Sabtu, 30 Oktober 2010

Banjir dan Sikap Kita

Oleh Siti Nurrofiqoh

Lewat tengah hari hujan sering menguyur Jakarta. Belakangan ini bahkan curah hujan merata di mana-mana. Hujan kerap mengingatkan saya pada sesorang. Ia sangat menyukai hujan. Baginya, hujan memberi segala sesuatu yang bersifat pribadi, juga sexy.

Tapi, bagaimana dengan hujan yang sering terjadi sekarang ini? Hujan yang selalu disertai genangan air dan banjir?

Di Jakarta, hujan sebentar saja menyebabkan banjir di mana-mana. Dan saya kembali bertanya soal hujan padanya: masihkah menemukan damai dalam hujan? Dan dia menjawab, kedamaian dalam hujan masih ada. Tapi ia mencemaskan banjir yang kerap melumpuhkan tranportasi hingga mengambat berbagai aktifitasnya.

Saya rasa siapapun mengeluhkan hal yang sama. Seperti tayangan di stasiun televisi sore itu. Sebuah bus patas di barisan depan bergerak perlahan mendorong ombak. Genangan air merendam hampir setengah badan kendaraan itu. Di belakangnya deretan mobil-mobil pribadi dan sepeda motor bagai keong-keong besi yang terdiam mati.

Media cetak dan elektronik gencar memberitakan soal ini. Tapi, orang-orang tetap membuang sampah sembarangan tanpa peduli. Akibatnya, di Jakarta ini sampah terus memenuhi selokan-selokan. Hal itu terjadi setiap saat, setiap hari, dari waktu ke waktu.

Di dekat gerobak mie ayam, sampah hampir setinggi selokan. Di depan etalase sebuah warteg, sampah mengendap di dalam got yang airnya tersumbat. Dan di bawah jendela dapur sebuah rumah makan padang, buntelan-buntelan limbah masakan bertumpuk berkantong-kantong plastik. Itu baru perilaku satu dua orang. Benarkah Jakarta akan tenggelam?

Bisa jadi. Setidaknya, menurut yang saya baca di situs berita Vivanews. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Walhi dan ITB Bandung itu menemukan adanya laju penurunan tanah di Jakarta yang meningkat drastis--dari 0,8 cm per tahun pada kurun 1982 - 1992 menjadi 18-26 cm per tahun pada 2008. Ditambah minimnya daerah resapan akibat proyek-proyek bangunan yang pendiriannya tidak mempertimbangkan keseimbangan ekologis. Air hujan sebanyak 2 miliar meter kubik setiap tahunnya mengguyur Jakarta yang terserap hanya 36 persen, sedangkan sisanya terbuang ke selokan dan sungai.

Persis. Tanpa perilaku membuang sampah sembarangan pun, Jakarta sudah demikian berbahaya--rawan amblas dan tenggelam karena banjir. Meminta tanggung jawab pemerintah untuk berbenah dan menertibkan aktivitas pembangunan, tentu. Namun, masyarakat juga harus memiliki kesadaran untuk tidak berperilaku sembarangan. Sehingga tidak menambah kemampatan lahan serapan yang hanya sedikit tersisa seperti sungai dan selokan.

Hukum dan upaya bersama

Sudah terlalu banyak pasal yang dibuat pemerintah. Salah satunya mengenai denda dan sangsi soal membuang sampah. Saking banyaknya, pasal-pasal tersebut berhamburan di spanduk-spanduk. Salah satunya seperti yang saya lihat pada spanduk yang dibentangkan di atas sungai. Dalam huruf besar dan tebal tertulis ’Jangan buang sampah di sungai ini’. Dan persis di bawah spanduk itu, saya menyaksikan seorang ibu melemparkan buntelan kantong kresek. Kresek Si Ibu, segera manyatu bersama puluhan kresek lain mengapung di sungai itu.

Ada rasa kesal di hati. Tapi saya tak berani buru-buru menyalahkannya. Bisa jadi dia tidak tahu peringatan itu karena buta huruf. Dia seumuran tetangga kontrakan saya yang berusia sekitar 38 tahun. Tetangga saya itu buta huruf, hingga ketika anaknya menghubungi lewat handphone saya dia memegangnya terbalik. Agaknya, pemerintah lupa bahwa warga negaranya tidak semua bisa membaca. Tapi saya juga berpikir, meski dia buta huruf, setidaknya dia tahu bahwa membuang sampah sembarangan akan menyumbat aliran air dan menyebabkan banjir. Budaya tertib dan bersih seakan tak lagi dimiliki.

Mengingat budaya, justru mengingatkan saya pada perilaku pejabat pemerintahan. Kalau para pemimpin saja berbudaya jelek, bagaimana yang dipimpinnya? Dan budaya seperti apa yang bisa kita teladani dari mereka? Justru yang sering menyambangi telinga kita adalah budaya korupnya, arogan, dan pembohong. Rakyat kecil seperti Si Ibu tidak mendapat bimbingan dan panutan. Demi meraih gelar adipura, tak jarang aparat pemerintah menggusur pedagang-pedagang kaki lima. Dan demi berdirinya gedung-gedung pusat perbelanjaan, lahan-lahan juga digusur paksa.

Membangun perilaku yang tertib tidak selalu selesai dengan memasang pengumuman atau perundang-undangan. Tetapi pemerintah harus memberikan pembelajaran dan contoh nyata. Kalau hanya undang-undang, tidak selalu masyarakat bisa mengerti. Budaya bersih dan tertib perlu edukasi. Lagipula, berapa banyak pasal-pasal dalam undang-undang negara ini yang dilanggar oleh penegak hukum itu sendiri?

Teringat diskusi dengan seorang rekan, hukum adalah high cost economy. Setidaknya sedari proses rancangan, pembuatan, pengesahan, dan implementasi. Semua serba uang. Apalagi setelah sah menjadi undang-undang dan menjadi semacam barang dagangan. Lihat saja, meski ada aturan ijin mendirikan bangunan, buktinya kegiatan proyek-proyek terjadi di mana-mana, bahkan menggusur lahan pemukiman. Adakah ini bisa terjadi tanpa sebuah kolusi? Hukum yang bisa dijual dan dibeli sudah bukan rahasia lagi.

Selain memberi dilema, hukum jadi tidak berharga--seperti sampah-sampah itu. Agaknya ini relevan jika saya hubungkan dengan perkataan Fadjroel Rahman ketika bertemu di Pantau 2007 lalu. Dia bilang, gagasan itu harus memiliki kaki supaya berjalan. Hukum yang tidak berjalan hanyalah kertas lapuk yang kian bertumpuk.

Kaki adalah tindakan nyata. Bukan menuliskan pasal atau pengumuman, melainkan melakukan penyadaran, terjun ke masyarakat secara berkesinambungan. Tahun 2006, saya ikut meninjau program sanitasi dan air bersih yang salah satunya diadakan oleh USAID di Penjaringan. Kami melihat sungai yang terletak di belakang bangunan-bangunan berhimpit wilayah itu. Juga beberapa unit kamar mandi umum. Sungai itu memang bersih tanpa sampah. Di atas air yang mengalir hanya nampak daun-daun petai cina yang baru jatuh dari pohonnya. Saya bertanya pada Farah Amini dari USAID yang ketika itu mengikuti kursus menulis di Pantau. Saat itu ia sebagai Public Outreach and Communications Coordinator. Ia bilang, program sanitasi itu lebih ditekankan pada penyadaran perilaku setiap individu. Program itu juga melibatkan RT/RW setempat. Ada diskusi dan pembelajaran yang dilakukan rutin. Meski tak tersurat, sangsi sosial di antara mereka berlaku. Ada semacam rasa malu untuk mengotori lingkungan.

Mungkin ini hanya salah satu contoh bahwa program penyadaran bersih lingkungan bisa terwujud. Entah karena takut akan sangsi sosial, atau kesadaran dari hati, nyatanya lingkungan itu memang bersih.

Peraturan dan sangsi tetap penting. Tapi contoh yang baik dari pemerintah lebih penting. Saya yakin, kita semua baik yang buta huruf maupun yang terpelajar, tentunya tidak keberatan untuk diajak berkesadaran menjaga lingkungan kita demi keselamatan bersama. Dan ini tugas pemerintah untuk memfasilitasi adanya kegiatan-kegiatan penyadaran.

Jika bersih dan tertib akan kita capai bersama, pemerintah harus bersih dan tertib juga. Berhenti berkorupsi dan jangan orang-orang kecil yang selalu ditertibkan. Tapi, pendirian bangunan dan kegiatan perusakan lingkunganlah yang harus ditertibkan.

Jakarta, 30 Oktober 2010

Kamis, 28 Oktober 2010

Laku Mbah Maridjan & Asmara Nababan

Oleh Siti Nurrofiqoh

Kemarin media memberitakan meninggalnya Mbah Maridjan. Sore tadi seorang kawan mengirimkan pesan, memberitahukan meninggalnya Asmara Nababan. Di mata saya keduanya tokoh besar dan tokoh yang baik bagi kemanusiaan.

Kepergian mereka benar-benar membuat hati ini terhenyak. Ada perasaan kehilangan yang begitu besar. Orang-orang yang baik dan berani telah pergi.

Tahun 1993, saya bertemu Asmara Nababan. Ketika itu gedung Komisi Nasional Hak Asasi Manusia sering kami kunjungi. Di sana kami bagai berada di bangunan milik sendiri. Di ruang-ruang gedung itu, bahkan sering kami gunakan untuk tidur-tiduran. Bersama ratusan buruh PT Duta Busana Danastri, kami diterima oleh Baharudin Lopa dan Asmara Nababan. Ketika itu, salah satu kasus yang ditangani adalah pelecehan yang dilakukan oleh manajemen perusahaan, karena sering memaksa pekerja perempuan membuka celana dalam ketika mereka hendak mengambil cuti haid.

Asmara adalah seorang yang tegas dan terbuka. Bersama Lopa Ia memanggil pengusaha, juga Dinas Tenaga Kerja. Ketika itu saya sering ngeyel alias menekan beliau untuk tidak menunda memanggil pengusaha. Tapi akhirnya saya berkompromi dan menurut saja karena garansi Asmara.

”Percayalah sama kami. Kami pasti membantu kalian. Kalian bersabar untuk tiga harilah,” katanya ketika itu.

Sigap dan tanggap. Tidak ada basa-basi dan kompromi. Hingga hak-hak dasar manusia bernama hak asasi, menjadi agung di ruang berpermadani hijau itu. Kami pun mempercayai dan selalu menaruh harap pada lembaga yang saat itu masih baru.

Kepergian Asmara, menyambung panjangnya rasa duka yang masih menggantung setelah perginya Mbah Maridjan. Hati ini, dengan segala kedangkalannya bahkan masih sesekali berdebat sendiri. Tak tahu harus menyalahkan siapa, saya terganggu ketika membaca sebaris kalimat yang menyatakan bahwa, Dia telah menepati janjinya untuk tetap setia menjaga Gunung Merapi hingga akhir hayatnya.

Setia hingga akhir hayat? Atau hayatnya berakhir karena sebuah kesetiaan? Itulah pendapat emosional saya ketika membaca kalimat dari sebuah situs berita. Pendapat yang lagi-lagi menandakan kedangkalan hati ini.

Karena itu tanpa pikir panjang, saya berkata pada teman, barangkali hayatnya belum berakhir andai saja Mbah Maridjan mau menuruti himbauan pemerintah untuk
meninggalkan rumahnya.

Lalu teman saya berkata, barangkali tidak sesederhana itu.
Saya merasa tak bisa menerima argumennya. Tapi saya memilih diam saja. Dan kami saling mengucap doa. Semoga Tuhan mengampuni kesalahan-kesalahannya. Dan semoga kebaikan dan keberanian mereka mengilhami yang masih hidup. Lalu teman saya menambahkan lagi, semoga lancar jalannya sesuai amal mereka di masa hidup.

Jalan?

Bagi yang meyakini. Di masa hidup dan sesudah mati, sejatinya manusia melakukan perjalanan. Setidaknya, saya mendapat cerita ini dari Simbah ketika di kampung. Kata Simbah perjalanan itu disebut laku. Sebuah perjalanan yang tidak sekedar berjalan. Laku diri adalah laku dalam sikap, pikir, tutur dan perbuatan. Semuanya katanya harus selaras. Tentu saja, hingga lebih setengah perjalanan hidup ini, saya belum juga mengerti soal itu.

Lalu saya mencoba menerka-nerka, kenapa Mbah Maridjan rela dan tenang menyongsong kematian? Barangkali, saat-saat genting yang membuat kita cemas, baginya adalah saat penting untuk berkemas, menata dan menjaga laku-nya untuk dua hal yang sama-sama ia cintai: masyarakat dan Merapi. Setidaknya hal itu Ia isyaratkan dengan menyuruh masyarakat menuruti himbauan pemerintah untuk pergi, sementara Ia tetap tinggal. Keduanya, alam dan manusia sama-sama diperlakukan dengan arif.

Mbah Maridjan takzim memohon untuk keselamatan masyarakat, juga berdoa agar batuk Merapi segera berhenti. Dan Ia melebur bersama hamburan abu panas gunung itu.

Kesetiaan hingga akhir hayat. Atau hayat berakhir karena kesetian? Perdebatan di otak saya mulai mereda meski tanpa logika. Dan dalam kegamangan saya mulai menimbang-nimbang, agaknya keduanya tak ada beda. Begitu agungnya sebuah kesetiaan bagi Mbah Maridjan. Kesetiaan untuk menjaga laku tanpa goyah dan putus meski nyawa lepas dari raga.

Kesetiaan, kesungguhan, adalah laku manusia yang sejati. Laku yang bisa dipercaya. Ia tidak mengenal masa dulu, sekarang atau nanti. Tapi bagaimana kita terus-menerus menjaganya, seperti yang dilakukan oleh Mbah Maridjan. Semoga Ia menuju kemuliaan dan kehakikian yang lebih tinggi. Dan sesuatu yang hakiki, memang tidak bisa sekedar disetarakan dengan hidup atau kematian.

Selamat jalan. Selamat meneruskan laku, buat Mbah Maridjan dan Asmara Nababan.

Jakarta, 28 Oktober 2010



Selasa, 26 Oktober 2010

Buruh & Korupsi

Oleh Siti Nurrofiqoh

Korupsi kian merebak bagai wabah suatu penyakit. Atau seperti virus yang beterbangan di sekitar kita. Meski di depan hidung, kita tak bisa menangkapnya. Dan kita terhenyak, setiap kali luka akibat virus itu meninggalkan lobang menganga dan koreng di mana-mana.

Kekayaan negeri terus digerogoti bersama raibnya trilyunan rupiah yang terjadi berkali-kali. Negara dirugikan, rakyat semakin kehilangan pengharapan.

Banyak tokoh dari kalangan pejabat negara itu juga, mengaitkan korupsi dengan rendahnya gaji. Tapi, bukankah para pelaku korupsi besar-besaran itu justru dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi? Setidaknya, saya yakin bahwa pejabat di kantor pajak, Jamsostek, Anggota DPR, Walikota atau Bupati itu jauh lebih sejahtera dibanding kehidupan buruh pabrik. Kenapa saya membandingkan mereka dengan buruh pabrik?

Sabtu lalu, saya berdiskusi dengan Badriah, buruh di sebuah pabrik garment Jatiuwung, Tangerang. Kami sengaja membuat janji bertemu, karena ia ingin mendiskusikan suatu hal yang menurutnya penting dan mendesak. Badriah adalah salah satu pengurus Serikat Buruh Bangkit. Ia menjadi ketua, memimpin kurang lebih 300 anggota di sebuah perusahaan.

“Tawaran untuk bonus sekarang naik tiga juta rupiah. Saya tetap menolak, dan intimidasi terhadap saya makin bertambah mbak,” katanya mengawali pembicaraan.

“Minggu lalu pengacara perusahaan menelpon saya untuk kesekian kali. Dia terus merayu saya agar saya menerima uang itu. Dia akan mentransfernya langsung ke rekening saya setiap bulan. Tiga juta rupiah di luar gaji,” begitu katanya.

“Hampir tiga kali lipat gajimu ya? Gimana kalau nanti nilainya menjadi sepuluh atau dua puluh juta? Apakah kamu akan menolaknya juga?” tanya saya.

Badriah diam. Dan saya perhatikan wajahnya kian murung. Lalu dia bilang, “Semakin nilainya tinggi, saya semakin takut mbak. Karena dosanya semakin besar dan sangsi yang akan saya dapat tentunya akan lebih parah. Saat ini pun, meski saya tidak menerima, teman-teman sudah curiga. Tapi saya tetap tenang, karena saya tetap jujur.”

Sore itu Badriah meminta saran tentang surat bipartit yang akan dikirimkan ke perusahaan esok hari. Dalam surat itu ia meminta perusahaan untuk menghapuskan sistem skorsing (penambahan jam kerja tanpa dibayar). Hal itu telah bertahun-bertahun diberlakukan oleh perushaan terhadap para pekerja dengan alasan target belum terpenuhi. Padahal soal lembur dan jam kerja, semua sudah diatur dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan. Kelipatan jam lembur dan upah, dikalikan sekitar 2000 jumlah pekerja dan terakumulasi bertahun-tahun, adalah nilai yang sangat besar. Dan sekian lama para pekerja menderita.

Di bawah kepemimpinan Badriah, berangsur-angsur mulai ada perbaikan terhadap hak-hak karyawan. Tapi kebahagiaan itu selalu saja dibayang-bayangi momok yang mencemaskan. Belakangan, pengacara pengusaha sering datang ke perusahaan. Ia sering memanggil Badriah ke ruangan kerjanya. Di sana mereka berunding dan berdebat. Dan dalam titik tertentu, sang pengacara menawarkan bonus itu. Berawal satu juta, hingga sekarang menjadi tiga juta rupiah.

Sang pengcara mengejar, Badriah menolak. Dan tuntutan atas pelanggaran terus dilakukan oleh Badriah dan teman-teman melalui serikat buruhnya. Serikat Buruh Bangkit adalah serikat yang kesekian kalinya di perusahaan itu. Sebelumnya, pernah ada Serikat Pekerja SPSI, SPN, dan Front Pembela Islam (FPI). Pertama kali saya melakukan pendampiangan di perusahaan itu pada 2009 lalu, personalia mengundang orang-orang dari FPI juga. Saat itu kami masih bisa berdialog, meski belakangan, kedatangan kami ditolak. Dan pihak perusahaan, seringkali mengatakan pada pengurus, kenapa mereka tidak masuk SPSI saja?

Soal berserikat adalah soal pilihan dan kebebasan. Karena, meski ada banyak pilihan, terkadang menjadi tidak berarti ketika manusia tidak diberi kebebasan. Dan soal pilihan, untuk kedua kalinya Badirah harus membuat keputusan, apakah mau menerima atau menolak sogokan.

”Saya menolak,” kata Badriah pada pengacara itu.

“Apa sih maunya kamu? Emang kamu ini siapa? Kenapa seakan-akan kata-kata kamu harus diikuti? Kamu itu hanya pekerja, hanya buruh. Kamu itu kuli! Kamu tidak sejajar dengan saya!” begitu suara si pengacara melalui handphone Badirah.

“Bapak betul. Saya memang bukan siapa-siapa. Saya ini pekerja. Dan saya memang tidak sejajar dengan bapak. Karena bapak itu orang manajemen yang masih menerima gaji dari pengusaha. Dan sebagai pengurus serikat, saya sejajar dengan pimpinan pengusaha,” jawab Badriah.

Badriah bilang ke saya, sebenarnya ia malu harus berkata seperti itu. Ia merasa dirinya menjadi congkak. Tapi sebagai pemimpin, selain perlu bersikap baik dan santun, ia juga harus tegas. Kebaikan tak selalu berupa kelembutan. Dan kebaikan harus pada tempatnya.

Sikap hinaan dan tekanan yang ia terima, justru ketika ia teguh menjaga kejujuran. Ia teguh menjaga amanah anggota-anggotanya, memperjuangkan hak-hak pekerja. Untuk itu ia sering berhadapan dengan jajaran manajemen hingga pemimpin perusahaan asal Korea yang sering kasar padanya. Menjadi pengurus serikat buruh, memang harus berjuang dengan gigih. Karena ia menghadapi pemilik modal yang bisa membeli hukum sekalipun. Dan ia melakukan tugasnya dengan tulus, meski sama sekali tak mendapat gaji apalagi falisitas uang ini dan itu seperti yang diterima para wakil rakyat yang sering tertidur di gedung bulat.

Sore itu, kami menyelesaikan surat-surat dan membicarakan strategi perjuangan ke depan. Termasuk berjaga-jaga kalau Badriah nantinya diputuskan hubungan kerjanya. Mengingat sekarang ini, gerakan moral justru sering mendapat ancaman. Penghargaan terhadap moral bergeser menjadi penghargaan terhadap terhadap uang dan status sosial. Dan dengan uang siapapun bisa berbuat apa saja, termasuk merekayasa pemecatan pekerja. Tapi di sinilah saya ingin memberi penghargaan dengan mengatakan, bahwa kejujuran Badriah adalah berkah bagi anggotanya. Kejujuran sangat penting bagi orang yang memegang tampuk kekuasaan. Karena, kolusi dan korupsi yang dilakukan oleh seorang pemimpin, bagai racun yang ditumpahkan ke lobang semut. Ia akan membunuh penghuni di dalamnya. Satu orang yang berkolusi dan mengambil keuntungan, ratusan, dan bahkan ribuan orang di bawahnya turut dirugikan dan disengsarakan.

Tentang Korupsi dan Kepemimpinan

Dalam sekup sekecil apapun, seorang pemimpin tidak boleh melakukan kolusi dan korupsi. Apalagi bukan pemimpin. Karena pemimpin itu seperti rambu bagi laju kendaraan. Darinya lampu merah atau hijau dinyalakan. Bagaimana ia bisa menyalakan lampu hijau atau merah jika dirinya buram abu-abu?

Sore itu, saya merasa beruntung karena saya termasuk pemimpin kecil yang belum pernah korupsi. Sehingga saya bisa memberikan contoh tanpa merasa blingsatan kepada para pemimpin-pemimpin kecil yang lain.

Kenapa saya katakan belum pernah korupsi? Namanya juga manusia. Kita sering sulit menepati janji. Makanya kita harus hati-hati dengan janji, terlebih memercayai janji. Contohnya janji-janji yang sering diobral kebanyakan partai dan capres yang tak pernah terbukti. Karena itu, fungsi kontrol dan sangsi sosial perlu terus dilakukan. Seperti kata Bang Napi, niat buruk terjadi bukan karena niat pelaku tapi karena ada peluang. Dan menurut teman saya, pada dasarnya orang-orang yang sering berteriak anti korupsi juga niatnya berkorupsi, hanya saja belum ada kesempatan 

Memang tidak selalu, di institusi baik semua orang akan baik. Tapi sebuah institusi yang platform-nya buruk, biasanya akan membuat manusianya menjadi buruk. Dan pltaform itu terkait erat dengan pemimpinnya. Barangkali, seperti yang saya dan Badriah alami. Saya sering dipecat karena tak mau berkompromi dan menerima suap. Dan saya juga pernah menonaktifkan pengurus yang berkompromi dengan manajemen lalu mentang perjuangan pekerja. Pemecatan itu sempat menimbulkan reaksi perlawan keras disertai ancaman terhadap saya. Tapi saya tidak takut, karena saya percaya, banyak orang siap memberikan dukungan dan rindu pada kejujuran. Sebagaimana Badriah, yang juga terus ditekan karena menolak sogokan. Tapi di sinilah, waktu akan terus menguji siapa saja untuk membuktikan laku dirinya baik secara individu maupun lembaga.

Ketika menulis ini saya teringat kembali kata-kata teman saya. Dia bilang, soal korupsi sudah banyak contohnya. Sedari orang-orang pergerakan, partai hingga kiai. Belakangan, bahkan kita tahu di Departeman Agama pun terjadi korupsi. Sekali lagi, semua hanya soal kesempatan!

Tapi sore itu, saya berkata dalam hati bahwa korupsi, tidak selalu soal kesempatan, melainkan soal iman. Kalau menurut pendapat para pejabat bahwa korupsi dikaitkan dengan rendahnya gaji, barangkali orang seperti Badriah lebih membutuhkan uang sogokan. Ia hidup dari upah minimum, tinggal di kontrakan, tak punya tabungan dan sebentar lagi anaknya masuk TK. Sejak empat bulan lalu suaminya sakit akibat kecelakaan kerja yang hampir membuat kakinya diamputasi. Tapi ia tidak ingin menerima harta yang bukan haknya.

Kami terdiam. Teriakan-teriakan bocah kecil makin riuh bersama bunyi knalpot sepeda motor yang tiada henti melewati gang sekretariat kami. Dengan ragu, Badirah mengeluarkan sesuatu dari dalam tas. Sebuah bungkusan besar isinya hampir mbrojol karena kertasnya lembab dan sobek di sana-sini. Ia tumpahkan gorengan bakwan dan cireng yang kuyup berkeringat. Gorengan itu dibungkus saat baru diangkat dari penggorengan dan tak langsung dibuka.

”Ini bukan suap. Ini pemberian suka rela dan suka cita teman-teman kami, karena uang cuti tahunan mereka yang tidak dibayar sejak dua tahun lalu hari ini dibayarkan oleh perusahaan. Mereka senang sekali. Mereka gembira. Dan mereka berterima kasih dengan perjuangan yang kita lakukan. Saya juga tak tahu, tiba-tiba mereka sudah memberikan uang ini. Mereka mengumpulkan secara diam-diam. Maksudnya untuk bersama-sama merayakan keberhasilan. Mereka menitip salam buat mbak. Ini salah enggak mbak?” kata Badriah dengan kegugupan.

”Baiklah. Mari kita rayakan kemenangan ini. Dan saya akan mentraktir kalian kopi hitam.”

Sore itu, kami memakan hak orang lain yang diberikan dengan suka rela.

Jakarta, 23 Oktober 2010





Kamis, 14 Oktober 2010

Rumah Untuk Kita

Cerpen
Oleh Fiqoh

”Aku ingin kita bicara.”

”Ya. Silahkan. Sejak awal aku sudah tahu, bahwa saat seperti ini akan tiba,” kataku.

”Sebenarnya, membaca pesanmu siang tadi, aku ingin membatalkan pertemuan ini. Tapi, aku takut kamu marah.”

”Aku juga. Tadi aku berpikir ingin membatalkan pertemuan kita ini. Tapi aku juga takut kamu marah.”

Kita sama-sama menghempaskan tubuh di sofa. Kau duduk di ujung sana dan aku di ujung satunya lagi. Hingga jarak di antara kita bagaikan bermil-mil jauhnya.

“Akan kubelikan rumah untukmu. Yang tak terlalu besar, untuk kau tinggali,” katamu sambil melangkah mendekati jendela.

“Untukku?”

Tahukah kau, bukan itu yang aku ingin darimu. Aku ingin...rumah kecil untuk kita. Bukan untukku. Andai itu mungkin, batinku perih.

Empat bantal tergolek di atas kasur yang membentang. Kain seukuran selendang diletakkan melintang, membelah hamparan putih yang sunyi. Semua masih seperti semula, ketika Room Boy hotel menatanya. Di hatiku, ada kesepian yang menggigit.

“Kuharap kau...”

“Aku tahu, tak perlu kau teruskan. Dan aku tak memerlukannya. Aku tak mau menerimanya. Itu bukan hakku,” potongku.

Di sekeliling kita kembali sunyi. Tapi hati kita berkecamuk. Malam itu sikap kita sungguh kaku. Kau menatapku sayu. Dan entah kenapa, akhir-akhir ini selalu ada rasa canggung setiap mata kita beradu.

Berulang kali kau hempaskan nafasmu. Dan aku kembali menyusuri perjalanan kita. Hari-hari penuh kenangan manis, sejak kuputuskan menerima tawaranmu menjalani kontrak dalam perkawinan kita. Ya, kawin kontrak bohong-bohongan. Tawaran yang mulanya ragu kuterima. Tapi, demi uang akhirnya aku mau juga. Toh, pekerjaan ini jauh lebih menyenangkan dibanding menjadi simpanan pejabat? Dan aku membantu sandiwaramu, agar kau bisa menolak hubungan cinta dengan atasanmu, wanita yang telah bersuami.

Samar-samar kudengar tenggorokanmu tercekat menelan sesuatu. Dan aku tak menoleh. Langkahku kian jauh menapaki jejak yang penuh kenangan kita. Waktu itu, kita bertemu menjelang acara lelang tender yang salah satunya diikuti oleh perusahaanmu. Dan aku tidak mengerti bidang itu, makanya aku tak ikut bicara apapun ketika kau presentasi tentang jenis bahan, pekerjaan, hingga gambaran pelaksanaan secara detail. Karena, sebagai wanita yang berparas cantik, tugasku hanya perlu duduk anggun di sampingmu, menebar senyum, dan main mata dengan orang-orang di instansi itu. Tentu, pekerjaanku juga tak kalah penting--maka itu bosmu membayarku, bahkan mahal, agar aku bermain cinta dengan Ketua Panitia Lelang. Dan selama menunggu penetapan pemenang, aku sudah dua kali membuat janji dan tidur dengannya. Tak sampai seminggu, kamu mendapat bocoran tentang Surat Penetapan Pemenang itu, yang jatuh pada perusahaan tempat kerjamu.

Tak sia-sia, demi misi ini kugagalkan tawaran liburan dari seorang pejabat. Apalagi aku juga mulai jengah dengan sikap si tua bangka itu, yang sudah keberatan membawa perut tapi banyak maunya. Bagiku, hitung-hitung ini suatu pengalaman baru.

Dan benar saja. Bersamamu, aku tidak saja dimanjakan oleh fasilitas mobil atau sopir yang siap antar jemput. Fasilitas seperti itu toh sudah biasa aku terima dari si pejabat yang sering memintaku merapat ke kamar hotel pada jam makan siang, yang kadang berlanjut hingga sore atau malam hari. Hingga hatiku sering timbul rasa iri, betapa enaknya menjadi seperti mereka--berlimpahan harta tanpa sungguh-sungguh bekerja.

Tapi denganmu berbeda. Perlahan, banyak ruang dalam diriku yang mulai terasah. Aku tidak saja menjadi boneka yang bisa dibawa ke mana-mana, terlebih ketika pejabat itu ke luar kota. Kamu, satu-satunya pria bermata teduh dan tidak clamitan yang pernah kutemui. Darimu, aku mulai mengerti tentang inner beauty.

“Cantik dari dalam, cantik karena hati yang baik dan cerdas,” katamu ketika itu, sambil tersenyum tulus, tanpa sedikitpun menyentuhku. Sikapmu itu, terkadang membuatku malu, hingga aku merasa telanjang dalam kemewahan gaunku.

Sebulan berlalu, segalanya berjalan biasa saja. Kau tak membawaku memasuki kamar hotel, melainkan ke acara-acara, pertemuan dengan teman, melewati waktu di kafe atau berbelanja di mall. Barangkali, di sini kelebihannya berjalan dengan orang yang belum punya istri. Berani membawaku ke tempat terbuka, hingga aku bebas terbang, tidak seperti patung hiasan yang dipajang di kamar hotel berbintang. Kemawahan yang paling indah adalah, karena untuk beberapa bulan ini, aku terbebas dari tugas melayani si perut gendut itu. Bisa mendampingimu, membuat diriku jauh lebih bermartabat. Apalagi gelar seorang istri yang kau sematkan untukku.

Tiga bulan berjalan. Kau mengajakku liburan untuk mengisi cuti panjangmu. Kau bilang, perusahaan bersuka cita atas kegemilanganmu mengegolkan proyek itu. Kita tidak pergi jauh, karena kau tahu, setiap saat bisa saja aku mendapat panggilan mendadak yang sulit ditolak. Biasa, si pejabat itu selalu bisa menekan bahkan untuk urusan cinta.

***

Malam yang dingin. Di langit bintang-bintang seperti berlian tumpah. Dan cahaya rembulan melimpah hingga dinding kaca. Sebuah noktah tertoreh dalam lembar perjalanan kita, bersama tetesan keringat dari dua tubuh yang bermandikan peluh. Sejuknya pendingin ruangan, tak mampu menghalau bara cinta yang terus bergelora. Malam pun merajut berlembar-lembar kebahagiaan. Dan segalanya terulang di bulan-bulan kemudian. Sejak malam itu, aku merasa benar-benar seperti istrimu. Istri yang mulai merindukan kepulangan suami di rumah kita yang asri. Begitu juga kau. Kau selalu bergairah, hangat, hingga kita lupa status di antara kita.

”Kalau kau ingin pulang, pulanglah,” katamu. Suara itu bagai membuyarkan untaian manik-manik di tanganku. Untaian yang terjalin begitu panjang dan kini berhamburan.

”Aku akan mengantarmu,” sambungmu dengan nada gugup sambil memandang ke luar kaca, seusai makan malam kita yang jauh dari suasana hangat. Dan sesekali tubuhku menggigil bersama kehampaan yang datang menyergap.

Kebisuan di antara kita sudah terjadi di sepanjang perjalanan menuju hotel sore tadi. Kau tersenyum hambar saat memasuki taxi. Kali ini kau tak membawa mobilmu, apalagi sopir yang biasa menjadi orang ketiga di antara kita. Dan aku diam saja. Kau meraih tanganku, meremas jemari, dan aku menariknya. Entah kenapa, aku merasa kau tak sungguh-sungguh ingin melakukan itu.

“Satu kebohongan, akan membuat kita menciptakan kebohongan-kebohongan berikutnya. Dan aku ingin menghentikan ini,” katamu memulai pembiacaraan lagi.

“Aku tahu,” jawabku.

“Kita akan mengakhiri hubungan ini. Minggu depan, calon istriku datang. Dia sudah mengurus semua pepindahan tugasnya. Nanti ia akan menjadi polwan di kota ini.”

“Aku mengerti. Minggu depan, kau sudah menjadi milik wanita lain.”

“Ya. Semua karena janji. Janji seorang lelaki yang harus ditepati. Karena, janji itu bagai jaring-jaring pada jala yang aku tebarkan. Dan wanita itu seperti ikan yang terkurung di dalamnya. Selama ini ia menunggu dan menunggu. Meski aku tahu, saat ini hatiku bagai ladang yang gersang.”

Kembali kita saling diam. Detak jam terasa menyentak-nyentak jantung. Malam telah mendekati perbatasan. Deru mesin mobil hanya sesekali terdengar di jalan raya. Aku membayangkan sosok polwan itu. Tubuh yang mungkin sintal atau mendekati tegap, dan suara yang sering kudengar ketus melalui telepon celuler-mu. Terakhir, mataku tertumbuk pada wajahmu yang kaku tanpa ekspresi.

Dia memang pilihanmu di masa yang lalu. Tapi barangkali tidak di masa sekarang. Ia disebut sebuah pilihan, jika manusia memutuskannya di antara pilihan-pilihan yang lain, atau setidaknya memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan itu. Cinta tidak ada hubungannya dengan janji, apalagi tekanan. Tapi itulah, sebuah kenaifan yang sering kusaksikan dalam hidup. Manusia sering mempersempit diri, yang satu mengekang yang lain, dan menderita karenanya.

“Dulu aku sudah berkomitmen sejak aku dan dia masih sama-sama di SMA. Sudah kuikatkan diriku dan dirinya, ketika mataku masih hitam putih memandang dunia. Sekarang aku merasa, apa yang kulakukan dulu sama saja menggadaikan masa depanku, hatiku, diriku dan kebahagiaan hidupku. Aku memilih apa yang ada di depanku sebelum aku memandang berkeliling, melihat dunia sesungguhnya. Sekarang, ketika menemukan kebahagiaanku, aku harus pergi meninggalkannya. Janjiku, bagai belenggu yang mengikat kedua kakiku.”

Aku melihatmu berjalan menuju lemari dan mengulurkan lipatan baju putih padaku. Piyama putih tebal dan lembut yang seharusnya untukmu, dan tentu saja kebesaran untuk ukuran badanku. Tapi aku memakainya untuk menghangatkan badan.

Kau rebahkan dirimu di bagian ranjang sebelah kanan. Dan aku melangkah menuju pesawat telepon. Kutekan beberapa nomor untuk memesan sebotol Maurel Vedeau, Red Wine asal Prancis. Kulihat kebeningan matamu berganti sendu.

Malam sudah kian larut. Sudah banyak cairan merah yang kuteguk, hingga tanganku tak berdaya untuk mengayunkan gelas. Di dalam gelas yang isinya telah kandas, kulihat bayanganmu mulai sirna bersama hadirnya pesona yang tak bisa kulupa. Kau terus menyapaku dengan sikapmu yang kadang formal dan kadang jenaka, juga perjalanan kita selama lima bulan terakhir ini. Kita sering berdiskusi tentang hidup, pekerjaan, dan banyak lagi. Sebuah pembicaraan yang tak pernah kujumpai jika aku kencan bersama pejabat. Tapi besamamu, aku seperti tengah mengumpulkan kepingan-kepingan diri yang sekian lama terserak. Aku tak hanya menjadi wanita cantik yang digumuli laki-laki. Lebih dari itu, aku merasa sebagai manusia.

Satu yang paling mengesankan darimu, sewaktu aku bercerita kegelisahanku yang dalam lagu Ebiet bagaikan kupu-kupu kertas. Dan kau memperhatikanku, tertawa, dan menatapku dengan matamu yang teduh. Lalu kau menggelengkan kepala, dan memeluk tubuhku dengan lenganmu yang hangat. Dan di saat seperti itu, hatiku sering berkata, andai kau menjadi pasangan hidupku. Aku merasa semuanya selesai.

Tubuhku tiba-tiba merasa sangat lelah. Bias lampu memendarkan cahaya yang menyilaukan. Di kepalaku, bagai berhamburan ribuan kunang-kunang. Dan kau menangkap tubuhku yang limbung, membimbing berbaring di sampingmu.

Piyama yang mengurung tubuhku, terasa tak menghangatkan. Kutatap langit-langit ruangan, dan aku serasa di padang sunyi sendirian. Malam ini kau memberiku rasa sepi. Gelap. Meski lampu tak ada yang kau padamkan. Dalam samar pandanganku, aku tahu matamu tak terpejam. Saat rasa mual mendesak kerongkongan, kulihat lamat-lamat tubuhmu mendekat dengan tisu di tanganmu. Dengan sabar kau membantuku mengeluarkan cairan yang memabukkan. Tapi aku menepisnya, agar kau tak melihat air mataku.

Kau beranjak mendekati meja. Beberapa saat kau berdiri di sana. Terpaku, seakan tubuhmu mendadak beku. Tangan kirimu menaruh tisu, tapi matamu singgah di wajahku.

Aku merasa tenggelam kian dalam. Dan saat itu kurasakan lenganmu menyentuh kulit wajah saat kau mengusap rambutku. Rinduku kian membuncah. Tapi gejolak itu kucegah, bersama desah nafas yang kutahan dalam-dalam.

“I love you,” bisikmu.

Dan aku membalasnya dalam hati. Berungkali. Kepalamu menunduk di di ujung pundakku. Saat itu, rasanya aku ingin bangun dan berlari yang jauh. Tapi keletihan membuatku tak berdaya. Tatapanmu membuatku tersuruk dalam genangan asmara yang mengalir tanpa muara. Kita saling memandang. Kulihat kerinduan di matamu, bagai nyala pelita yang memancar dari lorong yang sangat dalam. Aku tahu, kau tengah bimbang dalam persimpangan.

Malam itu, kita seperti dua orang yang terdampar di laut surut. Di tepinya, kita menahan gelombang pasang yang terus menantang. Gelombang yang pernah melambungkan kita ke tengah samudera. Ia terus bergemuruh, dan kita terus menahan gelora.

Hari menjelang pagi. Kau membenahi selimutku. Kutekuri tembok putih di ruangan itu. Di sana, ada lukisan tubuh kita yang terbuka. Tidak satu inci pun ada yang tersembunyi. Esok, kita akan meninggalkan kenangan demi kenangan yang terpahat di dindingnya. Dinding yang telah menjadi saksi setiap gerak dan pergumulan berpasang-pasang manusia. Biarlah kutitipkan kenangan kita, di antara kenangan manusia yang lain.

Matahari telah mengeringkan embun-embun di dedaunan taman. Panasnya mulai menjilat dinding kaca. Sarapan pagi sudah tertata di meja. Entah kapan petugas kamar mengantarnya.

Hari itu, kau dan aku menyantap hidangan makan pagi yang terakhir.

Jakarta, Sabtu, 22 Juni 2009

Selasa, 12 Oktober 2010

Istana Pasir

Puisi

Berdiri kukuh di dalam jiwa
Megahnya melebihi isi semesta
Berpilar dari dusta ke dusta
Sampai kapan?

Ia menjulang megah bersama datangnya gelombang
Pasangnya melambungkan angan
Membawa kita berlayar makin jauh
Tapi bangunan di tepi, jauh lebih kukuh
Kapan kita berlabuh?

Sebentar lagi gelombang akan surut
Tak lama lagi kita akan ke tepi
Dan istana pun terberai
Bersama langkah kita yang saling menjauh

Kita tinggalkan sebuah bangunan
Menuju ke bangunan yang lain
Kau menuju pintu sebuah rumah
Aku membuka pintu rumah yang lain

Keteguhan hati kita mulai rapuh
Bagai bayang-bayang kukuh
Meski ada namun tak bisa disentuh
Terserak dihempas debur ombak

Ombak yang terus bergemuruh
Terus pasang
Terus bergelora
Sunyi tanpa jeda
Sunyi...mendengar suara sendiri

Dan kita...
Tak lagi, bisa menyentuh

Jakarta, 12 Oktober 2010 (Fiqoh)

Jumat, 08 Oktober 2010

Catatan Kecil Untuk Yang Terpelajar

Oleh Fiqoh

“MAAF,,SALAH KAMAR BU...
ANGGOTA DISINI SUDAH JAGO NARASI SEMUA...
APALAGI KALO DISURUH BIKIN NARASI GORENG....

Ibu seharusnya yang harus ikut kursus KEJAR PAKET A, supaya tidak NYASAR2 LAGI DI MILIS INI....
Pisss..”

Kalimat di atas saya kutip asli dari seseorang yang ditujukan kepada saya minggu lalu. Hal itu berhubungan dengan posting saya ke sebuah mailing list, untuk menawarkan kursus menulis yang diselenggarakan oleh yayasan tempat saya bekerja.

Dari kalimat yang ditulis beliau, saya ingin memberikan sedikit catatan. Pertama, tentang pemakian huruf-huruf kapital. Menulis dengan huruf kapital, jelas tak menarik. Sepertinya lebih tepat kalau ditulis di sepanduk buat berdemonstrasi. Seperti yang kadang saya lakukan bersama teman-teman buruh.

Kedua, tentang penggunaan tanda baca berupa dua koma yang berjejer, entah apa itu maksudnya..?

Ketiga mengenai penggunaan kata ‘Di’ yang seharusnya dipisah karena menunjukkan tempat, dan “Di’ yang mestinya disambung, yang merupakan sebuah awalan untuk sebuah kata kerja pasif. Pengetahuan ini saya dapat dari artikel yang ditulis oleh Goenawan Mohamad berjudul “Di Manakah ‘Di’?”

Dalam kalimatnya beliau menuliskan DISINI dan DISURUH. Seharusnya, “Di” yang pertama dipisah dari kata yang menunjukkan SINI sebagai tempat. Jangan disamakan dengan “Di" yang kedua, yang memang disambung karena merupakan sebuah awalan untuk sebuah kata kerja pasif, yang harus merapat pada kata yang diawalinya.

Hikmah yang saya petik, setidaknya saya akan lebih berhati-hati. Apalagi kalau mau mencak-mencak sama orang lain. Meski masih belajar menulis, tapi harus mulai peduli terhadap ketelitian. Karena kalau tidak, selain membuat kekacauan berbahasa, kekeliruan macam itu akan mengubah konotasi.

Mari kita bedakan kalimat berikut: Al-Quran di langgar. Bedakan dengan, Al-Quran dilanggar. Kalimat pertama menujukkan langgar adalah surau. Dan kalimat kedua, dilanggar artinya ditabrak. Demikian, masih saya kutip dari artikel Pak Goen.

Catatan terakhir, saya sedang berpikir tentang hubungan salah posting dan Kejar Paket A. Kok menurut saya tidak nyambung ya...? Saya memang belum punya pengalaman mengikuti kelas Kelompok Belajar Paket A. Tapi sepertinya, di sana tidak diajarkan tentang kurikulum agar posting di milis tidak nyasar 

Sebagai orang yang tidak terpelajar, saya terus belajar dalam hidup. Tidak saja dari kebaikan, tapi juga keburukan, bukan hanya pada mereka yang bijak, tapi juga yang arogan. Mereka, selalu memberikan sisinya yang manis, menawan, juga lucu. Semua itu akan membuat hidup lebih berwarna. Seperti halnya menulis, yang sering kita sebut sabagai profesi lintas etnik, agama, ras, suku, dan aliran apapun yang ada di dunia ini.

Sesungguhnya, dalam hubungan antarsesama atau komunitas, tepo seliro tetap harus ditumbuhkan. Selama sikap tepo seliro itu tidak diterapkan pada koruptor, pelanggaran Ham atau perusakan lingkungan yang menyengsarakan manusia lainnya. Setiap orang bisa salah, tapi atas nama orang yang terdidik dan terpelajar, sungguh disayangkan, kalau keterpelajaran itu tidak tercermin dalam laku kita.

Jakarta, 8 Oktober 2010

Kamis, 07 Oktober 2010

Balada Kembang Desa

Cerpen
Oleh Fiqoh

DUA perempuan itu saling merengkuh. Jemari tua yang kurus, mengusap-usap tubuh yang luruh. Mata rentanya sudah mulai rabun, tapi telinganya masih mendengar dengan jelas teriakan-teriakan yang mengepung rumah kecilnya. Keduanya saling berpelukan. Lama, tanpa kata, bagai serial sebuah sinetron.

Bulir-bulir kaca mengalir di pipi bening perempuan muda. Kristal-kristal lapuk, mulai pecah dari mata perempuan renta. Mereka saling mendekap, hingga kesesakan lepas dari rongga dada.

Menunggu beberapa jam saja. Dan keduanya akan meninggalkan rumah itu. Petromak telah dimatikan. Tinggal lampu teplok yang kebat-kebit terlihat muram. keduanya sedang menuju ambang kehilangan. Dan malam itupun mereka memang sudah kehilangan. Satu sama lain teramat menyayangi, namun mereka akan saling meninggalkan. Harga diri, kehormatan, semua sudah lenyap. Berganti dengan pengucilan dan keterasingan. Perasaan dan perlakuan macam itu, membuat mereka bagai terkubur di dalam kehidupan.

Kardus Sarimi dibiarkan menggelimpang di dekat bale bambu. Di dalamnya telah terisi beberapa potong baju. Perempuan renta membuka bundelan ujung kain, menghitung beberapa kepingan logam. Dirasa masih kurang, ia bergegas menuju kamar, menguras beras yang mengisi separuh genthongnya. Setengah terhuyung ia berlari keluar rumah, mendorong pintu bambu rumah yang lain, yang masih bisa disebut satu-satunya tetangga. Tukar menukar antara beras dan rupiah pun terjadi di sana. Itulah benda termahal yang bisa dibekalkan untuk anaknya.

Di perbatasan malam yang mencatat pergantian angka kalender, dua perempuan itu saling berjalin tangan. Dengan sabar anaknya menuntun ibunya, yang kadang tersandung-sandung menaiki tanjakan. Di depan sana, jalanan masih berkelok-kelok. Dari jauh terlihat seperti stagen putih yang melilit kaki bukit. Satu bukit telah terlewati. Masih dua lagi. Kini mereka berada di perbatasan Gunung Banyak Angkrem dan Ragunan, menyurusi jalan setapak yang akan membuat mereka sampai di sebuah desa dan jalan raya menuju terminal di kota kecamatan.

Rembulan di langit, bagai sedang bemain petak umpet di antara awan hitam yang terus bergerak. Kadang timbul kadang tenggelam. Sesekali oncor dinyalakan, sesekali dimatikan bila kaki mereka merambah medan yang datar.

Menjelang pagi, keduanya sampai di Bukit Ragunan. Bukit yang katanya tempat bersarangnya bromocorah, angker dan dihuni setan-setan. Tapi di tempat itu mereka justru merasa tenang. Sepi. Hanya suara binatang malam dan desau angin kemarau yang menggoyangkan pucuk-pucuk cemara. Tidak ada setan ataupun genderuwo. Yang ada bayangan-bayangan hitam pepohonan, yang daunnya mulai berkilau tertimpa cahaya fajar. Di ufuk timur, awan putih bersemburat jingga, menghampar luas bagai lukisan yang maha indah. Terkadang membentuk seperti lautan dengan ikan-ikan besar atau perahu nelayan. Kadang seperti ada lubang-lubang goa, tapi jauh dari rasa menakutkan.

Cepat sekali pagi menjelang.

Seperti perubahan nasib manusia. Seperti nasib Tinah, nama gadis itu. Cinta remaja yang lenyap seketika. Percakapan yang hangat, berganti dengan suara-suara murka. Dan kini ia terdampar, menjauh, bagai pohon yang dicerabut hingga ke akar-akarnya. Ia minggat secara tidak hormat, dan mendapat cap yang selamanya akan selalu dicatat: perawan yang minggat karena diusir dari desanya! Untung saja tak terbersit untuk bunuh diri. Seperti Sanem.

Perjalanan malam itu, dirasakan seperti sebuah hijrah. Meski belum tahu seperti apa dunia di luar sana. Yang penting, ia harus lari sejauh-jauhnya dari kampung halamannya. Kampung yang seakan dihuni oleh para Dewa. Dewa yang menginginkan kesucian orang lain, tapi tidak pernah melihat kotorannya sendiri. Dewa yang gemar berceramah dan rajin berdoa, tapi dalam keseharian lebih suka bermalas-malasaan, membiarkan para istri naik turun gunung menjdai buruh pengangkut gula dan batu-bata. Sementara yang laki-laki, bertelapak tangan lembut, dan jarang melepas kain sarung. Dewa yang jarang membuat perut anaknya kenyang, tapi terus menerus mencetak keturunan. Dan para Dewa itu, tak segan-segan akan mengayunkan parang untuk anaknya yang absen mengaji, tapi tidak pernah peduli anaknya tidak bersekolah.

Hati Tinah disesaki kepedihan yang tiada terperi. Kampung halaman yang membesarkannya penuh kenangan manis. Kini bagai kawah candradimuka yang memanas. Desa yang ia cintai tapi membuatnya jadi benci. Ia bisa membayangkan, mata penduduk desa yang akan memandang rumahnya penuh prasangka. Dan di rumah itu, ia tinggalkan ibunya seorang diri.

Ia tak bisa menerima amanah dua kakaknya yang bekerja menjadi pembantu di kota. Kakak-kakaknya yang rela tak bersekolah tapi bermurah hati untuk menyekolahkan dirinya. Semua itu dilakukan demi rasa sayang kepadanya. Dan kakaknya meminta agar Tinah menjaga ibunya. Ayahnya meninggal empat tahun lalu, penyakit malaria telah merenggut nyawanya tanpa keluarga bisa berbuat apa-apa. Ketika itu kakak Tinah belum bekerja.

Semua ini apakah karena ia terlahir dengan wajah cantik? Dan salahkah ia karena menolak pinangan pemuda desanya dan menjalin hubungan dengan pemuda dari kota? Prasojo adalah laki-laki yang baik, dan terkenal pintar di sekolahnya. Ia kakak kelas dirinya. Sekarang Pras sudah duduk di bangku kuliah.

Ia keluarkan sapu tangan dari Pras. Ia genggam dompet dari ibunya, yang berisi kepingan-kepingan logam. Ada kehangatan menggenggam dua benda itu. Semuanya terjadi begitu cepat. Dan malam itu Pras hanya sempat menuliskan alamat.

Mata indahnya yang sudah sembab kembali berkaca. Ia keluarkan sobekan seperempat halaman folio yang berisi alamat. Ia ingin segera sampai di sana. Ingin terbang sejauh-jauhnya. Meski hatinya merasa tersayat, rekah di sana-sini, bagai senar-senar yang ditarik-tarik dari dalam roti. Ia ingin tetap tinggal, tapi ia harus segera pergi. Pergi!

Dan ia sudah pergi kini. Agar tak tergapai oleh tangan-tangan itu lagi. Mengingatnya, hampir membuatnya menjerit tanpa ia sadari. Dan ia kedikkan bahu untuk mengusir rasa ngeri, juga nyeri yang tak terperi.

Kenek mobil mengetuk-ngetukkan uang logam pada besi. Seorang pelajar bersiap akan turun. Tinah nyaris memekik. Dalam pendengarannya ia bagai mendengar bunyi kentongan bersahut-sahutan. Dalam bayangannya ia melihat ibunya sedang tergagap-gagap keluar dari dapur. Rumahnya yang mungil sudah dikepung pemuda-pemuda tanggung dan beberapa lelaki setengah baya yang ia kenal di desanya. Mereka berteriak, membuat gaduh. Tangan-tengan pemuda itu telah siap memukul dan meninju ke wajah Prasojo, kekasihnya. Mereka menghardik, menghina, menistakan sesama mahkluk Tuhan yang tengah bercengkrama dengan hangatnya. Dan menurut orang-orang itu, perbuatan Tinah dan Pras melanggar tatanan agama, menantang para pemuda desa!

Ia tak tahu apa yang harus dilakukan saat itu. Lehernya yang halus, terasa menggelembung menahan isak. Ia pandangi Prasojo yang berusaha memberi penjelasan dan hasilnya sia-sia. Karena mereka memang tak membutuhkan penjelasan. Diam menjadi bulan-bulanan, menjelaskan dianggap melawan. Menyembah dan menyembah, bertaubat, itu yang harus dilakukan. Sesungguhnya, kepada siapa manusia bertaubat? Entahlah. Petang itu, Pras dan dirinya bertaubat dan bersimpuh di hadapan mereka. Pada saat itu, ia melihat pemuda yang pernah ditolak cintanya, terlihat tersenyum bangga dengan liciknya. Dan lelaki setengah baya, meminta Pras berjanji untuk menikahinya. Tak tahu kenapa, di desanya, setiap lelaki bermain ke rumah perempuan, berarti harus menikahi. Tak peduli laki-laki itu teman atau pacar. Kalau tidak, mereka akan dihancurkan, sebelum menghancurkan nama baik dan harga diri pemuda di desa itu.

Tinah tersenyum sinis mengenang tentang harga diri. Heh, harga diri yang mana? Mereka orang-orang taat mengaji, mengelu-elukan seorang kiai, tapi kekritisan tenggelam dan mati di dalam menilai partai dan politisi. Bahkan di sela-sela sholawat, hiruk-pukik kepentingan partai mengepul bagai asap. Hingga sholawat dipelesetkan menyebut nama partai dan nomor urut. Sang kiai mendapat kunci, pengikutnya bertikai sendiri-sendiri. Mereka selalu mencari sudut-sudut tak terlihat pada diri orang lain, tapi seakan buta dengan korupsi dan kolusi di depan mata?

Entah sudah berapa kali Tinah mengedikkan bahunya di luar kesadarannya. Ia teringat peristiwa sepuluh tahun silam. Saat itu ia masih kecil. Bersama kakaknya, ia mengintip dari celah rumpun bambu. Sebuah arak-arakan melintas di jalan utama desa itu. Seorang gadis bagai mayat hidup melangkah tersaruk-saruk digeret dan didorong kasar oleh para pemuda berkalung sarung. Sesekali tangan mereka mencomoti dua benda yang menggantung setengah tersingkap di dada si perempuan. Yang lain mencercahkan gunting di atas kepala. Rambut legam dan panjang, bergulung-gulung tanggal dari kepala. Satu kali ia menyaksikan langsung, dan dua kali ia mendengar peristiwa serupa.

Konon, pemuda yang menjadi kekasih gadis itu katanya menerabas pintu dan lari sekencang-kencangnya di malam buta. Hingga ia tak ditangkap dan ditelanjangi. Dua puluh tahun kemudian, ia baru berani kembali. Pasangan itu ditangkap sekitar pukul sepuluh malam. Menurut tetangga dekatnya, mereka sedang bercakap-cakap saja, di bangku kayu, di depan dua kamar yang ditiduri oleh ketujuh adiknya. Dan kedua orang tuanya tengah di dapur. Di desanya, ada kecenderungan kalau anaknya sedang diapeli, para orang tua tidak akan tidur. Amben panjang, ruang depan, biasanya digunakan sebagai ruang tidur. Dan para orang tua biasanya akan pergi ke dapur. Meski tidak memasak sesuatu, mereka menyalakan tungku. Barangkali, untuk menghangatkan badan.

Yang lebih Tragis adalah nasib Sanem. Gadis sintal hitam manis, bunga desa tetangga, akhirnya memilih terjun dari atas gunung batu. Ketika itu ia berlari menyeruak dari pemuda-pemuda yang menggiringnya. Ia berlari dan berlari, begitu cepat bagaikan orang sakti. Hingga para pemuda tak mampu mengejarnya. Katanya, sebelum terjun ia berteriak, lebih terhormat mati bunuh diri daripada tubuhnya dijamah dan direndahkan oleh para lelaki yang sok suci. Sanem digerebek ketika tengah diapeli oleh pemuda dari lain desa di rumah peninggalan orang tuanya bersama adik-adiknya.

Teakhir, kejadian serupa yang hampir menimpa Trinil. Trinil adalah gadis sebayanya yang terkenal cerdas sewaktu sama-sama duduk di bangku SD. Karena tak bisa melanjutkan sekolah, mencari kerja di Jakarta. Kala itu pacarnya datang ke rumahnya. Dan Keluarga Trinil didatangi oleh para pemuda. Meski lelaki itu tidurnya di rumah yang terpisah, tetap saja sikap itu dianggap menginjak-injak harga diri para pemuda. Akhirnya, pihak keluarga sibuk lapor ke pamong praja. Lelaki tersebut diminta berjanji menikahinya.


EMPAT TAHUN BERLALU. Tinah memejamkan mata, meresapi sentuhan tangan ibunya. Jemarinya yang keriput mengusap-usap punggung dan rambutnya. Dan Tinah menyusupkan tubuhnya lebih dalam. Ada kehangatan menjalar, menembus tebalnya jaket dril yang melapisi T. Shirt-nya.

”Bau rambutmu, tak seperti dulu,” kata ibunya sambil menatapnya dan menjauh.

Tinah menarik lengan ibunya yang terasa ringan di genggaman. Ia membimbing ibunya ke tepi ranjang dengan kasur empuk yang baru seminggu lalu dibelinya. Tinah telah memesannya sebelum kepulangannya. Melalui kakak perempuan yang dulu menjadi pembantu dan setelah menikah hidup di desa. Tumpah sudah kegembiraan bisa bersama-sama lagi. Sebuah suka cita yang sulit dibayangkan sebelum kepulangan dirinya. Tak sia-sia ia kalahkan rasa takut kembali ke kampungnya. Ia acuhkan bisik-bisik orang di belakang punggungnya. Semua tak ia pedulikan, bahkan jika nanti semua orang akan bergunjing tentangnya. Tekadnya kali itu, mengungguli angksa yang dulu ia tempuh saat menuju batas antara Batam dan Singapura.

Semua itu, demi ibunya seorang. Juga Prasojo, lelaki yang sebentar lagi akan wisuda dan menjadi pendamping hidupnya.

Hatinya bersorak ketika ia berada di pesawat. Ia sangat rindu pada Pras. Namun rindu dengan ibunya lebih-lebih lagi. Bersamaan akhir kontrak kerja yang kedua, kerinduan sudah tak terbendung lagi. Perjalanan mencapi kampungnya, serasa menunaikan ibadah haji dengan berjalan kaki. Semua dirasa sangat lama bersama taxi yang ia sewa dari bandara.

Malam itu, kerlip bintang hanya muncul satu persatu. Ia sangat tinggi, berada persis di atas tempat dirinya, rangjangnya, yang seakan tak beratap. Bilik-bilik bambu, baru saja diganti dengan kayu. Tapi malam itu, entah kenapa ia amat kedinginan. Dan ia terbangun. Mendapati ibunya yang belum juga tertidur. Ia rebahkan kepalanya di pangkuan ibunya. Dan ia bercanda, seperti masa kecil dulu. Dimana ibunya selalu membaui aroma tubuhnya. Sekali waktu ibunya bilang Tinah bau matahari, lain kali bilang semut kangkrang, asam jawa, lumpur, atau kotoran anak burung dara. Begitulah kata sang Ibu, setiap ia pulang bermain.Toh tetap saja ibunya menciuminya dengan penuh kasih. Dan ia akan terkikik-kikik jika hidung ibunya sudah singgah di sela-sela ketiaknya.

Tinah tertawa kegelian. Kepalanya bergerak ke kiri dan ke kanan, hingga pelipisnya mebentur keras tulang paha yang kurus. Ia tersentak, tersadar, Ibunya pasti kesakitan. Ia buru-buru angkat kepalanya. Agar jangan sampai menyakitinya. Tapi masih juga kepala Tinah lekat di pangkuan. Ia tak ingin menyakiti ibunya, sedikitpun, tak ingin. Dan ia harus benar-benar bangun.

Tinah kini sudah bangun. Ya, dia bangun. Tangannya mencari-cari. Tak ada siapa-siapa. Menatap sekitar, kosong dan hampa. Hanya sprai putih yang membentang sepi.

Bahunya terguncang. Ia mendapati dirinya sendirian. Berada di pusara kehidupan.

Hingga hari ketujuh, ucapan duka cita terus mengalir. Kerabat dan teman berdatangan. Juga satu dua karangan bunga. Semua dikirim dari mereka yang jauh, tapi dekat di hati.


Magelang, 1990