Rabu, 01 Desember 2010

Cerita Dari Desa

Oleh Fiqoh

KEMBALI ke kampung halaman, bagiku satu nostalgia tersendiri. Ada batu besar dekat rumah, juga sendang dengan sumber air yang melimpah. Aku senang mendapati semuanya.

Di batu besar itu, dulu aku kecil sering ikut kakakku, bercengkrama bersama tetangga. Entah mengapa mereka terlihat senang memandang bulan sabit, meski seringkali kemunculannya yang jauh dari ukuran penuh itu selalu disertai langit muram. Mereka mengagumi bentuknya yang mirip arit, alat pertanian yang akrab dengan keseharian hidup mereka.

Di persimpangan jalan setapak ke arah makam dan hutan, masih berdiri pohon-pohon yang dulu kutinggalkan. Juga pohon beringin di atas rumahku, yang dulu masih kecil. Kini nampak sangat kokoh seiring berjalannya waktu.

Alam seakan tak pernah berubah. Kecuali perubahan karna proses alam itu sendiri. Seperti yang kusaksikan di halaman rumah Yu Giyem sore itu. Dongklak pohon nangka yang lapuk termakan usia, dan tiga pohon nangka usia muda yang tumbuh di sekitarnya. Kata Yu Giyem, pohon itu berasal dari biji nangka yang dijatuhkan kalong dan tumbuh begitu saja.

Tak terlihat bangunan yang baru. Kecuali rumah-rumah kayu atau bambu yang di sekat-sekat untuk anak dan menantu. Mungkin bumi sedikit tereksploitasi, ceruk-ceruk besar terlihat di sana-sini karena tanah selalu digali. Tapi melihat jejaknya, aku bagai menyaksikan senyum bumi pertiwi yang tulus untuk memberikan kehidupan pada insani. Ceruk-ceruk yang indah—bukan lobang yang mengerikan. Setiap inci diusap jemari, digesut kulit telapak kaki, bukan dikeruk dengan excavator atau dilobangi dengan paku bumi. Itulah karya para lelaki di desaku, yang kerjanya membuat batu-bata untuk menghidupi keluarga.

Setelah hampir 25 tahun aku tinggalkan desa, memang mulai nampak sedikit kemajuan. Satu dua rumah sudah menggunakan bata meski tanpa polesan semen. Meski ada juga rumah yang gagal dibangun hingga pondasinya dibiarkan berlumut bertahun-tahun. Dan sebuah kemajuan yang dominan adalah, bangunan dua rumah milik orang kaya di kampungku. Rumah yang masih baru itu, dipasang keramik hingga pendopo.

Kemarau panjang sedang terjadi saat itu. Orang-orang mandi dan mencuci di belik-belik pinggir sungai. Untuk keperluan minum dan memasak, mereka mengambilnya dari belik di bawah rumah Simbok. Jika belik asat akibat banyak yang ngangsu, sebagain mengambil ke sendang meski jaraknya jauh. Kecuali penghuni dua rumah mewah itu. Mereka tak terlihat lagi ngangsu dan mandi bersama-sama di sungai.

“Mereka sudah punya mesin Sanyo untuk menyedot air ke kulahnya,” kata Mbakyu Giyem sambil menyidukkan gayung dari batok belapa. Yu Giyem berkata setengah berbisik, seolah takut kata-katanya didengar angin sungai dan disampaikan ke penghuni rumah itu.

“Bagus tho Yu, kan enak jadinya,” kataku.

“Ya iya. Tapi sejak sungai disedot dari atas, air di belik ini jadi kering. Yang mengeluh bukan saya saja. Ijem, Mbakyu Par, Yu Is, semua mengeluh. Kita mengalami kekeringan, sementara air di kulah mereka sering terbuang. Airnya sering luber dan ngalir ke selokan jalan. Ndak pernah dimatikan itu sedotan,” sambungnya.

“Tadinya penduduk Nduwur Kali juga pada mau beli penyedot air. Tapi untung ndak jadi.”

“Kenapa?”

Yu Giyem tak melanjutkan kalimatnya. Ia menatapku dan menggelengkan kepala. Sorot matanya menyiratkan keraguan, juga ketakutan yang aneh.

“Nanti saja di rumah,” jawabnya.

Hening. Hanya angin yang sesekali berhembus lemah melewati sela-sela bebatuan. Yu Giyem mulai membuka baju kurung pemberianku limat tahun lalu. Kini gambar di bahan nilon itu telah memudar. Tali kutang berwarna putih melintir seperti tali tambang kecil di pundaknya. Warnanya sudah kehitaman. Peniti berkarat menancap di tali sebelah kanan. Ia mencopotnya dan meletakkan di atas batu, menaikkan rok hingga ke dada sebagai kemben dan berjongkok menciduk air sedikit demi sedikit.

Kutangkupkan kain di badanku sebagai kemben. Kulilitkan agak longgar supaya telapak tanganku bisa berlalu lalang menggosok badan. Mandi di alam terbuka dan tersorot matahari, membuat badan terasa pringsang. Rasanya ingin mandi berlama-lama. Tapi tak mungkin juga aku menguras air belik itu. Kami harus menyisakan untuk orang-orang yang datang belakangan.

Selesai sudah mandiku siang itu. Kucangking ember berisi cucian milik Yu Giyem. Dan dia membawa kelenthing berisi air. Di tengah jalan kami berpapasan dua perempuan dengan ember cucian dan kelenthing di pinggang.

PULANG kampung tanpa singgah di rumah bambunya yang kecil itu, kuibaratkan seperti naik haji tanpa memutari Ka’bah.

Di rumah itu sering kudengar berbagai cerita yang terjadi di desaku. Sedari dana BLT yang tak rata, hingga tawuran warga yang tak kebagian jatah. Ada kisah kematian tragis tentang orang yang jatuh dari pohon kelapa, ada juga kisah menegangkan dari salah seorang pencari rumput yang membabat pohon besar, ternyata yang dibabat ular. Cerita terbaru adalah, tentang pemilihan lurah yang diwarnai tekanan dan ancaman, dan sekarang lurah tersebut ketahuan melakukan korupsi dan mendekam di tahanan.

Di rumah itu, aku tahu isi senthong yang hanya berpintu kain usang. Aku juga tahu isi dapur hingga lemari. Aku bebas tidur, membuka gledheg, dan menyiduk beras di gentong kecil bekas padasan. Di rumah itu sebiji beras dihargai bagaikan emas. Tak mau kalah dengan ayam, Yu giyem akan buru-buru memungut bila ada beras yang jatuh dari tampian. Selebihnya, mereka mengenyangkan perut dengan singkong dan talas rebus untuk hidup keseharian.

Kami berjongkok di dekat tungku. Siang itu Yu Giyem baru mulai memasak, setelah sepagian mengusung bata dari tempat pembakaran ke pinggir jalan. Satu bata harganya 18 gelo alias kurang dari dua puluh rupiah. Sekali ngangkut, rata-rata 40 buah, kadang lebih. Hari itu ia berhasil membawa sekitar 500 bata. Gesutan kain selendang masih menyisakan memar di pundaknya.

“Memangnya ada cerita apa Yu?” tanyaku dalam bahasa Indonesia. Karena Mbakyu Giyem yang biasa kupanggil Yu itu, lama menjadi pembantu rumah tangga di kota saat masih muda. Sehingga dia bisa berbahasa Indonesia.

“Kamu sudah tahu belum kalau anaknya Pak Nasiri sakit? Sudah lama ndak sembuh-sembuh. Padahal sudah keluar masuk rumah sakit. Katanya badannya ada cairannya dan harus disedot. Dan sudah disedot tapi tak tuntas-tuntas. Dan kadang anak itu menceracau, katanya ia adalah danyang pengunggu kedung Nduwur Kali. Ya itu, kedung yang airnya disedot ke rumahnya itu,” kata Yu Giyem sambil membalik daun pepaya.

“Karena itukah orang-orang Nduwur Kali membatalkan menyedot air?”

Yu Giyem mengangguk. Ada kelegaan, kedamaian, yang seakan dihadiahkan oleh kekuatan yang tak nampak kepada orang-orang Ngisor Kali dan dirinya.

“Sebelum ada kejadian itu, sempat terjadi keributan juga antara orang-orang Nduwur Kali dan Ngisor Kali. Mereka tak bisa diingatkan untuk tak menggunakan sedotan air. Mereka malah mengatakan bawha kami orang-orang yang iri karena tak bisa membeli alat itu. Kalau tak ada kejadian itu, mereka pasti sudah beramai-ramai memasang penyedot air, dan membuat belik-belik di bawahnya tak kebagian banyu.”

Daun pepaya sudah ditiriskan dan kini tinggal ditumis. Aku paling suka masakan dia. Khusunya kalau Yu Giyem sudah membuat buntil, memasak lompong atau daun papaya. Tidak gatel dan tidak pahit. Usai menumis, ia menggoreng ikan asin. Makan siang yang telat dan sangat menggoda selera.

Perutku sudah kenyang dan badanku berkeringat. Dan aku mengajak mereka menuntaskan kenikmatan duniawi dengan minum kopi yang aku bawa dari rumah. Kopi Kapal Api, yang digemari suaminya tapi jarang bisa dibeli. Dan saat-saat kedatanganku baginya sangat menyenangkan. Suaminya dulu sering pergi ke Sumatera untuk menjadi buruh menderas pohon karet. Pernah juga ke Kalimantan untuk menambang biji emas. Sejak 10 tahun lalu ia tak pergi lagi karena sakit-sakitan. Kini bersama istri ia menganyam keranjang tongkol sebagai pencaharian hidup mereka. Rumahnya dipenuhi keranjang. Sudah lewat seminggu dari jadwal penjemputan, truk yang biasa mengangkut keranjuang belum juga datang. Satu keranjang harganya dua puluh rupiah.

Aku meneguk kopi sambil mendengar gesekan rumpun bambu dan desir angin. Deritan-deritan itu terus mengeluarkan suara-suara lemah di antara gulungan angin. Di hatiku terasa bagai sebuah simponi yang aneh sekaligus pilu. Pikiranku serasa menjelajah ke ruang-ruang yang aneh dan hampa. Siang yang dingin.

Aku meneguk kopi yang tak hangat lagi. Cepat sekali suhu udara melenyapkan didih air di di cangkir. Kulirik Yu Giyem seperti sedang memikirkan sesuatu. Sementara itu, pikiranku telah melayang ke rencana pengeboran tanah pinggir rumah dan perdebatan dengan Simbok semalam. Juga tentang tulah, yang bagaimanapun mengganggu pikiranku.

Aku ingin mengebor tanah pinggir rumah dan memasang jet pump. Dengan alat itu Simbok tak harus mengangkut air dari belik di bawah rumah untuk mengisi bak mandi. Tapi malam itu Simbok menolak dengan sorot mata aneh, juga kekhawatiran yang aneh.

Ojo nyedot banyu, ndak dadi beboyo.”

Simbok berbisik, namun nadanya yang tegang terasa menusuk pendengaranku.

Aku masih diam mendengarkan. Dan tanpa bisa dibendung, Simbok yang biasanya diam, malam itu berbicara panjang bagai nenek-nenek kesurupan. Kata Simbok, ada hal penting yang tak boleh aku lupakan meski aku sudah lama hidup di kota. Yaitu etika pada leluhur dan tepo seliro pada sesama.

Leluhur, ora biso nrimo nek ono sing sembrono,” tambah Simbok dengan ketegasan yang dingin.

”Leluhur penunggu belik itu?” tanyaku hati-hati, sambil memikirkan belik yang sudah kering dan lebih tepat disebut memprihatinkan daripada disebut angker. Pohon jaranan dan beringin yang dulu menaunginya telah lama punah. Saat itu mataku bersitatap dengan mata Simbok yang tajam namun nampak enggan memberi jawaban.

Aku teringat masa kejayaan belik itu. Beringin yang rindang dan gagah, bersanding dengan pohon jaranan yang berdaun merah saga nun kuat dan anggun. Menurut cerita, pancaran air belik itu peninggalan Mbah Buan, nenek moyang mereka jaman dulu. Katanya, ada belut buntung (ular) sebagai penunggu. Selain airnya yang bening, sering juga daun jaranan dijadikan syarat bagi para orang tua yang anaknya tidak bisa jalan. Aku sering membuntuti Simbok saat ingin memetik daunnya. Dan aku mendengar simbok meminta ijin pada pohon yang diam itu. Entah kenapa, banyak orang percaya dan harapan mereka terkabul.

Selain sisi indah tentang belik itu, aku juga teringat kejadian mengerikan sekitar 25 tahun silam. Ketika itu aku berusia 9 tahun. Salah satu anak tetangga di bawah rumahku, lengannya mendadak sakit, berlobang dan keluar tulang. Luka itu tak kunjung sembuh meski beragam cara telah dilakukan untuk mengobatinya. Orang-orang bilang keluarga itu kena tulah. Penunggu belik memelintir lengannya karena keluarga mereka sering membabat ranting-ranting beringin untuk memberi makan ternak di musim kemarau. Juga mencelupi air belik dengan cucian kotor. Padahal pesan Simbah, belik harus dijaga kesuciannya.

Beringin yang rindang, tinggal menyisakan pohon yang meranggas. Di mataku saat itu, pohon itu nampak muram dan murka—barangkali, aku merasa begitu karena terbawa pendapat orang-orang saja. Dan entah kenapa, lama-lama kedua sepasang beringin dan jaranan itu mati bersama.

Aku tak tahu tentang pesan Simbah atau tulah. Tapi aku mendengar bagaimana orang-orang menggerutu dan menyumpah serapah di belakang. Semua merasa jijik dengan ulah keluarga itu. Tapi orang-orang tak tak berani menegur terang-terangan. Mereka kalurga berada dan membuka warung. Jika membuat masalah, orang-orang takut tak dikasih ngutang.

”Jangan kamu bor tanah kita. Simbok wedi, mengko belik dadi garing, tonggo-tonggo podo sengsoro lan ora bisa nerimo,” tambahnya dengan suara lebih ditekan, seakan khawatir suaranya terbawa angin malam dan memasuki pintu-pintu rumah tetangga.

Suara Simbok kembali terngiang. Dan aku tergagap mengingat sejarah belik. Belik bawah rumahku, rumah yang sekarang ditempati Simbok sendiri. Belik yang tiba-tiba seperti menjadi bagian hidupku. Mata air yang jernih dan tak pernah berhenti, aku tak tahu dari mana datangnya. Sumber kehidupan tak pernah mati sejak simbok kecil hingga memiliki tujuh anak dan 18 cucu. Dan saat kemarau, belik itulah yang menjadi sumber air bagi rumah-rumah di sekitarnya hingga sekarang.

Suara Yu Giyem hanya terdengar timbul tenggelam. Dan aku terkesiap ketika dia bertanya padaku soal rencanaku mengebor tanah pinggir rumah. Dari mana dia tahu?

Aku menatapnya, dan kulihat telaga kering itu nampak terluka. Dalam sekali.

Aku tak kuasa lagi untuk berbicara. Hanya kepalaku yang reflek menggeleng di antara kesadaran dan kebingunan.

Beboyo. Hampir saja aku menghidupkannya.

Jakart, Agustus 2010




Tidak ada komentar: