Rabu, 03 Agustus 2011

Pemimpin Bangsa dan Jatuhnya Buah Apel

oleh fiqoh

Andai saja, guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Andai saja orang tua, guru dan para pemimpin bisa mengajarkan yang baik lewat ucapan, itupun tidak cukup tanpa contoh melalui perbuatan.

Semrawutnya berlalulintas, cermin semrawutnya kepribadian. Tentu ini hanya salah satu contoh. Dan ini dimulai dari kerumunan anak-anak yang bermain di rumah, dan di sekolah. Salah satu dari kerumunan anak itu menarik perhatianku mengamatinya, karena ia selalu merebut mainan teman-temannya.

“Sini nak,” panggilku dan anak itu mendekat.

“Kenapa kamu selalu merebut mainan teman-temanmu nak..?” tanyaku dan anak itu hanya menggeleng.

“Ayah dan Ibumu, pernah tidak mengajarkanmu untuk tidak merebut mainan teman-temanmu?” Anak itu memandangku dan menggeleng lagi.

Aku teringat kata temanku Dit, jika ingin melihat orang tuanya, lihatlah anaknya. Jika ingin melihat perilaku pemimpin bangsa, lihat perilaku rakyatnya. Ketidakdisiplinan, ketidakkonsistenan dalam menaati peraturan bermula karena pemimpin selalu bersikap inkonsisten! Contoh kecil, ketertiban dalam berlalu-lintas.

Dan kenapa masih banyak rakyat terbelakang dan miskin? Tentu mudah menjawabnya. Salah satunya, dalam hal pendidikan, murid harus mendaftar ulang setiap kenaikan kelas. Tetanggaku mengeluh, karena ia harus membayar minimal 250 ribu untuk itu.

Ibarat pepatah Belanda, apel jatuh tak jauh dari pohonnya. Dan pohon-pohon kurang bermutu sudah tumbuh subur di negeri ini.

Jakarta 22 Juli 2011 07:27

Tidak ada komentar: