Selasa, 27 Oktober 2009

Keegoan

Oleh Fiqoh

Ini bukan tentang berapa kali kamu meminta maaf. Juga bukan berapa kali mengulang permohonan. Bukan itu.

Tak usah terus-menerus meminta. Nanti malah membuatmu lelah dan membuatku bosan. Tak perlu selalu memohon pengertian dan pemakluman. Sudahlah, usah habiskan waktumu dan jangan ganggu waktuku untuk itu.

Yah, kita pernah saling berjanji; apapaun yang terjadi, kita akan selalu bersama. Memikirkan itu, aku kasihan padamu dan tentu pada diriku. Janji itu laksana belenggu. Dengan itu kita saling menjerat. Ketika yang satu berkhianat, yang lain menggugat. Cinta diam-diam pergi menghilang. Semua kata hanya demi memberi alasan pada keegoan. Hubungan yang terjalin, lebih mirip pertemuan dua pengacara di ajang debat.

Tadinya, lebih baik kau memberiku mimpi. Lalau kau ajak aku meraihnya. Kita meraihnya bersama. Kata temankau, mimpi akan memberi kita harapan, dan harapan menjadi keyakinan yang dahsyat. Keyakinan, bahwa impian itu mendekati kenyataan.

Bagiku, tak apa kau berkali-kali salah, berkali-kali ingkar. Yang penting aku juga melihatmu berkali-kali berusaha benar. Bagiku, cukuplah aku tahu bahwa kau berupaya. Upaya itu lebih konkrit dari sekedar kata-kata, dibanding banyak berkata, namun sikapnya bertentangan dalam realita. Sia-sia.

Ada pepatah, di saat cinta mulai menipis, maka kesalahan mulai menumpuk. Janji setia di saat mencinta, sumpah serapah di kala kebosanan mendera. Untuk apa masih mempertahankannya? Mungkin lebih baik kita lepaskan saja.

Cinta dan kepercayaan, akan bersemayam pada siapa yang memang pantas. Tidak mungkin kebohongan berdampingan dengan kejujuran. Jika dipaksakan, yang nampak justru hitam-putih yang kian kontras.

Sekali lagi, ini bukan tentang berapa kali kamu meminta maaf. Meminta pengertian. Meminta kepercayaan.

Karena, meski beribu kali kamu meminta maaf, kalau kau terus mengulangnya, semua akan percuma. Karena, jika terus-menerus kau menciderainya, ia akan retak dan tak lagi seperti semula. Dan jika kau tetap menginginkannya utuh, maka yang akan kau dapati adalah egomu sendiri.

Dalam hidup ini, yang terpenting adalah berkarya. Hasilnya, biarkan orang lain menilai. Dan jika cinta hendak kau jadikan kerya terindahmu, indahkanlah ia. Jangan malah kau merusaknya dari waktu ke waktu.


Jakarta, 26 Oktober 2009

Tidak ada komentar: