Rabu, 16 November 2011

Menggapai Pelangi

Kau sebut luka ini warna pelangi
Dan aku butuh waktu memikirkan itu
Pelangi yang indah dengan tujuh warna
Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu

Kubayangkan andai warna itu tak menyatu
Kuning yang gersang
Merah penuh bara
Atau hijau saja...dimana kehidupan tanpa dinamika

Untuk memiliki keindahan pelangi, aku perlu merengkuh seluruhnya
Bahkan, jika ada warna yang lain.

Adiyasa, 16 November 2011 pkl 21:00

Minggu, 06 November 2011

Duafa Tanpa Data

oleh fiqoh

Pagi yang redup, di sebuah hamparan rumput tak jauh dari persawahan penduduk. Berbondong-bondong para Ibu menuntun anak-anak kecil, dan membawa bayi dalam gendongannya.

Mereka menyaksikan, ketika hewan-hewan mulai didekatkan pada bilah-bilah parang. Gress. Darah mengucuri bumi. Tangan para pemuda dan bapak-papak dengan gesit segera menyeset dan memotong-motong dagingnya sesuai jumlah yang tertera di daftar nama. Tapi bukan mereka.

Tahun ini, diperkirakan angka pengangguran di Indonesia berjumlah 8,12 juta jiwa. Itu belum termasuk semi pengangguran. Minggu lalu, daftar penerima daging qurban telah didata beberapa hari sebelum momen Idul Adha 1432H, yang tiba pada 6 November 2011.

Kaum duafa memang selalu berada di wilayah paling pinggir, sebagaimana kemiskinan di masyarakat kita, yang mengepung luas di pinggir arena para elit berpesta pora. Tak sepenuhnya kemiskinan bisa dideteksi dan direduksi melalui angka. Tapi setidaknya, sebuah kondisi selalu memberi suatu indikasi. Dan para penghuni komlplek perumahan kelas menengah, setidaknya lebih mampu dibanding para pendatang yang kumal-kumal itu.

Hari Raya Qurban, menghadirkan semangat berkorban dan semangat mencintai dalam ketakwaan. Sebagaimana dilakukan Nabi Ibrahim, yang sanggup untuk mengerat leher putranya dengan tajamnya pedang.

Kecintaan dan ketakwaan Nabi Ibrahim dengan cara itu, adalah salah satu bantuk, yang terjadi di masa itu, dengan ilham tertentu.

Kini kita mengambil nilai, dari satu peristiwa dalam peristiwa yang berbeda, ilham yang berbeda. Nilai kesadaran untuk mengorbankan dan mempersembahkan dalam semangat cinta -- yang kaya berkorban kepada yang miskin, demi mengatasi kesenjangan sosial antarmanusia.

Qurban adalah semangat mencintai, semangat merengkuh dengan kasih. Mencintai-Nya dengan cara mencintai mereka – yang terpinggirkan, dan yang dipinggirkan dari hukum sosial kita.

Sebagaimana ayat ini, "…telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak, maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir.." (Qur'an. S.al-Hajj:27-28)

Dalam ayat di atas, binatang ternak merupakan salah satu harta. Dan harta pada jaman ini, tidak selalu berbentuk binatang seperti jaman itu. Berbagi daging qurban, bagian dari cara kita peduli melalui harta yang kita miliki – orang berkecukupan harta peduli pada mereka yang sengsara. Tapi kita jarang mengerti makna sengsara, dan kita mengubah kaya dan miskin menjadi yang mampu dan tak mampu, meski ia relatife. Selanjutnya, yang mampu dan tak mampu dibawa dalam sekup yang kecil bernama lingkungan – dimana yang disebut mampu memiliki mobil tiga, dan yang tak mampu bermobil satu.

Kembali kepada data dan kaum yang duafa. Data sungguh bersikap diskriminasi kepada mereka yang terpinggirkan. Karena ia sama sekali tak mengakomodir realita yang sebenarnya.

Di hari Qurban, adalah sebuah saat, dimana kita lepas dari kepentingan komunitas. Melihat kemiskinan setidaknya bisa melalui pekerjaannya, tempat tinggalnya, lingkungannya.

Qurban, bukan untuk dibagikan pada yang tidak mampu di lingkungan kita saja. Kasih sayang kita harus menjangkau mereka yang berada di pinggir kemapanan kita, zona lingkungan nyaman kita. Semangat qurban adalah semangat menanggalkan yang formalitas -- tidak lagi berbagi lewat data, tapi berbagi dengan hati, nurani, pikir, dan rasa yang peka. Mereka yang sekian lama terpinggirkan oleh pemiskinan struktural, jangan kita pinggirkan lagi oleh hukum sosial kita.

Hari Raya Qurban, adalah sebuah refleksi tentang makna berbagi. Bukan sebuah penjiplakan ulang perbuatan semata. Agar kesalehan kita, tidak membuat kita menjadi tamak di mata-Nya.

Adiyasa, 6 November 2011

Senin, 10 Oktober 2011

Orang Asing

oleh fiqoh

Sebelum tahun Sembilan puluhan, kakiku, dia, mereka, telah menginjak Ibu Kota negeri tercinta. Jakarta.

Memasuki sebuah bangunan gedung. Bagai mendapatkan pulung. Karena aku, dia, mereka, bisa terpilih. Dari ratusan yang ditolak.

Pagi masuk malam keluar. Malam masuk pagi keluar. Hidup, berada dalam cengkaraman detik yang mengungkung -- detik bukan milik kami. Karena detik adalah produk.

Kini Jakarta sudah tak seperti dulu. Bus PPD yang dulu tingkat sudah tak ada lagi. Tanah Abang menyerupai Mall. Dan di mana-mana Mall.

Kemarin salah satu teman mengajak bertemu di Kafe. Dia salah satu orang yang sukses membangun usaha.

“Kita harus pakai baju apa datang ke sana?” tanya salah satu temanku.

“Ah, kamu saja yang pergi. Aku malu, aku kan sudah nenek-nenek!”, jawab yang lainnya.

FX nama gedung itu. Bangunan penuh cahaya, yang kontras dengan redupnya neon kuning di kamar kontrakan. Di dalam gedung itu terdapat banyak kafe. Menyajikan berbagai makanan, hiburan, seperti halnya tempat-tempat lain yang tanpa lelah membuat Jakarta terus bergeliat.

Dan FX menyadarkanku, dia, mereka. Bahwa 20 tahun lebih berada di sini, tak ada yang kami kenali. Kami asing di tempat kami sendiri. Tempat yang sering kami lihat sehari-hari. Asing – hingga tak bisa membawa diri.

Ini era globalisasi. Jaman kian maju. Tapi di belakang sana jutaan manusia tertinggal. Ini era globalisasi. Siapapun bisa saling terhubung. Tapi kami tetap terkungkung. Ini era globalisasi. Tak ada yang lokal dan internasional. Dan kami terus sibuk berproduksi.

Ini era kecanggihan teknologi. Orang-orang saling terhubung bagai hantu menembus tembok. Bagai siluman yang tak mempan tombak. Dan kami tetap di sini. Menghadap tembok sebagai batas pandang. Bagai bekicot-bekicot, yang terus merangkak di tanah gersang. Tembok tebal bergembok. Langit-langit dari seng sebagian berkerangkeng.

Era globalisasi.

Buat kami adalah… lepasnya tanggungjawab negara pada rakyatnya. Dimana kami diubah bagai domba-domba, yang diadu di arena dunia. Siapa kuat dia selamat. Dan untuk bisa selamat, kami saling adu kuat. Harus!

Eksploitasi sistematis!

Sungguh melucuti kemanusiaan paling mendasar – lenyapnya rasa kemanusiaan satu sama lain; perginya rasa aman; dan tak dimiliknya rasa kedamaian.

Semua berkelabat adu cepat. Semua saling menganiaya lewat kata-kata. Akibat tuntutan kerja. Akibat bergantinya dunia usaha. Yang…tak lagi padat karya. Ketika, dunia usaha diserahkan negara pada mekanisme pasar bebas!

Globalisasi – orang-orang yang saling mengenal, saling berkomunal, sudah saling melakukan kanibalisasi. Menjadi asing di tengah-tengah rasa persaudaraan yang sebelumnya pernah ada di antara kami.

Inilah pelanggaran Hak Asasi Manusia seumur hidup, yang lepas dari mata penjaja HAM bernama "Amerika".

Sekarang kami bertanya, HAM untuk siapa?

Negara Anda?


Jakarta, 10 Oktober 2011

Kamis, 29 September 2011

Buta

oleh fiqoh

Melek, melihat menggunakan mata
Buta, melihat menggunakan rasa
Pernah kucoba berdiri di sebuah ruang
Yang sangat kukenal bertahun-tahun lamanya
Ruang yang dengan tanganku seluruhnya kutata

Radius 2,5 meter tanganku meraba mencari sesuatu
Tapi, penglihatanku tak mampu merekam sesuatu itu
Tidak satupun!
Meski mataku baru memejam semenit yang lalu

Kecuali…
Lemari plastik yang kutabrak dan bergoyang
Botol-botol kosmetik yang tumpah berantakan

Rasa tidak datang dari penglihatan mata
Pemandangan yang mengenaskan belum tentu mampu “menggerakkan”

Alangkah hebatnya orang-orang yang tuna netra
Melalui setiap detik dalam hidupnya
Dalam kegelapan cahaya
Tapi jiwa-jiwa itu tetap terang karena rasa yang hidup

Jakarta, 29 Sept 2011

Rabu, 28 September 2011

Independen Anti Klimaks

oleh fiqoh

Andreas Harsono: independen terkadang membuat kita menggigit jari tangan orang yang memberi kita makan. Dan aku melihat, betapa orang lebih memilih hengkang meninggalkan lingkungan kerja atau organisasi karena tak tahan dengan ketidakadilan.

Di mana sikap independen itu?

Menurut pendapat kebanyakan rekanku, lebih baik pergi kalau sudah tak bisa dibenahi. Dan tindakan kebanyakan, mereka memilih mundur, keluar kerja – memecat diri sendiri.

Lho, menzalimi diri sendiri saja berani. Tapi kenapa mencoba mengargumenkan dan mempertahankan prinsip yang benar kok takut? Memperjuangkan hak-hak keadilan takut?

Tindakan-tindakan di atas, gentle atau pengecut?

Entahlah. Tapi bahwa pola terbalik sudah terlanjur lekat dan memakan korban yang begitu banyak. Makanya, kalau pimpiman sudah nggak suka, segala kesalahan bisa dicari dan diada-ada. Bila perlu, intimidasi saja. Pasti pekerja akan keluar dengan sendirinya.

Mengingat perkataan Mas Andreas, ingat juga akan pepatah Inggris ini -- birds of the same feather flock together (burung yang sama bulunya akan hinggap bersama).

Bagaimana jika beda?

Independen itu tetap berdiri teguh, memegang prinsip, tetap jernih, meski di dalam air yang keruh.
Independen itu tak takut berbeda, meski segalanya menjadi tak leluasa.
Independen itu menjadi burung dengan bulunya sendiri, meski ia bertengger di antara burung yang berbeda bulu
Independen itu tidak menjadi ofortunis, meski lingkungan sudah berubah bengis

Independen…
Memang kadang menggigit jari tangan yang “memberi” makan
Karena isi kepala, batin, jiwa, tidak sama dengan isi perut!


Independen tanpa sikap, adalah independen yang antikilmaks.


Jakarta, 29 Sept 2011 pkl :07:45 (menuggu buka pintu kantor)

Tentang Pepatah Jawa

oleh fiqoh

Adoh nggondo kembang, cedak nggondo t-a-i.

Jika ingin tahu sisi lain tokoh yang “hebat”, jangan hanya melihatnya melalui statement dan layar televisi. Atau menemuinya di ruang seminar, meja kerja, tempat-tempat ibadah dan tempat-tempat formal. Di sana semuanya pasti baik.

Kita sering hanya mendongak ke atas, hanya mendengar omongan pakar dan tokoh. Padahal, kesaksian orang-orang kecil di sekitar tokoh seperti bawahan, sopir, tukang parkir, pembantu, tim kerja, dan tetangga jauh lebih berwarna. Bila perlu tanyalah sama seseorang yang sering menemaninya masuk kamar hotel… J

Ini tidak bermaksud untuk sinis, tapi hanya untuk menemukan keseimbangan informasi dari orang “hebat” atau tokoh yang mungkin selalu kita kagumi. Cover bothside bukan hanya beralih dari satu pihak ke pihak yang lain, tapi juga…dalam pribadi seseorang itu. Istilahnya, jika ia jadi tokoh masyarakat, jadilah tokoh bagi orang-orang terdekatnya juga.

Terkadang kebengisan, kekerdilan, kebijakannya yang tidak adil, justru terungkap melalui kesaksian yang diam, kesaksian orang-orang yang sekian lama kena getah dan sasaran amarah, dan membendung rasa muak menyaksikan ia punya polah tingkah.

Dalam ajaran jurnalisme – wawancara untuk menggali informasi. Tapi dalam realita, wawancara terkadang jadi peluang memanipulasi informasi. Di televisi, semua yang diberi ajang bicara, tentunya sudah pasang kuda-kuda untuk berkelit ini dan itu. Sehingga, penjahat di depan mata susah sekali ditangkapnya.

Semua tokoh berkata baik. Kebaikan kata-kata, menjadi kebalikan dari pepatah ini -- Rame ing gawe sepi ing pamrih.

Jkt, 28 Sept 2011



Kamis, 22 September 2011

Cermin

oleh fiqoh

Ada yang berkesimpulan bahasa adalah cermin kepribadian. Hingga apa yang tertata kita anggap itulah yang terbaik.

Tapi...

”Lo”, “Gue”, “Anjrit!” terkadang lebih lugas dan jujur – apa yang dikatakan, apa yang dilakukan. Yang selalu ditata, kadang bukan apa adanya, kadang ada rekayasa (contohnya saat aku menulis ini, hehe).

Makanya, kita sering mendapati pembicaraan dan kata-kata yang terlalu banyak menjadi tanpa makna. Salah satunya ya pidato-pidato pejabat gitu lho…kerjanya saling memuji dan memuja.

Dan di sekitarku, aku sering melihat dan sering membuktikan juga. Sebuah komitmen yang bahkan bertaruh nyawa hanya dibangun melalui toast dua telapak tangan dan ucapan, “Beres coy!”

Janji esok datang, dia datang. Berkata akan pergi, dia pergi. Mereka pergi.

Kita tak perlu terjebak pada aturan main berbahasa yang baik dan benar. Hingga tanpa disadari kita bagai hakim di luar pengadilan, menguliti pribadi-pribadi hanya karena kemasan yang tak rapi.

Sampai kapanpun, cermin hanya bisa memantulkan benda. Bukan pribadi, bukan jiwa. Cermin kepribadian bukan bahasa, tapi perbuatan.

Terlalu dangkal dan sembrono mengukur pribadi dari kata-kata. Karena banyak indikasi-indikasi yang lainnya. Dan bahasa bukan satu-satunya. Tentu ini terkait dengan apa yang kita sebut sebagai "kepribadian" yang identik dengan kebaikan. Untuk konteks ksuksesan, itu soal lain, dimana kiat-kiat dan berbabagai kecapakan sangat kita perlukan.

Makanya, belajar itu wajib... :)

(Tulisan ini terinspriasi oleh orang-orang yang selama ini kita anggap urakan, atau kita sebut preman -- freeman).

Jakarta, 22 Sept 2011