Rabu, 26 Februari 2014

Semesta dan Selingkuh


Lawan!
Seru Wiji Tukul dalam sebuah puisi
Dan ia laksana api membakar padang  rumput kering
Menjadi pandu sebuah gerakan perlawanan massif

Lawan!
Teriak para “tokoh” reformasi
Dalam hingar-bingar pengeras suara yang saling bersahut
Tapi suara itu tak mampu mengusik
Tak membuat kita beringsut
Rakyat bagai terbungkus dalam cangkang siput

Dulu teriakan itu terasa lantang
Meski hanya satu suku kata – lawan!
Sekarang telinga kita akrab dengan bising
Tapi perlawanan memberi makna asing

Jaman orde baru dulu demokrasi tidak ada
Pertemuan lebih 4 orang dicurigai
Sekarang era keterbukaan demokrasi dan informasi
Siapapun bebas berkumpul, bebas berucap
Tapi…bagai kehilangan esensi

Dulu jaman kebebasan dipasung
Berkumpul dilarang
Hingga bisik-bisik kecil terdengar nyaring
Teriakan seseorang terdengar lantang

Negeri dilanda 'keheningan'
Di balik pembantaian yang menyisakan rasa syak dan sedu sedan
Menorehkan perasaan senasib sepenanggungan
Tapi sekarang pembantaian jadi tontonan

Kenapa kini, kata perlawanan nyaris tak memberi arti?
Kenapa kini, kata perlawanan nyaris tak menginspirasi?

Inspirasi sering ditularkan oleh tindakan dan bukan kata
Karena seharusnya tindakan adalah pelaksanaan kata-kata
Inspriasi adalah laku yang menjadi teladan
Bukan pencitraan yang selalu dilakukan

Semesta takkan bisa diselingkuhi
Ketika…yang 'kiri' telah lebur ke dalam duplikasi

Cikuya, 26 Februari 2014

Tidak ada komentar: