

Karena.

Aku takut detik berlalu menggeser momen dan menggantinya dengan masa mendatang, masa yang tak akan pernah terulang seperti sekarang -- desah nafas yang tak pernah akan sama, gesture tubuh, dan seluruh emosi yang terangkum ketika kata demi kata diucapkan.

Masa selalu memiliki jiwanya. Seperti pepatah, “Jika cinta kian menipis maka kesalahan makin menumpuk,” dan sebaliknya, cinta mampu mengubah segalanya.

Ketika.

Hari ini, kita memandang sebuah kekurangan sebagai sebuah berkah. Karennya kau dan aku merasa dibutuhkan untuk mengisi kekosongan itu. Sempurna.

“Tapi aku takut dengan dunia cinta, dimana dunia itu hanya milik kita berdua dan aku hanya jadi milikmu," kataku.

"Tak akan ada yang berubah, melainkan menjadi kian lengkap. Yang mendukungmu akan bertambah.”

Saat itu aku baru lepas dari lingkaran timku, mereka kalangan pekerja yang sedang menghadapi masalah ketidakadilan. Mereka harus pergi karena waktu, dan menyisakan pekerjaan rumah yang belum selesai.

“Mungkin semua ini tak akan selesai hingga akhir hayatku. Jika aku disuruh memilih, menjadi sufi di tempat yang sunyi atau menjadi seorang yang terus berkoar di tengah hiruk-pikuk manusia, aku memilih yang kedua.” lanjutku meski terdengar jumawa dan aku menebalkan muka.

Tentu kata-kata itu tak seluruhnya kutujukan padamu, dan kamu yang lebih suka mendengar dibanding bicara lekat menatapku, tanpa sepatah kata.

“Seperti yang kau lihat, aku bagai pengayuh sampan di lautan persoalan. Aku butuh kesunyian, tapi juga tak bisa bertapa di sana selamanya. Aku tak bisa merasa damai dengan pemenuhan hasrat badaniah yang selalu menyisakan bekas kotoran pada priring-piring dan peralatan dapur serta seprai tempat tidur kita, dalam putaran waktu 1 X 24 jam sepanjang umurku. Aku tahu itu indah, tapi bukan satu-satunya,” kataku ingin menegaskan sekali lagi, meski terasa janggal di telingaku sendiri.

Kejanggalan itu bagai telah lekat dalam diriku, ia bagai gumpalan membatu yang muncul seiring perginya selubung kabut. Dan kini aku menjumpainya lagi, ia bernama ketakutanku. Aku benar-benar ingat perjalanan panjang di masa-masa sebelumnya dimana sebuah pinangan keluarga terpandang dan sangat beragama (entah kenapa agama ada yang sangat dan tidak sangat), memasangkan rambu-rambu (lebih tepat kusebut ranjau-ranjau) di belakang daun pintu. Jika menginginkan kebebasan dan keluar dari sana, ranjau itu membuat kita terluka dan cacat di masyarakat, bahkan selamanya. Di sini simbol lebih penting, sedangkan hakekat bagai berada di dunia antah berantah.

“Aku lelah menjelaskan ini semua tapi…”

“Tapi, memang itu melelahkan,” sembungmu. “Jadi tak perlu kau menambah kelelahan itu dengan terus mengingatnya. Catat saja sebagai dokumen (katalog isi dunia) bukankah itu lebih baik?”

“Tapi aku harus menjelaskan sekali lagi, sebelum kita sepakat hidup bersama. Kadang, tatanan di masyarakat dan tatatan sosial itu bagai pisau. Tapi ia tak bisa ditangkis karena ia bagai atmosfir (ada, terasa, tapi tak bisa disentuh)”.

“Boleh kulanjutkan kalimatku?” tanyamu setelah lama merenung, dan aku menjawab dengan bahasa tubuh.

“Di dalam hidup ini ada banyak kelompok dan paham. Bahkan ketika kita bicara soal nasionalisme pun, tetap ada faksi-faksi – nasionalis demokrat, liberalis, kapitalis, sosialis, fasisme, juga kumunisme. Begitu juga dengan pemahaman setiap orang di dalam menerjemahkan agama, aqidah, dan sebagainya,” katamu dan memandangku, bertanya lagi, “Masih tertarik untuk dilanjut?”

“Tentu.”

“Aku setuju tugas-tugas itu tak akan pernah selesai hingga ajal menjemput. Nanti jika kita menikah, satu lagi orang yang mendukungmu, selain teman-temanmu tadi. Seseorang yang mengekang dan merasa memiliki seutuhnya seseorang yang lain, ia melupakan bahwa Tuhan lebih berkuasa. Kita bahkan akan dipanggil di suatau saat."

Aku tersenyum, dan kamu juga. Lalu, "Hm, soal cuci piring...?" tanyamu sambil menatapku jenaka namun membuatku terhenyak.

"Jangan kawatir. Fisikku yang kuat dan sempurna ini bisa bergantian cuci piring, merapikan tempat tidur, mencuci baju, memasak di dapur atau menyapu halaman. Bagiku itu hanya soal teknis yang bisa dilakukan oleh orang-orang dewasa yang mengerti bahwa manusia harus bertanggungjawab terhadap dirinya. Bagaimana Ibu…? Masih ada yang lain?” katamu dengan mata berbinar hingga bola matamu yang hitam berkilau-kilau.

"Ayo...!" ajakmu sambil mengangkat tangan mengajak toast!

Bahuku terasa kaku, mungkin ini reflek tubuhku merespon ketakjuban, seperti menyaksikan mutiara di lumpur halaman rumah kita. “Maafkan aku…” suara batinku meminta maaf padamu, batin yang diliputi rasa malu dalam kesombongan.

Jiwaku bagai ditelanjangi oleh mata batinmu (kau tahu?) bahwa saat itu aku sedang berpikir begini: aku sanggup melakukan cuci piring di Malaysia atau Arab Saudi ketika itu menjadi bagian perjuangan hidup yang lebih hakiki (demi keluarga). Tapi tenggelam dalam itu di rumah sendiri, membiarkan berbagai pelanggaran kemanusiaan yang lebih luas demi seseorang yang cukup tangguh untuk dilayani (suami), aku tidak mau!”

“Ssst...” katamu, masih dengan mata yang berkilau dan meraih tanganku, lalu menciumnya.

“Mencintai itu menifestasi dari keikhlasan. Seperti…” kau terlihat berat melanjutkan kalimat itu.

Seperti senja yang disapa gerimis hingga sunset keemasan tersaput mendung. Seperti dermaga yang kukunjungi untuk kedua kali dengan orang yang berbeda dan menghadirkan suasana hati yang juga berbeda. Perbedaan rasa ini, yang mengilhamiku untuk tidak bertanya kenapa kau bercerai dari istrimu? Mungkin saja pemikiran itu juga yang membuatmu tak pernah bertanya, kenapa aku masih saja menyendiri.

Aku percaya, bahwa satu alasan yang digunakan seseorang tidak selalu bisa diterima orang yang lain.

“Boleh kulanjutkan?” katamu yang telah kukenali sebagai cirri khas saat bersamaku dan mulai membuatku merasa bersalah (atau mungkin ada yang salah?).

Kubentuk jari tengah dan ibu jariku mirip lingkaran dengan tiga jari lain tegak di atas (seperti ingin menyentil telinga anak kecil). Dan dia melanjutkan masih dengan keseriusan.

“Mungkin ini usang, bahwa mencintai tidak harus dicintai. Bagai lagu Ebit, aku hanya berpikir apa yang bisa aku beri, dan apapun yang akan kuterima aku tak peduli. Ini bukan gombal,” katamu seperti kawatir aku berpikir begitu.

“Ini seperti…" katamu tersendat dengan nafas yang nampak berat.

"Seperti...cintaku pada kedua anakku. Aku tak perlu berpikir apakah meraka mecintaiku atau tidak tapi aku mencintainya, menyayanginya. Dan aku tak akan memaksamu mencintaiku, tapi biarlah aku yang mencintaimu, menyayangimu.”

Sepi.

Angin kencang berhembus di hadapan kita. Ia bagai lepas dari jepitan dua planet.

Kau dan karya landscape-mu. Aku dan keputusanku. Lukisan taman itu tak seluruhnya bunga-bunga hidup. Aku tahu, artifisial terkadang menjadi bagaian keindahan, dikala manusia perlu mewujudkan hayalan ke dalam realita. Dan aku menghargai keindahan alam pikiran itu.

Aku merasa sudah mencintai kedua anak laki-laki yang tampan-tampan dan cerdas itu, meski belum untuk kamu. Tapi aku tak menampik bahwa jiwa indahmu laksana membawaku ke taman indah, dan aku menjadi bagian itu.

Jakarta, 5 Juni 2011 (23:20: 00)

Kamis, 02 Juni 2011

Dan

Enam jam kita bersama
Hanya nyanyian yang tak selesai
Juga setelan gitar yang sumbang

Kita bicara berpindah-pindah tema
Aku tahu bukan itu sesungguhnya
Hingga tiba temaram yang muram
Dan hatiku bersyukur karenanya
Entah kenapa


Seminggu berlalu sejak jumpa pertama. Dan aku tak memikirkannya lagi. Tapi sapaan pagimu rutin mendatangiku.

“Bangunlah, senyum, sambut hari baru, dengan harapan baru!”

Dan.

“Terimakasih,” jawabku selalu.

Sebuah perjalanan sore yang berkabut, kaca depan mobil bagai disirami agar-agar tebal. Musik bervolume rendah dipaksakan mengalun demi mengusir ketegangan yang lelah. Dan aku mencoba mengingatmu di saat aku berada di samping seseorang, wajahmu yang samar seperti kaca itu.

Di suatu siang setelah seminggu yang diam. Pertemuan kita bagai serial dalam cerita bersambung -- kamu menunggu di pinggir jalan dan aku di dalam mobil bersama sesorang. Saat itu kulihat dari balik kaca wajahmu yang hitam manis, nampak elegan dengan kemeja hitam bergaris, dan jeans warna biru navy yang membuat penampilanmu serasi. Hatiku memberi nilai 8 untukmu.

Di sebuah malam, aku berusaha mengumpulkan ingatan itu – menyebabkan sakit pada kepalaku, bagai seorang amnesia di antara keterpecahan ingatan masa lalu. Membayangkanmu jauh lebih sulit dibanding jika aku mengenang sosok laki-laki selainmu terlebih karena dia sangat disukai oleh tubuhku meski tidak keluargaku. Tentu aku menyukai dada bidangnya yang bagus dengan bulu lebat yang lembut dan jauh dari postur penjajah wanita, juga berhati baik. Dia berwajah campuran Cina dan Sunda, yang meski seiman denganku tapi diragukan keluargaku, ditambah bumbu narkoba membuatnya tercela, meski celaku lebih banyak lagi.

Tiga minggu membeku untuk hubungan kita.

Ini hari pertama kau absen menyapa. Mungkin kau lelah dan aku lebih-lebih lagi karena sementara itu orang-orang di sekitar kita banyak mengambil alih dengan berkirim sms dan menelponku, mereka bagai para sales dari sebuah perusahaan yang tengah meluncurkan porduk baru. Mareka berkata bahwa kamu produk terbaik buatku, kamu pengertian, taat beragama, memiliki estetika baik tentang seni, dsb, dsb. Orang-orang itu agaknya menahan nafas menungguku bermurah hati untuk bersay hallo padamu.

Dan aku melakukannya.

“Hai, apa kabarmu?” kataku, tanpa pakai salam seperti yang sering kau gunakan ditambah doa terbaik dan pengharapan.

“Terimakasih untuk smsmu, aku baik dan kamu?”

“Baik juga. Maaf sering tak membalas smsmu termasuk semalam, karena aku sedang perajalanan menuju suatu tempat.”

“Oh, tidak apa-apa. Mengerti.”

Dalam hitungan menit, para ‘sales’ mengirimkan sms memberi selamat (aku tahu) kamu memang baik di mata orang-orang sekelilingmu. Komunikasi singkat kita dengan cepat bahkan menjalar ke keluarga sepupu, kakak, adik, hingga ipar-ipar di keluargamu. Dan mereka memburuku untuk menerima lamaranmu, dengan alasan aku akan berubah pikiran atau kamu yang berubah pikiran.

Ya, aku tahu maksud semuanya baik. Tapi aku semakin ingin menjauh.

“Pernikahan?” gumamku selalu dalam hati dan aku bagai kembali ke masa perpindahan dunia dimana takkan bisa kulalui semalampun di sepanjang hidupku tanpa jepitan dalam ketiak pasanganku.

Sebuah malam di minggu keempat April 2011. Kau datang untuk sebuah proyek bersama temanku yang kini sebagai teman barumu. Dan entah siapa yang memulai, kita saling berbicara.

“Kau terlihat sangat sibuk. Kalau tak ada waktu, tak perlu sempatkan ngobrol denganku,” katamu saat aku membawa dua cangkir kopi ke hadapanmu.

“Nikmati saja. Kalau aku sudah di depanmu, artinya aku di depanmu. Dan jangan berpikir yang lain,” timpalku dan kusadari betul ada nada ketus dalam suaraku.

Lama kita saling diam. Kau seperti merasa beruntung ada beberapa pot tanaman untuk mengalihkan pandanganmu. Dan aku bersyukur pada seekor kucing kecil yang bermain-main di kakiku. Beberapa saat kita saling sibuk dengan diri sendiri.

“Kapan punya waktu untuk ngobrol?”

“Kapan-kapan.”

Pertanyaan dan jawaban bodoh yang kita lakukan dan mungkin tak disadari olehmu (bukankah saat itu kita sudah ngobrol?).

“Berarti tak bertepi,” katamu hampir tak terdengar dan aku membiarkannya.

“Aku mengerti kamu sibuk,” katamu meneruskan dengan nada penuh pengertian, dan meneruskan, “Kamu seorang pejuang. Kulihat kamu memiliki banyak teman yang baik. Duniamu berwarna.”

“Jadi? Apa maksudmu berkata itu?”

“Aku ingin melukiskan warna itu untukmu jika diijinkan,” katamu datar dan tak memaksa. Aku diam meski tak tahu apa maksudnya, hingga di sebuah pagi dimana aku bangun siang dank au sudah siap berpamitan.

“Selamat menggapai harapan baru. Yakinlah, apapun yang diperuntukkan Tuhan buat kita, akan menjadi milik kita. Kelelahanmu dalam berusaha, adalah wujud sempurnanya ikhtiar.”

Pagi itu kau berlalu. Dan aku tidak tidur di malam hari. Hatiku mulai dirayapi kesadaran tentang kekerdilan atas diriku, entah mengapa. Pernyataanmu tentang hidupku yang berwarna, berbalik 180 derajat dan terasa seperti sindiran menjadi warna hidupku -- warna yang dengan jujur kuakui lebih banyak sisi kelam dan menggelisahkan. Warna yang membuatku gamang memaknai bahwa hidup adalah pilihan (apa sejatinya pilihan?) – apakah menikah dengan pengguna narkoba adalah pilihan? Menentang keluarga pilihan? Berjalan seorang diri di sepanjang hidup pilihan? Menilai baik menurutku sendiri adalah pilihan? Sampai di sini aku kehilangan suaraku yang biasanya lantang!

Mungkin YA untuk seseorang, tapi TIDAK untuk seseorang yang lain. Tapi apapun itu, sebuah pilihan adalah sesuatu yang lahir dari pergulatan, yang satu sama lain bisa berbeda-beda dan kadang berubah seiring masa. Ia sebuah nilai, juga konsekuensi, tidak sekedarnya.

Dan sampai di sini pikiranku dipenuhi segala sesuatu tentangmu. Kamu yang teduh dan indah, seindah lukisan-lukisan tanganmu pada setiap huruf yang kau ukir saat menulis namaku. Meski demikian, aku belum bisa berkata, ”aku mencintamu,” dan mengatakan bahwa kamu baik -- karena kebaikan dan kesempurnaan menurutku hampir tak ada definisinya. Semakin baik, semakin sempurna, ia bahkan kian tak terlihat.

Dan.

Malam itu jemariku yang sering menunjuk kaku mulai mengetik huruf-huruf dan kukirim melalui telepon selulerku.

“Kamu tahu hidup manusia terlalu singkat dan banyak hal yang harus dilakukan. Terlalu kecil untuk hanya berkecimpung tentang diri sendiri. Sayangnya, banyak hal-hal besar terhambat karena soal-soal kecil bernama kesalahpahaman dan ketakpercayaan dari pasangan yang berkeluarga (yang kadang hanya demi birahi dan ego kita yang terselubung). Terus terang, aku tak bisa hidup dengan pasangan yang seperti itu. Karena hidupku tidak ingin berhenti. Hidup adalah bertumbuh dan aku ingin terus bertumbuh.”

“Dari hati yang paling dalam, bagiku sama sekali itu bukan masalah. Bagi dua orang yang sudah menikah, yang penting dalam dirinya berkesadaran sebagai istri atau sebagai suami di manapun dan dalam kondisi apapun kita, cukup itu saja.”

”Aku ingin bahwa dalam pernikahan adalah hubungan yang egaliter. Dua orang yang bisa menjadi teman dalam menjalani hidup, untuk bersama mengarungi kehidupan. Tapi kamu tak harus setuju atas perinsipku itu.”

”Setuju,” katamu tanpa pikir panjang yang membuatku ragu tapi intuisiku tidak.

”Aku seorang seniman yang menyukai keindahan musik, seni rupa, dekorasi, dll. Jadi, aku sangat-sangat suka keterbukaan, dan kebebasan yang beretika. Kamu tidak akan pernah terhenti. Kita akan tumbuh bersama. ICH LIEBE DICH.”

”Bernarkah?” kataku meski sejujurnya sudah lama sekali aku tak pernah mempercayai sebuah janji.

“Kebebasan dibutuhkan agar kita bisa berkarya, baik untuk diri sendiri, keluarga dan sesama.”

Ada jeda yang begitu lama. Ada kedamaian menyusup jiwa. Kurasa, saatnya bagiku merenungkan kata-katanya.

Dan.

Kurasa aku menyukainya.

Jakarta, 30 April 2011 (fiqoh)