Senin, 18 Agustus 2014

Catatanku Hari Ini II


Setiap esok menjelang, kita bagai sumbu lilin yang terus terbakar
Seperti pelayar di tengah semudera, apakah akan menepi dan usai, atau bertemu badai
Kita bagai roda-roda yang seakan terus berirama, hingga gugusan demi gugusan mencipta bentuk, yang tak lagi seperti semula

Kita bagai ombak yang pasang dan surut, memainkan setiap benda yang terserak dan mengapung
Melempar dan membawanya kembali
Nyaris tak terlihat lelah, hingga benda-benda tak lagi setia, ikuti keabadian irama

Di darat, musim semi sudah beribu kali terjadi
Tunas baru menggantikan pertumbuhan yang kemarin
Yang kemarin tumbuh sudah kembali ke bumi
Harusnya ia tercatat sebagai lambang cinta yang putih, meski tanpa prasasti

Bagaimana dengan kita sendiri?
Andai masih sama – tidur di malam hari; bangun di pagi hari...
Tetaplah ia sebuah anugerah

Andai masih sama -- statis
Tetaplah ia sebuah anugerah
Sedetik yang lalu kita dengar kabar kematian
Sedetik ke depan juga kematian

Jika detik ini ajal menjumpai kita
Semenitpun takkan bisa ditawar
Ah, andai manka tentang hidup, bisa disadari sejak awal

Adiyasa, 18 Agustus 2014 [di saat gundah]

Tidak ada komentar: